
Malam yang dipenuhi dengan keindahan, kebahagiaan dan juga kehangatan. Malam itu telah terjadi lagi seperti malam sebelum Yulian pergi dinas ke luar kota. Di mana malam itu aku menjadi wanita seutuhnya, yang selalu memanjakan dirinya dalam suasana apapun. Begitupun dengannya, yang selalu memanjakanku, mendekapku dan merengkuh tubuhku sampai tubuhku tidak terlihat lagi. Dan malam ini kami melakukan hal yang sama.
"Aku memintanya kepadamu, karena hanya dirimu wanitaku, Aisyah. Emm, apakah kamu mau melakukannya untukku?"
Sejenak aku menatap kedua bola mata Yulian yang menyimpan penuh dengan harapan. Dan di dalam hati kecilku ingin rasanya aku menggodanya dengan mengatakan tidak padanya. Tetapi, diri ini merasa tak tega jika melihatnya seperti memelas, sehingga pada akhirnya aku pun mengiyakan permintaannya dengan mengangguk pelan.
"Terima kasih, kamu mau memenuhi permintaanku ini, Aisyah!"
"Bukankah ... itu sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu, suamiku. Jadi, aku rasa tidak perlu kamu mengucapkan terima kasih kepadaku, istrimu sendiri." Ujarku tersenyum merekah.
Yulian pun tersenyum, lalu mengecup keningku entah yang ke berapa kali. Karena sudah terlalu sering Yulian mengecup keningku dalam hari ini. Dan itu membuatku merasa bahagia berada disampingnya. Merasakan kenyamanan untuk berlabuh dan bersandar dalam suasana apapun, bahkan saat aku merasa lelah.
"Apa kamu sudah siap untuk malam ini, Aisyah?"
"Aku akan selalu siap untukmu, Mas Yulian. Kamu tidak perlu bertanya lagi untuk memastikannya,"
"Baiklah! Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih untukmu! Karena sudah menjadi wanita yang selalu ada untukku,"
"Iya, Mas."
Dan akhirnya malam yang menghanyutkan bagi kami untuk beradu kasih serta bermain di atas ranjang telah kami mulai. Mungkin, hal sama pun telah dilakukan oleh pengantin baru, yaitu Arjuna dan Cahaya. Namun, itu bukanlah urusanku lagi untuk bercampur tangan dalam rumah tangga putraku. Karena yang terpenting bagiku hanyalah menjadi istri yang sholehah untuk suamiku, mendampingnya dalam setiap hijrah cinta untuk menuju surga yang kita rindukan bersama.
"Arrghh"
__ADS_1
Aku pun meraung, merasakan entah sakit atau kenikmatan. Karena kedua hal itu telah beradu menjadi satu saat organ intim Yulian masuk ke dalam organ intimku. Dan untuk membuatku semakin merasakan entah itu apa, sesekali Yulian meremas dua tumpuk gunung yang saat ini ada di depan mata elangnya yang siap menerkam mangsanya kapanpun ia mau.
"Buka mulutmu, Aisyah!"
Yulian pun memintaku untuk bermain lidah dan sesekali ia menggigitnya, namun aku menikmatinya dan menyukainya. Kami melakukan hal itu sampai malam benar-benar melarut. Bahkan hampir tiga kali Yulian mengeluarkan air maninya, begitupun denganku. Kami malam ini benar-benar saling memuaskan satu sama lain. Dan malam ini adalah malam penuh gairah bagi kami, meskipun kami sudah tidaklah pengantin baru lagi.
"Huuuh,"
Yulian menghembuskan nafasnya dengan terengah-engah, karena merasa sudah lelah. Sehingga kami memutuskan untuk menyudahi adegan yang menggairahkan itu. Sejenak aku dan Yulian merebahkan tubuh bersama secara bersampingan setelah benar-benar merasakan kelelahan dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuh Yulian.
"Apakah kamu sudah merasa lelah, Aisyah?" tanya Yulian menatapku.
"Iya, Mas. Aku merasa sudah lelah, tetapi jika kamu memintaku lagi, maka aku akan melayanimu." Jawabku sembari tersenyum manis.
"Terima kasih, Mas. Karena aku selalu kamu jadikan nomor satu dalam hidupmu, meskipun ada cinta yang lebih besar lagi daripada aku, yaitu cintamu kepada Allah SWT yang sudah mempersatukan kita." Ucapku sembari menenggelamkan kepalaku dalam dekapan Yulian.
"Aku bersyukur memiliki seorang istri sepertimu. Wanita pertama dan terakhir dalam cintaku dan tidak akan pernah ada wanita lain selain dirimu,"
Aku tersenyum menatapnya, lagi dan lagi Yulian memberikan kecupan di keningku sebagai tanda kasih sayangnya. Setelah itu aku kembali merajuk dengan suasana yang menghangatkan. Malam ini adalah malam ternyaman bagiku untuk menyandarkan kepala di atas bahunya, sejenak melepas beban yang membuat sesak di dadaku begitu teringat mimpi buruk seumur hidupku. Meskipun aku tahu mimpi itu menjadi nyata, di mana mereka meninggalkanku dalam kesedihan berlarut. Tetapi, Yulian selalu menguatkan aku dalam menjalani semua kenyataan pahit yang membelenggu.
"Huaamm,"
Aku menguap dan merasa mulai mengantuk dalam hangatnya dekapan lelakiku. Bahkan usapan lembut tangannya yang membelai rambutku, membuatku semakin ingin tertidur pulas di malam ini. Namun, sebelum hal itu terjadi Yulian mengajakku untuk melakukannya bersama.
__ADS_1
"Aisyah, sepertinya rasa capek dan lelah sudah tak lagi dirasakan. Bagaimana jika ... kita mandi bersama?"
"Heem,"
Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan ajakan Yulian. Yah, seperti biasa yang kita lakukan bersama setelah menjalin hubungan intim, sebelum kami melepas rasa lelah dan kantuk, yaitu bersama-sama dalam melakukan mandi wajib.
Setelah mengiyakannya, Yulian membuka selimut tebal yang sempat menyelimuti tubuh kami bersama. Lalu, ia menggendongku untuk menuju ke kamar mandi. Dan sesampai di dalam sana, Yulian melepas satu per satu baju yang aku kenakan sampai tak tersisa sedikitpun sehelai kain yang menutupinya. Begitupun dengan Yulian, melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya kepadaku. Setelah itu, kemricik air shower membasahi tubuh kami yang berdiri tepat di bawahnya.
"Aku mencintaimu, Aisyah. Sampai kapan pun hanya kamu yang akan mengisi ruang hati ini. Cinta pertama dan terakhirku," ungkap Yulian.
"Hafizhakallah, Mas. Semoga Allah selalu melindungimu dimana kamu berada. Dan kamu juga akan tetap menjadi cinta pertama sampai terakhirku." Balas ku seraya mengusap lembut belah dada Yulian.
Malam ini kemesraan tidak cepat berlalu. Bahkan saat berada di dalam kamar mandi, aku dan Yulian saling mengungkapkan rasa kasih sayang kami dan lagi-lagi kami melakukan cumbuan meskipun hanya sekali. Dan hari ini aku mengakuinya, bahwa Yulian adalah lelaki dan suami yang terbaik untukku sampai kapanpun.
Sekitar lima belas menit kemudian akhirnya kami menyudahi kemesraan di dalam sana. Setelah itu kami meraih handuk masing-masing untuk mengeringkan tubuh kami yang masih dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu, aku dan Yulian memutuskan untuk segera merebahkan tubuh kami di atas ranjang empuk yang selalu memberikan kenyamanan disaat kami merasa lelah. Begitupun dengan malam ini, kami benar-benar merasa lelah bahkan, rasa kantuk tak dapat lagi tertahan. Sehingga aku menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhku yang sejenak merasa dingin. Akan tetapi, delapan itu seketika menghangatkan kembali tubuhku.
"Aku akan memelukmu sampai kita tertidur dengan pulas. Bahkan kalau bisa sampai besok pagi." Ujar Yulian seraya menepuk pelan lengan yang ia jukurkan.
Seketika aku tersenyum melihat tingkah laku Yulian yang selalu menjadikanku ratu dalam hatinya. Seujung kuku pun tak ingin rasanya ia untuk menyakiti hatiku. Dan aku selalu berusaha membalas kebaikannya dengan cara menghormati dirinya sebagai seorang suami. Menjadi istri yang sholehah adalah cita-citaku dan hijrah cinta yang kami jalani bukan semata untuk menjalin cinta yang halal, tetapi cinta di atas cinta-Nya dan surga adalah tujuan utama kami dalam menciptakan sebuah hubungan yang halal dan harmonis.
Aku pun melakukan seperti apa yang Yulian mau. Merebahkan kepalaku di atas lengan yang ia julurkan, lalu kami pun memilih menghadap ke arah kanan seperti yang dianjurkan oleh Allah. Dan dekapan yang menghangatkan telah membuatku tertidur, bahkan entah di pukul berapa kami tertidur.
"Mama, Papa, Ibu, Ayah, Kak! Jangan tinggalin Aisyah sendirian di sini! Aisyah merasa kesepian, Aisyah merindukan kalian semua! Jangan pergi! Jangan pergi!"
__ADS_1
Tanpa kusadari air dari ujung pelupuk mataku membasahi pipi ini. Dan Mimpi buruk itu terus menghantuiku, rasa rindu yang teramat dalam begitu sulit untuk terobati. Hanya serpihan kenangan yang tersisa dalam pelupuk mata. Insiden besar itu telah merenggut nyawa mereka, keluarga yang saat ini tak bisa aku temui lagi. Igauan itu terus terlontar dari bibirku, sehingga aku mendengar suara samar yang menyadarkanku dari mimpi buruk yang tak ingin aku temui, yang tak ingin aku masuki di dalam sana.