Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 166 # One Step Closer


__ADS_3

Kediaman Luciano.


Keano sudah berada kembali di kediaman Luciano. Sesuai kesepakatan sebelumnya antara Sam dan Keano, pria tua itu hanya boleh mengantarkannya hingga gerbang depan, sisanya urusan Keano. Sam bukan tidak ingin menyelidiki lebih lanjut gelagat aneh tuan mudanya. Hanya saja dia tidak ingin gegabah, bisa jadi inisiatifnya justru berujung petaka bagi tuannya.


"Kakeeeeek!"


Keano berteriak setelah sampai di pintu utama dan mencari kakek angkatnya. Keano tengah berakting seolah dia mendapatkan perlakuan tidak baik.


"Keano!" pekik Axcel bergegas menemui putra sulungnya.


"Dimana Ibumu?" Axcel menyelidik ke arah pintu utama.


"Papaaa... Keenan Kaviandra yang menyandra Ibu... Aku di suruh olehnya untuk melakukan penawaran dengan Kakek." beber Keano sedikit terbata khas anak kecil. "Ibu pingsan paaah... Hiks... Bawa Ibu pulaaang..." sambung Keano terisak memeluk erat papa kecilnya.


Tuan Akeno memperhatikan lekat pada cicit angkatnya, dia menaikan sudut bibirnya. Hal yang tidak mungkin Keenan lakukan, apa mungkin dia membiarkan putranya kembali ke kediaman Luciano?


'Aku merasa memiliki firasat buruk... Semakin kesini, Mr. K semakin tidak bisa di tebak. Semoga saja prediksiku tidak salah.' batin tuan Akeno bergerak mendekati cicitnya.


"Aku akan membawa Farah pulang!" Axcel bangkit menggendong Keano. "Kamu dengan Kakek dirumah ya..." pesan Axcel pada Keano.


Keano menganggukan kepala mengerti akan perintah papa sambungnya. Axcel menurunkan Keano perlahan, mengecup lembut pucuk kepalanya. Samar tercium bau pria lain di tubuh pria kecil kesayangannya, rasa sesak mulai menyeruak mencengkram jantungnya.


Axcel segera melangkah pergi, membawa serum yang berada di dalam genggaman tangannya. 'Sayang, aku akan menjemputmu pulang. Kamu hanya akan sembuh jika menjauh darinya...'


***


Caffe Hotel xxx, Kota S.


Keenan menarik kursi dan duduk santai berhadapan dengan seorang pria yang sudah menunjukan raut wajah kesal.


"Jika tidak ingat kalian sudah menyelamatkan nyawa Istriku, maka aku tidak segan memusnahkan Klan Naga hanya dalam satu malam," ucap Keenan memulai diskusi.


"Heh," decak Axcel kesal. "Memang benar, Mr. K adalah pria paling angkuh dan arogan di Negara S. Tak heran orang begitu malas berurusan denganmu." cibir Axcel dengan seringai culasnya.


"Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Farah sekarang?" Axcel menatap tajam kearah Keenan. "Inikah yang kamu sebut cinta? Membiarkan dia mengalami kesakitannya selama beberapa tahun kebelakang tanpa tahu pasti akan kesembuhannya kedepan." Axcel mengepalkan kedua tangannya. Dia berusaha untuk tetap tenang menghadapi pria nomor satu di Jaringan Hitam.


Keenan tertegun dengan ucapan Axcel, dia sendiri merasakan perasaan bersalah yang terus menggerogotinya selama lima tahun kebelakang. Hal ini juga membuat dia semakin lemah mengenai perasaan, namun semakin kuat untuk membunuh seseorang.


"Aku tahu kesalahanku," sahut Keenan lirih melepaskan egonya. "Oleh karenanya, I'll fix it..."


Keenan menatap nanar cangkir kopi dihadapannya yang baru saja pelayan antarkan untuknya. "Aku tidak akan berdiam diri setelah tahu apa yang menimpa Istriku. Aku akan berusaha mencari cara untuk mengobatinya."


"Jika pun tidak berhasil pada akhirnya─" Keenan menjeda kalimatnya, rasanya jantungnya seperti diremas kencang oleh tangan seseorang.


"Jika sampai tidak ada cara menyembuhkan Istriku, maka aku akan pastikan hidupku juga hanya akan aku serahkan padanya. Aku tidak akan pernah meninggalkannya barang sejengkal atau sedetik kami bersama kedepannya," Keenan menatap Axcel sendu.


"Aku bersumpah, tidak akan ada lagi yang berani menyentuh bahkan menyakitinya," sambung Keenan menutup penjelasannya.


"Haha..." Axcel terkekeh mengejek apa yang dibicarakan Keenan. "Semua kata-kata manismu definis seorang aligator!" umpat Axcel menekan. "Apa kamu tidak menyadarinya, hah?"

__ADS_1


"Kamu lah, satu-satunya orang yang menyakiti Farah selama ini." tekan Axcel menatap Keenan nyalang. "Jika bukan karena nama besar dan aktifitas Jaringan Hitammu, apa mungkin Farah akan menjadi korban dari musuhmu, hah?!" berang Axcel menggebu.


Keenan masih tenang duduk ditempatnya. "Kamu jangan khawatir, dia boleh membunuhku saat dia yakin aku orang yang selalu menyakitinya." Keenan bersiap, merubah posisi duduk santainya.


"Kamu baru mencintainya selama lima tahun kebelakang, bukan?" Keenan tak kalah menatap nyalang netra Axcel. "Hal yang tidak kamu ketahui, aku dan dia sudah terikat satu sama lain ampir separuh usia kami," ujar Keenan benar-benar mengakhiri diskusi alot mereka.


"Aku pernah sekali kehilangannya dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama."


Keenan bangkit bersiap meninggalkan tempat pertemuan tidak terduga dirinya dan Axcel. Keenan tidak membahas sama sekali tentang obat penawar istrinya. Keenan sedikit kecewa Keano tidak kembali padanya sekarang. Keenan berbalik kembali mengatakan sesuatu untuk pria yang jadi saingan cintanya sedari dulu sebelum dia benar-benar pergi.


"Aku membiarkan putraku pergi, semata karena menghargai keputusan dan keinginannya. Keputusan yang ia ambil sekarang, aku yakin sebagai bentuk baktinya pada Ibu yang sangat ia cinta selama ini. Seumur hidupku, hanya mereka yang aku inginkan... Aku mencintai keduanya, aku yakin Farah juga akan berkata serupa denganku, benar?"


Keenan kembali melangkah pergi keluar dari area caffe mengabaikan Axcel.


"Tunggu!" Dengan cepat Axcel menghentikan langkah kaki Keenan. "Kamu tidak boleh memutuskan seenaknya begini!" Axcel mengejar langkah kaki Keenan.


Keenan berhenti, dia kembali berbalik badan menatap pria muda yang pantang menyerah.


 "Farah harus meminum obatnya, jika tidak─" Axcel mengepalkan kedua tangannya.


Hatinya sungguh tercabik-cabik dengan perkataan Keenan. Niat awal ingin menghancurkan mental lawannya, dia justru mendapatkan serangan balasan yang serupa.


"Jika tidak, apa?!" pekik Keenan emosi. "Ini kan yang kalian inginkan? Menggunakan Farah sebagai alat untuk mengelabuiku?"


"Dengarkan aku Cucu Klan Naga, jika sampai Istriku tidak bangun lagi dan meninggal saat ini juga." Keenan menunjuk dada Axcel dengan mengeluarkan seluruh emosinya. "Maka jangan salahkan aku, aku tidak akan segan melenyapkan Klan Naga sama seperti aku melenyapkan Klan Long!" ancam Keenan dengan mata nyalang.


"Jika aku bertanya padamu, apa kamu mencintainya? Aku yakin kamu hanya sedang membual." cerca Keenan kembali menghantam kejiwaan Axcel. "Jika benar kamu mencintainya, kamu tidak akan menggunakan kesehatannya untuk melukaiku,"


Axcel merogoh saku celananya, dia mengamati tube obat yang akan menyadarkan Farah. "Berikan ini untuknya. Kamu harus melakukan saat ini juga,"


Keenan menundukan wajah dan melebarkan senyuman sejenak kemudian kembali menatap Axcel. "Terima kasih..."


Keenan sudah menerima obat yang diberikan oleh Axcel. "Saat dia terbangun nanti, aku akan mengatakan bahwa kamu yang membawakan obatnya sendiri.


DEG!


"Why? Apa kamu ingin wanitamu bersimpati padaku?" sungut Axcel tidak ingin dikasihani.


"Mudah saja, alasannya tentu karena kita sedang melakukan hal yang benar untuk wanita yang kita cintai."


Axcel membuang wajahnya. "Bagaimana kamu tahu itu benar-benar obat untuk menyadarkan Farah?"


"Heh, karena... Kamu tidak akan sampai hati membunuhnya, bukan?" sahut Keenan yakin.


"Hahaha..." Axcel tertawa culas mendongakan wajahnya menahan sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk matanya.


Tak lama Axcel sendiri berlalu begitu saja meninggalkan Keenan yang masih berdiri di tempatnya. Keenan mengepalkan erat obat yang ia terima. Dia tidak mengira bahwa akan melakukan pendekatan sampai harus menurunkan egonya. "Kau lihat Baby, kamu adalah wanita yang paling beruntung mendapatkan banyak cinta dari siapapun. Aku bahkan menahan diri atas perasaan cemburuku..."


***

__ADS_1


Kamar Hotel.


"Ugghh..." Farah mengerjap dan memegang kepalanya.


"Sayang!"


Keenan terbangun dari tidur ayamnya saat mendengar lenguhan wanitanya.


"Kak... Aku dimana?" tanya Farah sedikit linglung.


"Kamu di hotel Sayang, sebelumnya kamu pingsan." terang Keenan perlahan membenarkan rambut wanitanya. "Tadinya aku hampir berpikir untuk melakukan adegan Romeo dan Juliet," canda Keenan menautkan rambut panjang Farah di cuping telinganya.


Wajah Farah bersemu merah dengan kata gombal pria pujaannya. "Tumben banget Kakak ngegombal, geger otak kah?" ejek Farah seperti biasa.


"Hahaha..." Keenan tertawa sekilas dengan menggenggam kedua tangan wanitanya. "Maafkan aku..." sambungnya sendu.


"I love you Keenan..." tutur Farah lirih menjatuhkan air mata bahagianya. "Betapa bahagianya aku bertemu dengan Raja Alam Bakaku kembali... Hehe" sambung Farah kembali berkelakar.


Keenan merengkuh tubuh Farah, memeluknya erat. Hidupnya jungkir balik setelah mengenal gadis tengilnya. Bahkan saat ini dia merasa menjadi pria paling cengeng di Bumi. "Aku sangat mencintaimu gadis tengilku..."


Keduanya melonggarkan pelukan setelah dirasa cukup. Keenan menekan dagu gadisnya. "Pria kecilmu yang membawakan obat penawarnya..."


"Hah?" Farah terlihat kebingungan. "Keano?" selidiknya.


"Bukan..." sahut Keenan sendu.


Farah mengerti pria kecil yang dimaksud prianya. "Kakak bertemu dengannya?"


"Ya, dia mengatakan dia mencintaimu... Dia berniat membawamu kembali." Keenan memainkan jemari tangan Farah menautkan dengan jemari besarnya. "Apa kamu tidak memiliki perasaan padanya?" tanya Keenan sekuat tenaga menahan rasa cemburu. "Dia mengalah hanya demi kamu kembali sadar." sambungnya terdengar pilu.


Farah tertegun sejenak, dia sempat berpikir kelak mungkin prianya akan bertanya hal demikian. Ini kesempatan bagus, agar dia yakin kelak harus memutuskan untuk tinggal bersama dan kembali berjuang, atau berhenti berharap dan memulai lembaran baru dengan pria baru.


"Apa Kakak juga akan mengalah, membiarkan aku kembali hidup bersamanya?" ucap Farah balik bertanya.


Keenan tersentak akan pertanyaan serangan yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali. Dia pikir Farah tidak akan berani bertanya demikian!


"Dengan Farah Lee, kamu boleh menganggap aku egois. Aku tidak peduli!" Keenan menangkup tangan di wajah Farah yang masih terlihat pucat. "Aku bisa mengalah untuk apapun sekarang. Namun, tidak dengan kehilanganmu!"


DEG!


"Jika kamu ingin pergi dariku, maka pilihan terbaik yang akan aku ambil adalah mati," ungkap Keenan sendu.


Farah langsung terisak menutup mulut dengan tangannya, Keenan segera memeluk gadisnya dengan erat. "Aku tidak bisa bertahan dua kali jika harus kembali kehilanganmu, Sayang."


Farah bahagia, penantian dan pengorbanannya membuahkan hasil seperti yang ia inginkan.


'Apa kutukan cintaku bekerja efektif? Rasakan!!' batin Farah cekikikan. 'Kamu hanya boleh jadi milikku Keenan Kaviandra,' batin Farah sudah tahu apa yang harus dia lakukan kedepannya. Hal yang tersulit adalah─


'Bagaimana caranya aku membesarkan hati Axcel untuk melepaskanku...'

__ADS_1


--- This's not ending hahaha ---


__ADS_2