
"Ma, apakah bintang yang Aisyah pandang dengan begitu terangnya itu adalah mama? Jika itu benar mama, Aisyah ingin menggapainya dan memeluknya dengan erat. Entah kenapa Aisyah merasa begitu merindukan mama." Ucapku lirih dengan memandang bintang dan memejamkan ke dua mataku untuk merasakan ketenangan didalam hati ini.
"Tok... Tok... Tok... Aisyah!" Terdengar suara kak Maryam tengah memanggilku dari luar.
"Akh iya kak, masuk saja! Pintunya juga tidak Aisyah kunci kok." Balasku yang menyuruh kak Maryam masuk ke dalam kamarku.
"Aisyah, ngapain kamu berdiri didekat jendela? Nanti kamu bisa masuk angin loh!" Ucap kak Maryam sedikit khawatir.
"Emm... Tidak kok kak. Kak Maryam tenang saja. Aisyah kan cuma mau melihat bintang yang terang saja, jadi kak Maryam tidak perlu khawatir. Lagian Aisyah sering melakukan hal seperti ini disaat Aisyah merasa rindu kepada mama." Jawabku santai.
"Baiklah! Memangnya ada bintang yang terang, perasaan tadi sedikit mendung."
"Ada kok kak. Kak Maryam ke sini deh, Aisyah akan tunjukkan bintang yang paling terang di malam ini." Ajakku kepada kak Maryam.
Kak Maryam berjalan mendekatiku. Setelahnya, aku menunjukkan bintang yang paling terang di malam ini. Begitu indah sekali.
"Masya Allah... Aisyah, itu indah sekali dan begitu menakjubkan." Ucap kak Maryam yang mengagumi terangnya bintang di malam ini.
"Benarkan kata Aisyah. Bahwa ada bintang yang paling terang di malam ini." Ucapku dengan menutup kedua mataku kembali.
Mungkin saat ini kak Maryam hanya memandangku dengan rasa keanehannya. Hingga pertanyaan itu terlontar dari mulut kak Maryam.
"Apa yang kamu lakukan Aisyah? Kenapa kamu memejamkan kedua mata kamu?" Nah, itu dia yang menjadi pertanyaan dari kak Maryam.
"Aisyah hanya mencari ketenangan di malam hari kak. Aisyah selalu melakukan hal ini saat Aisyah melihat cahaya bintang yang terang. Dan itu, membuat kerinduan didalam hatiku kepada mama bisa terobati." Ucapku dengan mengingat hal terindah bersama mama. Ya_Mama angkatku, karena aku masih belum tahu dimana ibu kandungku.
"Mama? Emm... Aisyah, bolehkah kakak bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya kak Maryam dengan tatapan penuh keseriusan.
"Silahkan kak, insyaallah kalau Aisyah bisa menjawabnya pasti Aisyah akan menjawab." Balasku tanpa ada rasa keberatan.
Kami pun beranjak ke tempat paling nyaman untuk mengobrol, yaitu di atas kasur sambil duduk santai dan saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Aisyah, memangnya kenapa mama bisa meninggal? Dan bagaimana wajah dari mama? Apakah secantik dan seindah bintang yang berada di awan tadi?" Tanya kak Maryam penasaran.
"Baiklah, Aisyah akan ceritakan semuanya." Jawabku kemudian.
flash back on
"Saat Aisyah umur sekitar 12 tahun, sepertinya. Karena Aisyah sudah sedikit lupa tentang itu. Aisyah melihat mama terbaring lemah di atas kasur Rumah Sakit. Mama ternyata mengidap kanker rahim stadium akhir. Itu membuat papa semakin terpukul dan terpuruk. Sedangkan mama tidak memberitahu keadaan yang sebenarnya dari awal. Aku merasa bingung saat itu. Aku hanya bisa menangis dan merasa takut kehilangan mama.
*Dan sampai tiba waktunya. Mama pun meninggalkan kita semua. Namun, Mama mengucapkan sesuatu yang membuatku tak mengerti. Mama mengucapkan bahwa aku memiliki seorang kakak perempuan yang cantik. Dan beliau meninggal dengan senyuman yang indah setelah mengatakan akan hal itu kepadaku.
Seringkali, mama selalu berkata bahwa mama akan selalu menjaga aku dan kakakku dari syurga. Dan tidak hanya itu. Mama selalu berkata, mama bahagia bisa melihat kedua putri mama dari atas sana*."
flash back off
"Ya Allah, ma'afkan Maryam ma! Maryam janji sama mama, bahwa Maryam akan selalu menjaga adik Maryam, Aisyah dengan sebisa mungkin." Ucap kak Maryam usai mendengar ceritaku.
"Terus bagaimana dengan wajah mama?" Sambung kak Maryam kembali.
"Memangnya kenapa papa tidak mau memajang foto mama?" Tanya kak Maryam.
"Karena, mama ada di dalam hati kami. Jadi, kita tidak perlu memajang fotonya." Itulah yang sering kali diucapkan oleh papa.
Aku pun tersibukkan dengan mencari selembar foto. yaitu foto mama. Entahlah, terselip dimana foto itu. Namun, aku tetap mencarinya tanpa rasa lelah. Dan sedangkan kak Maryam, dia disibukkan dengan ponsel nya. Entahlah_apa yang dia lakukan dengan ponselnya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga." Ucapku dengan memegang selembar foto mama.
"Alhamdulillah kalau begitu Aisyah. Mana, tunjukkan pada kakak ." Ucap kak Maryam yang mengulurkan tangannya untuk meminta foto yang aku pegang.
"Masya Allah, betapa cantiknya mama. Maryam ingin memeluk mama." Ucap kak Maryam usai melihat foto mama.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berdering, yang membuat kita terhenti memandang ke arah foto. Dan ternyata itu ponsel kak Maryam.
__ADS_1
"Halo, assalamu'alaikum!" Suara kak Maryam yang mengangkat telfon.
Aku masih duduk disebelah kak Maryam, namun sayang aku tak begitu jelas mendengar pembicaraan kak Maryam. Entahlah dengan siapa kak Maryam berbicara.
"Oh iya pak, terimakasih informasinya. Insyaallah besok saya akan datang." Ucap kak Maryam sebelum mengucap salam dan menutup telfonnya.
Aku merasa bingung dengan tingkah kak Maryam. Dia begitu terlihat bahagia. Jangan tanya kenapa aku bisa tahu, padahalkan setau kalian kak Maryam itu memakai cadar. Tapi, saat ini kita berdua tidak memakai cadar. Karena, kita akan melangsungkan tidur malam. Maka dari itu kita melepas cadar kita. So, aku tahu betul bagaimana ekspresi wajah kak Maryam saat ini.
"Siapa kak yang menelfon?" Tanyaku penasaran.
"Emm... Alhamdulillah dek, tadi kakak dapat kabar dari pihak Rumah Sakit Medika bahwa kakak diterima memdaftar di sana." Jawab kak Maryam bahagia.
"Wah selamat ya kak, semoga kakak sukses." Aku mengucapkan selamat kepada kak Maryam, karena menurutku kebahagiaan kak Maryam adalah kebahagiaanku juga.
"Terimakasih ya dek, semoga saja. Amin!" Balasnya dengan senyuman.
Hai guys, jangan merasa takut ya jika kalian bertemu atau diperiksa oleh dokter yang bercadar. Karena mereka memiliki hati yang lembut dan keramahan. Ingat ya, tidak salah juga kan orang bercadar menjadi dokter. Hohoho!
"Kak, bagaimana kalau kita memberi kejutan kepada papa dan mama Maria. Pasti mereka juga ikut bahagia." Usulku kemudian.
"Emm....itu ide yang bagus. Tapi besok saja bagaimana? Nanti takut mengganggu mereka, inikan sudah malam juga." Ucap kak Maryam memberi saran.
"Baiklah kak, Aisyah setuju. Besok pagi-pagi kita harus datang ke rumah papa, Nah, sekarang giliran kita untuk istirahat. Aisyah sudah ngantuk berat." Balasku yang serasa tak kuat menahan kantuk yang amat sangat.
"Baiklah, ayo kita tidur kalau begitu." Ucap kak Maryam menyetujui.
Malam yang penuh dengan kehangatan akan membuat kami merasa tenang dalam tidur kami. Ya_malam ini kami tidur bersama setelah saling curhat. Itulah kebiasaan kami, saat hati dan pikiran kami tak bisa menahan kesedihan.
BERSAMBUNG....
JANGANLAH TAKUT UNTUK BERHIJRAH DAN MENUJU JALAN YANG LEBIH BAIK. DAN SELAMA NIAT KITA BAIK, SELAMA ITU PULA ALLAH SWT MEMBERIKAN JALAN KEMUDAHAN UNTUK KITA. SEMOGA BERHASIL !
__ADS_1
Jangan lupa ya guys. berikan dukungan kalian dengan like, komentar dan vote kalian. Aku akan selalu berterimakasih dengan usaha kalian. Dan ma'af jika aku tidak bisa membalah satu-satu komentar dari kalian.