
Di bawah pohon besar aku bersama Cahaya tengah merajuk dalam suasana yang menyejukkan. Di sana kami saling memberikan pengertian sebagai sesama wanita. Dan aku juga meyakinkan Cahaya bahwa di dalam rumahtangga yang sudah dibangun tidak akan pernah berliku jika ada suatu kepercayaan dalam diri masing-masing. Karena menurutku pondasi dalam rumahtangga tak lain adalah saling percaya. Apalagi aku menyadari dan mengetahui bahwa kini aku lah sayap yang dibutuhkan Yulian untuk masuk ke surga-Nya.
"Umi harus jujur sama Cahaya, bahwa Umi merasakan api cemburu yang membara saat di restoran tadi, bukan?"
"Tidak. Siapa yang bilang kalau Umi cemburu, Cahaya? Umi berperilaku biasa, seperti saat bertemu dengan siapa saja." Elakku menutupi yang sebenarnya.
"Bohong. Cahaya mendengar semuanya saat Umi dan Nyonya Arumi tengah berbincang di koridor tadi. Tapi maaf, bukan maksud Cahaya untuk menguping pembicaraan Umi dengan Nyonya Arumi." Cahaya pun mengungkapkan apa yang telah didengarnya tanpa sepengetahuan ku.
Aku terdiam dengan seribu bahasa. Ingin rasanya mengaku dan tidak menipu Cahaya ataupun diri ini sendiri, tetapi aku pun juga tidak bisa terus memendam api cemburu di dalam jiwa. Hati yang ikhlas lah yang akan memberikan pengertian dan menghilangkan segala rasa api cemburu yang bergejolak. Dan Allah pun juga tidak menginginkan sesama umat-Nya saling membenci bahkan memiliki sifat pendedam yang akan memutuskan tapi persaudaraan suatu hari kelak. Sehingga aku pun berkata kepada Cahaya setelah berpikir cukup panjang untuk memberikan jawaban yang tepat dari pertanyaan Cahaya tersebut.
"Huft! Mungkin benar kamu sudah mengetahui dan mendengar saat Umi dan Arumi sedang mengobrol di koridor tadi. Tapi Umi yakin, bahwa yang kamu dengar itu hanya sebagian saja dan tidak sampai habis. Jadi, lupakanlah untuk kejadian tadi!"
"Bagaimana bisa Umi mengatakan hal semudah itu kepada Cahaya? Lupakan Umi? Tidak mungkin kalau Cahaya bisa melupakan semudah itu, karena Cahaya menyayangi Umi sebagai ibu kandung Cahaya dan Cahaya tidak akan pernah rela membiarkan rumahtangga Umi dengan Abi dirusak perempuan lain."
Cahaya meluapkan amarahnya begitu saja. Rasa tidak sukanya terhadap Arumi kini telah diakui olehnya, bahkan seolah rasa benci tengah masuk begitu saja dalam hatinya. Namun, aku sebagai ibunya tidak ingin jika, putriku memiliki rasa benci ataupun dendam terhadap orang lain, meskipun aku menyadari bahwa aku hanyalah ibu menantu. Dan kini, lagi-lagi aku harus meredam amarahnya dan memberikan pengertian kepada Cahaya. Bahkan jika bisa, aku ingin menghapus rasa yang tidak seharusnya ada di dalam hati Cahaya terhadap Arumi, wanita yang baik hati tetapi, dipandang sebelah mata karena kesalahan pahaman dari sebuah tatapan.
"Cahaya, tolong dengarkan Umi sekali saja! Umi tahu Cahaya mulai menyayangi Umi dan menganggap Umi sebagai ibu kandung Cahaya, tapi ... rasa cemburu yang sempat singgah di dalam hati Umi tidak akan membuat buta sebuah mata, hati yang mengeras, sifat yang egois dan rasa benci ataupun dendam terhadap Arumi. Jadi, Umi rasa kamu pun juga tidak perlu memiliki hal-hal yang tidak seharusnya ada di dalam hati kamu." Aku pun menatap lekat sepasang manik hitam pekat yang ada dihadapanku.
__ADS_1
Cahaya pun terdiam dengan seribu bahasa. Namun, sepasang mata yang lentik perlahan berkaca-kaca dan akhirnya air bening membasahi pipinya. Entah kenapa ia menangis? Aku tidak tahu pasti apa yang tengah dirasakannya, entah amarah yang masih belum meredam atau rasa yang lebih dari itu. Dan untuk menenangkan segala rasa yang bergejolak dalam jiwanya, kulayangkan pelukan hangat ke tubuhnya, bahkan ku usap pelan pundaknya.
"Jangan menangis! Dan kenapa kamu menangis Cahaya? Apa Umi sudah melukai hati kamu atas perkataan Umi tadi?"
"Ti-tidak, Umi. Cahaya hanya berpikir, bagaimana bisa hati yang begitu lembut ada di dunia ini? Tapi ... maafkan Cahaya, entah kenapa Cahaya masih tidak menyukai Nyonya Arumi sebagai wanita." Cahaya menatapku lekat dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Emm, begini Cahaya! Dalam diri kita ini, kita harus bisa menerapkan apa yang diperintahkan Allah terhadap setiap umat-Nya. Seperti surah Ali Imran ayat 103. Apakah kamu mengetahui bagaimana perintah Allah yang tertulis dalam surah tersebut?"
Cahaya kembali terdiam seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dan ia menatapku, seolah tengah meminta jawaban atas apa yang sudah ku lontarkan kepadanya tentang surah Ali Imran ayat 103. Setelah aku melihat tatapan yang begitu berarti, aku pun memberikan jawaban kepada Cahaya.
"Tidak apa jika, kamu tidak mengetahuinya, Cahaya. Dan itu sudah menjadi tugas Umi sebagai ibumu sekaligus sebagai teman, saudara, kerabat dan semuanya. Jadi, dengarkan baik-baik perkataan Umi ini!"
"Isi dari Surah Ali Imran ayat 103 : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah padamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." Jelasku seraya menatap lekat Cahaya.
"Jadi Cahaya, Allah juga tidak menyukai jika umat-Nya saling bermusuhan dan akan masuk ke dalam tepi jurang neraka. Allah lebih menyayangi semua umat-Nya dari sifat yang tercela dan dari segala larangannya. Dan inilah petunjuk dari Allah, hati yang sabar. Sehingga tidak ada hati yang mengeras, yang tertutupi dengan kebencian belaka."
Aku mengangguk pelan mengiyakan serta meyakinkan Cahaya untuk mengerti bagaimana seorang wanita mampu menjaga tali persaudaraan terhadap wanita lain, wanita yang tidak harus sealiran dengan kita. Karena Arumi sendiri tak lain adalah wanita yang memeluk agama Yahudi. Sehingga Dia tidak begitu mementingkan cara berpakaian yang benar seperti anjuran syari'at Islam. Sebagaimana Dia hanya memakai dress mini yang sedikit memperlihatkan dua tumpukan gunung miliknya. Dan sebagian dari itu yang membuatku merasa tidak nyaman jika kami bersama.
__ADS_1
Setelah cukup lama aku berbincang dengan Cahaya, kini kami memutuskan untuk mengelilingi sejenak Nicolson Square Gardens dan menikmati suasana di sana sebelum senja telah tiba. Yang akan mengubah hari menjadi gelap saat di malam hari. Aku terus mendorong Cahaya yang duduk di kursi rodanya untuk melihat rerumputan yang hijau. Dan saat aku masih berjalan, terbesit dalam pikirku tentang seorang dokter ahli syaraf.
"Cahaya, bolehkah Umi bertanya sesuatu hal?"
"Tentu, Umi. Tanyakan saja!"
"Umi hanya ingin mengetahui bagaimana bisa kamu mengalami lumpuh seperti ini? Tapi jika kamu keberatan untuk menjawab pertanyaan Umi, kamu boleh untuk tidak menjawabnya." Aku kembali mendorong kursi roda yang ada dihadapanku.
Tiba-tiba Cahaya menggenggam tanganku yang saat itu masih memegang gagang kursi roda miliknya. Lalu, ia pun membalikkan pandangannya ke arahku. Dan ia pun juga berkata, "Tidak, Umi. Cahaya sama sekali tidak merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan Umi Aisyah. Sebenarnya, satu tahun lalu Cahaya mengalami kecelakaan yang membuat kedua kaki Cahaya tidak bisa berjalan dengan normal."
Cahaya menekuk pandangannya, seolah ia merasa malu setelah mengingat kakinya yang lumpuh dan tidak sempurna lagi. Dan entah kenapa aku membayangkan seolah Cahaya mampu berjalan dengan normal. Kedua kaki yang berfungi secara utuh dan mampu kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala, jauh sebelum Cahaya dipertemukan dengan Arjuna.
"Oh iya, Cahaya. Apakah dokter pernah berkata bahwa kaki kamu bisa disembuhkan seperti dulu?"
"Dokter pernah berkata bisa, Umi. Tapi itu mustahil bagi Cahaya yang keluarga saja tidak punya apa-apa. Jadi, mau tidak mau Cahaya harus bisa menerima keadaan yang membuat Cahaya sendiri merasa rapuh dan terpuruk. Akan tetapi, setelah Cahaya masuk ke dalam keluarga Umi Aisyah dan Abi Yulian, Cahaya tidak merasa seburuk itu. Apalagi ada Mas Arjuna yang selalu mengerti Cahaya." Ungkap Cahaya dengan melukiskan senyum.
Aku pun membalas senyum Cahaya, lalu aku mengajaknya untuk segera kembali ke Edinburgh Centeral Mosque. Karena aku tidak mau jika Yulian dan Arjuna harus menunggu kedatangan kami yang sudah cukup lama di Nicolson Square Gardens. Dan aku seketika membantu Cahaya untuk masuk ke dalam mobil yang akan kami kendarai. Setelah usai, aku pun menyalakan mesin lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Sssttt,"
Tiba-tiba ku injak pedal rem untuk menghentikan laju mobil yang ku kendarai tadi. Karena aku tidak bisa tinggal diam melihat pemandangan yang bagiku itu kurang enak jika dipandang.