
💝💝💝💝
Makananan yang tersaji begitu lezat, sehingga kami menikmati dengan lahab. Seperti yang di ajarkan oleh agama islam, di mana ketika kita hendak makan kita tak boleh banyak bicara. Ya begitupun dengan kita, saat makan kita tak perlu banyak bicara.
"Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga!" Ucapku lirih, namun ya tetap saja terdengar oleh papa, bu Maria, kak Maryam dan bik Murni, lalu mereka menertawakanku secara bersamaan.
"Aisyah, kamu itu ya!" Ucap kak Maryam yang menatapku dengan senyum manisnya.
"Hehehe...ma'af kak dan semuanya!" Balasku dengan senyuman pula.
"Ya sudah_berhubung kita sudah selesai makannya, kita bereskan saja meja makan seperti semula. " Ucap Bu Maria dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu Bu, Aisyah siap membantu!" Ucapku dengan semangat.
"Aisyah, kamu nggak usah bantu kami! Kamu harus istirahat dulu, tapi jangan lupa minum obatnya dulu." Ucap kak Maryam yang menghentikanku untuk membantunya beberes. Begitu pula dengan papa dan bu Maria, mereka juga melarangku.
Akhirnya aku menuruti omongan kak Maryam dan yang lainnya. Kebetulan sore itu jam masih menunjukkan pukul 17.00, jadi setelah aku minum obat kuputuskan untuk membaca Al-Qur'an dulu sebelum sholat Maghrib.
Setelah setengah jam berlalu dan di mana suara adzan Maghrib sudah berkumandang, aku memutuskan untuk segera mengambil air wudhu. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk dari luar. Entah siapa dia.
"Aisyah, kamu sudah sholat magrib apa belum? Kalau belum, ayo kita sholat berjama'ah bersama papa dan ibu!" Tanya kak Maryam kepadaku setelah ku bukakan pintu.
"Kebetulan sekali kak, Aisyah juga belum sholat kok!" Jawabku kemudian.
Kamipun berbondong-bondong keruangan khusus untuk menjalankan sholat berjama'ah. Berhubung jarak rumah papa dengan masjid yang cukup jauh, jadi papa sengaja membuat ruangan khusus untuk sholat berjama'ah di rumah.
Setelah usai menjalankan sholat magrib kita berkumpul di sebuah ruangan yang rileks, yaitu ruang keluarga.
"Emm....Pa, Aisyah boleh tahu tidak siapa kedua orang tua Aisyah?" Tanyaku kepada papa untuk memulai pembicaraan dan dengan tatapan yang begitu serius.
__ADS_1
"Hmmmmmmn...! Baiklah, mungkin memang sudah waktunya kamu tahu tentang orang tua kandung kamu Aisyah!" Jawab papa dengan menghembuskan nafas panjang.
"Papa ceritakan saja kepada Aisyah, karena Aisyah ingin tahu siapa orang tua kandung Aisyah Pa! Ucapku yang mengharapkan bahwa papa segera memberitahu.
Flash Back On
" Baiklah. Pertama, nama kedua orang tua kamu adalah bu Laila dan pak Muchtar. Dulu, Papa mengadopsi kamu karena putri kandung Papa dan Mama menghilang karena diculik.
Kejadian itu membuat Papa dan Mama begitu bingung dan khawatir, sehingga membuat Mama jatuh sakit. Papa semakin tidak karuan dan pikiran Papa begitu kacau, namun Papa berusaha untuk tegar menghadapi cobaan yang Allah berikan kepada kami.
Suatu hari_di mana jadwal Mama periksa di rumah sakit sudah ditentukan, kami bertemu dengan pak Muchtar selaku Ayah kandung kamu Aisyah. Dia begitu khawatir dan bingung, karena biaya operasi melahirkan istrinya yang cukup mahal.
Hingga akhirnya, Papa dan Mama mencoba mendekati dan mencoba untuk membantu mereka. Namun, kita mengajukan sebuah persyaratan untuk mereka. Mungkin syarat itu begitu sulit, namun pada akhirnya mereka menyetujuinya. Dan persyaratan yang kita ajukan adalah, mengadopsi kamu.
Flas Back Off
"Bukan seperti itu Aisyah. Mereka sebenarnya berat kehilangan kamu, tapi dengan kehidupan mereka yang sangat terbatas mereka mencoba mengikhlaskan kamu bersama Papa dan Mama. Belum lagi, mereka harus mengurus anak pertama mereka yaitu Fadli kakak kamu." Jawab Papa yang menjelaskan kesalah pahaman ku.
"Lalu, dimana mereka sekarang Pa?" Lagi-lagi aku bertanya kepada Papa, karena ke ingin tahu anku tentang keberadaan orang tua kandungku dan kakak kandungku.
"Papa juga kurang tahu dimana mereka sekarang. Terakhir Papa berhubungan dengan mereka, mereka berada di Palembang. Dan setelahnya, Papa tidak tahu lagi." Jawab Papa dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Jadi seperti itu ya Pa? Kasihan juga mereka!" Potong kak Maryam.
"Aisyah, kamu yang sabar ya nak!" Sambung lagi bu Maria yang menguatkanku dengan pelukannya.
"Dan kamu Aisyah, ma'af beberapa bulan yang lalu Papa sudah membuatmu salah paham tentang Papa yang jarang pulang. Karena, saat itu Papa berusaha terus mencari kakak kamu Maryam. Hingga akhirnya, bu Maria menghubungi Papa dan mempertemukan Papa dengan kakak kamu Maryam." Ucap Papa lagi-lagi menjelaskan hal yang tidak aku ketahui sama sekali.
"Pa, seharusnya Aisyah yang meminta ma'af karena sudah mencurigai Papa yang tidak-tidak. Dan seharusnya Papa menceritakan semua ini dengan Aisyah, bukan menyembunyikannya seperti ini." Kataku dengan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Aisyah, Papa hanya ingin menjaga hati kamu nak! Papa takut kehilangan kamu." Ucap Papa yang membuat kami semua merasa terharu.
Kini semua telah terjadi dan semua hal yang awalnya tidak aku ketahui, sekarang aku mengetahuinya. Semua orang menguatkanku dan menyuport segala hal yang menurut mereka itu baik untukku.
"Aisyah, sekarang kamu sudah tahu semuanya dan kakak harap kamu janganlah bersedih, karena kakak pun juga mengalami hal yang kamu rasakan saat ini. Kita harus bisa bangkit dan terus bersemangat dalam menggapai cita-cita kita." Ucap Kak Maryam yang menguatkanku dengan pelukannya.
Setelah beberapa jam kami melakukan ritual kesedihan, kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat isya', karena jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam.
Karena hari sudah semakin larut malam, kita pun menghentikan jadwal kebersamaan dan beristirahat di kamar masing-masing yang sudah disediakan, termasuk juga bu Maria. Ya_karena sudah malam, bu Maria disuruh menginap oleh Papa di rumah kami.
"Kak, kakak malam ini temenin Aisyah ya! Karena Aisyah mau mengobrol sesuatu yang penting dengan kakak!" Pintaku kepada kak Maryam dengan penuh harap.
"Emm...memangnya mau mengobrol tentang apa Aisyah? Kakak jadi penasaran nih!" Tanya kak Meryam dengan ekspresi mata yang dibulatkan dan kening yang dikerutkan.
"Makanya kakak mau ya temenin Aisyah!" Kataku dengan manja.
"Hmm...jangan bilang kalau sebenarnya kamu takut tidur sendirian ya!" Kata kak Maryam yang sedikit meledekku.
"*Tid*aklah kak, Aisyah itu kan pemberani! Hehe...! Tapi kakak mau kan?" Tanyaku memastikan.
"Emm...mau tidak ya...?" Lagi-lagi kak Maryam meledekku.
"Ayolah kak, mau aja ya!" Ucapku yang merengek seperti anak kecil.
"Baiklah, kakak mau kok!" Jawab kak Maryam yang akhirnya menyetujui.
Setelah kak Maryam menyetujui permintaanku, kami pun menuju ke kamarku untuk tidur bersama. Seperti yang aku pinta kepada kak Maryam tadi, sebelum berlibur di pulau kapuk, kami berdua mengobrolkan sesuatu hal.
HAI-HAI...TEMAN READERS SETIAKU, KIRA-KIRA APA YA YANG INGIN DIBICARAKAN AISYAH? JANGAN LUPA SELALU IKUTI EPISODE SELANJUTNY YA! JAFIKAN NOVEL INI SEBAGAI NOVEL FAVORITMU, AGAR LEBIH MUDAH UNTUK MEMBACA EPISODE SELANJUTNYA. DAN JANGAN LUPA DUKUNG AKU DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE DARI KALIAN YA! KARENA HANYA KALIANLAH PENYEMANGATKU..! SALAM SAYANG DARIKU YA...! TERIMAKASI ..! 🙏👍📖🎁
__ADS_1