
Ketika sejenak menatap sepasang mata yang tak berkedip, aku semakin merasa ragu untuk melakangkahkan kakiku dan menjumpai beliau dengan segera. Akan tetapi, genggaman erat tangan Yulian telah memberikan sebuah kekuatan untukku. Yang kini membuatku siap untuk menghadapi lontaran perkataan yang mungkin saja ada rasa penolakan tentang cahaya di dalam diri beliau.
"Duduklah kalian! Papa ingin bicara hal penting." Pinta papa Adhi kepadaku dan Yulian seraya memandangi kami dari ujung pintu.
"Iya, Pa." Jawabku bersamaan dengan Yulian.
Aku dan Yulian akhirnya mempercepat langkah kami, lalu mengenyatkan pantat kami di kursi yang sudah tersedia di sana. Dan sebelum memulai perbincangan di antara kami, tidak lama kemudian bik Inem datang seraya membawa nampan yang berisi camilan ringan dan teh manis serta kopi hangat yang dihidangkan sebagai wejangan dalam perbincangan kami nanti.
"Terima kasih, bik Inem!" ujarku sopan.
Sejenak Yulian dan papa Adhi menyeduh kopi hangat yang sudah dihidangkan oleh bik Inem tadi. Setelah itu, papa Adhi pun mengangkat suaranya dan bertanya kepada kami tentang bagaimana latar belakang Cahaya. Bahkan papa Adhi bertanya tentang bagaimana bisa Cahaya dan Arjuna bisa saling mengenal satu sama lain. Karena sebelumnya tidak ada yang tahu bahkan bercerita bahwa Arjuna memiliki seorang kekasih yang akan segera dipinang olehnya. Sehingga kabar pernikahan Arjuna membuat papa Adhi merasa terkejut. Dan pada akhirnya papa Adhi tidak bisa menghadiri acara pernikahan Arjuna, karena tugas kerjanya yang berada di luar negeri.
"Papa mau bicara tentang Cahaya. Pasti kalian tahu hal-hal apa yang akan Papa pertanyaan kepada kalian. Jadi sekarang, jelaskan kepada Papa bagaimana bisa Arjuna mengenal Cahaya yang memiliki kondisi seperti itu!"
"Emm ... begini, Pa. Yulian juga tidak tahu pasti, karena Yulian mendengar ini juga dadakan. Aisyah lah yang tahu pasti tentang Cahaya." Ujar Yulian, lalu menatapku.
Sejenak aku terdiam, mencoba mengatur diri agar mampu merayu dan tidak membuat sebuah keributan yang tidak aku inginkan. Dan setelah aku menarik nafasku dalam, aku pun mencoba untuk mengangkat suaraku dan menjelaskan semuanya kepada papa Adhi dengan tutur kata yang lembut serta tidak mengurangi rasa sopan santun dalam berbicara.
"Maafkan Aisyah sebelumnya, jika pernikahan Arjuna dengan Cahaya begitu cepat bagi Papa dan juga Mas Yulian. Tetapi ... menurut Aisyah ini jauh lebih baik daripada nanti akan menimbulkan sebuah fitnah yang dibenci sama Allah. Tentang latar belakang Cahaya, Mas Yulian juga sudah tahu bahwa Cahaya terlahir dari keluarga yang sederhana. Dan kini, Cahaya tidak mempunyai kedua orang tua lagi, hanya seorang paman yang dipunyai nya. Aisyah rasa, cukup itu yang harus kita ketahui tentang Cahaya, karena bagi Aisyah tidak terlalu penting untuk mengetahui kepribadian orang lain sejauh mungkin. Toh, yang kita lihat bersama, Cahaya adalah gadis yang baik untuk Arjuna. Dan insyaa Allah, Cahaya mampu menjadi istri yang sholehah untuk Arjuna. Karena bagi Aisyah, itu lah yang terpenting dari sebuah pernikahan_bukan derajat, harta dan tahta." Jelas ku dengan nada yang tegas tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
Aku berusaha tenang dalam mengambil sebuah keputusan. Dan menurutku, memang benar jika derajat, harta dan tahta bukanlah sebuah jaminan pernikahan yang akan membuat bahagia. Tetapi, saling mempercayai dan memiliki tujuan yang sama dalam berumah tangga itu lah hal yang paling utama, terutama dalam hijrah menuju surga-Nya. Dan setelah mendengar penjelasan dariku, sejenak papa terdiam seraya menatapku dengan Yulian secara bergantian. Karena tidak ingin terjadinya sebuah salah paham, aku pun kembali bersuara.
__ADS_1
"Emm, maaf sebelumnya jika pernyataan Asiyah sudah menyinggung perasaan Papa, tapi menurut Aisyah itu sudah cukup. Karena Aisyah dan Mas Yulian tidak menginginkan Arjuna terjerumus ke dalam sebuah dosa yang mungkin bisa saja dosa itu besar. Jadi, Aisyah mendukung keputusan Arjuna yang ingin melangsungkan pernikahan di kala itu. Sekali lagi, Aisyah meminta maaf kepada Papa, karena sudah mengambil keputusan tanpa berunding dengan Papa terlebih dahulu." Aku berusaha meminta maaf kepada papa Adhi.
"Yulian setuju dengan keputusan Aisyah, Pa. Karena menurut Yulian sendiri, tentang fisik, derajat, harta dan tahta bisa saja kapan pun melemah. Tetapi berbeda jika, rasa saling percaya dalam rumah tangga itu ada, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut," sambung Yulian.
Sepasang mata itu masih menatapku dengan tajam. Akan tetapi, diri ini merasa tak ada keraguan untuk tetap memberikan dukungan atas pernikahan Arjuna dengan Cahaya setelah Yulian mendukungku atas semua keputusanku yang merestui pernikahan mereka. Dan tidak lama kemudian hal yang tak terduga telah terjadi. Yang membuat aku dan Yulian tak habis pikir, bahkan tak pernah terlintas dalam pikirku atas apa yang terlontar dari bibir beliau.
"Papa bangga dengan kalian! Inilah yang Papa nantikan sedari tadi. Papa ingin menguji apa yang kalian cari dari segala hal yang kalian punya. Dan kini Papa mengetahuinya, kebahagiaan anak-anak lah yang kalian utamakan. Dan keputusan kamu Aisyah, Papa menyetujuinya." Ungkap papa Adhi seraya melukiskan senyuman melebar dari bibir beliau.
Hati dan diri yang tadinya merasa khawatir, kini tak lagi merasakan hal seperti itu. Justru kebahagiaan yang tiada tara telah menghampiriku begitu mendengar keputusan papa Adhi. Dan inilah yang suka dari papa Adhi, sikap dan sifat yang bijak selalu melekat bahkan tertanam dalam diri beliau. Yang membuatku bangga memiliki papa mertua seperti papa kandungku sendiri.
"Papa yakin menyetujui keputusan Aisyah?" tanyaku memastikan.
"Tentu, Aisyah. Papa tadi hanya berakting agar kamu menjawab kebenarannya seperti apa. Bukan sebuah perjodohan belaka, tetapi cinta yang murni telah singgah di hati Arjuna. Dan sikap Arjuna yang mampu menerima segala kekurangan pasangannya, Papa yakin pasti itu karena didikan dari kalian! Jadi, Papa merasa bangga dengan kalian!"
Papa Adhi pun mengangguk pelan untuk membalas rasa terima kasihku kepada beliau. Karena begitu bahagianya diri ini, tak hentinya aku menciun punggung tangan papa mertuaku itu. Bahkan membuat beliau tertawa kecil karena melihat tingkahku. Akan tetapi, aku tidak bisa mempungkiri bagaimana rasa bahagiaku jika, semua keluargaku sudah memberi restu atas pernikahan Arjuna dengan Cahaya.
"Tunggu dulu! Papa masih ada hal yang ingin Papa sampaikan kepada Arjuna dan Cahaya, jadi Papa meminta tolong kepada kamu Aisyah, untuk memanggil mereka menemui Papa." Ujar papa Adhi dengan bahagia.
"Baiklah, Pa! Aisyah akan memanggil mereka,"
Aku pun berpamitan kepada Yulian dan papa Adhi untuk memanggil Arjuna dengan Cahaya. Dengan rasa yang tak sabar, aku pun berlari agar segera sampai di depan kamar Arjuna dan bertemu dengannya. Tidak lama kemudian aku pun mengetuk pelan pintu kamar Arjuna yang memang tertutup rapat. Dan lima menit kemudian Arjuna membukakan pintu itu untukku.
__ADS_1
"Umi? Kenapa, Mi?"
"Apa kamu dan Cahaya saat ini sedang sibuk?"
"Emm ... tidak kok, Mi! Tapi, ada perlu apa?"
"Kakek kalian ingin bicara jadi, temuilah beliau terlebih dahulu!"
Tanpa berbasa-basi lagi aku pun langsung mengatakan permintaan papa Adhi yang ingin menemui Arjuna dengan Cahaya. Begitupun dengan Arjuna, ia pun juga mengiyakan seusai aku mengatakannya. Setelah itu, aku pun kembali menemui papa Adhi bersama dengan Arjuna dan Cahaya. Di mana papa Adhi dan Yulian kini berpindah ke ruang keluarga.
"Kek,"
Arjuna tak lupa menyapa kakeknya kembali dengan nada sopan. Setelah itu, Aku dan Arjuna duduk di sofa empuk untuk menikmati tempat ternyaman bagi kami. Dan tidak lama kemudian papa Adhi bersuara untuk mengawali percakapan yang entah tentang apa itu. Yang membuatku penasaran dan rasa sedikit khawatir kembali singgah dalam diri ini.
"Kakek ingin memberikan kejutan untuk pernikahan cucu Kakek. Karena kakek tahu, Kakek memiliki kesalahan, dan kesalahan itu ialah Kakek yang tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian. Jadi, dua tiket ini untuk kalian berbulan madu sekaligus berlibur di sana." Ujar papa Adhi sembari menyodorkan dua lembar kertas kepada Arjuna.
Arjuna sejenak terdiam seraya menatap dua lembar kertas yang kini berada di hadapannya. Sedangkan aku dan Yulian terbelalak lebar karena hal ini sebelumnya tak pernah direncanakan. Papa Adhi benar-benar merestui pernikahan Arjuna dengan Cahaya, bahkan papa Adhi tidak pernah mencibir atau mengolok kecacatan fisik Cahaya.
"Kakek yakin ini untuk Arjuna dan Cahaya?" tanya Arjuna memastikan.
"Benar, besok kalian akan berangkat ke sana. Ini kejutan untuk kalian!"
__ADS_1
"Terima kasih, Kek! Juna bahagia memiliki Kakek Adhi, yang selalu membuat bahagia Juna. Juna benar-benar berterima kasih atas kejutan besar ini!"
Senyum yang benar-benar bahagia dari setiap insan pun telah terlukis di bibir mereka. Begitupun denganku, aku merasakan bahagia dan memiliki keluarga yang sempurna. Di mana di antara mereka saling menyempurnakan, membahagiakan satu sama lain, saling melengkapi dan masih banyak hal lagi yang terjadi setiap harinya. Bahkan hari ini masih ada satu kejutan yang membuatku tercengang dengan apa yang kudengar dan kulihat.