HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 44


__ADS_3

Kami semua sangat bersyukur dengan acara malam ini. Selain pertemuan ke dua keluarga karena perpisahan yang lama, ada juga pertemuan keluarga untuk menyatukan ke jenjang pernikahan. Ditambah lagi dengan aku yang akan segera diwisuda dan memulai lembar baru kembali.


⛅🌿⛅🌿⛅🌿


1 Minggu telah berlalu. Di mana aku harus di sibukkan dengan acara wisuda di kampusku. Kini aku tinggal bersama Ayah dan ibu serta kakak lelakiku dan itu aku jalani setelah malam pertemuan 1 minggu lalu. Meskipun sebenarnya, keluarga papa Brian berat melepas kepergianku yang memilih tinggal dengan keluarga kandungku, tapi itu hanya sementara waktu. Karena, aku ingin bahagia dan mengenal mereka selayaknya sebuah keluarga yang aku harapkan.


"Alhamdulillah, aku sudah menjalankan sholat-Mu Ya Robbi...! Dan hati ini jauh lebih tenang sekarang." Ucapku dalam batin setelah usai menjalankan sholat subuh.


Sekarang, saatnya tokoh Aisyah yang jail dan super bawel kembali ceria. Namun, bukan sikap dan sifat buruk yang menetap dalam diriku. Aisyah yang berhijrah dan masih belajar dalam proses hijrahnya, yang akan kerap muncul dalam layar. Hohoho... Bagaikan sebuah film dan aku lah pemeran utamanya.


"Ehm... Ehm...! Jam berapa ini kak? Dibangunin dari tadi malah tidak bangun-bangun, dasar nyebelin." Ucapku menggerutu kepada kak Fadli.


"Iya-iya dek, bentar lagi lah! Kasih waktu kakak sebentar saja buat tidur ya!" Balas kak Fadli yang semakin membuatku merasa kesal.


Ya_jadi begitulah rasanya aku memiliki seorang kakak lelaki. Selalu menggodaku dengan kata-kata maupun tingkahnya. Meskipun terkadang membuatku merasa jengkel, tapi aku selalu dibuat tertawa pada akhirnya.


"Dengerin Aisyah ya kak! Sekarang itu, kakak sih masih enak dibangunin sama Aisyah, dan Aisyah juga membersihkan tempat tidur kakak. Coba kalau nanti kakak sudah menikah dengan kak Maryam, pasti kakak bakalan dimarahin sama kak Maryam kalau kakak tidak segera bangun-bangun." Ceritaku yang menggoda kak Fadli dan seketika membuat kak Fadli terbangun dari tidurnya. Hahah... Begitu konyolnya kakak lelakiku ini!


"Haaaaaaa! Memang gitukah dek? Wah, bahaya kalau begitu ya dek. Kakak tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi dan kakak kamu Maryam ngambek. Terus kakak harus bujuk rayu dia agar mema'afkan kelakuan kakak. Mana kakak tidak bisa romantis lagi!" Ucap Kak Fadli sambil memutar ke dua bola matanya. Andai kalian tahu bagaimana reaksi dan ekspresinya, pasti kalian akan tertawa sepertiku.


"Wkwkwkwkwk...! Ya Allah kak, Aisyah kan cuma bercanda. Lagian, tidak mungkin kalau kak Maryam seperti itu. Kak Maryam itu selalu sabar. Dan mungkin nih ya, kalau kak Fadli tidak bisa dibangunin dengan kata-kata pasti kak Maryam membangunkan kakak dengan sebuah ciuman." Ucapku yang lagi-lagi membuat kak Fadli nampak konyol. Entahlah, kenapa aku memiliki seorang kakak yang konyol. Padahal, kalau dipandang dari luar dia nampak seorang lelaki yang pendiam dan tidak banyak bicara.


"Sudah deh, tidak usah bilang seperti itu lagi. Mulai lagi kan jailnya. Dasar nih ya, kayaknya mau kakak kasih pelajaran nih!" Ucap kak Fadli dengan menggelitiku dan itu membuatku geli.

__ADS_1


Aku bahagia memiliki seorang kakak yang mampu menghiburku dalam situasi apapun. Aku bersyukur atas keluarga besarku.


"Lihatlah Ayah, betapa bahagianya Ibu melihat kedua anak-anak Ibu bercanda ria." Ucap bu Laila kepada pak Muchtar yang melihat Aisyah dan Fadli lagi bercanda.


"Iya ya Bu, Ayah juga bahagia. Ayah tidak pernah melihat Fadli tertawa lepas seperti itu. Selain melihatnya fokus dengan kegiatannya." Ucap pak Muchtar.


Ya_Ibu dan Ayahku selalu menampilkan senyumannya yang manis saat melihat kedua anak-anaknya ini berada dihadapannya dan melihat anak-anaknya tertawa bahagia.


"Akh sudah kak, geli tau...! Sekarang Aisyah minta ampun deh, Aisyah beneran geli kak!" Rintihku sambil menahan rasa geli.


"Baiklah, kakak sudahi semua ini. Tapi, awas saja kalau adik kakak ini mulai jail lagi." Ucap kak Fadli yang seakan mengancam.


"Yah ngancem nih! Tidak seru deh!" Ucapku sambil berpura-pura ngambek. Andai kalain tahu bagaimana aku berpura-pura ngambek, pasti geli banget melihatku. Bibir yang sedikit aku manyunkan dan pandangan ke arah lain sambil ber ekspresi sedikit sinis.


"Yah, kok begitu sih jadinya. Akh sudahlah, Aisyah pergi saja. Aisyah mau bersiap-siap buat acara hari ini. Dan kakak cepatlah bangun terus sholat subuh sana, daripada diomelin sama Ibu dan Ayah." Kataku yang mengancam kak Fadli.


Aku pun pergi meninggalkan kak Fadli yang masih duduk di tepi kasur dengan wajah kucel dan rambut yang super acak-acak an.


💝💝💝💝


"Ya Allah, terimakasih sudah memberikan ke utuhan dalam keluargaku. Terimakasih sudah memberikan aku adik perempuan yang begitu cantik, baik dan cerdas seperti dia." Ucap Fadli dalam batin.


Akhirnya Fadli sudah menyelesaikan tugas wajibnya yaitu, sholat subuh. Dan itulah sebagian dari do'a Fadli pagi ini.

__ADS_1


"Aisyah, entah kenapa aku begitu merindukanmu. Apakabar kamu? Andai kamu tahu, aku begitu tersiksa dengan semua kejadian yang aku alami. Andai kamu tahu, aku pun juga terpaksa menjalani ini semua. Ya Allah, semoga Engkau segera mengakhiri kisah yang rumit ini." Ucap Yulian yang begitu merasakan keterpurukan.


Begitu lika-liku kisah cinta Yulian dan Aisyah. Entahlah, apakah mereka bisa bersatu kembali dan bisa menjalin hubungan yang lebih serius atau bahkan mereka akan berpisah untuk selamanya.


Hari sudah semakin siang. Aku pun sudah selesai dalam persiapan wisudaku. Dan kini, sudah waktunya aku untuk berangkat ke gedung yang sudah di tentukan oleh pihak Kampus.


"Aisyah berangkat dulu ya Ayah-Ibu!" Ucapku berpamitan sambil mencium tangan kedua orang tuaku.


Ya_sesuai rencanaku dari awal. Berhubung kak Fadli adalah seorang dosen di kampusku, jadi aku lebih baik berangkat bersamanya terlebih dahulu. Sedangkan ayah dan ibu, nanti mereka datang bersamaan dengan papa Brian, mama Maria dan kak Maryam.


"Ya sudah, Assalamu'alaikum Ayah-Ibu!" Aku yang mengucap salam sebelum berangkat ke gedung.


"Wa'alaikumsalam, kalian harus hati-hati! Jangan ngebut-ngebut lo Fadli!" Balas ayah dan ibu yang masih berdiri di depan pintu sambil memandangi aku dan kak Fadli.


Akhirnya kami berangkat dan melajukan motor dengan kecepatan sedang. Kami sungguh menikmati perjalanan kami yang di penuhi dengan padat dan macetnya kota. Namun, itu tidak bermasalah bagiku. Aku juga tidak merasa takut kalau dandanan aku akan luntur. Karena, aku cukup tahu bahwa setelah berhijrah dan memakai cadar, aku harus bisa jaga penampilan agar tidak menjadi sebuah pandangan yang tabaruj.


"Aisyah, pegang tangan kakak. Kali ini, kakak akan sedikit mempercepat kecepatannya ." Ucap kak Fadli memintaku.


Begitu erat aku memegang pinggang kak Fadli, seakan aku tak mau melepasnya. Sekarang aku tahu bagaimana memiliki kakak lelaki dan aku juga merasa selalu di lindungi dalam setiap langkahku.


"Aisyah! Apakah benar itu tadi Aisyah? Tapi, dengan siapa itu? Bukankah lelaki itu yang bersama Aisyah di Rumah Sakit? Kenapa mereka menaiki motor berdua? Dan memegang pinggang pula lagi Aisyah. Apakah itu kekasih barunya?" Ucap Yulian bertanya-tanya setelah melihat Aisyah dan Fadli yang melintas di hadapannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


SEBELUMNYA SAYA BERTERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN. SEMOGA KALIAN TETAP MEMBERIKAN DUKUNGAN UNTUK NOVEL INI. ☺


__ADS_2