HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Rasa Syukurku


__ADS_3

Kuhirup udara pagi dengan penuh kesegaran dalam setiap embun yang menetes di dedaunan. Dan perlahan, aku merasakan kehangatan saat matahari mulai memancarkan cahayanya. Sehingga membuat kota Medan mulai menguning dan memberikan kehangatan pada seluruh kota, yang mampu membangun rasa semangat dalam setiap insan yang hendak melakukan aktivitas di pagi ini. Begitupun denganku, aku sangat bersemangat dalam menyambut pagi yang akan ku awali dengan beberapa aktivitas untuk beberapa rangkain acara yang akan digelar nanti malam.


"Alhamdulillah, setelah aku dan Arumi kembali seperti dulu lagi, membuatku jauh lebih baik sebagai seorang sahabat baginya. Semoga kamu tetap bertahan menjadi sahabat terbaikku, Arumi." Memori malam itu masih melekat dalam ingatan.


Setelah aku cukup merasa tenang saat berada di balkon, kini aku harus disibukkan kembali dengan Hafizha, putri kecilku. Dengan beberapa kegiatan di setiap pagi seperti, memandikan Hafizha, menjemur sejenak tubuh mungilnya lalu, pergi untuk ke Aisyah Galery. Namun, tidak dengan hari ini karena, satu hari penuh aku akan disibukkan di rumah tercinta. Dan satu persatu apa yang diperlukan untuk acara syukuran nanti malam telah diselesaikan secara bersama-sama. Membangun kekompakan adalah hal mudah di dalam keluargaku, terutama saat acara seperti ini. Bahkan hari ini papa Adhi ikut serta dalam menyambut kehadiran Hafizha dalam keluargaku dan memberikan rasa syukur karena Ahtar telah berhasil dalam menggapai langkah awal menuju suksesnya. Dan itu membuat kami semua memiliki rasa bangga terhadap apa yang dicapainya.


"Aisyah, perlu aku bantu?"


"Tentu." Aku pun memberikan senyum kepada Arumi.


Setelah itu aku dan Arumi disibukkan dengan fashion Hafizha yang akan dikenakan hari ini, karena pastinya akan ada banyak orang menggendongnya nanti, sehingga aku dan Arumi menyiapkan pakaian dan lainnya secantik mungkin. Karena Hafizha yang masih terlalu kecil, jadi tak apa jika pakaiannya tidak seluruhnya menutup aurat, cukup pakaian baby yang sewajarnya.


"Aisyah, lihatlah! Hafizha terlihat begitu mirip dengan Khadijah." Ungkap Arumi saat menatap lekat Hafizha dalam gendongannya.


Seketika aku mendekati Arumi dan Hafizha, lalu ikut menatap Hafizha yang menampakkan aura cantiknya. Dan aku melukiskan senyum saat kutatap wajah mungil Hafizha, tersirat aku memikirkan Khadijah yang masih tak ku ketahui dimana keberadaannya. Setelah dirasa cukup dalam merias Hafizha, aku dan Arumi merebahkannya kembali di tempat tidurnya itu. Lalu, aku dan Arumi harus disibukkan dengan kegiatan yang lain seperti, menata dekorasi, mempersiapkan catering, pakaian seragam untuk seluruh anggota keluarga dan juga masih banyak hal lain yang segera diselesaikan sebelum nanti malam.


"Mas, bagaimana kalau dekorasinya dikasih warna putih, terus temanya juga malaikat kecilku. Bagaimana, apa Mas Yulian setuju?"


"Terserah kamu saja! Jika itu menurut kamu bagus, maka lakukanlah!"


"Terima kasih, Mas. I love you." Aku memberikan senyum dan kerdipan manja kepada Yulian.

__ADS_1


Yulian yang menatapku seketika tersenyum geli seraya menggelengkan kepalanya secara pelan. Sedangkan aku, aku melangkah mundur dan menjauhi Yulian untuk melanjutkan tugasku. Hari ini aku benar-benar disibukkan dengan bermacam-macam kegiatan, sampai aku lupa diri dalam mengurus tubuhku. Jangankan makan, minum segelas air putih pun jarang aku lakukan pada hari ini. Bagiku hari ini aku tidak merasakan lapar ataupun haus, sehingga aku melupakan hal itu begitu saja.


Tepat pukul 12.00 siang aku beristirahat sejenak untuk melaksanakan sholat dzuhur lalu, memberikan susu kepada Hafizha dan menidurkannya kembali sampai benar-benar terlelap dalam pelukanku. Menatap Hafizha dengan wajah polosnya, membuatku kembali bertanya kepada diriku sendiri, "Hafizha, bagaimana jika suatu hari nanti Umi telah dipanggil sama Allah? Apakah kamu tidak akan mendapatkan kasih yang tulus dari hati seorang Ibu? Mampukah Abi Yulian memberikan kasih sayang selayaknya seorang Ibu dan juga Ayah untukmu, nak? Ya Allah, Engkau Tuhan yang paling aku cintai, dan tiada yang bisa melawan takdir yang sudah Engkau gariskan, termasuk takdir untuk hamba-Mu ini. Tapi, satu yang aku pinta, jagalah Hafizha dan seluruh keluargaku. Semoga Engkau temukan Yulian dengan Khadijah suatu saat nanti. Jadikanlah mereka pasangan yang mampu mengikat janji suci dengan-Mu."


Air mataku perlahan menetes membasahi pipiku, tetapi itu tak berlangsung lama. Karena, aku harus segera menyerkanya dan menyembunyikan kesedihan dibalik kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh semua anggota keluarga. Apalagi saat Yulian tiba-tiba masuk ke kamar Hafizha, yang membuatku tak ingin ia melihat kesedihan dan kekhawatiran yang menyelimutiku. Dan untuk menyembunyikannya aku memberikan senyuman saat ia menatapku seraya melangkah pelan menuju di mana aku merebahkan tubuhku di atas kasur bersama Hafizha.


"Apa Hafizha sudah tidur?"


"Sebentar lagi, jadi jangan berisik ya!"


"Ok." Ujar Yulian mengangguk pelan.


"Wajahmu memucat Aisyah, jaga kesehatanmu!"


Kata itupun terlontar dari bibir Yulian ketika melihatku tidak memakai cadar saat menidurkan Hafizha. Dan seketika itu aku berpikir, "Mungkinkah wajahku memucat karena penyakit itu?" Aku tidak mau Yulian merasa curiga dengan pucatnya wajahku, sehingga aku mengakihkan pembicaraan kami dengan candaan kecil.


"Tidak kok, Mas. Mungkin karena bibirku tadi belum memakai lipcream dan semacamnya, jadi terlihat ya ... pucat." Aku tersenyum tipis.


"Emm, jadi seperti itu. Tapi ... tanpa riasan apapun yang menempel di wajah kamu, kamu tetap wanita tercantik ku, Aisyah."


Yulian tiba-tiba menatapku dalam, sepasang matanya pun memperlihatkan penuh rasa cinta untuk ku. Dan ini yang aku khawatirkan bahkan merasa takut jika wanita yang dicintainya akan hilang secara tiba-tiba. Yang memaksanya untuk menghilangkan segala rasa itu dalam hidupnya. Keterpurukan? Itu pasti akan dialaminya, yang menyisakan luka dalam diriku saat mengingatnya. "Maafkan aku Yulian, mungkin jemariku tak akan bisa mengusap lembut dan membelaimu lagi saat kamu ingin dimanja olehku. Dan mata ini pun tak akan pernah lagi menatap wajahmu yang tampan menawan. Bahkan, diri ini tak akan bisa menemanimu sampai tua nanti. Mungkin ini memang takdir, takdir yang harus aku dan kamu jalani dalam menjaga hijrah cinta untuk menjadi insan yang lebih baik. Sekali lagi maafkan aku, Yulian."

__ADS_1


Saat aku menatap lekat sepasang mata yang dipenuhi dengan cinta untuk ku, tiba-tiba pintu diketuk pelan dari luar. Entahlah siapa yang berada dibalik pintu tersebut, karena orang itu tidak segera membuka suaranya. Sehingga membuat Yulian harus membukanya dengan segera untuk memastikan siapa di sana?


"Ceklek."


Pintu telah dibuka dan terlihat bik Inem tengah membawa nampan ditangannya dengan beberapa peralatan untuk acara Hafizha nanti malam. Bik Inem terlihat begitu kuwalahan membawa nampan lebar itu, sehingga Yulian harus membantu membawakannya masuk ke dalam kamar Hafizha. Setelah itu, bik Inem berpamitan untuk melanjutkan pekerjaan yang lain seperti pekerjaan di dapur. Begitupun dengan Yulian, yang tak lama kemudian ikut keluar membantu semuanya yang belum terselesaikan. Karena hari sudah semakin sore, di mana waktu acara semakin dekat. Sehingga semuanya harus benar-benar beres sebelum maghrib.


"Umi akan keluar lagi ya Hafizha sayang. Kamu tidur yang nyenyak di sini!"


Aku mengecup pelan pipi Hafizha sebelum kutinggalkan di atas kasur. Setelah itu, aku pergi mencari bik Inem untuk meminta beliu menjaga Hafizha selama berada di kamar. Sedangkan aku, aku harus menyiapkan beberapa hal untuk anakku dan sedikit untuk Yulian. Aku benar-benar merasa sibuk dan sibuk. Bahkan aku tidak tahu bagaimana caraku menghentikan kaki ini untuk tidak melangkah dan mengenyatkan pantat sejenak agar bisa beristirahat. Namun, aku rasa itu tidak terlintas dalam pikirku saat ini. Entahlah? Mungkinkah aku terlalu bersemangat atau ada hal lain ang mendorongku melakukan semua itu.


Tepat pada pukul empat sore akhirnya semua telah usai. Hanya sedikit yang masih harus dibenahi, dan aku rasa cukup aku yang membenahinya. Dan pukul empat lebih sedikit aku pun dapat menyelesaikan semua itu. Setelah itu, semuanya sejenak beristirahat, termasuk juga aku. Akan tetapi, aku hanya sebentar duduk bersama mereka, karena Hafizha harus segera mandi sore.


Setengah jam sudah aku memandikan Hafizha dan memakaikan baju indah di badannya. Dan terlihat anggun putri kecilku saat memakainya. Yang membuatku tersenyum sendiri saat menatap wajah mungilnya yang tidak berdosa. Setelah itu, berlanjut aku yang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah lengket bahkan baunya harum keringat. Dan setelah lima belas menit sudah berada di dalam kamar mandi, aku pun melakukan shalat ashar lalu, duduk di depan meja rias.


"Memang benar, wajahku berubah memucat. Mungkinkah penyakitku itu sudah menyebar di seluruh tubuhku? Dan entah kenapa aku merasa bagaikan seseorang yang akan mati saat menatap wajahku seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku berusaha menegarkan dan menepiskan segala rasa yang mengusik pikiranku tentang kanker yang kuderita. Ku poles tipis wajahku lalu, kupakai kan lipstik nude di bibirku agar tidak terlihat pucat saat Yulian melihatnya. Setelah itu, aku bersiap diri menggendong Hafizha dan membawanya ke ruang tamu.


Waktu berjalan dengan begitu cepat_dan akhirnya rangkaian acara satu persatu telah digelar. Semua terlihat bahagia, senyuman terlukis dari bibir mereka semua_orang yang sangat aku cintai. Dan itu membuatku tak hentinya bersyukur berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Namun, saat di keramaian acara tiba-tiba kepalaku merasa pening, pusing dan tubuhku terhuyung. Bahkan bayangan setiap orang semakin terlihat buram.


"Bruk."

__ADS_1


__ADS_2