
"Aku sendiri juga tidak tahu pasti apa namanya. Namun ketika aku melihatmu bersedih, hatiku juga ikut bersedih. Ingin rasanya aku terus disampingmu dan melindungimu. Maka dari itu, aku ingin dekat denganmu." Jawabnya yang menjelaskan, namun aku masih bingung dibuatnya.
"Apa maksud kamu? Apa kamu memiliki perasaan suka sama aku? Jawablah dengan kejujuranmu. Karena aku tidak mau ada kesalah pahaman diantara kita nanti." Balasku dengan tegas. Namun aku tak berani menatap wajahnya, karena aku tahu kita bukan mukhrinnya.
"Salah paham apa maksud kamu Aisyah? Apa aku tidak boleh memiliki perasaan itu untuk mu? Apa aku salah?" Ungkapnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit aku jelaskan, namun aku harus segera meluruskannya.
"Iya, salah paham diantara aku, kamu dan kakak ku." Jawabku sedikit renggang.
"Apa maksud kamu sebenarnya Aisyah? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu ucapkan."
"Ok baiklah, aku akan jelaskan. Pertama, aku memang memiliki perasaan nyaman disamping kamu dan aku juga merasa sangat terlindungi didekatmu. Namun, aku sendiri juga tidak tahu perasaan apa itu.
Yang kedua, kakak ku Maryam memiliki perasaan suka dan cinta terhadap kamu. Aku tidak mau melukai hatinya. Maka dari itulah, aku ingin meluruskan perasaan dan hubungan kita. Bahwa aku ingin kita melupakan perasaan ini.
Yang ke tiga, aku sudah memiliki kekasih pilihanku. Dan aku saat ini sedang menanti kehadirannya. Karena, kami sedang memperbaiki diri untuk lebih baik lagi dengan ber-hijrah. Dan setelah itu, insya'allah kami akan melangsungkan pernikahan." Jelasku dengan panjang lebar. Entahlah, Fadli mampu menampung dan mengerti apa yang sudah aku jelaskan atau tidak.
"Aku mengerti maksud kamu Aisyah. Tapi, apa yang aku rasakan terhadapmu itu...bukanlah sebagai kekasih. Aku sendiri juga bingung bagaimana aku mengungkapkannya. Ma'afkanlah aku Aisyah." Ungkapnya yang membuat otakku bertanya-bertanya dengan apa yang dimaksud Fadli.
"Lalu, kalau kamu tidak menyukaiku kenapa kamu ingin bertemu dengan papa ku?" Pertanyaan yang tidak seharusnya aku lontarkan, kini akhirnya aku lontarkan kepada Fadli.
"Tidak, aku hanya ingin mengenal papa kamu saja. Karena, perasaan yang aku miliki sama dengan apa yang dirasakan ibuku. Dan begitipun denganmu, sama kan?" Ungkapan dan pertanyaan Fadli sungguh membuat otakku berputar dengan keras memikirkan apa yang terjadi sekarang.
"Apa mungkin, perasaan yang kita rasakan ini adalah ikatan keluarga?" Pertanyaan itu muncul dalam pikiranku dan secara spontan aku ungkapkan kepadanya.
"Keluarga? Mana mungkin Aisyah! Keluarga darimana juga?" Jawabnya dengan senyum tipis.
Aku benar-benar bingung harus berbuat apa dan harus bagaimana. Aku ingin segera menyudahi persoalan ini dengan Fadli, sebelum kak Maryam tahu tentang aku dan Fadli bagaimana. Karena, aku tidak mau menyakiti hati kak Maryam.
"Ada Fadli. Begini saja, kamu tanyakan kepada bu Laila. Apakah beliau mengenali pak Brian?" Ungkapku dengan tegas dan ku beranikan diri ini untuk mendekatinya dan menatap kedua matanya. Karena aku yakin kalau kita adalah kakak adik, jadi tak apa kan kalau aku dekat dengannya. Tapi, ma'af kalau pemikiranku tentang ini semua salah.
"Memangnya siapa pak Brian dan ada hubungan apa ibuku dengan beliau?" Tanya Fadli yang tak mengerti.
Ya jelas saja kalau Fadli tidak mengerti, memang dia tidak tahu ceritanya. Waktu aku datang ke rumahnya dan bercerita tentang masalahku, aku tidak menjelaskan dan bercerita dengan se-detailnya.
__ADS_1
"Pak Brian itu adalah nama papa angkatku. Dan hubungan papaku dengan bu Laila adalah tentang putrinya yang di asuh oleh pak Brian, yaitu aku." Aku berusaha untuk menjelaskan kepada Fadli. Karena, aku ingin tahu kebenaran tentang keluarga kandungku.
"Dan itu berarti, kalau ibuku mengenal papa kamu...kamu adalah adik kandungku?" Ungkapnya yang membalas tatapanku dengan senyuman manisnya.
Begitupun denganku, aku membalas senyumannya dan menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan lirih. Dan ungkapan masing-masing dari diri kita, akan memberi jawaban teka-teki yang sulit ini. Dan aku berharap, memang benar kalau mereka lah keluarga kandungku.
"Baiklah, aku akan segera bertanya kepada ibuku. Dan mengungkap semuanya. Dan aku pasti bahagia memiliki adik perempuan seperti kamu."
"Ya sudah, kita sudahi pertemuan ini. Dan aku juga ada urusan lain. Karena aku ingin mengerjakan sekripsi untuk lulus tahun ini." Ucapku dengan rasa semangat yang muncul dalam diri ini.
"Baiklah, semoga berhasil! Dan jika sampai benar aku adalah abang mu, aku akan menghukum mu jika kamu tidak bisa lulus tahun ini." Ucapnya dengan sedikit menggertak, namun tetap menebarkan senyumannya.
Hingga akhirnya, kami pun terpisahkan dengan jarak kembali. Sebelum aku meninggalkan jauh tempat pertemuan antara aku dan Fadli tadi, kami saling menatap muka dan saling membalas senyuman. Dan tak lupa juga kami mengucap perpisahan dengan salam.
ππππ
"Assalamu'alaikum bu!" Ucap salam dari luar.
"Iya bu. Oh iya, Fadli ingin bertanya serius dengan ibu." Balas Fadli dengan keseriusan.
"Memangnya kamu mau tanya apa sih? Sepertinya serius banget." Sambung Ayah Fadli yaitu pak Muchtar dari belakang.
"Iya ayah, ini memang serius. Karena Fadli ingin bertanya tentang siapa Pak Brian dan ada hubungan apa diantara kalian?" Tanya Fadli yang menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
π¦π¦π¦π¦
"Semoga saja memang benar kalau bu Laila adalah ibu kandungku dan mereka semuanya adalah keluarga kandungku." Ungkapan hatiku dengan harapan yang bahagia.
"Assalamu'alaiku Aida, kamu dimana sekarang?" Tanyaku kepada Aida melalui telfon genggam.
"Wa'alaikumsalam Aisyah! Oh iya, ini aku ada dirumah Aisyah. Kamu langsung saja datang ke rumah." Balas Aida yang menyuruhku langsung datang menuju ke rumahnya untuk mengerjakan sekripsi.
πΏπΏπΏπΏ
__ADS_1
"Aisyah kok belum pulang ya!" Ucap Maryam dengan rasa khawatir.
"Assalamu'alaikum kak Maryam!" Ucapku yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam Aisyah!" Jawab kak Maryam dengan senyuman.
"Kok kak Maryam ada diluar sih?" Tanyaku dengan melihat sekeliling.
"Iya, karena kakak tadi itu nungguin kamu. Kamunya sih malam pulangnya, jadi kakak ya khawatir sama kamu." Jawab kak Maryam.
"Ya ma'af kak, Aisyah kan lagi sibuk jadi tidak sempat juga ngabarin kakak." Balasku dengan sedikit senyum.
"Ya sudah, lebih baik kamu masuk dan mandi saja dulu gih. Kakak tunggu diruang makan." Ucap kak Maryam.
Aku pun menuruti apa yang diperintahkan kak Maryam. Dan bergegaslah aku menuju kamar tercintaku. Oh iya, seperti biasanya juga_tak butuh waktu lama untukku berberes.
"Wahhhh...harumnya!" Ucapku yang mencium aroma masakan.
Ku langkahkan kakiku secara perlahan untuk menuju ruang makan sambil mencium aroma masakan yang baunya begitu sangat menyengat dihidungku, sehingga membuat aku yang tak bisa menahan rasa lapar yang sedari tadi sudah melandaku.
"Wahhh... Kelihatannya lezat nih!" Ucapku yang membuka pembicaraan.
"Kakak tahu, pasti kamu sudah lapar kan!" Ucap kak Maryam meledekku.
"Iya kak memang, karena tenagaku sudah terkuras habis saat mengerjakan sekripsi tadi. Makanya, sekarang aku ingin makan semua makanan ini dengan lahabnya." Ucapku dengan bersemangat.
Iya, bersemangat untuk makan. Hahaha... Kalian jangan berpikir kalau aku adalah gadis rakus ya! Memang kenyataan juga sih, kalau aku merasakan lapar yang tiada tara.
Kami pun menyantap makanan dengan lahab. Ya kami, bik Murni, kak Maryam dan aku. Kami makan secara bersamaan, karena kami tidak ingin membeda-bedakan status. Di mana kami, semuanya itu sama. Tidak ada perbedaan antara majikan atau pembantu.
Bersambung...
Assalamu'alaikum teman-teman readers, jangan lupa kasih dukungan ke aku ya dengan like, komen dan vote nya. Terimakasih.
__ADS_1