
Condo Royal Luxury, 12.30 PM.
"Dimana Farah?! Dia sakit apa?!"
Nyonya Lyn sudah datang dengan cepat, dia meminta pengurus Chen untuk memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi agar segera sampai. Pengurus Tang sempat terkejut dengan kedatangan nyonya besar yang tidak terencana itu. Dengan gelagapan pengurus Tang menjawab tuannya. "Nona ada di kamar Tuan Muda, Nyonya..."
"Apa?" giliran nyonya Lyn yang terkejut dengan penjelasan paman Tang. "Disini dia memiliki kamarnya sendiri, kenapa harus di kamar Keenan sekarang?"
"Agar aku bisa mengurusnya!" Keenan dengan tenang menyambut ibunya menuruni anak tangga.
Sebelumnya Sam sudah memberitahukan pasal kedatangan ibunya yang mendadak, Keenan menyadari kecerobohannya. Hanya ini yang bisa dilakukannya sekarang.
"Huh," Nyonya Lyn mendengus kesal. "Mengapa tidak ada yang mengabari Mama, Farah sakit!"
"Jangankan Mama, aku sendiri terkejut!"
Nyonya Lyn mengerutkan keningnya, dia menatap lekat putranya.
"Aku baru pulang dari NY, anak kesayangan Mama pingsan saat bekerja!"
"Apa?!!"
Nyonya Lyn memekik gelisah dan bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Keenan menelan saliva, dia berbalik menatap punggung ibunya.
Keenan kembali berbalik dan menatap tajam satu persatu bawahannya terlebih paman Tang. "Apa ini upah kalian?"
"T-tidak Tuan, kami mana mungkin berani!!" Paman Tang menunduk hormat meminta ampun pada tuannya yang diyakini tengah menahan emosinya.
"Aku percaya... Paman sudah mengabdi disini sangat lama..." Keenan menatap mengintimidasi pengurus kediaman. "Ingat, jangan menentang batas kesabaranku!!"
"Tentu Tuan Muda..." Paman Tang diikuti seluruh bawahannya menunduk ketakutan dengan ancaman tuannya. Sedangkan, Keenan kembali berbalik menyusul keberadaan ibunya.
Di dalam kamar, nyonya Lyn mendekat dan duduk disamping putri angkatnya. "Farah... Kemarin bukannya kamu baik-baik saja?"
"Ma..."
Keenan masuk membuyarkan pandangan ibunya. Beliau menghentikan mengusap lembut Farah yang tertidur pulas.
"Bukankah Farah memiliki kamarnya sendiri?"
Keenan paham, ibunya akan membahas prihal ini. Selama ini, Farah tidak pernah diijinkan menginjakkan kakinya di ruang pribadinya. Karen sendiri yang merupakan adik kesayangannya, terkadang dilarang memasuki kawasan pribadi miliknya.
"Aku sudah bilang, agar aku bisa mengawasinya!" Keenan tetap berujar dingin dan tenang, walah jantungnya sudah berdebar tidak karuan. "Aku panik saat dia pingsan, aku meninggalkan pekerjaanku. Mama bisa lihat meja kerjaku sekarang!"
Nyonya Lyn menatap lekat putranya, Keenan memang terlihat gusar dan emosi yang diluapkan terasa jelas di indra pendengarannya. "Mama harap, tidak ada yang kamu sembunyikan dari Mama!"
Deg!
Keenan seperti tengah mendapatkan skak mat dari ibunya. Beruntung Farah terlihat mengulat, gadis itu terbangun dengan keributan barusan.
"Ugghh..."
"Faraaah!" Nyonya Lyn kembali menatap putri angkat kesayangannya. "Apa kamu masih sakit? Kita kerumah sakit ya... Biar kamu dirawat disana!"
"Bibi?"
__ADS_1
Farah berusaha bangkit dan bersandar, kedatangan nyonya Lyn membuat ekspresi kebingungan jelas terlihat di wajah Farah yang masih terlihat pucat.
"Kenapa Bibi disini?" Farah semakin dibuat kebingungan.
"Itu karena ulahmu yang tidak bisa jaga kesehatanmu sendiri!" Keenan menghardik dan langsung mencaci Farah yang tidak tahu apapun saat ini.
"Keenan!!" Nyonya Lyn berbalik memekik menatap putranya tajam.
"Maafkan Farah, Bi..." Farah menunduk, dia seperti tahu bahwa mereka hampir ketahuan.
"Kamu tidak perlu minta maaf, tidak seharusnya juga Kakakmu itu mengatakan hal itu!"
"Cih!" Keenan berdecak kesal, dia berkacak pinggang membuang wajahnya. "Sudah tahu menyusahkan, tapi kamu tidak perlu minta maaf! Dasar manja!!"
"Keenan!! Keluar kamu cepat!!"
"Mama mengusirku demi dia?"
Farah semakin menunduk, dia bahkan sudah menjatuhkan air matanya. Tidak seharusnya juga Keenan memperlakukannya seperti itu.
"Mama tidak mungkin mengusirmu jika kamu tidak kurang ajar!!" Nyonya Lyn menatap tajam putranya. "Sudah tahu adikmu sakit, kamu masih mencercanya. Jika kamu tidak ingin merawatnya, biar Mama yang melakukannya di rumah!"
"Ayo Farah!! Bibi menyesal menyuruhmu tinggal disini, selama ini kamu tidak pernah sakit di kediaman!!"
Deg!
Rasanya sungguh seperti sakit tak berdarah di dalam diri Keenan. Dia memang tidak seharusnya berkata kasar seperti barusan. Hanya saja, dia sendiri tidak tahu harus seperti apa sekarang. Dia tidak siap jika orang tuanya menyadari skandalnya bersama Farah.
"Mama tidak perlu repot mengurusnya, biarkan dia mandiri seperti keinginannya saat keluar dari kediaman!"
"Jika saja kamu bisa menjaga dirimu dan kesehatanmu sendiri. Kamu tidak perlu semenyusahkan ini!!" Keenan berujar penuh emosi, dia benci dirinya namun dia tumpahkan pada Farah.
Nyonya Lyn bangkit dengan berang dan menampar putranya tanpa bisa ia tahan.
Plaaak!
Farah menutup mulut dengan kedua tangannya, air matanya semakin deras membasahi wajahnya. "Bibi.. Kakak, cukup! Ini salah Farah..."
"Jelas ini salahmu!!" pekik Keenan kembali menunjuk kearah Farah.
"Cukup Keenan!!" Nyonya Lyn menunjuk wajah putranya dengan penuh emosi. Untuk pertama kalinya, ibu dan anak itu terlibat perselisihan hebat seperti ini. Nyonya Lyn bahkan menampar putranya dengan cukup keras.
"Heh," Keenan terkekeh lirih memegang wajahnya. "Demi gadis tengil ini, Mama menamparku?"
"Mama tidak pernah mengajari putra Mama berbicara kasar seperti barusan. Keluarlah..."
"Mama membelanya?"
"Keluar kata Mama Keenan!! Jika kamu lelah jangan berulah, pergilah beristirahat..."
Keenan mengepalkan kedua tangannya, dia berbalik tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Keenan membanting pintu kamarnya dengan keras sampai-sampai bisa menjatuhkan pigura dekorasi di dindingnya.
Praaang...
"Huhu..." Terdengar tangis Farah pecah tanpa bisa dia tahan lagi sekarang.
__ADS_1
"Faraaah..." Nyonya Lyn kembali berbalik dan memeluk erat tubuh Farah yang bergetar hebat.
"Maafkan Farah, kalian bertengkar gara-gara aku..."
"Sssttt... Bibi paham sekali dengan Keenan... Walau bagaimana pun..." Nyonya Lyn menjeda kalimatnya dia menatap Farah lekat. "Maafkan Kakakmu ya... Dia jelas tidak bermaksud seperti itu..."
"Sekarang kita pulang ya..."
Deg!
Ada rasa enggan di diri Farah untuk melakukannya, tentu saja karena dia tidak akan pernah bisa lagi dekat dengan kekasih hatinya jika dia beranjak pergi dari sana.
"Bi..." Farah mengusap cepat wajahnya yang basah. "Farah memang salah, Farah mengerti kemarahan Kakak... Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya... Selama ini, aku memang menyusahkannya..."
Nyonya Lyn tersenyum lebar, dia mengusap lembut pucuk kepala gadisnya. "Kakakmu memang keras seperti itu... Jika kamu bisa tahan dengan sikapnya, silahkan... Tapi, Bibi tidak pernah terima jika sikapnya justru membuatmu sakit seperti sekarang!"
Deg!
Farah memeluk langsung tubuh ibu angkatnya. Dia sungguh beruntung bisa memiliki keluarga yang seperti keluarga Kaviandra. "Aku sangat beruntung memiliki kalian!! Hiks..."
"Kami juga Sayaaang... Kamu jangan menyimpan sendiri resah hatimu ya... Jika kamu butuh bantuan, katakan pada Bibi."
Farah mengangguk antusias dalam dekapan nyonya Lyn. Wanita paruh baya itu bak malaikat penyelamat bagi Farah.
"Sudahlah, sini... Bibi sengaja bawakan kamu makan siang loh hari ini..."
"Oh ya?" Farah memperbaiki posisi tubuhnya, dia kembali duduk seperti sebelumnya. "Bibi bawa apaaa?"
"Makanan kesukaan kamu!"
Farah memekik girang, nyonya Lyn kembali terkekeh. Dengan sigap tangan nyonya Lyn membuka kotak bekal dan langsung menyuapi anak kesayangannya.
"Bi, jangan marahi Kakak lagi ya..."
"Tidak Sayang..."
Nyonya Lyn terpaku sejenak, dia kembali merasa tidak nyaman. Farah menyadarinya, dia segera menarik kedua tangannya saat digenggam bibinya barusan.
"Hehe, kamu menyembunyikan hubungan asmaramu dari Bibi?" goda nyonya Lyn mencolek hidung mancung putri angkatnya.
"Isssh, apa sih Bi!" Farah menunduk tersipu malu membuang wajahnya.
"Jadi, siapa pria yang beruntung mendapatkan cintamu?"
Deg!
"Apa kamu sudah berhenti mengagumi Kakakmu? Bukankah dulu kamu selalu berisik, bilang kalau cuma Keenan yang kamu inginkan jadi suamimu? Hehe..."
Farah membatu dengan ucapan nyonya Lyn, apa jadinya jika yang mereka bicarakan saat ini tentu saja Keenan Kaviandra.
"Siapa dia? Dari keluarga mana? Kapan kamu membawanya menemui kami?"
Deg!!
--- To be continue ---
__ADS_1