HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 27


__ADS_3

Tak butuh waktu yang lama untuk berbasa-basi. Papa pun langsung to the point apa tujuan datang menemui bu Maria.


"Bagaimana bu maria, apa bu Maria mau menerima lamaran saya?" Tanya papa memastikan.


"Saya bersedia pak, saya mau menerima lamaran pak Brian." Ucap bu Maria dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia.


Tanpa basa-basi dan rasa penolakan dari bu Maria, lamaran papa terhadap bu Maria telah diterima.


Seketika kami semua merasa bahagia dan merasa terharu dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Aku merasa begitu bahagia melihat papa dan kak Maryam bahagia, karena kebahagiaan mereka lah yang terpenting bagiku.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita cari hari yang baik untuk acara akad nikahannya." Ucap papa selanjutnya.


"Bagaimana kalau pas hari jum'at lusa pak, karena setelah saya mencari tahu dan menurut adat jawa di hari itu adalah hari yang baik pada bulan ini." Ucap pak penghulu yang papa undang untuk ikut datang ke rumah bu Maria.


"Kalau hari itu adalah hari yang baik, baiklah pak kami akan mempersiapkan hari itu juga." Ucap papa dengan penuh kemantapan.


Kami semua yang hadir dalam acara lamaran papa terhadap bu maria, sudah sangat setuju dengan hari baik itu. Karena menurut kami lebih cepat lebih baik agar tidak menimbulkan fitnah ataupun hal buruk lainnya yang bisa mengancam keluarga kita.


"Alhamdulillah ya dek, akhirnya sebentar lagi keluarga kita akan lengkap kembali." Bisik kak Maryam kepadaku.


"Iya kak, alhamdulillah ya!" Balasku dengan senyuman.


💦💦💦💦


"Fadli, kapan kamu jadinya mau mengantar ibu ke rumah Aisyah? Entah kenapa ibu merasa begitu rindu kepadanya." Ucap bu Laila sambil menatap putranya.


"Emmm...kalau ibu sudah begitu rindu, Fadli siap mengantar ibu sekarang juga. Bagaimana? Apa ibu setuju?" Tanya Fadli meyakinkan.


"Baiklah. Tapi sebentar dulu, ibu coba untuk menghubunginya terlebih dahulu . Takutnya nanti dia sedang sibuk, ibu kan tidak mau mengganggunya." Jawab bu Laila.


"Kring...kring...!" Suara handphone berdering.


"Siapa sih yang telfon, mengganggu saja." Gerutuku dalam batinku.


Aku melangkahkan kaki untuk keluar sebentar. Dan kucari pusat suara ponselku berada. Setelah aku mencari dimana ponselku, akhirnya ketemu juga yang berada didalam saku tasku.


"Bu laila?" Tanyaku dalam batin setelah membuka slide depan ponselku.


"Hallo, Assalamu'alaikum bu!" Ucapku memberi salam.


"Wa'alaikumsalam nak Aisyah. Oh iya, sekarang nak Aisyah sedang dimana?" Tanya bu Laila.

__ADS_1


"Oh iya bu, sekarang Aisyah ada dirumah keluarga. Karena, disini ada beberapa acara bu. Memangnya ada apa ya bu Laila?" Jawabku menjelaskan, lalu bertanya kepada bu Laila, karena rasa penasaranku.


"Sebenarnya sih tidak ada apa-apa nak, cuma saja ibu merasa rindu dengan kamu." Jawab bu Laila yang sedang menahan rindu.


"Ya sudah bu, nanti Aisyah akan mengajak papa dan kakak Aisyah untuk mampir ke rumah ibu sebentar." Ucapku dengan begitu lembut. Dan entah kenapa aku juga merasakan hal yang sama dengan bu Laila.


"Baiklah kalau itu menjadi keinginan kamu nak, ibu akan bersabar untuk menunggumu." Balas bu Laila dengan begitu lembut.


Kami pun saling menutup telfon. Seperti biasa sebelum aku menutup telfonnya, tak lupa ku ucapkan salam kepada beliau. Dan setelah itu, segeralah aku menuju ke dalam ruangan kembali untuk bergabung dengan mereka lagi.


"Siapa dek yang telfon kamu?" Tanya kak maryam dengan lirih.


"Itu loh kak, bu Laila. Katanya sih beliau merasa rindu denganku." Jawabku dengan lirih pula.


Tak lama kemudian, acara lamaran papa sudah berakhir. Kamipun bersiap-siap untuk pulang. Namun, tidak dengan kak Maryam.


"Pa, ijinkan Maryam menginap dirumah Ibu untuk 2 malam ini, karena Maryam ingin menemani ibu sekaligus membantu ibu untuk mempersiapkan banyak hal." Ucap kak Maryam yang meminta ijin kepada papa.


"Ya sudah kalau itu memang mau kamu , papa akan ijinkan. Asalkan kamu senang." Balas papa dengan senyuman.


"Ok. Jadi sekarang, kak Maryam membantu pihak pengantin perempuan dan sedangkan Aisyah membantu pihak pengantin laki-laki." Sambungku kemudian dengan senyum kecil.


Semua menertawakanku dengan serentak. Seakan kita begitu bahagia. Ya_memang kita sedang bahagia. Sangat bahagia malahan. Hohoho...!


"Oh iya pak, terimakasih banyak atas kehadiran bapak." Balas papa berterimakasih.


Tak lama kemudian, aku dan papa berpamitan untuk pulang ke rumah. Sedangkan kak Maryam, dia memilih tinggal di rumah bu Maria.


"Pa, kita jangan langsung pulang dulu ya!" Pintaku kepada papa selagi masih dipertengahan perjalanan.


"Memangnya kamu mau mengajak papa kemana?" Tanya papa dengan mengerutkan keningnya.


"Sudahlah pa, papa ikutin Aisyah saja ya!" Jawabku yang akan memimpin aba-aba menuju kerumah bu Laila.


"Hemm...Baiklah!" Ucap papa singkat.


🕊🕊🕊🕊


"Assalamu'alaikum." Ucap salam dari luar.


"Wa'alaikumsalam!" Jawab bu Laila dari dalam dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Ayah! Kirain ibu tadi siapa." Jawab bu Laila sedikit kecewa.


"Memang ibu kira siapa yang akan datang? Sudah dari tadi kan ayah bilang, kalau ayah akan pulang sekitar pukul 20.00 malam. Lagian ibu lagi menunggu siapa?" Tanya Pak Muchtar selaku suami bu Laila dan ayah Fadli yang pulang dari luar kota.


"Itu loh yah, sedari tadi ibu itu lagi menunggu kedatangan Aisyah. Gadis yang sering Fadli ceritakan kepada ayah lewat telfon itu loh yah!" Jawab Fadli seraya mencium tangan ayahnya.


"Oalah, ayah kirain siapa. Memangnya dia mau datang ke rumah kita?" Tanya pak Muchtar kepada anak dan istrinya.


"Iya yah, entah kenapa ibu merasa rindu kepadanya." Ungkap bu Laila yang seakan sudah merasakan tidu yang begitu berat.


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam dari luar yang sekaligus menghentikan percakapan kekuarga Fadli yang berada didalam.


"Wa'alaikumsalam." Balas bu Laila dengan segera.


"Aisyah!" Ucap bu Laila setelah membuka pintu rumahnya.


"Iya buk, ini Aisyah!" Ucapku dengan senyuman kecil dan tak lupa juga aku mencium tangan bu Laila.


"Ya sudah masuk dulu yuk nak!" Seraya bu Laila mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya dan mempersilahkanku untuk duduk.


Aku beristirahat dan singgah di rumah bu Laila dengan sejenak. Suasana di rumah bu Laila saat itu sedang sepi. Entahlah dimana keberadaan Fadli putranya itu. Sedangkan bu Laila sedang ada di dapur membuatkanku minum.


"Assalamu'alaikum Aisyah!" Tiba-tiba muncullah suara dari belakangku.


"Wa'laikumsalam." Jawabku dengan acuh.


Etss, tapi bukan berarti aku sombong, melainkan aku tak mau menimbulkan suatu fitnah tentang kami. Sebenarnya sih, aku tak mau juga bertamu di rumah bu Laila, tapi apalah dayaku aku pun tak bisa menolak permintaan bu Laila.


"Ma'af sudah merepotkan dirimu atas permintaan ibuku." Ucap Fadli mengawali pembicaraan setelah ku acuhkan dia.


"Emm... Tak apa kok! Aku juga tidak sedang sibuk!" Jawabku dengan nada yang biasa, tidak berlebihan dan sambil kutundukkan pandangan ke dua mataku.


"Ini sayang, minumlah dulu!" Ucap bu Laila yang memberiku secangkir teh hangat.


"Iya bu terimakasih banyak!" Balasku dengan senyum kecil dibalik cadarku.


Ku teguk teh hangat di hadapanku. Begitu hangat, sehangat senyuman Fadli yang tanpa sengaja aku melihatnya.


"Aisyah, apa-apa in sih kamu ini." Ucapku dalam batin setelah kupandang wajah Fadli tanpa sengaja. Lalu, dengan segera kupalingkan kembali pandanganku.


Suasana terasa kikuk antara aku dan Fadli, karena tanpa sengaja waktu aku memandangnya tadi, ternyata dia juga sedang memandangku. Entah kenapa aku merasa malu sendiri, namun begitu hangat ketika aku memandang bola matanya. Ada tatapan yang aneh di dalamnya.

__ADS_1


Bersambung...


TERIMAKASIH UNTUK TEMAN-TEMAN READERS "HIJRAH CINTA-AISYAH" YANG MASIH SETIA. DAN JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN KALIAN UNTUK AKU YA! DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN AKU BERSYUKUR SEKALI.


__ADS_2