
Hampir setengah jam nyonya Lyn berada di kamar anak angkatnya. Keduanya cukup berbincang mengenai hal-hal yang beragam. Farah bernafas lega setelah mengantarkan bibinya keluar kamar, dia kembali mengunci kamarnya. Keenan segera mendekat dan memeluk tubuh kekasihnya.
"Sayaaang!" pekik Farah mencoba menghindar.
"Kenapa, hm?" Keenan merasakan sikap Farah sedikit berubah setelah berbincang dengan ibunya, dia juga bukannya tidak merasa terhimpit dengan obrolan yang disampaikan ibunya pada Farah.
"Kenapa Kakak tidak segera ke kamar Kakak sekarang? Nanti Bibi kesana gimana?"
"Heh, walaupun kesana dia mungkin tahunya aku sudah tidur. Kamu tidak perlu berpikir banyak!" Keenan segera menggendong kekasihnya.
Bruk!
"Aarrghh..." Farah memekik lirih saat tubuhnya kembali di hempas Keenan di ranjangnya. "Apa yang akan Kakak lakukan?" Farah beringsut mundur.
"Heh, tentu kamu tahu apa yang ingin aku lakukan. Barusan kesenanganku terganggu!" Keenan kembali menanggalkan pakaiannya.
Farah membuka mulutnya lebar, dia terlalu takjub dengan prianya yang berubah sepenuhnya menjadi pria paling cabul sedunia.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu sudah tidak sabar?" Keenan menggoda dan merangkak mendekati gadisnya yang masih meringkuk di tepi ranjang.
"Apa Kakak tidak kapok? Barusan kita hampir ketahuan!" Farah menyilangkan tangan di depan tubuhnya.
"Lalu kenapa?"
"Hah?"
Farah terpaku dengan jawaban Keenan yang ringan, seringan beban kehidupannya. Farah menelan salivanya, antara percaya dan tidak dia sudah tidak memiliki kata untuk menyanggah kemauan prianya.
"Bukankah inginmu agar hubungan kita bisa diketahui keluargaku?" Keenan mengambil sebagian rambut panjang kekasihnya dan menciumnya perlahan. "Aku hanya sedang berpikir, bagaimana menyenangkan anganmu!"
Farah meneteskan air matanya, runtuh sudah pertahanannya. Keenan termangu dengan reaksi berlebihan Farah.
"Kenapa menangis? Kamu tidak suka?"
"Why?"
Keenan terdiam dengan pertanyaan Farah. "Kenapa apanya? Apa kamu sudah tidak berminat dengan status kita?"
"Apa Kakak ingin mengakui hubungan terlarang kita atas nama cinta di depan Paman dan Bibi?"
__ADS_1
Deg!
"Farah Lee!"
"Heh..."
Farah terkekeh, memang tidak mudah membuat sederhana setiap perkataan Keenan. Hal yang dibutuhkan Farah adalah pengakuan cinta prianya. "Sampai kapan kita membohongi mereka?"
"Farah Lee, aku menginginkanmu tubuhmu saat ini!" Keenan mencengkram wajah Farah. "Aku tidak ingin mendengar ceramah atau kutukanmu lagi! Paham?"
Farah tersenyum getir, beberapa detik kemudian Keenan kembali menggagahi adik sepupunya tanpa memikirkan perasaan Farah. Gadis itu berusaha memalingkan wajahnya yang sudah dihiasi dengan air mata. Farah kembali tidak menikmati sesi percintaan mereka, walau respon tubuhnya sama menginginkan, lenguhan tertahan juga tetap terdengar dari bibir mungilnya. Namun, hatinya terlanjur sakit dan lelah dalam waktu bersamaan.
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu? Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang... Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu... Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan... Takkan kut'rima cinta sesaatmu...
Keenan kembali mendongak sebelum tubuhnya ambruk di samping tubuh Farah. Lolongan panjang kepuasannya terdengar mengiris hati gadis kecil yang sudah tidak memiliki tenaga lagi. Keenan membalikkan tubuhnya dan kembali memeluk gadisnya. "Terima kasih Sayang, love you..."
Farah terdiam, dia berpura-pura tertidur menutup kedua netranya. Sialnya, air matanya jatuh begitu saja. Keenan bisa merasakannya. Dengan cepat pria itu membalikkan tubuh ringkih gadisnya. "Farah, kita sudah sepakat bukan? Apa pun yang kamu inginkan selama bukan status aku akan kabulkan, Baby!"
"Aku mengerti..." ucap Farah lirih.
"Jangan menyiksaku seperti ini Farah! Apa belum cukup aku berada di sampingmu? Apa belum cukup puas menjadi satu-satunya wanita yang aku akui?" Keenan tidak tahan tidak mencerca saat melihat sikap Farah.
Farah terdiam, dia tersenyum dan kembali mendekatkan dirinya memeluk tubuh kekasihnya. "Semua akan terasa cukup jika Kakak mau mengikutiku esok!"
"Rahasia!" Farah berucap sedikit manja, membuat senyuman Keenan kembali terbit di wajahnya.
"Baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu Sayang!" bisik Keenan mencium lekat kening gadisnya. "Love you, so much..."
Farah kembali mengatupkan bibirnya, matanya menutup dengan air mata yang sulit ditahan lajunya. Kalimat Keenan terasa nyata di indra pendengarannya. Keenan berucap begitu tulus membuat tubuh Farah bergetar hebat, pria itu begitu senang mempermainkan perasaan Farah. Keenan bukan tidak menyadari bahwa gadisnya sedang menangis saat ini, hanya saja dia tidak tahu harus berbuat apa. 'Maafkan aku Farah!'
Oh mengapa, tak bisa dirimu yang mencintaiku tulus dan apa adanya... Aku memang bukan manusia sempurna, tapi ku layak dicinta kar'na ketulusan... Kini biarlah waktu yang jawab semua, tanya hatiku~
Keenan semakin mengeratkan pelukannya, hatinya ikut nyeri, dia sedang membohongi dirinya sendiri. Keenan sudah menjadi pengecut untuk masalah percintaannya. Seandainya Farah bisa mengerti keadaan Keenan yang sebenarnya, Keenan berharap Farah benar-benar bisa bertahan hingga akhir.
Farah perlahan bangkit menuju kamar mandinya, dia tidak bisa tidur. Dengkur halus dari bibir kekasihnya menunjukkan Keenan sudah tertidur lelap. Farah tertatih menuju kamar mandi, dia begitu lengket, hampir semalaman Keenan menggagahinya dengan perkasa.
"Loh, kemana obatnya?" Farah tengah mencari pil kontrasepsi yang disimpan di dalam laci kamar mandi. "Apa habis ya? Cepet bener abisnya, besok deh minta Sam lagi!" Farah bergegas menuju bak mandi yang telah terisi penuh oleh air hangatnya. Rasanya tubuhnya remuk seperti tertimpa asteroid besar, bisa merasakan rileks di dalam limpahan air hangat dan aromaterapi nya sungguh membuat dia senang.
Di waktu seperti ini juga Farah bisa dengan leluasa memeriksa ponselnya. Farah tersenyum saat melihat beberapa deret chat yang berasal dari satu-satunya pria yang berani memanggilnya Ayang.
__ADS_1
[ King_Axcel : Ayaaang! Kamu gitu kan? Gak mau ngabarin aku!! ]
[ King_Axcel : Bilang udah sampe rumah kek, udah makan kek, udah bobo kek, udah sayang aku kek!! ]
"Ppffttt!" Farah menahan tawa tiap kali pria itu menghubunginya, selalu ada rasa memberikan keceriaan di harinya yang suram.
[ Farah_Lee : Sorry Cel, gue sibuk beud jadi tuan putri... Lagian, gue gak boleh punya Ayang, jadi jangan berharap lebih ya Zyeyeeeng~ ]
Tring!
[ King_Axcel : Beli cakue sama tomat, gue bodo amat! ]
[ King_Axcel : Ikan hiu masuk range rover, gue cinta you forever!! ]
"Buahahaha!" Farah tidak tahan tidak terbahak dengan balasan Axcel. Dia tidak menyangka, pria itu bisa membalas pesannya di waktu dini hari seperti sekarang ini. "Apa dia benar-benar menunggu balasan pesanku?"
[ Farah_Lee : Range rovernya segede apa anjir bisa masuk ikan hiu! Hahaha... ]
Tring!
[ King_Axcel : Suka kan? Ini belum seberapa! ]
[ King_Axcel : Beli barang antik beli odong-odong! ]
[ Farah_Lee : Cakep! ]
Tring!
[ King_Axcel : Hei cantik, godain gua dong! ]
[ Farah_Lee : Sadiiiisss... Hahaha Thank you bestie, you beneran selalu bikin perut gue sakit ajg! ]
[ Farah_Lee : Jam berapa ini oy! Tidur sana, jangan mimpiin gue... Gue mampir di mimpi orang soalnya wekaweka... ]
Disisi lain di mansion pribadi Axcel, pria itu tengah berbunga-bunga dan juga senyum-senyum tak jelas, setengah mati dia mencari jokes untuk menyenangkan wanitanya. "It's work!" pekiknya lirih.
"Aku tidak akan menyerah Tuan Putri Farah Lee... Sebelum kamu menjadi milikku, aku tidak akan pernah berhenti berjuang!" Axcel mencium layar ponselnya.
Tanpa Farah ketahui, wallpaper yang digunakan adalah foto Axcel dan dirinya saat bersukacita satu tahun yang lalu di Dubai. Saat itu, Farah masih belum menjaga jarak. Dia masih mau berfoto berdua dengan Axcel, bahkan kedekatan mereka sering disalah artikan beberapa orang yang menganggap keduanya adalah pasangan.
__ADS_1
--- To be continue ---
Credit of song : Sial by Mahalini , Tanya Hati by Pasto.