
🕊🕊🕊🕊
Yulian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di rumah sakit dan menemui Aisyah.
*****
"Juna, kamu memang lelaki yang tampan dan baik. Bahkan kamu juga menjaga kakak sepupumu. Aku berharap, aku bisa dekat denganmu." Ujar Mentari dalam batinnya.
Mentari yang memandangi Juna sedari tadi ternyata ada maksud tertentu. Rasa yang tumbuh didalam hati Mentari tidak bisa dibohongi. Bahkan Mentari saat ini melamunkan tentang hidupnya yang bersama dengan Juna. Namun, lamunan itu terbuyarkan saat Karina bertanya kepadanya.
"Rumah kamu dimana Mentari?" Tanya Karina.
"Akh iya, rumah aku... Bapak bisa menurunkanku di ujung pertigaan jalan itu." Jawab Mentari.
"Oh di sana." Sahut Karina sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Sampailah di ujung pertigaan jalan. Mobil yang mereka tumpangi telah berhenti dipinggir jalan. Dan setelah itu Mentari yang duduk di depan dekat pak sopir, kini membuka pintu mobil dan menuruni mobil mewah itu.
"Terimakasih ya atas tumpangannya." Ucap Mentari sembari tersenyum.
"Iya, sama-sama. Insyaallah, lain waktu aku akan berkunjung ke rumahmu." Balas Karina.
"Iya. Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu ya. Assalamu'alaikum." Ucap Mentari berpamitan.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab Karina dan Juna serta pak sopir yang setia dengan mereka bersamaan.
Mobil mewah itu kembali dilajukan dengan kecepatan sedang. Dan Karina memilih untuk mendengarkan musik. Sedangkan Juna, ia memilih memejamkan kedua matanya kembali meski ia tidak sedang tertidur.
💝💝💝💝
Yulian akhirnya sampai di rumah sakit dan menghentikan mobilnya tepat dihadapanku. Sosok lelaki tampan itu menuruni mobil dan menjumpaiku.
"Assalamu'alaikumsalam sayang!" Ucap salam Yulian.
"Wa'alaikumsalam sayang!" Jawabku dengan lembut.
__ADS_1
"Ma'af kalau abi sedikit lama datangnya." Ucap Yulian meminta ma'af.
"Tidak apa-apa abi," balasku mengerti.
Setelah sedikit sapaan dan kita saling mengobrol , kini aku dan Yulian membuka pintu mobil untuk segera menuju ke rumah.
Aku hanya terdiam selama dalam perjalanan. Mungkin Yulian juga mengerti arti ke diamanku. Sehingga dia tidak memngajakku berbicara. Dan dia juga lebih memfokuskan dalam menyetir mobilnya.
Alhamduliah, akhirnya aku dan Yulian sampai juga di rumah. Dan rumah masih terlihat sepi, itu menandakan bahwa Juna belum pulang. Di saat aku dan Yulian akan memasuki rumah, tiba-tiba terdengar suara jagoanku memberi salam.
"Assalamu'alaikum abi-umi." Juna mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam!" Jawabku dan Yulian bersamaan.
Aku dan Yulian seketika menoleh ke arah pusat suara itu. Dan dengan sergapnya Juna mencium telapak tangan kami. Alhamdulillah aku dan Yulian mampu mendidik Juna menjadi anak yang berbakti kepada kdua orang tuanya, baik hati serta baik kepada siapapun.
"Loh, kita kok bisa ya pulang barengan," ucap Yulian.
"Abi mungkin yang bolos kerjanya. Ini kan masih pukul satu siang. Abi kok sudah pulang?" Sahut Juna.
"Karena abi sengaja pulang cepat. Dan sekarang, kalian berdua masuk ke dalam untuk mandi, sholat dan ganti baju." Ucap Yulian yang tidak aku mengerti apa maksud dan tujuannya.
"Itu rahasia. Yang pasti, abi akan mengajak kalian jalan-jalan." Jawab Yulian bertahan dengan teka-tekinya.
Karena aku tidak mau menanyakan atau mencurigai, aku menuruti semua kemauan Yulian. Begitupun dengan Juna, ia langsung bergegas menuju ke kamarnya dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Dan seperti biasa, aku tidak butuh waktu lama untuk berada di dalam kamar mandi. Apalagi di saat aku sedang hamil muda seperti ini, rasanya aku malas kalau menyentuh air. Apakah di antara kalian pernah merasakan apa yang aku rasakan ini? Akh sudahlah.
Setelah usai sholat dzuhur, aku menuruni tangga secara perlahan. Namun entah kenapa tangga ini aku rasa begitu licin, sehingga aku hampir saja terjatuh. Untung saja ada Yulian di belakangku. Jadi, dia menangkap tubuhku dengan tepat.
"Tuhkan, tidak hati-hati jalannya." Omel Yulian.
"Ya ma'af, umi kan tidak tahu kalau akan seperti ini. Tapi, terimakasih ya abi." Ucapku merayu.
Karena kekurang fokusanku, aku yang hampir terjatuh dan Yulian yang menggerutu serta mengomel kepadaku, itu membuat kami tidak bisa pergi dengan tepat waktu. Karena adegan yang tidak terduga terlah terjadi.
__ADS_1
"Ehm.. Ehm..!" Juna berdehem.
Karena Juna yang tiba-tiba saja berdehem dibawah tangga, akhirnya aku dan Yulian menjadi salah tingkah. Dan sesegara mungkin kami mengembalikan ekspresi yang seharusnya diwajah kita masing-masing.
"Semoga saja Juna tidak melihat adegan yang tadi." Do'aku dalam batin.
"Juna sudah siap?" Tanya Yulian membuyarkan kegugupanku.
"Sudah kok bi." Jawab singkat Juna.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat saja." Ucap Yulian kemudian.
Dan kami pun sudah siap untuk meluncur entah kemana. Karena aku benar-benar tidak tahu apa rencana Yulian. Padahal sebelumnya dia mengatakan untuk bersiap-siap ke Kairo. Tapi nyatanya, dia malah mengajak anak dan istrinya untuk jalan-jalan.
Setelah hampir satu jam lebih lima belas menit kami menelusuri jalanan kota, akhirnya kita sampai disebuah restoran yang cukup terkenal dengan makanannya.
Kami menuruni mobil dan masuk ke dalam restoran itu. Dan kedua lelakiku berjalan dengan begitu gontai. Sudah pernah aku bilang kan, bahwa mereka berdua itu hampir 100% memiliki kemiripan.
"Kita duduk di sini saja." Ucap Yulian memutuskan.
Aku dan Juna hanya bisa mengikuti apa yang diminta Yulian. Dan setelah itu, seorang pelayan mendatangi kami untuk menanyakan kepada kami tentang makanan apa yang akan kami pesan.
"Permisi pak, mau pesan apa?" Tanya pelayan itu sambil menyodorkan beberapa menu yang dituliskan di selembaran kertas.
Kami pun memilih makanan yang tidak berhubungan denga sefood atau sejenisnya. Karena Juna tidak makan sefood atau kepiting.
Saat aku melihat sekeliling, ternyata aku baru menyadari bahwa di restoran itu ada tempat hiburan yaitu tempat bernyanyi beserta alat musiknya. Dan ternyata, pandangan Juna tertuju ke tempat itu sedari tadi.
"Abi-umi, Juna permisi sebentar." Ucap Juna.
Aku dan Yulian mengiyakannya dengan menganggukkan pelan kepala kami. Entahlah, mau kemana Juna. Aku juga tidak terlalu memikirkannya, karena aku tahu Juna sudah besar.
"Assalamu'alaikum semuanya. Ma'af sebelumnya telah mengganggu waktu kalian semua. Saya di sini akan menghibur kalian dengan bernyanyi. Tapi saya akan memperkenalkan diri saya terlwbih dahulu. Saya adalah Arjuna putra dari bapak Yulian dan bu Aisyah yang sedang duduk di hadapan saya. Dan saya akan bernyanyi bersama dengan ayah saya. Jadi berikan tepuk tangan kepada ayah saya agar beliau mau maju." Ucap Juna yang berdiri di atas panggung.
"Prok... Prok... Prok...!" Suara tepuk tangan.
__ADS_1
Aku dan Yulian begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Juna. Aku dan Yulian saling menatap dan Yulian hanya mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi yang lucu.
Berhubung semua orang sudah saling bersorak dan bertepuk tangan, akhirnya Yulian berdiri lalu berjalan dengan gontai menuju ke atas panggung. Aku merasa begitu deg-degan dengan apa yang akan mereka lakukan di atas panggung sana. Semoga saja mereka tidak sedang melakukan hal konyol yang akan mempermalukan diri mereka sendiri.