HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Hanya Arumi


__ADS_3

Sejenak aku mengenyatkan pantatku di kursi tunggu yang disediakan di ruang lobby rumah sakit Columbia Asia Medan. Lalu, aku menerima panggilan dari Arumi, karena yang menelponku tak lain adalah Arumi. Sejak pertemuan di antara kami saat masih berada di Edinburgh, Arumi seringkali menghibungiku walaupun sekedar tanya kabar atau sedang apa? Seolah hubungan yang terjalin di antara kami. semakin dekat, bak saudara kandung. Dan aku merasa senang memiliki sahabat seperti Arumi, yang selalu membantuku dalam segala hal, selalu ada untukku dalam keadaan suka maupun dukaku.


"Assalamu'alaikum, Aisyah. How are you?"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Arumi. Alhamdulillah, aku baik-baik saja kok." Aku membohongi Arumi, meskipun aku tak bermaksud melakukannya.


"No, Aisyah. Aku melihat kamu tidak sedang baik-baik saja. Mata kamu sayu, apa yang sebenarnya terjadi, Aisyah?"


"Aku baik-baik saja, Arumi. Jangan khawatir seperti itu!"


"Aku melihat kamu dan aku mengatahui tentang kamu, lebih dari diri kamu sendiri, Aisyah. Apa kamu lupa akan hal itu? Dan kenapa kamu berada di Rumah Sakit jika, kamu memang baik-baik saja, Aisyah?"


Seketika aku terdiam, mengingat kembali saat masih berada di Edinburgh. Di mana kenyataannya saat di sana, Arumi memang mengetahui segalanya tentang diriku, bahkan Dia mengetahui semuanya lebih dariku. Sehingga aku pun mengaku dan menceritakan kepada Arumi tentang apa yang saat ini aku rasakan. Namun, aku tidak memperlihatkan sisi lemah ku saat kami bertatap muka melalui panggilan video. Dan aku akan berusaha tegar saat berhadapan dengan siapapun, seolah tidak pernah terjadi tentang kanker jantung yang melekat di tubuhku ini.


"Aisyah, aku yakin kamu adalah wanita yang hebat dan kuat. Aku janji, aku akan menjagamu dengan mencarikan Dokter alhi dalam kanker jantung di Edinburgh." Ucapan itu terdengar begitu serius.


"Tidak, Arumi. Kamu tidak perlu melakukan itu untukku, karena aku tidak akan pernah mau untuk menjalani segala perawatan apapun itu atau bahkan menjalani operasi. Toh, hasilnya nanti akan sama jika kematian sudah ditakdirkan untukku, Arumi." Kutarik dua ujung sisi bibirku.


Aku tidak tahu kenapa Arumi menetapkan air matanya setelah mendengar keputusanku yang mengubur rahasia tentang penyakit yang aku derita? Tapi, setidaknya aku merasa jauh lebih tenang ada seseorang yang mendengar curahan hatiku. Namun, aku akan tetap mempercayai takdir sebagaimana mestinya Allah berikan padaku. Aku melukiskan senyum bahagia kepada Arumi, karena aku tidak ingin membuat orang yang aku kenal bersedih hanya karena kasihan denganku.

__ADS_1


"Jangan bersedih Arumi, karena aku baik-baik saja. Aku juga tidak merasakan sakit yang menyiksa tubuhku, jadi lupakan apa yang aku ceritakan hari ini jika itu tetap membuatmu bersedih. Jangan hubungi aku jika kamu terus menangis seperti itu!"


"Aisyah, bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu kepadaku dengan nada sesantai itu? Apa kamu tidak takut jika penyakit itu akan merenggut nyawamu?"


"Tidak Arumi, aku tidak pernah takut. Semua apa yang terjadi ke depannya denganku, itu takdir yang tidak bisa dirubah. Bukankah, jika kematian itu tiba, maka aku segera bertemu dengan Allah? Dan itu berarti Allah menyayangi diriku lebih dari siapapun." Tak hentinya aku menghibur Arumi dan memintanya merahasiakan semua ini dari Yulian ataupun Tristan.


Aku menghargai rasa sedih yang dialami Arumi, karena mengkhawatirkan kesehatanku yang terancam kematian. Namun, aku ingin hidup selayaknya manusia biasa yang melakukan banyak hal tanpa alat rumah sakit atau harus berbolak-balik ke rumah dan melakukan perawatan. Dan setelah itu, akhirnya Arumi berjanji untuk merahasiakannya dari siapapun. Setelah mengucapkan janji itu kepadaku, tiba-tiba Dia berkata yang mengejutkanku.


"Aisyah, aku akan ke Indonesia satu bulan lagi. Nantikan aku dengan hijrahku! Hijrah cinta yang kupilih untuk kembali mencintai-Nya." Arumi melukiskan senyum untukku.


"Ma syaa Allah, Arumi. Aku akan menantikan kehadiranmu itu di Indonesia. Aku merindukan pertemuan kita seperti dulu!"


Setelah cukup lama aku mengobrol dengan Arumi yang hanya malalui telepon genggam, kini aku memutuskan kembali untuk menuju ke Aisyah Galery. Karena ada hal penting di sana yang harus aku lakukan dalam pertemuan dengan customer ku lusa. Namun, aku takut jika aku harus mengendarai mobilku sendirian, sehingga aku memesan taxi online dan meninggalkan mobilku di tempat parkir rumah sakit.


Kutatap jalanan kota Medan yang siang itu begitu ramai bahkan jalanan itu dipadatkan dengan kendaraan bermotor dan kendaraan mesin lainnya. Sehingga aku terjebak dalam ke macetan saat menuju ke Aisyah Galery. Namun, tidak lama kemudian mobil yang menjadi kendaraan ku melaju kembali dengan kecepatan sedang. Dan aku kembali menatap indahnya langit yang mampu terlihat dari balik jendela mobil ini.


"Alhamdulillah,"


Akhirnya aku sampai juga di Aisyah Galery tetapi, sebelum aku beranjak untuk masuk ke dalam sana, tak lupa ku berikan selembar kertas bernilai seratus ribu kepada sopir itu. Setelah itu, aku pun masuk dan menyapa beberapa karyawan yang bekerja di Aisyah Galery. Begitupun dengan mereka, seketika membungkukkan separuh tubuh mereka untuk memberikan hormat kepadaku. Namun, aku tidak membedakan seberapa tinggi jabatan mereka dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Safira, tolong berikan aku berkas yang baru, ya!"


Teriakku kepada Safira dan memintanya untuk membawakan berkas tentang data costumer yang baru. Begitupun dengan Safira yang tidak lama kemudian masuk ke dalam ruangan ku dengan memberikan buku tebal di depanku. Lalu, Safira pun berkata, "Ini bu Aisyah, buku yang Anda minta tentang data customer kita pagi ini."


"Baiklah, Safira! Kalau begitu kamu bisa melakukan tugas yang lain dan aku akan memindahkan data customer yang baru."


Safira menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk mengiyakan perkataanku. Setelah itu, Safira melangkah dan meninggalkan ruangan ku untuk kembali bekerja. Sedangkan aku, aku berlanjut merajuk dengan laptopku yang berada di atas nakas untuk memindahkannya. Di tengah-tengah kesibukanku, aku harus meluangkan waktu untuk sekedar meminum obat dari dokter Farhan. Yang membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan setelah meminum obat tersebut, ponselku yang berada di atas nakas berdering dengan keras. Sehingga dengan segera aku membuka layar slide dan memastikan.


"Assalamu'alaikum, Aisyah." Ucap salam dari seberang.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana, Mas? Apakah kamu sudah sampai di Surabaya?"


"Aku baru saja sampai di sini, Aisyah. Tapi sepertinya ... selama satu bulan aku akan jarang menghubungimu, karena aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini agar kita bisa bersama lagi bulan depan. Apakah kamu keberatan, Aisyah?"


"Tidak kok, Mas. Apapun yang kamu lakukan akan aku doakan. Semoga mas Yulian selalu dilancarkan dalam pekerjaannya dan juga di jaga dalam kesehatannya." Ku panjatkan doa untuk suamiku.


Yulia pun mengaminkan doaku, lalu tidak lama kemudian ia pun berpamitan untuk langsung menuju ke lokasi proyek yang hendak dibangun gedung pusat perbelanjaan di sana. Yulian terlihat begitu sibuk, bahkan ia mengatakan jarang menghubungiku selama satu bulan di Surabaya. Dan hanya satu yang kupinta kepada Allah, semoga Allah mengirimkan sosok wanita yang taat dalam menjaga agamanya kepada Yulian sesudah kepergianku nanti.


Rasanya aku merasa lelah terlalu lama merajuk di depan layar laptop, sehingga aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku sejenak di atas sofa yang berada di dalam ruanganku. Kupejamkan sejenak mata yang terasa penat, lalu kulepas beban yang sempat menyelimuti diriku.

__ADS_1


__ADS_2