
"Aisyah...!" Teriak beliau memanggil namaku dan melambaikan tangan.
Ibu itu berjalan ke arahku. Beliau memakai gamis yang tidak terlalu mewah, tapi tetap ok lah dipakainya. Begitu lembut dan anggun saat berjalan. Akhirnya, aku mengenali siapa beliau saat jarak antara kita sudah semakin dekat.
"Bu Laila!" Sapaku dengan lembut.
"Iya sayang, sedang apa kamu di sini?" Tanya beliau kepadaku. Mungkin karena penasaran kenapa aku bisa berada ditoko baju gamis, sedangkan aku sering berpakaian yang termasuknya terbuka.
"Emm...saya ingin membeli beberapa baju gamis dan beberapa jilbab bu. Insyaallah saya ingin belajar lebih baik lagi." Jawabku dengan lembut dan pastinya dengan senyumanku yang mengembang.
"Maa Syaa Allah, syukur alhamdulillah kalau kamu mau berubah menjadi lebih baik lagi sayang." Ucapnya dengan penuh rasa syukur.
"Iya bu. Do'akan Aisyah ya, agar Aisyah mampu memperbaiki diri Aisyah." Kataku pada bu Laila yang meminta do'a darinya.
Entah kenapa perasaanku terhadap bu Laila itu berbeda. Aku merasa begitu dekat dengannya. Apalagi sentuhan hangat darinya membuatku merasa tenang. Perasaan apa ini sebenarnya?
"Iya dong sayang, ibu akan selalu berdo'a untuk yang terbaik buat Aisyah. Oh iya Aisyah, tadi kamu ke sini sama siapa?" Tanya bu Laila.
"Oh iya bu, Aisyah tadi sama kak Maryam. Perkenalkan bu, Ini kakak sepupu saya yang bernama Maryam!" Jawabku sambil menunjukkan di mana kak Maryam berada.
"Wah, maa syaa Allah! Cantik sekali kakak kamu Aisyah!" Ucap beliau yang mengagumi kak Maryam.
Ya_mungkin saja karena kak Maryam yang suka bercadar dan terutama dengan akhlaknya.
"Alhamdulillah bu, insyaallah!" Sahut kak Maryam dengan penuh kelembutan.
"Ya sudah kalau begitu, ibu akan bantu kamu memilih beberapa baju untukmu." Ucap beliau dengan pendapatya.
"Yang benar nih bu, ibu mau bantu Aisyah?" Tanyaku yang meyakinkan.
"Ya benar lah sayang, dengan senang hati malah." Ucapnya dengan senyuman melebar.
Kita bertiga pun sibuk untuk memilih beberapa baju beserta jilbanya. Kita dipenuhi dengan canda dan tawa. Ya selayaknya ibu dengan anaknya yang sedang berbelanja bersama. Kalian bisa bayangin sendiri bagaimana keseruan kita pada waktu itu.
"kring...kring...!" Suara handphone yang berbunyi, menandakan adanya panggilan suara.
"Aisyah, aku pergi dulu ya mau angkat telfon sebentar soalnya." Ijin kak Maryam.
Ya betul sekali, itu handphone kak Maryam yang berbunyi. Entalah_siapa yang menelfon, aku juga tidak tau.
__ADS_1
"Iya kak silahkan!" Kataku mengijinkan.
Aku dan bu Laila masih sibuk memilih baju dan jilbabnya. Sedangkan kak Maryam, dia masih sibuk dengan telfonnya.
" Kamu lagi di mana Maryam?" Terdengar suara lelaki paruh baya yang menanyakan keberadaan kak Maryam.
Bukan berarti aku menguping ya, aku hanya mendengarnya dengan sekilas.
"Maryam lagi jalan-jalan pa sama Aisyah. Papa tidak usah khawatir sama Maryam." Jawab Maryam menjelaskan.
"Ya sudah, kamu dan Aisyah hati-hati!" Ucap lelaki paruh baya itu.
Tak lama kemudian, kak Maryam menghampiriku dan bu Laila. Dia selalu memperlihatkan senyumannya yang begitu menawan.
"Siapa yang menelfon kak?" Tanyaku ya... Sedikit penasaran saja.
"Ah_bukan siapa-siapa Aisyah, papa kamu yang telfon. Beliau menayakan dimana kita berada." Ucapnya dengan menjelaskan.
"Oalah papa, kirain siapa tadi." Kataku dengan singkat.
Jelas Maryam membohongi Aisyah. Seakan Maryam dan pak Brian sedang menyembunyikan sesuatu hal dari Aisyah. Entah apa itu belum pasti. Yang belum diketahui oleh Aisyah.
Setelah sekian jam kita berada di toko, akhirnya kita selesai juga berbelanja. Aku membeli sekitar 5 baju gamis dan 6 jilbab syar'i. Insyaallah aku akan belajar lebih baik. Memulai berhijrah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
"Tadi ibu di antar sama anak ibu, Fadli." Jawabnya dengan pelan.
Tak lama kemudian ada suara memanggil bu Laila dari jarak yang tidak begitu jauh. Ya_sekitar 1,5 meter dari arah barat toko.
"Nah, itu dia anak ibu!" Ucap Bu Laila yang menunjuk kearah Fadli dimana berada.
"Oh ya sudah kalau begitu bu, Aisyah sama kak Maryam mau pamit dulu!" Kataku dengan ucapan berpisah.
"Iya Bu, kita pamit duluan! Terimakasih Bu Laila sudah membantu kami. Ibu hati-hati dijalan!" Sambung Maryam.
"Iya sayang, kalian berdua juga hati-hati dijalan!" Ucap beliau kepada kami.
Aku sudah siap untuk menyetater motor, begitu pun dengan kak Maryam, ia juga sudah siap duduk dibelakangku. Dan kami sudah siap untuk melaju menuju ke arah pulang. Tapi kita berhenti di pinggir jalan, karena perutku yang tidak bisa berbohong dikala lapar sedang melanda.
"Kak, kita makan di sini saja dulu yuk! Sambil istirahat juga." Kataku dengan penawaran yang indah dan mengenyangkan.
__ADS_1
"Baiklah! Terserah kamu saja." Balas kak Maryam mengiyakan.
Kami memasuki warung kecil di pinggir jalan. Namun, biarpun warung itu terlihat kecil, tapi suasana di dalam warung itu begitu ramai. Banyak pengunjung yang berdatangan secara silih bergantian.
Warung kecil ini bernama warung Pak Cipto. Yang terkenal dengan beberapa masakan asli kota Malang.
Kita memesan makanan yang cukup terkenal diwarung ini, yaitu soto babad dan ditambah dengan minumnya yang segar-segar. Dan kita begitu menikmati makan itu.
********
Di sepanjang perjalanan Fadli dan bu Laila sedang membicarakan tentang Aisyah dan Maryam.
"Bu, Fadli mau bertanya. Siapa sih tadi yang sedang bersama ibu di depan toko?" Tanya Fadli kepada ibunya.
"Oh tadi. Tadi itu, Aisyah yang pernah datang ke rumah kita waktu malam-malam itu loh! Sedangkan yang memakai cadar itu Maryam, kakak sepupu Aisyah." Jawab Bu Laila menjelaskan.
"Oh, kirain siapa." Balas Fadli dengan sangat singkat.
"Memangnya ada apa kamu bertanya tentang itu?" Tanya bu Laila.
"Akh, tidak apa-apa kok Bu! Cuma ada perasaan aneh saja Fadli memandang mereka berdua." Jawab Fadli.
"Aneh bagaimana maksud kamu nak?" Tanya Bu Laila kembali yang penasaran.
"Ya_begitulah lah Bu, aneh saja gitu pikoknya." Jawab Fadli yang bingung untuk menjelaskan.
"Kamu suka ya sama salah satu dari mereka?" Lagi-lagi Bu Laila bertanya.
"Akh_suka? Apa sih maksud pertanyaan Ibu?" Jawab Fadli malu-malu.
"Sudahlah, jujur saja sama ibu." Kata Bu Laila yang sedikit mendesak.
"Tidak bu, bukan seperti itu!" Kata Fadli yang mengelak.
Dalam perjalanan pulang, ada sedikit berdebatan kecil antara Bu Laila dan Fadli. Tapi, tidak sampai membuat mereka ribut.
********
Alhamdulillah, akhirnya perut kita berdua sudah terisi. Dan kita juga sudah bersiap-siap kembali menuju ke rumah. Tidak butuh waktu lama sih, jarak tempuh yang kita lalui.
__ADS_1
Setelah 15 manitlah kira-kira, akhirnya kita sampai juga dirumah. Kita membuka pintu dengan mengucap salam. Dan tak lama kemudian terdengar sahutan dari dapur yang menjawab salam kita, tak lain itu adalah bik Murni.
Serasa capek sekali hari ini. Aku dan kak Maryam langsung menuju ke kamar masing-masing untuk mandi dan berganti pakaian. Ingin rasanya aku memulai berpakaian yang tertutup. Dan ku coba beberapa baju di antara yang sudah ku beli tadi. Penasarankan bagaimana cantiknya aku? Kalian bisa membayangkan bagaimana itu. Aku yang memiliki tubuh perfect pasti terlihat cantik.