
Suara adzan subuh terdengar samar ditelingaku. Yang membuatku seketika terbangun dari mimpi buruk yang tak ingin lagi aku rasakan, aku masuki di dalam sana dan yang ingin aku lupakan. Namun, rindu yang amat dalam, yang tersimpan di dalam diri ini tak mampu dipungkiri bahwa rasa ingin bertemu selalu hadir menghantui.
"Dug, dug, dug,"
Jantung ini pun berdebar sangat hebat ketika aku mulai membuka mata namun, masih teringat akan kejadian dua tahun lalu yang selalu menghantuiku melalui mimpi buruk. Akan tetapi, seketika aku mengingat akan kuasa Allah yang sudah mengatur jalan cerita hidupku.
"Astaghfirullah hal azim!" ujarku lirih.
Sejenak aku menyapu setiap sudut ruangan yang ada di dalam kamarku. Dan setelah tersadar, aku mendapati wajah lelakiku yang selalu mendamaikan dan menenangkan hati ini. Ku pandangi wajahnya yang masih tertidur dengan pulas, lalu aku punemberikan kecupan di pipinya. Namun, hal itu tak sedikit pun membuatnya terusik dari tidurnya. Sehingga aku memutuskan untuk bangun terlebih dahulu dan menyegarkan kembali tubuh yang masih sedikit merasa lelah.
"Byur!"
Beberapa gayuhan air dari dalam bak mandi telah mengguyurku dan membasahi tubuh ini. Seperti biasa, tak membutuhkan waktu yang lama untukku berada di dalam sana. Setelah usai melakukan mandi pagi, aku pun segera menjalankan sholat subuh, tak lupa juga untukku melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, meskipun aku masih belum fasih dalam melantunkannya dengan makhraj yang benar.
Dalam setiap ayat yang ku baca mampu mendamaikan hati yang gelisah, pikiran yang entah kemana dan merindu dengan begitu perihnya. Hanya waktu yang mampu mengobati luka yang kesekian ketika kembali mengingat dia tahun lalu.
"Mas ... Mas Yulian, bangun Mas!"
Seusai mengaji aku pun menghampiri Yulian untuk membangunkannya. Dan tidak lama kemudian Yulian pun mengerdipkan kedua matanya setelah mendengar panggilanku. Setelah itu, Yulian tersenyum dengan manis ketika menatap lekat mataku yang penuh cinta untuknya.
"Kenapa Mas Yulian senyum-senyum begitu sih? Memangnya ada yang lucu apa? Atau...."
"Atau apa, Aisyah?" tanya Yulian menyelidik?
"Emm, tidak jadi deh! Lebih baik sekarang Mas Yulian mandi setelah itu shalat subuh, karena sudah jam lima pagi loh!"
"Tidak. Tunggu sebentar! Kamu duduk di sini dulu!" Pinta Yulian yang menepuk pelan muka kasur.
Aku sejenak menatapnya penuh dengan rasa curiga dan juga penasaean dengan apa yang hendak dilakukannya. Tetapi, aku yang mengingat akan waktu shalat subuh hampir habis, aku tidak mengiyakan permintaannya itu. Bahkan aku beranjak dari tempatku berdiri, tetapi aku kalah cepat dengan Yulian.
__ADS_1
"Bruk!"
Lenganku ditarik dengan sekuatnya, sehingga tubuhku terjatuh tepat di atas tubuh Yulian yang masih setia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bahkan tatapan kami saling bertemu, sehingga aku merasa waktu telah terhenti untuk sejenak. Lagi dan lagi kemesraan di antara kau telah berlanjut ketika cahaya matahari masih malu-malu untuk memancarkan cahayanya.
"Emuach,"
Pagi ini kami melakukan ciuman sebagai awal dari rasa penyemangat kami saat hendak menyambut hari yang cerah dalam menjalani segala aktivitas di hari ini. Namun, kemesraan itu begitu cepat berlalu, karena Yulian harus segera membersihkan tubuhnya lalu menjalankan perintah-Nya. Sedangkan aku, begitu usai memakai pakaian syar'i dan tidak lupa pula dengan cadar aku langsung menuju ke dapur untuk bertempur dengan beberapa alat-alat di sana dan beberapa sayuran serta yang lainnya.
"Enaknya masak apa ya?" gumamku dalam hati.
"Bu Aisyah sudah bangun toh?"
"Astaghfirullah hal azim. Bik inem, ngagetin saja!"
Seketika aku telah dikejutkan oleh bik Inem yang secara tiba-tiba masuk ke ruang dapur. Namun, kehadiran bik Inem membuatku bahagia, karena ketika bersama bik Inem aku mampu menghilangkan rasa rindu kepada Ibuku. Ibu yang sudah melahirkan aku, tetapi kini tak dapat lagi aku temui meskipun diri tengah merindu.
"Oh iya, bik Inem bantuin saya masak yah! Masak yang spesial dulu, soalnya kan ... masih harinya pengantin baru buat Arjuna dan Cahaya. Jadi, kita layani mereka seperti raja dan ratu. Bagaimana ... bik Inem mau, kan?" ajak ku.
"Emm, nah itu dia masalahnya, bik. Saya masih bingung mau masak apa,"
"Masak saja kesukaan anak-anak!"
Seketika aku membalikkan tubuhku untuk mencari pusat suara yang baru saja hadir. Dan ternyata itu tak lain adalah Yulian. Dia hadir dengan pakaian yang tidak biasa dipakai olehnya. Entahlah kostum apa yang dipakai nya itu, yang membuatku terpaku bahkan aku menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bukan hanya itu saja, Yulian juga memakai topi berwarna putih yang menjulang bakal topi seorang koki handal. Dan itu sukses membuat aku dan bik Inem tertawa dengan lepas.
"Mas, pakaian apa ini yang kamu pakai? Aneh banget tahu!" ujarku tertawa.
"Iya_ Pak Yulian, ini benar-benar terlihat lucu! Tapi sebelumnya saya minta maaf loh, Pak. Bukan berarti saya mau mengejek atau menertawakan Bapak." Ungkap bik Inem yang menahan tertawa karena merasa takut.
Setelah mendengar ungkapan bik Inem, Yulian pun kembali memandangi setiap sehelai kain yang menutupi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tetapi, ia tidak pernah memiliki sifat pemarah yang setiap kali ada yang memberikan saran atau apapun itu terhadapnya. Begitupun dengan pagi ini, ia tidak memarahi bik Inem yang sudah menertawakan dirinya. Bahkan sebaliknya, ia semakin membuat aku dan bik Inem tertawa tiada henti.
__ADS_1
"Tapi ini tidak ada yang salah loh! Karena pagi ini aku yang akan menjadi koki di dapur ini. Bagaimana penampilan aku? Sudah pasti keren, kan?" ujar Yulian dengan percaya diri.
"Tunggu! Memangnya Mas Yulian mau masak apa? Dan ... memang bisa masak?"
"Ets, jangan salah! Sudah, lebih baik sekarang kamu dan bik Inem duduk diam saja di sini! Biar aku mulai untuk melakukan aksi di dapur. Nanti kalau sudah selesai baru kalian bisa menilai." Ujar Yulian lalu, membawaku di sebuah kursi dan memintanya untukku duduk dan bersantai bersama bik Inem.
Aksi Yulian pun telah dimulai dengan beberapa peralatan dapur dan beberapa bahan pangan yang akan dijadikannya korban. Entahlah, sebisa dan seenak apa ia memasak untuk dijadikan sebagai hidangan sarapan pagi nanti. Dan ketika Yulian sudah disibukkan dengan beberapa peralatan dapur, aku menatapnya dalam karena tingkah lakunya yang konyol selalu membuatku tersenyum.
Satu jam hampir berlalu, di mana kini jam sudah menunjukkan tepat pukul 06.00 pagi. Begitupun dengan Yulian, yang sudah menyelesaikan pertempurannya di dapur. Dan kini, tinggal penilaian tentang rasa yang bagaimana untuk semua masakannya. Sebelum semua yang dimasak oleh Yulian disiapkan di atas meja ruang makan, aku dan bik Inem mencicipi nya satu persatu bakal seorang juri.
"Enak, Bu! Wah, Pak Yulian jago masak juga yah!" puji bik Inem.
"Masak sih, Bik? Coba aku yang cicipi dulu!" ujarku.
Sejenak aku terdiam sembari merasakan masakan Yulian yang sudah masuk ke dalam mulutku. Dan benar apa yang dikatakan oleh bik Inem, semua masakan itu aku akui begitu lezat dan pas, bak masakan yang ada di restoran. Dan ketika aku, bik Inem dan Yulian masih berada di dapur, tiba-tiba Ahtar datang menyapa. Bahkan Ahtar kembali bertingkah konyol yang membuat aku dan Yulian merasa malu dihadapan bik Inem.
"Abi-Umi, kalian kenapa di sini?"
"Lagi masak dong sayang, kan di dapur! Kamu tidak lihat apa, kalau Abi memakai pakaian seperti ini!"
"Iya juga sih! Tapi, tidak biasanya saja Abi juga ikut di dapur dan ... Abi bangun jam berapa? Kok sudah selesai masaknya jam segini? Akh, Ahtar tahu ... pasti Abi dan Umi semalaman buat dedek untuk Ahtar ya? Bahkan sampai-sampai kalian tidak bisa tidur,"
Terlihat jelas bik Inem yang tengah menahan tawa, karena bik Inem membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Dan itu sukses membuat aku malu dengan pipi kemerehan dibalik cadarku. Begitupun dengan Yulian yang mungkin saja merasakan hal yang sama denganku, karena ia hanya diam tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Ahtar, setelah sukses membuat kedua orang tuanya merasa malu, ia melangkah pergi begitu saja dan meningglkan kami yang masih berada di posisi yang sama.
"Pak-Bu, kalau begitu saya mau ke ruang belakang dulu! Permisi!" pamit bik Inem.
Bik Inem pun ikut meninggalkan aku dengan Yulian. Dan kini hanya ada aku dan Yulian yang masih berada di dapur, yang hanya bisa saling menatap satu sama lain. Tidak lama kemudian Yulian menghampiriku ikut menggodaku dengan tingkah konyolnya. Yang membuatku tidak habis pikir bahwa anak dan juga Abi nya memiliki sifat yang sama.
"Bagaimana kalau kita menlajutkan proses pembuatan dedek untuk Arjuna dan Ahtar?" bisik Yulian.
__ADS_1
Aku pun tercengang dengan seribu kata. Hanya bisa menatapnya dengan tatapan kesal. Namun, kekesalan itu telah dilukuhkan begitu mudahnya ketika Yulian mengecup kening dan juga pipiku yang terbalut cadar. Dan ketika aku masih berada di posisi yang sama dengan Yulian, tiba-tiba terdengar keras suara bel rumah kami tengah berdering. Yang membuat aku dan Yulian seketika melangkah menuju ke arah pintu utama untuk memastikan siapa yang tengah bertamu sepagi ini.