HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Kepulangan Yulian


__ADS_3

Terlihat jelas senyum dari setiap bibir mereka yang berdiri menyambut kehadiran aku dan Ahtar setelah keluar dari dalam gedung yang megah. Mereka melambaikan tangan untuk menyapa, begitupun dengan aku dan juga Ahtar yang perlahan berjalan gontai menuju di mana mereka berada. Setelah itu aku dan Ahtar pun sampai dalam kerumunan mereka, keluargaku tercinta. Lalu, kejutan kecil pun dimulai dari Yulian yang memberikan hadiah sebuah mobil sport kepada Ahtar. Dan dilanjutkan oleh Arjuna dan Cahaya yang memberikan tiket liburan ke Edinburgh, karena Ahtar yang tidak bisa ikut waktu itu. Dan yang terakhir dari Arumi, ia memberikan beberapa tumpukan kertas kepada Ahtar, yang entah itu apa?


"Aku percaya kamu pasti bisa." Arumi melempar senyum kepada Ahtar.


Ahtar pun mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Arumi. Namun, di sini aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mereka. Percakapan apa yang sebenarnya sedang mereka bahas. Namun, aku merasa yakin itu adalah hal baik dan Arumi mendukung akan tujuan baik Ahtar. Dan aku mempercayai Arumi sebagaimana aku percaya kepadanya yang akan membantuku dalam segala hal, termasuk tentang Khadijah.


"Bagaimana kalau kita sekarang berfoto bersama?"


"Itu ide yang bagus. Ya sudah, kita bersiap-siap saja sekarang!"


Kami pun meminta jasa foto untuk mengabadikan momen yang mungkin saja tidak akan pernah bisa kuulangi lagi. Karena hati kecilku berkata bahwa kematian akan tiba untukku jika, penyakit yang kuderita cepat menyebar. Hari itu, aku tidak ingin memperlihatkan kondisiku yang kurasa semakin memburuk. Apalagi setelah kepulangan Yulian yang selama ini aku nantikan. Lelaki yang aku rindukan akan kehadirannya selama ini.


"Aku ingin bicara denganmu, Aisyah. Bisakah, kamu ikut denganku sebentar saja?"


Saat Yulian menatapku begitu dalam bahkan memintaku untuk berbicara empat mata dengannya, aku merasa takut. Aku takut jika, Yulian akan mempertanyakan tentang apa yang terjadi kepadaku. Karena aku masih belum siap untuk mengatakan apapun tentang kanker jantung yang seolah sudah menyatu dalam diriku. Aku tidak ingin keluargaku gempar akan penyakitku ini dan merasa khawatir di saat bahagia menyelimuti kami. Sehingga sebisa mungkin aku akan menutup rapat rahasia itu.

__ADS_1


Tanpa kuucapkan iya, Yulian menarik lenganku begitu saja lalu, ia pun mengajakku menuju tempat yang sedikit sunyi, tanpa adanya suara bising yang terdengar. Dan aku merasa penasaran dengan apa yang hendak ia lontarkan kepadaku. Yang memutar otakku dengan rangkaian pertanyaan-pertanyaan.


"Aisyah, apa kamu marah kepadaku atas kepulanganku yang sangat terlambat?"


Sejenak aku terdiam, lalu menghembuskan nafas yang sedari tadi menyesakkan dadaku. Dan kini aku merasa lega, karena pertanyaan yang dilontarkan Yulian hanyalah seputar kepulangannya yang terlambat. Sehingga aku segera menepiskan rasa takutku jika, Yulian akan mengetahuinya. Dengan ku lemparkan senyum kepadanya, hatiku merasa senang dan tenang melihat sepasang mata elangnya yang telah kembali dengan penuh cinta untukku.


"Tidak. Aku tidak akan pernah marah kepada lelakiku. Aku selalu berusaha mengerti dalam keadaan dan situasi apapun yang kamu hadapi tanpa aku ketahui seperti apa dan bagaimana di sana. Karena yang aku tahu, kamu tengah berjuang untuk mendapatkan ridho-Nya dalam memenuhi kewajibanmu sebagai seorang Imam." Aku pun menatap dalam sepasang mata elang Yulian.


"Apa kamu yakin, jika kamu tidak marah? Apa kamu tidak kecewa karena janjiku yang beberapa kali tidak bisa aku tepati? Apa kamu juga tidak akan bertanya apa yang aku lakukan di sana?"


Seketika Yulian melepas senyumnya setelah mendengar yang menurutnya itu pengakuan konyol dariku. Bahkan ia juga mengangguk pelan mengiyakan ungkapan perasaanku, meskipun dalam dirinya tengah menahan tawa yang seakan tidak ingin dilepaskan begitu saja. Namun, saat kami menyatukan kedua ujung kepala kami, tawa itu pun lepas begitu saja. Setelah itu, Yulian mengecup keningku selayaknya kewajiban seorang suami terhadap istrinya.


"Terima kasih, kamu sedikitpun tidak marah kepadaku atas apa yang baru saja terjadi di antara kita. Dan andai kamu tahu, aku begitu tersiksa tiga bulan tidak bisa menghubungimu, Aisyah. Karena insiden itu aku harus kehilangan ponselku." Pandangannya pun seketika berubah, yang terlihat bersedih saat mengingat masa itu.


"Mungkin kamu saat itu mendapatkan hari yang sulit tanpa aku ketahui sedikitpun. Tapi, doa untukmu tidak pernah berhenti, Mas." Aku mengusap lembut pipi Yulian seraya menatapnya lekat.

__ADS_1


Pelukan pun tiba-tiba dilayangkan untukku. Tubuhku yang runcing seakan hilang dalam dekapannya. Dan sore itu, keromatisan pun telah tercipta di antara aku dengan Yulian setelah kepulangannya dari Surabaya. Namun, romantis yang tercipta tidak berlangsung lama, karena aku dan Yulian harus segera kembali menuju di mana yang lain mungkin saja tengah menantikan kami.


Dan saat berada di tengah-tengah mereka kembali, ternyata Ahtar menanti kami untuk meminta berfoto bersama, tetapi hanya denganku dan Yulian. Mungkin itu adalah momen terindah baginya saat bersama kedua orang tuanya yang perlu diabadikan. Dan aku serta Yulian pun mengiyakan permintaan Ahtar, lalu beberapa jepretan kamera pun telah dilakukan.


"Selamat ya, Dek! Abang yakin, kamu akan menjadi seseorang yang sukses suatu saat nanti jika, kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan yang tidak akan datang untuk kedua kalinya." Arjuna menepuk pelan bahu Ahtar.


"Dan sebelum kamu memikirkan kapan akan berangkat di mana kamu akan menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, Abi ingin menebus kesalahan Abi kepada kalian semua. Atas kepulangan Abi yang sangat-sangat terlambat, Abi ingin mengajak kalian makan bersama di luar. Bagaimana?"


Seketika kata setuju pun telah diucapkan oleh mereka semua. Dan senyum serta momen bahagia pun telah tercipta dari kebersamaan yang sempat merenggang. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tempat makan bersama, kami pun mencari Masjid terdekat untuk menjalankan sholat ashar. Karena sore itu jam sudah menunjukkan pukul 03.30.


"Aisyah, bisakah kamu menceritakan semuanya kwpada Yulian? Dan aku mohon, urungkanlah yang menjadi keinginanmu itu!"


Sebuah pesan dari Arumi pun telah masuk ke ponselku. Dan setelah ku baca dengan seksama, aku benar-benar mengerti bagaimana perasaannya kepadaku. Di mana Arumi tidak ingin terjadi sesuatu hal kepadaku dan juga rumahtanggaku. Namun, keinginanku itu tidak akan tergoyahkan sedikit pun. Bahkan, proses untuk menuju ke tujuanku perlahan sudah ku susun dengan rapi. Dan saat itu, aku mengabaikan pesan singkat yang dituliskan oleh Arumi. Karena aku tidak ingin jika, Yulian ataupun yang lain tahu tentang apapun yang terjadi kepadaku. Sehingga aku tetap fokus dengan kebersamaan kami yang baru saja tercipta kembali.


Dan beberapa menit kemudian kami pun sampai di sebuah Masjid besar di kota Medan. Setelah menuruni mobil yang terparkir dengan rapi, kami pun segera mengambil air wudhu yang kejernihan airnya mampu membuat kesegaran di dalam jiwa. Lalu, kami pun mengambil posisi yang terpisah untuk menjalankan sholat berjamaah. Di mana bagi kaum lelaki berada di balik tirai hijau yang memisahkan dua ruang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian akhirnya kami semua telah usai menjalankan sholat ashar berjamaah. Setelah itu, kami bersiap kembali untuk mencari restoran yang tepat dalam merayakan hari bahagia yang menyelimuti kami semua. Namun, sejenak aku harus tinggal di Masjid itu, karena tiba-tiba Arumi menahan langkahku. Entahlah, apa lagi yang akan ia bahas dalam percakapan rahasia di antara kami.


__ADS_2