
Tidak banyak yang mengenakan pakaian tertutup di kota Edinburgh ini, kira-kira hanya beberapa saja yang memang menerapkan dan mengamalkan ajaran Sayyidatina Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Dan ini kali pertama aku dipertemukan dengan seseorang mengenakan pakaian yang sama denganku. Yang membuat rasa penasaran terus berhamburan di pikranku. Tanpa berpikir panjang akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Arumi tentang sosok wanita mulia yang berada disampingnya.
"Arumi, siapa Dia?"
"Oh sorry, Aisyah. Perkenalkan, ini Humaira." Arumi menunjuk ke arah wanita yang tengah berdiri disampingnya.
"Aisyah, dan ini Cahaya." Aku memperkenalkan diri sekaligus menunjuk ke arah Cahaya.
"Yes, Auntie. Saya Humaira, saya putri dari ... Mama Arumi." Humaira melukiskan senyuman dari balik cadarnya.
Sontak aku merasa terkejut dengan apa yang diucapkan Humaira. Di mana kenyataan indah itu telah terucap dari bibir mungilnya. Ya, Dia adalah Humaira putri dari Arumi dengan Tristan, yang usianya tak jauh berbeda dengan Ahtar, sekitar 18 tahun lebih muda satu tahun dengan putra bungsu ku. Terlihat begitu cantik, meskipun sedang mengenakan sehelai kain yang menutupi wajahnya.
"Masyaa Allah, Arumi! Aku tidak menyangka jika kamu memiliki putri seperti Humaira. Menakjubkan sekali, Arumi!"
"Inilah kehidupan, Aisyah. Meskipun Dia terlahir dari rahim ku, tapi ketika Dia mulai memasuki masa dewasa aku memberikan kebebasan untuknya dalam memilih agama yang harus dianut. Dan Dia pun memilih untuk menjadi seorang Muslimah setelah meyakinkan dirinya dalam berhijrah, terutama setelah Dia melihat tentang beragam foto bahkan biodata kamu, Aisyah." Arumi menatapku dengan rasa bahagia.
Aku pun membelalakkan kedua mataku karena merasa tidak percaya atas apa yang diungkapkan Arumi. Yang membuatku merasa tersipu malu karena aku yang seperti artis sedang naik daun saja. Dan itu juga membuatku merasa heran, mengapa bisa Arumi bahkan Humaira mengagumiku? Padahal yang aku tahu aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari sebuah dosa. Tapi, itu hanyalah pemikiran mereka, jadi aku cukup bersyukur karena, sudah dipertemukan dan diperkenalkan dengan mereka di Edinburgh.
"Saya bahagia bisa bertemu dengan Umi Aisyah di sini. Karena sebentar lagi saya harus kembali ke kota Tarim untuk menempuh pendidikan di sana." Jelas Humaira seraya melukiskan senyuman.
"Alhamdulillah, kalau Humaira mampu mempelajari Islam dengan baik di sana. Umi Aisyah hanya bisa membantu doa agar Humaira mampu beristiqomah dengan apa yang sudah Humaira putuskan." Aku pun menatap sepasang mata yang tulus.
Dan di sana, di galeri seni kami menikmati keindahan hasil karya seniman yang cukup terkenal di kota Edinburgh. Yang membuatku merasa kagum dan takjub akan setiap hasil karya mereka. Sedangkan Yulian dan Arjuna, mereka lebih memilih untuk menikmati suasana di luar sana seraya menyeduh kopi.
Sudah saatnya tiba aku dan Arumi harus berbincang hanya empat mata saja. Sehingga aku membiarkan Cahaya hanya bersama dengan Humaira. Dan setidaknya mereka tidak akan merasa canggung ataupun merasa kikuk dalam topik pembicaraan yang akan mereka bahas, karena Humaira terlihat begitu akrab kepada siapapun hanya kecuali, yang bukan makhramnya.
"Aisyah, bagaimana dengan yang kamu maksud Khadijah? Siapa Dia?"
__ADS_1
Dengan tatapan tajam dalam pembicaraan yang serius, aku segera menceritakan kepada Arumi tentang siapa Khadijah dan juga bu Ratih. Perlahan setiap lontaran kata yang keluar dari bibirku, Arumi mampu menangkap dan mengerti semuanya. Sehingga Arumi begitu mudah memahami dan bahkan ia juga memberikan saran kepadaku tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
"Kamu tenang saja, Aisyah. Aku akan membantu kamu dalam melacak keberadaan Khadijah yang sudah memberikanmu sebuah surat dan aku juga akan mencari tahu apakah Khadijah yang ini adalah putri bu Ratih. Jadi, kamu jangan khawatir akan hal itu, kamu santai saja!"
"Terima kasih, Arumi. Mungkin kebaikanmu tidak bisa aku balas dengan mudah, hanya Allah yang akan mebalasmu sampai kapanpun." Aku memegang tangan Arumi untuk mengucapkan rasa terima kasih kepadanya.
"It's Ok, Aisyah. Jangan merasa ragu untuk meminta bantuanku! Oh iya, aku dengar malam ini kamu akan kembali ke Indonesia, bukan?"
"Insyaa Allah, Arumi. Jika Allah mengijikannya, maka kami akan kembali ke Indonesia malam ini juga." Jawabku dengan meninggalkan senyum.
Setelah usai membicarakan hal tentang Khadijah, kami memutuskan untuk segera kembali dan bergabung dengan Cahaya serta Humaira yang masih menikmati keindahan karya seni. Namun, tidak lama kemudian pertemuan kami pada hari ini telah berakhir setelah Arumi mengajak Humaira untuk segera kembali, karena Humaira sendiri harus segera bersiap-siap untuk keberangkatannya nanti malam. Begitupun denganku dan Cahaya, setelah perpisahan telah berlangsung kami memutuskan untuk mencari keberadaan Yulian dan Arjuna. Entah mereka berada di cafe mana?
"Cahaya, apa mungkin cafe itu Abimu dan Arjuna berada?"
"Sepertinya iya, Umi. Bagaimana kalau kita pastikan saja?"
Kami pun memasuki cafe itu dan mencari keberadaan Yulian serta Arjuna. Tidak lama kemudian akhirnya kami mampu menemukan keberadaan mereka. Lalu, kami segera menghamipiri mereka dan mengajak mereka untuk segera kembali ke hotel. Agar kami bisa beristirahat sejenak sebelum jadwal keberangkatan kami untuk kembali ke Indonesia akan tiba.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Loh, kok kalian bisa tahu kalau kita ada di sini? Dan kalian kok sudah selesai melihat karya seninya?"
"Emm ... iya, Mas. Bukankah, kita harus beristirahat dulu untuk mempersiapkan nanti malam?"
"Oh iya, lupa." Arjuna seketika menepuk pelan jidadnya.
__ADS_1
Setelah menyadari akan hal itu, Yulian segera pergi ke kasir untuk membayar tagihan di cafe ini. Lalu, kami menuju di mana mobil yang kami kendarai telah terparkir. Dan kami pun memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Sekitar kurang lebih satu jam kami pun sampai di area Scotsman Hotel. Sesampai memarkirkan mobil, kami bergegas menuju ke kamar masing-masing untuk melepas lelah yang sejenak menggerogoti tulang-tulang dan juga sendi di tubuh kami.
Tidak lama kemudian terdengar suara adzan dzuhur telah dikumandangkan. Begitupun denganku yang segera mengambil air wudhu untuk melakukan shalat berjamaah dengan Yulian. Karena semenjak dia hari lalu aku sudah bersuci kembali setelah darah segar keluar begitu saja. Efek samping dari keluarga berencana yang aku gunakan saat ini membuat siklus haid ku tidak lancar, sehingga tidak menentu kapan akan keluar dan kapan akan berhenti.
Sekitar dua puluh menit sudah, kami pun usai menjalankan perintah Allah SWT. Dan setelah itu, aku merebahkan tubuhku yang terasa kaku di atas kasur empuk di dalam kamar ini. Begitupun dengan Yulian, ia melakukan hal sama denganku. Namun, ia tidak sekedar merebahkan tubuhnya, bahkan lebih dari itu.
"Aisyah." Panggil Yulian dengan nada yang manja.
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Emm, maukah kamu...." Yulian memberikan isyarat kepadaku.
Dan kami memutuskan untuk saling memuaskan satu sama lain sebelum kami kembali lagi ke Negara tercinta, Indonesia. Ya walaupun masih di siang bolong kami akan melakukan hal itu. Karena itu adalah kewajiban seorang istri disaat suami sudah meminta hak-nya. Begitupun denganku, yang membiarkan Yulian melepas hijabku dan pakaian dalamku saja. Karena dalam Islam, tidak diperbolehkan telanjang saat melangsungkan hubungan intim.
"Apakah kamu sudah siap, sayang?"
Yulian memastikanku melalui pertanyaannya. Dan aku menjawab pertanyaan itu dengan mengangguk pelan. Sebelum melakukan yang inti bahkan yang lain, kami mendahuluinya dengan bacaan doa, lalu dihiasi dengan beberapa kali kecupan di keking, pipi dan juga bibir. Mungkin bisa dibilang kami sudah biasa dalam melakukannya, sehingga aku begitu lihai dalam mempermainkan lidahku saat kecupan bibir tengan kami lakukan.
"Argh,"
"Aww,"
Beberapa kali dua tumpuk gunung milikku di remas dengan hasrat yang tinggi dari dalam diri Yulian. Dan aku pun juga pasrah saat beberapa kali milikku dipermainkannya dengan ujung jari besarnya. Yang membuatku terkadang merasa nikmat dan juga terkadang membuatku merasa sakit. Setelah usai mengawali permulaan, kini akhirnya kami melakukan perbuatan yang inti, sampai kami benar-benar merasa lelah setelah melakukan adegan yang panjang di atas kasur. Setelah cukup puas dalam melakukannya, kini kami memutuskan untuk beristirahat bersama dalam satu ranjang. Sampai-sampai kami terlelap dalam tidur siang yang menyenangkan.
Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa hari pun sudah mulai gelap. Dan kini tiba saatnya kami meninggalkan kota Edinburgh dan kembali ke Indonesia. Entah kapan aku bisa menikmati indahnya kota Edinburgh dalam setiap suasana? Dan aku hanya bisa berdoa jika suatu hati nanti aku akan kembali ke sini lagi. Kota Edinburgh yang selalu menjadi kota dalam impianku.
Kami pun memasuki badan kapal untuk duduk dan itu sesuai dengan perintah seorang pramugari untuk para penumpangnya. Dan tidak lama kemudian pesawat akhirnya lepas landas dan terbang bebas ke awan.
__ADS_1