HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 79


__ADS_3

🕊🕊🕊🕊


Pagi ini semua orang telah disibukkan dengan kegiatan masing-masing, seperti halnya dengan diriku. Aku merasa disibukkan untuk mengurus suamiku yang sedang sakit. Rasanya aku tidak tega melihat wajahnya yang begitu pucat. Kini dia benar-benar terlihat sangat lemah, mungkin efek dari kurangnya istirahat namun, kegitan dan pikirannya harus tetap bekerja.


"Kenapa kamu menangis?" Tanyanya saat tidak sengaja melihatku yang sedang menatapnya.


"A... A... Aku...tidak apa-apa kok sayang. Aku... Aku cuma merasa khawatir dan bersalah atas keadaan kamu yang seperti ini. Pasti kamu kurang istirahat karena selalu menjagaku." Ungkapku sambil menunduk, karena aku merasa tidak mampu untuk menatap wajahnya.


"Kamu tidak usah menyalahkan dirimu." Ucap Yulian sambil menyerka air mataku yang membasahi cadarku dengan pelan dan aku pun membalasnya dengan senyuman.


"Sayang, aku kan kurang sehat. Emm... Bolehkah aku tidur sebentar?" Tanya Yulian meminta ijin kepadaku.


"Tentu. Tidurlah! Aku akan siapkan bubur untukmu. Kamu istirahatlah." Jawabku yang tidak lupa dengan senyuman sebelum aku pergi meninggalkannya.


Kini suamiku pun telah tertidur. Dan aku bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur yang akan mengisi perut Yulian nanti ketika dia sudah terbangun. Karena, bubur adalah makanan yang paling baik untuk orang yang sedang sakit.


Setelah selesai membuat bubur, aku membantu ibu untuk menyiapkan makanan di atas meja makan. Sedangkan ayah, masih fokus dengan korannya dan ditemani secangkir kopi di hadapannya. Namun, sejenak konsentrasinya saat membaca koran telah terhenti karena, sedari tadi tidak melihat keberadaan ke tiga anaknya yaitu, kak Fadli, kak Maryam dan tentunya suamiku Yulian.


"Aisyah, dimana kedua kakak kamu? Dan dimana suami kamu? Kenapa mereka belum terlihat sedari tadi?" Tanya Ayah kepadaku dan spontan aku menghentikan aktifitasku.


"Emm... Kak Fadli dan kak Maryam mungkin sedang pergi ke rumah sakit Ayah. Sedangkan suami Aisyah dia sedang kurang sehat, jadi dia sedang beristirihat dikamar. Kalau Karina sepertinya dia belum terbangun dari tidurnya." Jawabku menjelaskan.


"Kenapa sepagi ini pergi ke rumah sakit? Dan suami kamu sakit apa?" Tanya ayah lagi kepadaku dengan rasa penasarannya.


"Tadinya sih kak Maryam mual-mual kayak mau muntah gitu Ayah, mungkin karena sedang terburu-buru mau memeriksakan keadaan kak Maryam jadi tidak memberitahu Ayah dan Ibu. Sedangkan suami Aisyah, dia kecapekan dan akhirnya mebuat dia menjadi drop." Jawabku lagi dengan penjelasan yang panjang.


Setelah mendengar penjelasanku, ayah pun mengangguk-ngangguk pelan, seakan mengerti apa yang aku jelaskan. Dan sekarang, makanan untuk sarapan pagi telah siap untuk segera di santap. Kini penghuni dimeja makan telah berkurang, tinggallah aku, ayah dan ibu.


🌹🌹🌹🌹


"Ma'afkanlah aku Aisyah, aku benar-benar lemah. Entah kenapa mataku seakan tidak bisa untuk ku buka. Apa ini karena efek samping sebuah suntikan yang dikasih kak Maryam, bahkan untuk menatap wajahmu saja aku pun sudah tidak mampu. Rasanya kedua mataku berat." Ucap Yulian kepada Aisyah sebelum meminta ijin untuk tidur sejenak.


Ya... Mungkin memang karena ada obat bius yang di suntikan oleh Maryam ke dalam tubuh Yulian, sehingga membuatnya harus memejamkan kedua matanya karena hawa kantuk yang tidak bisa tertahan.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit pagi. Dan itu bertanda bahwa matahari sudah mulai semakin meninggi. Tapi, Yulian masih setia dengan tidurnya.

__ADS_1


💝💝💝💝


"Bagaimana dok keadaan istri saya?" Tanya Fadli kepada seorang dokter kandungan.


"Alhamdulillah, selamat untuk dokter Maryam dan anda pak!" Ucap dokter itu.


"Apa maksud dokter? Apa itu berarti saya sedang hamil dok?" Tanya Maryam penasaran.


"Apakah yang dikatakan istri saya benar dok?" Fadli ikut menimpali.


"Iya dokter Maryam, kini anda telah mengandung satu bulan." Jawab dokter Maya sambil menganggukan kepalanya dengan pelan dan tersenyum sumringah.


Maryam dan Fadli pun bahagia dengan kabar itu. Dan setelah memeriksa ke dokter kandungan, Fadli meminta istrinya untuk kembali pulang. Karena kebetulan Maryam di sift malam, jadi lebih baik dia beristirahat sebelum bekerja.


💦💦💦💦


"Krekkkk...!" Suara pintu telah dibuka.


"Ternyata kamu belum terbangun juga dari tidurmu. Ya sudahlah, lebih baik aku ambil air wudhu untuk sholat sunnah dua rakaat." Ucapku saat melihat Yulian yang masih tertidur dengan pulasnya.


Waktu sholat dhuha adalah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak bagi orang yang melihatnya (matahari). Dan itu sekitar lima belas menit setelah ia terbit.


"Usholli sunnatadh dhuha ra'ataini lillahi ta'aalaa."


"Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta'ala"


Niat sholat dhuha pun telah aku ucapkan. Rakaat demi rakaat telah aku lakukan dengan sekusyuk mungkin. Dan setelah aku usai melaksanakan sholat dhuha, aku tidak lupa memanjatkan do'a sholat dhuha.


Artinya : "Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu"


"Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka tutunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh,"


Setelah aku membaca do'a aku kembali melihat Yulian suamiku, dan ternyata dia masih tertidur. Apakah sampai selama itu efek samping biusnya?


"Lebih baik aku membaca Al-Qur'an saja sebentar sambil menunggu Yulian terbangun dati tidurnya." Gumamku.

__ADS_1


Setelah beberapa menit aku membaca Al-Qur'an, aku mendengar suara dering handphone Yulian yang sedari tadi berbunyi. Sebenarnya aku sangatlah ragu untuk mengangkat telfon itu, tapi apalah dayaku kupikir itu penting karena yang menelfon adalah mas Joko, yang tak lain adalah kakak dati suamiku.


🕊🕊🕊🕊


"Nenek...!" Teriak Karina.


"Iya sayang, eh ternyata cucu nenek sudah bangun!" Ucap bu Laila.


"Bunda sama ayah dimana nek?" Tanya Karina.


"Ayah dan bunda kerja sayang, sekarang Karina mandi sama nenek ya, terus makan sama nenek juga." Jawab bu Laila.


Beberapa menit kemudian, datanglah Fadli dan Maryam dengan hati yang gembira. Mereka juga berencana memberikan kabar kehamilan itu dengan segera, agar keluarganya juga ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.


🌹🌹🌹🌹


"Halo, assalamu'alaikum mas Joko." Ucapku saat menerima telfon.


"Wa'alaikumsalam. Apakah ini benar dengan nomor Yulian?" Tanya Joko memastikan.


"Iya mas betul, saya Aisyah. Ma'af mas saya sudah lancang mengangkat telfon Yulian, tapi saat ini Yulian sedang kurang sehat jadi dia tidur sedari tadi karena obat bius. Jika ada sesuatu hal yang penting, sampaikan saja ke saya mas, nanti biar saya sampaikan ke Yulian." Jawabku yang menjelaskan tentang keadaan Yulian kepada keluarganya.


"Apa? Yulian sedang sakit? Ya sudah kalau begitu, kamu kirim alamat rumah ayah kamu biar kami sekeluarga datang menjenguk Yulian. Sekalian mengantar Juna, dia merengek terus ingin menemui abi dan uminya." Pinta Joko kemudian.


"Astaghfirullah halazim, oh iya mas saya akan mengirimkan alamatnya. Terimakasih mas sudah mengabari saya tentang Juna." Balasku, dan setelah itu kami menutup telfonnya.


Saat aku sedang berbicara dengan mas Joko melalui sambungan telfon, ternyata Yulian sudah terbangun dari tidurnya.


"Siapa yang menelfon sayang?" Tanyanya kepadaku.


"Mas Joko sayang, katanya keluarga kamu ingin datang kerumah ayah sekarang untuk menjenguk kamu, sekalian mengantar Juna yang merengek terus meminta bertemu sama kita. Ma'afkan umi abi, umi hampir lupa dengan anak kita." Jawabku menjelaskan.


"Iya umi, lagian itu bukan salah umi. Ini karena abi yang harus beristirahat seperti ini, jadi kita tidak bisa menemui Juna. Tapi, darimana mas Joko tahu kalau aku sedang sakit."


"Umi yang sengaja memberitahukannya abi, karena bagaimanapun mereka adalah keluarga kita terutama kedua orang tua kamu. Jadi, mereka berhak tahu kondisi putranya."

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dariku, Yulian menganggukkan pelan kepalanya. Dan sekarang, waktunya aku untuk memberikan bubur hangat yang sudah aku buatkan untuknya. Dengan kewajibanku, ketlatenan dan kesabaranku, aku menyuapi suamiku yang saat ini memang membutuhkanku ketika dia sedang sakit.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN, LIKE, KOMENTAR DAN VOTE NYA.


__ADS_2