
Farah telah selesai dengan sarapan paginya, Keenan meletakkan seluruh peralatan makan dan menyeka bibirnya dengan serbet. "Kakak antar!"
"Hah?"
"Dah sana, mumpung Kakakmu senggang! Biasanya dia udah ngacir aja gak pernah mau jagain adeknya!" Nyonya Lyn berujar menatap Farah dengan senyuman.
"Ehm!" Farah menelan ludah berat. "Aku berangkat dulu, Bibi, Paman!" Farah bangkit dan menyalami kedua orang tua angkatnya.
"Hati-hati Sayang!" Nyonya Lyn mencium pipi Farah dan merangkul tubuhnya penuh sayang.
Keenan sudah pergi lebih dulu, Farah mendengus kesal. Terkadang dia tidak bisa memprediksi mood kekasihnya itu.
Braaak!
Farah menutup pintu bugati kekasihnya, tak lama Keenan menarik tubuh Farah dan mencumbu gadisnya.
"Aaarghh... Kaaak..." Farah mencoba mendorong tubuh kekasihnya sebelum dia menggila.
Namun, pria itu sudah terpedaya oleh hasratnya. Sepuluh menit Keenan mencumbu bibir dan bukit kembar kekasihnya. Tak luput jemari besarnya bermain di sangkar emas kesukaannya.
Farah merutuk kesal, dia segera memperbaiki tampilan dirinya yang sepenuhnya sudah acak-acakan. Sedangkan kekasihnya sudah kembali menunjukkan settingan awal, dingin dan angkuh. Pria itu lekas menghidupkan mobil dan keluar kawasan kediaman.
Tanpa disadari oleh mereka, diam-diam nyonya Lyn mengikuti dan memperhatikan putra putrinya. "Ngapain mereka di mobil selama itu?"
"Papa juga mulai curiga, Keenan tidak pernah meminta di sambut oleh Farah seperti barusan!"
Nyonya Lyn terkejut, ternyata suaminya juga sama tengah curiga pada dua sejoli yang memang sikapnya mendadak berubah total.
"Papa benar, perasaan semenjak kita pulang mereka semakin dekat. Bahkan, seperti terlalu dekat!"
"Entahlah, Papa harap mereka tidak mengecewakan kita!"
"Iya, Pah..."
Tuan Kaviandra merangkul erat bahu istrinya. Nyonya Lyn menggenggam erat kedua tangan di dadanya. Perasaannya mendadak tidak enak, dia mengkhawatirkan Farah di banding mengkhawatirkan putra sulungnya.
***
Di dalam mobil, Farah menghidupkan audio dan bersiap melakukan karaoke on the road.
"Kau dan aku, tercipta oleh waktu... Hanya untuk saling mencintai~"
Keenan memasang wajah jengah saat suara sumbang kekasihnya mulai terdengar.
"Berisik Farah Lee!" rutuk Keenan menatap gadisnya kesal.
"Mungkin kita, ditakdirkan bersamaaa... Rajut kasih, menjalin cintaaa.. Berada dipelukanmu mengajarkankuuu~"
"Suaramu jeleeek Farah Lee, bising!"
Farah tidak peduli pada rutukan kekasihnya, dia terus bernyanyi seenaknya dia.
"Tak pernah terbayangkan oleh ku, bila kau tinggalkan akuuu~" Farah mencolek pinggang Keenan dan berakting menggoda prianya.
Ingin rasanya Keenan membuang Farah ke hutan saat ini juga. Beruntung mereka sudah berada di pelataran parkir kampus. Farah terbelalak saat dia ingin melepaskan seatbelt, Keenan menarik wajahnya dan kembali mencumbunya kasar. "Ini hukuman kamu membuat kupingku sakit!"
__ADS_1
"Ck, padahal itu pernyataan cintaku loh!" Farah mengerucutkan bibirnya. Keenan berubah gemas.
"I love you, Baby!"
Farah menyeringai, dia mencium pipi kekasihnya dan membalas kata cintanya. "Love you more..."
"Berikan berkas magangmu pada reception atas nama sekretarisku Sandra!"
"Iya!" Farah kembali merengut sebal.
Farah berbalik menatap kampusnya sejenak, ada rasa enggan di dalam diri Farah. Keenan menyadari kegelisahan hati Farah. Dia menggenggam erat tangan kekasihnya, tak lama Keenan mencium mesra punggung tangan kekasihnya. "Tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu. Kakak sudah menyiapkan seluruh anak buah Kakak di sekitar kampus!"
Deg!
Bukannya tenang, Farah semakin terguncang. 'Yang benar saja!! Aku semakin sulit bergerak...'
"Terima kasih sayangnya aku~" Farah tersenyum dan kembali mencium mesra pipi kekasihnya.
Keenan menatap Farah dengan tatapan yang sulit diartikan gadis kecilnya. "Kakak tunggu kamu di KTech!"
Farah mengangguk, setelahnya dia bersiap keluar dari mobil dan berlalu menuju kelasnya.
Sepanjang jalan Farah melangkah, jelas gadis itu merasakan beberapa orang menghindari berpapasan dengannya. Farah menghentikan langkah kakinya, dia merasa aneh dengan atmosfer di kampus. Dia merasakan orang lain semakin menjauhinya.
"Haish... Apa boleh buat!"
"Oi Faraaah!!"
Farah kembali menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap sahabatnya dengan senyuman mengembang.
"Lu bikin kita khawatir mulu perasaan! Gimana dah baikan?!"
"Beuh... Gila pokoknya! Gue ampe─"
"Oi tungguin!!"
Teriakan Meishya menghentikan obrolan kedua temannya. Farah mendengus kesal, Ceillyn mengerutkan kening. "Tumben lu on time?"
"Iya lah, hari ini ujian bego!" sahut Meishya sarkas.
"What the fu-ck!" Seketika Farah mengumpat jauh lebih kasar setelah mendengar ucapan Meishya. "Kenawhy, tiap kali gue bolos afternya ujian!! Mampus aja gue lontooong!"
"Tolong oi!" Meishya menoyor bahu Farah seketika.
"Tenang Bestie, itu masalah lu, bukan masalah gue... Gak baek kalau gue ikutan nambahin masalah!" Ceillyn merangkul sahabatnya dengan suka cita.
"Fu-ck!" umpat Farah membuat kedua temannya cekikikan bersama melupakan apa yang seharusnya mereka obrolkan.
Farah terdiam sejenak, wajahnya pucat saat melewati lorong toilet dimana dia hampir dilecehkan. Kedua temannya menyadari perubahan sikap Farah. Keduanya menggandeng tangan Farah kiri dan kanan. Farah sungguh tersentuh, dia benar-benar beruntung memiliki teman absurd seperti Ceillyn dan Meishya.
"Aku tanpa kalian bagai sayur sop tanpa micin!" cicit Farah membuat keduanya semakin mendekat dan merangkulkan tubuh mereka.
"Lu jangan mikir lu sendirian... Kita sahabat lu. Senang, sedih ya barengan!" Meishya mendadak sok bijak.
"Bener, lu lupa kita itu bagai kepompong... Kadang kepo kadang rempong!" timpal Ceillyn membuat ketiganya tertawa bersama.
__ADS_1
"Hahaha!"
Farah dan kedua temannya kembali melanjutkan langkah kaki mereka. Ketiganya hampir telat, di ambang pintu kelas pekikan nyaring satu-satunya pria jadi-jadian membuat Farah mendengus pasrah.
"Ayaaang!"
"Gue heran ama ni kadal buntung, gak pernah kapok!" Meishya mencibir bersedekap tangan menatap Axcel.
Axcel membalas menatap sinis kemudian beralih menatap Farah, dia tidak ingin peduli pada omongan orang lain.
"Kopi special buat Ayang!" Axcel menunjukan kopi kesukaan Farah di depan wajah gadisnya.
"Aarrk, you know me so well!!" Farah segera menyambar kopi pemberian Axcel dan menyeruputnya tanpa ba bi bu!
"Ceweknya lagi kasih harapan! Kasian oi!"
"Lu berdua rese emang!" Axcel menarik tangan Farah masuk kedalam kelas meninggalkan kedua temannya yang lain.
"Maaci Axcel, tau aja gue lagi super haus!" Farah memuji Axcel dengan raut wajah sumringahnya.
"Aaaarhh, with pleasure Ayaaang!"
"Najiiis!" Ceillyn dan Meishya kompak menyahut sarkas.
Axcel kembali menunjukkan sikap dingin pada kedua temannya yang lain. Sedetik kemudian kembali menghangat demi gadisnya. 'Demi kamu, aku akan melakukan apapun... Meski harus merendahkan harga diriku. Aku tidak peduli, selama ini membuat kamu senang, aku tidak masalah. Aku yakin... Kelak, kamu akan melihat ketulusan hatiku dan bisa menerimanya.'
Axcel menatap sendu ke arah gadisnya yang masih begitu riang bisa menerima kudapan gratis. Dalam waktu singkat Farah sudah menghabiskan minumannya. Dia benar-benar haus!
Braaak!
"Pagi Anak-anak! Hari ini kita akan mengulang materi pelajaran kita... Besok baru kita adakan ujian!"
Dosen Victor sudah memasuki ruang mengajarnya. Dia sudah tahu Farah masuk hari ini. Semuanya tercengang, begitu pula Farah. Semuanya mendadak mengerti, hal ini karena tak lain dan tak bukan Farah yang baru kembali masuk kelas hari ini.
Farah membuang nafas berat, dia sendiri mengerti. Pasti semuanya begitu takut dengan kedatangan raja iblis kemarin. 'Heh, thank you Kak...'
Farah membuang wajah, menatap nanar ke luar jendela ruangan. Tiba-tiba dia begitu merindukan berada di samping kekasihnya. 'Kakak lagi ngapain ya? Jangan-jangan dia lagi bunuh orang lagi? Huh...'
Farah mengabaikan dosennya yang sudah menjelaskan materi di depan kelas. Farah asik dengan lamunannya. Dia mengembangkan senyuman dan memikirkan hal manis apa saja yang sudah Keenan lakukan padanya. Bahkan, di hadapan kedua orang tuanya pria itu mencium pipinya. Sungguh di luar prediksi NASA!
"Ya begini hasil akhirnya. Farah coba kamu selesaikan persamaan ini di depan!" Dosen Victor sedang menguji materi pada satu-satunya murid yang belum menerima materi barusan.
Tentu saja Farah tidak menyimak dan tidak mendengar perintah dosennya. Ceillyn yang duduk di sampingnya menjadi gelisah. "Farah oi!"
Sekuat tenaga dosen Victor tidak ingin mengeluarkan tawanya. Ekspresi Farah sungguh menggodanya. 'Kamu lagi mikir apa sih? Hehe'
"Farah Lee!!" Demi profesionalitas dosen Victor membentak muridnya.
Farah tersadar, seseorang seperti memanggil namanya. Parahnya lagi gadis itu mengira bahwa Keenan yang sedang memaki meneriaki dirinya.
"Eh, iya Sayang!" Farah terlonjak, dia asal bicara. Semua hening sejenak, semua mata tertuju padanya. Farah tersadar, wajahnya pucat. Semua terbahak bersama tanpa menunggu lama!
"Hahahaha!!"
Dosen Victor termangu, dia bagai bermimpi mendengar Farah memanggilnya dengan panggilan sayang. Rasanya sulit dipercaya, sedangkan Axcel dan Meishya sudah memasang wajah merah padam menahan cemburu keduanya. Mereka sudah berpikir yang macam-macam pada reaksi Farah barusan.
__ADS_1
'Aaarrrgghh siaaal!! Farah stupid!!' Farah menundukan wajahnya, dia sungguh teramat malu.
--- To be continue ---