
💝💝💝💝
Setelah aku menyuapkan bubur hangat yang sudah ku buat, tiba-tiba ketukan pintu telah terdengar. Dan segeralah aku membuka pintu untuk mengetahui siapa yang berada dibalik pintu itu.
"Assalamu'alaikum!" Ucap salam.
Ya, kak Joko menyapaku dengan senyuman. Dan di balik tubuhnya yang begitu gagah, ada Juna putraku yang langsung merangkulku.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan masuk mas Joko!" Ucapku sambil menggendong putra yang begitu manja kepadaku.
Namun, saat putra melihat abinya yang sedang tidur di kasur empuk segera berlari dan menghampirinya.
"Abi...!" Teriaknya.
"Hei sayang, abi kangen sekali sama Juna. Juna tidak nakal kan di rumah eyang sama opa?" Tanya Yulian kepada Juna sambil memeluk tubuh Juna yang begitu menggemaskan.
"Tidak dong abi, Juna kan anak yang baik." Jawab Juna dengan kepolosannya.
"Bagus kalau begitu, berarti Juna memang anak abi yang pintar." Balas Yulian yang berusaha memberikan senyum meski sedikit menahan rasa sakit.
"Emm... Kalau begitu, Juna main dulu ya sama kak Karina di bawah. Abi mau bicara dulu sama pak de Joko." Ucap Yulian kemudian.
Setelah berkata sedemikian kepada putranya, Yulian langsung menoleh ke arahku dan menganggukkan pelan kepalanya. Begitupun denganku, aku paham betul dengan tatapannya kepadaku. Bahwa dia ingin berbicara berdua dengan kakaknya. Meski aku tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan, tapi sepertinya itu masalah yang penting.
Aku pun menemani Juna untuk turun ke bawah. Dan tidak lupa juga menyapa kedua mertuaku dengan sopan. Ya, aku sadari bahwa setelah kepulanganku dari rumah sakit aku belum bertemu dengan mereka, bahkan saat aku masih berada di rumah sakit aku pun juga belum pernah bertemu dengan mereka. Mungkin, aku menantu yang aneh. Huh!
"Ternyata, kamu memang wanita yang sholehah dan cantik." Ucap bu Widia yang kini bersetatus sebagai ibu mertuaku.
"Iya, itu benar Ma. Yulian tidak salah memilih seorang wanita yang pantas untuk mendampinginya. Kita harus bersyukur bahwa kita memiliki menantu yang sholehah dan cantik." Pak Nugraha ikut menimpali.
Kedua pipiku langsung memerah setelah mendengar perkataan kedua mertuaku. Aku sangat merasa malu, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memberikan senyuman kepada mereka.
Ternyata, mereka begitu ramah. Dan sepertinya mereka juga menyayangiku seperti anaknya sendiri. Aku begitu bahagia dengan keluargaku saat ini. Memiliki keluarga yang sama-sama rukun dan memiliki seorang imam yang begitu menyayangiku.
"Terimakasih Ya Allah!" Gumamku.
🕊🕊🕊🕊
"Ada apa dengan kesehatan kamu? Apa ada sesuatu yang serius?" Tanya Joko kepada Yulian.
"Tidak, hanya kecapekan saja." Jawab Yulian dengan singkat.
"Syukurlah, jika tidak ada keseriusan tentang kesehatanmu. Oh iya, besok kamu dan keluargamu harus datang ke acara pernikahanku. Kamu adalah adikku satu-satunya, jadi kamu harus hadir dalam hari bahagiaku." Pinta Joko.
"Baiklah, aku akan datang melihat kegagahanmu. Dan pastinya, aku akan melihat kakak iparku yang membuat kakak lekakiku bertekuk lutut dalam pandangan pertama." Ucap Yulian menggoda Joko.
__ADS_1
"Huh, yang pasti wanitaku lebih cantik daripada wanitamu." Balas Joko tak mau kalah.
"Baiklah. Kita buktikan saja wanita siapa yang paling cantik." Ucap Yulian merasa jengkel.
Tanpa sengaja perdebatan serta lelucon kecil telah di dengar oleh kedua orang tua mereka dan pastinya juga telah didengar oleh Aisyah.
"Ternyata seperti ini kelakuan putra-putra Mama." Ucap bu Widia secara tiba-tiba dan itu sukses mengejutkan putra-putranya.
"Mama... Papa...!" Panggil Yulian dan Joko bersamaan.
"Bagaimana tuh kelakuan suami kamu Aisyah. Kamu pantas menegurnya." Ucap pak Nugraha kepadaku.
Secara spontan aku pun mendongakkan kepalaku dan menatap wajah papa mertuaku sekaligus bergantian menatap wajah suamiku yang menurutku sungguh lucu dengan ekpresi memelas seakan memohon ma'af kepadaku.
"Biarkan saja Pa, insyaallah Aisyah akan tetap menerima kekurangan maupun kelebihan dari suami Aisyah. Aisyah akan tetap berusaha untuk menjadi istri yang sholehah bagi suami Aisyah."
Jawabku dengan gugup , entah benar atau salah menurut mereka. Tapi yang jelas, aku benar-benar ingin melakukan itu untuk suamiku.
"Baiklah, semoga kalian selalu di ridhoi Allah SWT." Do'a mama mertuaku.
"Oh iya, bagaimana keadaan kamu sayang?" Tanya mama Widia kepada Yulian.
"Alhamdulillah Ma, Yulian sudah jauh lebih baik." Jawab Yulian.
"Mama...!" Balas Yulian dengan pipi yang memerah.
Tubuhku seperti berubah membeku. Lidahku terasa kaku untuk berucap. Bibirku ku katupkan dengan rapat. Kedua mataku tidak bisa menatap mereka satu persatu. Seakan hatiku sedang berdisko dengan riadi dalam sana. Untung saja wajahku tidak terlihat oleh mereka.
...****************...
Alhamdulillah, acara makan siang pun yang kami gelar dengan keluarga besar akhirnya selesai dan berjalan dengan lancar. Keluarga dari suamiku pun telah berpamitan untuk kembali pulang. Tapi, tidak dengan Juna. Dia bertahan untuk tetap tinggal bersama kami.
"Ayah, ibu! Kami mau membicarakan sesuatu." Ucap kak Fadli yang sukses menjadi pusat perhatian kami.
"Iya, katakanlah!" Balas ayahku dengan rasa penasarannya. Begitu pula dengan ibuku yang tidak kalah penasarannya.
"Berhubung kita semua sedang berada di ruang keluarga, Fadli ingin mengumumkan sesuatu yang penting. Fadli ingin mengatakan bahwa Maryam sedang hamil anak kami yang ke dua." Ungkap Fadli dengan bahagia.
"Alhamdulillah!" Balas kami mengucap syukur secara bersamaan.
Kabar itu begitu membahagiakan untuk kami sekeluarga. Namun, ke dua orang tuaku malah membuatku dan suamiku merasa terpojokkan.
"Lalu, kapan kalian berdua akan membuat adik Juna untuk kami?" Tanya ayahku.
"Apa sih Ayah!" Jawabku malu dan benar-benar malu.
__ADS_1
"Insyaallah dengan segera ayah, ibu. Jika Allah sudah menghendakinya dan memiliki kepercayaan untuk kami." Jawab Yulian dengan bijaksana.
Kedua pipiku kembali memerah saat suamiku menjawabnya dengan bijak. Aku semakin jatuh cinta kepadanya.
......................
Malam yang selalu dirindukan kini telah tiba. Juna pun sudah tertidur dengan lelapnya. Namun, tidak dengan aku dan suamiku. Kami masih terjaga di malam ini.
"Jangan lupa untuk istirahat. Abi kan masih dalam proses pemulihan. Jangan terlalu malam tidurnya." Ucapku penuh dengan perhatian.
"Iya sayang, bentar lagi ya! Ini masih ada pekerjaan yang harus abi kerjakan." Jawabnya yang masih fokus dengan laptopnya.
"Sepenting itukah pekerjaanmu daripada kesehatanmu?" Tanyaku dalam batin.
Aku berusaha untuk memejamkan mata terlebih dahulu, namun nyatanya aku tidak bisa. Aku masih menatap suamiku dan menantinya. Hingga akhirnya, aku putuskan untuk menghampirinya.
"Masih lamakah?" Tanyaku sambil memegang pundaknya dari belakang.
"Tidak kok sayang, kamu tidur saja dulu. Nanti aku akan menyusul." Jawabnya dengan lembut.
"Tapi, umi tidak bisa tidur abi." Ucapku mengeluh.
"Kenapa? Apa ada hal yang umi sedang pikirkan?" Tanyanya dengan penasaran dan seketika menghentikan aktifitasnya.
"Iya abi, entah kenapa umi pengen berkunjung ke makam Kamila dan kedua orang tua Juna. Umi kan belum pernah berkunjung ke makam mereka." Jawabku kemudian.
"Baiklah, besok setelah usai acara pernikahan mas Joko, abi akan mengantar umi ke makam mereka. Kebetulan mereka di makamkan satu lokasi, jadi kita tidak perlu harus mencari-cari." Balas Yulian mengiyakan permintaan Aisyah.
"Satu lokasi?" Tanyaku tidak mengerti.
"Iya, karena abi memesan tempat makam kedua orang tua Juna untuk di sampingkan dengan makam Kamila. Karena, mereka adalah orang-orang terpenting yang sudah memberikan kebahagiaan kepada abi. Menghadirkan kamu sebagai istriku dan Juna sebagai putraku." Jawab Yulian dengan penjelasannya.
Setelah mendengar penjelasan Yulian aku pun mengangguk pelan, mengerti dan memahami apa yang telah dia maksud. Malam kian semakin melarut, namun kami masih terjaga.
"Kamu belum mengantuk sayang?" Tanya Yulian penasaran.
"Belum sayang. Belum bisa tidur." Jawabku dengan menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat adik untuk Juna?" Ajak Yulian sambil mengerdipkan kedua matanya.
"Kamu serius?" Tanyaku dengan terkejut.
"Iya, mengapa tidak?" Jawabnya dengan nada yang begitu tenang. Padahal, jantungku berdegup kencang.
Seiringnya waktu, aku pun mengiyakan permintaan suamiku. Malam ini adalah malam pertama yang menjadi saksi cintaku kepada suamiku. Karena, aku akan menyerahkan seluruh kesucianku untuk melayaninya dengan sepenuh hatiku.
__ADS_1