
Aku menundukkan kepalaku dan tak mampu menatap Yulian saat ia berada dihadapanku. Bahkan saat setiap kata yang dilontarkan dari bibirnya begitu sulit untuk aku balas dan juga begitu sulit untuk kuberikan jawaban yang sejujurnya dalam hatiku. Seakan lidahku begitu kelu dan terasa kaku untuk aku gerakkan. Namun, ingin rasanya keputusanku segera dilaksanakan oleh Yulian. Meskipun aku akan merasakan kehancuran yang dalam.
"Apa maksud semua ini, Aisyah? Apa yang kamu inginkan?"
"A-a-aku...." Aku mengalihkan pandanganku lalu, melangkah pergi menjauhi Yulian.
"Arjuna, Umi sangat memohon kepadamu untuk segera memberikan penanganan kepada Khadijah. Dia ... Dia sudah merasa kesakitan. Lihatlah!"
Aku mendekati Arjuna dan memohon kepadanya agar segera memberikan tindak lanjutan kepada Khadijah yang sudah merasa kesakitan di atas branker, yang saat ini menjadi tempat tidurnya. Namun, saat aku menggenggam tangan Arjuna dan memohon kepadanya, tidak ada jawaban ataupun lontaran kata yang diberikannya kepadaku dalam setiap permintaanku.
"Arjuna, kenapa kamu hanya diam saja? Lihatlah pasien kamu!"
"Aisyah, tidak perlu kamu meminta mereka bertanggungjawab atas diriku. Bukankah, sudah kukatakan kepadamu untuk membiarkanku pergi dari dunia ini! Jadi, lepaskanlah aku dalam pertemuan terakhir kita." Sela Khadijah dengan nada lemah.
"Tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi begitu saja, Khadijah. Aku ... akan tetap menyelamatkanmu dan bayi itu." Tegas ku lalu, melangkah kembali menuju di mana Yulian masih berdiri dengan tegak.
Aku berusaha tegar dan menepiskan segala rasa tak rela, sakit hati dan kehancuran yang kurasakan begitu dalam. Karena, keputusanku akan tetap terjadi hari itu juga sebelum kematian benar-benar datang kepadaku. Dan aku berharap kebahagiaan Yulian akan tetap berlanjut meskipun aku telah pergi nanti.
Tanpa berbicara sepatah katapun aku menarik lengan Yulian begitu saja dan menepi sejenak bersamanya. Saat itulah aku memohon kepada Yulian untuk tetap melakukan pernikahan dengan Khadijah setelah bayi itu dilahirkan melalui Caesar.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu pasti tidak akan pernah mau melakukannya meskipun aku tetap meminta.Tapi...."
"Tapi apa, Aisyah? Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku saat kamu memintanya? Tatap aku Aisyah, dan katakan bahwa keinginanmu itu tidak benar." Yulian menarik lenganku.
Aku merasa terpojok saat aku bersandar di tembok dan terkunci oleh Yulian yang berdiri dihadapanku seraya menatapku tajam. Akan tetapi, aku menyangkal kebenaran itu demi keputusan yang aku anggap itu benar. Dan aku pun menatap sepasang mata elangku yang setiap saat aku rindukan. Karena bagiku tatapan itu penuh cinta untukku.
"Apa yang aku katakan itu benar, Mas. Aku mohon sama kamu untuk menikahi Khadijah setelah bayi itu lahir." Aku menatap tajam Yulian.
"Tidak, Aisyah. Aku tetap tidak mau. Aku tidak mengenal siapa perempuan itu, lagipula cintaku cukup untuk kamu dan tidak dengan yang lain. Aku bukan Nabi yang bisa berbagi secara adil terhadap istri-istrinya. Jadi, jangan paksa aku untuk melakukannya." Yulian menatapku dengan lekat.
Sejenak aku terdiam, berusaha memikirkan cara untuk membujuk rayu Yulian agar mau melakukan pernikahan yang sakral dengan Khadijah. Dengan sekuat tenaga aku berusaha melakukannya bahkan dengan belas kasih aku memohon kepada Yulian. Hingga akhirnya Yulian pun mau melakukan pernikahan itu dengan Khadijah. Dan cincin milikku sebagai tanda pernikahan dengan Yulian kini aku berikan kepadanya untuk diberikan kepada Khadijah.
"Iya, Mas." Aku tersenyum kepadanya.
"Tapi aku bukan lelaki sempurna, Aisyah. Aku tak luput dari segala dosa. Dan aku juga tidak ingin melukai hati kamu atas pernikahan ini. Aku takut ... aku takut jika, aku akan melukai dua hati saat aku tak mampu berbuat adil terhadap kalian." Yulian bersandar di tembok.
Yulian menitihkan air matanya saat hendak kembali ke ruang operasi. Bahkan tubuhnya yang bersandar di tembok perlahan merosot kebawah lalu, kakinya pun tertekuk menutupi wajahnya. Dan ketika melihatnya terluka atas ke-egoisanku, hatiku benar-benar merasakan kehancuran. Tetapi, aku tidak mau jika setelah kepergian ku nanti akan membuatnya semakin terluka.
"Aku tidak akan pernah terluka, Mas. Ini sudah menjadi keputusan dan keinginanku. Dan aku yakin, kamu mampu berbuat adil terhadap kami, istrimu." Kusodorkan tanganku untuk memberikan kekuatan kepadanya.
__ADS_1
Yulian perlahan mengangkat kepalanya yang tertunduk, lalu menatapku kembali. Dan saat itu aku menganggukkan pelanggan kepalaku untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan tidak terluka. Dan aku harus bisa berusaha ikhlas menerima semua itu, terutama saat Khadijah menjadi istri kedua dari suamiku. Setelah sekian lama aku membujuk rayu Yulian, akhirnya kini aku dan Yulian melangkah untuk kembali bersama mereka yang masih berada di depan ruang operasi.
"Saya suaminya, Sust. Biasakan saya yang menandatangani semua itu!"
Akhirnya Yulian pun memberikan tanda tangan sebagai tanda persetujuan dari wakil Khadijah. Dan selembar kertas ber torehkan tinta di dalamnya, kini dapat dijadikan bukti agar Khadijah segera mendapatkan tindakan lebih lanjut yaitu, operasi Caesar. Namun, aku ternyata salah jika berpikir setelah Yulian usai menandatangani berkas itu maka Khadijah akan segera menjalankan operasi Caesar.
"Tapi jangan berharap jika, Juna akan melakukan operasi Caesar itu." Arjuna melangkah pergi.
"Arjuna." Aku berteriak.
Seketika Arjuna menghentikan langkahnya. Lalu, aku menyusulnya dan berbicara dengan pelan kepadanya. Karena aku tahu, Arjuna juga tidak akan merestui pernikahan Yulian dengan Khadijah. Tetapi, aku kembali berusaha membujuk rayu Arjuna agar ia merestui keputusan yang aku berikan. Meskipun cukup lama, akhirnya membuahkan hasil sesuai dengan apa yang aku harapkan. Setelah itu, Arjuna bersiap untuk segera melakukan operasi Caesar Khadijah.
"Siapkan ruang operasi sekarang juga!"
Arjuna memerintahkan tim medis untuk segera menyiapkan ruang operasi dan segala apa yang diperlukan saat operasi Caesar sedang berjalan. Dan saat Arjuna hendak masuk ke dalam, ia mengangguk pelan meyakinkan ku untuk memercaiyainya dalam menjalankan operasi Caesar yang sudah biasa ia lakukan. Dan sepenuh hati aku pun memercayai putraku dalam menjalankan tugasnya, selain itu tak hentinya aku berkomat-kamit melantunkan doa kepada Allah SWT agar dilancarkan selama operasi berjalan.
Tidak lama kemudian lampu operasi dinyalakan, yang menandakan operasi Caesar Khadijah sudah mulai dijalankan. Dan saat itulah suasana seketika berubah menjadi hening. Tak ada suara yang bergeming sedikitpun. Bahkan kepala kami tertunduk meminta kepada Allah agar dilancarkan dalam setiap perjuangan dokter saat menjalankan operasi Caesar Khadijah di dalam sana.
Lima belas menit sudah operasi berjalan, dan tidak lama kemudian kami pun mendengar suara tangisan bayi mungil dari dalam sana. Dan seketika itu aku beserta yang lain mengucapkan rasa syukur alhamdulillah kepada Allah SWT atas dilancarkannya operasi tersebut. Bahkan saking bahagianya tanpa sadar aku dan Yulian saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1