HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 96


__ADS_3

πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Kenapa Yulian belum juga datang untuk menjemput ya?" Tanyaku dalam batin.


Ya.. Karena hari yang sudah sore, kini waktunya aku harus kembali pulang. Dan sekarang aku masih berdiri mematung menunggu kedatangan Yulian.


Selang beberapa menit kemudian, terlihat mobil Yulian dari ujung jalan menuju ke arahku. Sekaligus aku merasa lega karena kedatangannya.


"Assalamu'alaikum sayang," Ujar Yulian sambil membuka pintu mobil.


"Wa'alaikumsalam sayang," Balasku dengan senyuman.


"Silahkan masuk tuan putri!" Ucapnya sambil membukakan pintu untukku.


Coba kalian lihat, betapa romantisnya suamiku. Dia yang selalu sabar menemaniku dalam setiap waktu. Dia yang selalu ada untukku dalam suka maupun duka. Semuanya sudah aku lewati bersamanya. Namun, tidak pernah sekalipun ia mengeluh. Malahan, dia yang selalu memberikan dan mengajarkanku untuk selalu bersabar dalam segala hal.


"Baiklah raja, terimakasih!" Balasku mengikutinya.


Yulian hanya tersenyum dan mengerutkan keningnya. Mungkin itu lucu, ah tidak. Tapi benar-benar lucu.


Aku dan Yulian memasuki mobil yang akan mengantarkan kami ke rumah papa Brian dan mama Maria. Kebetulan tadi kak Fadli menelfon dan mengabarkan bahwa mama Maria sedang tidak sehat. Dan kak Fadli juga mengatakan bahwa putra kami Juna juga berada di sana.


"Ma'afkan abi ya umi, tadi sedikit telat jemputnya." Ujar Yulian meminta ma'af.


"Tidak apa-apa kok abi. Umi kan harus mengerti kalau abi juga sibuk." Balasku dengan lembut tanpa marah sekalipun.


"Terimakasih ya, karena umi sudah mengerti bagaimana pekerjaan abi." Ucap Yulian.


Aku menganggukkan kepalaku dan memberikan senyum yang melebarkan bibirku. Dan setelah itu, Yulian memfokuskan kembali pandangannya untuk menyetir mobil yang sedang kami tumpangi.


Karena merasa sedikit bosan, aku memutuskan untuk menyalakan musik dan mendengarkannya di setiap perjalanan. Entah kenapa aku merasa suka saja ketika mendengarkan musik.


🌿🌿🌿🌿


"Mau kemana kamu?" Tanya Karina.


"Eyang, Juna mau ke kamar dulu ya!" Jawab Juna.


"Iya sayang, kamu istirahat saja. Dan kamu Karina, kamu juga pergilah ke kamarmu untuk istirahat . Eyang tidak apa-apa kok di sini." Tutur bu Maria dengan lembut.


"Beneran eyang tidak apa-apa?" Tanya Karina memastikan.


"Benar sayang, eyang tidak apa-apa kok!" Jawab bu Maria meyakinkan Karina.


"Baiklah kalau begitu, Karina sama Juna ke kamar dulu." Balas Karina dengan sopan.

__ADS_1


Berhubung bu Maria yang sudah jauh lebih baik, beliau pun meminta cucunya untuk meninggalkannya. Karena, beliau merasa kasihan kalau cucunya harus menunggunya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Maryam.


"Kita mau ke kamar kita dulu bun, mau ganti baju sama mengerjakan PR." Jawab Karina .


Sedangkan Juna, iya menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yang dikatakan Karina adalah sebuah kebenaran.


Maryam pun mengijinkan mereka untuk ke kamar masing-masing. Bahkan Maryam meminta mereka untuk segera makan, karena sedari tadi setelah pulang sekolah mereka belum makan.


🌹🌹🌹🌹


"Emm.... Abi, umi boleh minta sesuatu tidak?" Tanyaku memastikan.


"Memangnya umi mau minta apa?" Yulian berbalik bertanya kepadaku.


Aku tidak langsung menjawabnya. Karena, jujur saja aku merasa malu jika aku meminta hal konyol ini kepadanya. Tapi, di dalam hatiku selalu ingin mengatakannya. Dan pada akhirnya, aku berusaha memberanikan diriku untuk mengucapkannya.


"Kok malah bengong sih?" Tanya Yulian lagi.


"Sebenarnya... Sebenarnya umi pengen abi menyanyikan lagu yang romantis untuk umi. Apa abi mau?" Ucapku merasa ragu.


"Ada apa ini? Ada apa dengan istri abi ini? Kenapa tiba-tiba menyuruh abi untuk menyanyikan lagu romantis?" Tanya Yulian menaruh rasa curiga kepadaku.


"Emm... Ya umi pengen saja gitu. Tapi kalau abi merasa keberatan ya tidak usah. Umi juga tidak akan memaksa kok!" Jawabku sedikit kecewa.


"Benar abi mau?" Tanyaku memastikan.


Aku menatap ke arah wajah Yulian dan menaruh rasa harap yang lebih kepadanya. Dan setelah ia menjawab pertanyaanku, dia pun menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. Sekaligus aku merasakan bahagia. Bukan hanya sekedar bahagia, melainkan sangat bahagia.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Siapa ya yang menulis surat ini untukku?" Ujar Juna dalam batinnya.


Ya... Ternyata diam-diam ada yang menjadi fans Juna di sekolahnya. Entahlah siapa gadis itu.


*****


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam Yulian yang bersamaan denganku.


"Wa'alaikumsalam!" Terdengar suara dari dalam.


Pintu pun telah dibuka dengan sangat lebarnya. Ada sosok lelaki yang tampan dari balik pintu itu. Fadli, ya.. Fadli. Kak Fadli lah yang membukakan pintu itu untuk kami.


Setelah masuk ke dalam rumah, kami pun menayakan tentang kesehatan mama Maria. Dan kak Fadli menjawab dengan penuh penjelasannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau memang tidak terlalu buruk. Ya sudah, kami ke kamar mama dulu kak." Ucapku kemudian.


Aku dan Yulian melangkahkan kaki untuk menuju ke kamar mama. Dan menengok keadaan beliau. Sesampai di dalam, ternyata ada kakak perempuanku.


"Kak Maryam," panggilku pelan.


"Eh kalian," ucap kak Maryam sambil tersenyum.


Aku memberikan senyum dan menyapa mama Maria. Setelah itu kami semua mengobrolkan tentang kesehatan mama Maria dan saling bercanda tawa dengan renyah di dalam ruangan persegi itu.


"Oh iya kak, Juna dimana sekarang?" Tanya Yulian.


"Oh Juna, dia ada di kamarnya." Jawab kak Maryam.


Setelah mengobrol cukup lama, aku dan Yulian memutuskan untuk menemui Juna putra kami. Dan kini kami harus menaiki tangga untuk menuju ke kamar Juna. Karena kamar Juna ada di atas yang kebetulan dekat kamar kami.


"Assalamu'alaikum Juna!" Yulian mengucap salam dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Juna dengan singkat dari dalam.


Juna membukakan pintu kamarnya dan mencium telapak tangan kami secara bergantian. Setelah itu, dia mempersilahkan kami sebagai orang tuanya untuk masuk ke dalam.


Aku dan Yulian masuk ke dalam kamar Juna. Meskipun Juna sudah beranjak remaja, tapi Juna tetap saja memanjakan dirinya dengan kami.


"Berhubung kalian berkumpul di sini, abi mau membicarakan sesuatu hal kepada kalian." Ujar Yulian dengan wajah yang serius.


"Ada apa abi? Apakah ada masalah?" Tanyaku penasaran.


"Iya abi, ada apa?" Sahut Juna menimpali.


"Sebenarnya abi mau membicarakan sesuatu hal yang penting kepada kalian. Bahwa abi ditugaskan opa kamu untuk kembali ke Kairo dan memimpin perusahaan di sana. Tapi, kalian tidak harus ikut ke sana. Karena, di sana ada pekerjaan penting yang harus abi segera selesaikan. Setelah abi selesai di sana, abi janji kepada kalian untuk segera pulang." Jawab Yulian menjelaskan.


"Memangnya pekerjaan apa abi?" Sahut Juna bertanya.


"Pekerjaan di kantor sayang. Abi di tugaskan sama opa kamu untuk memindahkan pengurusan perusahaan ke indonesia. Kalau sudah selesai abi janji abi akan pulang ke Indonesia dengan segera." Jawab Yulian lagi.


"Dan itu berapa lama?" Tanyaku dengan nada ketus.


"Paling lama 1 tahun umi. Bagaimana?"


"Kalau Juna terserah umi dan abi saja." Sahut Juna.


"Kapan abi akan berangkat?" Tanyaku lagi penasaran.


"Emm... Besok malam abi akan berangkat." Jawab Yulian merasa ragu.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Mencerna apa yang dikatakan Yulian. Tapi, entah kenapa secara tiba-tiba kepalaku mendadak begitu pusing. Sampai-sampai aku tidak bisa menahannya. Dan pada akhirnya aku jatuh pingsan.


__ADS_2