
πΉπΉπΉπΉ
Setelah habis memborong beberapa barang yang akan dijadikan oleh-oleh ketika pas nanti pulang ke Indonesia, sekarang tinggal lah capek yang aku rasa di badanku. Sungguh benar-benar terasa remuk seluruh tulang-tulangku.
"Kenapa umi terlihat lesu seperti itu?" Tanya Yulian dengan rasa penasarannya.
"Umi capek saja bi, semua badan umi jadi terasa pegal-pegal. Padahalkan besok kita harus balik pulang ke Indonesia." Jawabku.
"Ya sudah, sekarang umi lebih baik mandi dulu terus sholat isya' dan setelahnya umi istirahat saja. Nanti, abi akan keluar cari makan." Tutur Yulian dengan begitu lembut.
"Baiklah abi." Balasku singkat namun, tidak lupa untuk memberikan senyuman kepada suamiku.
Setelah itu, barulah aku beranjak dari kursi yang aku duduki dan sekarang aku bergegas untuk menuju ke kamar mandi. Mudah-mudahan setelah mandi dan sholat tubuhku menjadi segar kembali.
Sedangkan Yulian, yang tidak lain adalah suamiku sendiri. Hehe..! Dia sedang keluar untuk mencari makan malam kita berdua. Sungguh pengertiannya suamiku dari dulu sampai sekarang. Aku begitu beruntung bisa bersanding dengannya dan menemani dalam setiap waktunya.
πΏπΏπΏπΏ
"Assalamu'alaikum!" Yulian mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam!" Balas Joko dan istrinya dari dalam kamar.
"Masuklah, ada hal yang ingin mas bicarakan bersama kamu." Ucap Joko kemudian.
"Memangnya ada apa mas Joko memanggil Yulian?" Tanya Yulian penasaran.
"Sebelumnya, papa kan meminta kita untuk mengelola perusahaan yang ada di sini. Tapi kenapa kamu besok kembali ke Indonesia?"
"Itu memang benar mas, tapi tidak mungkin kalau aku dan Aisyah berada di sini tanpa Juna. Mas kan tahu, Juna adalah putra kami. Begini saja, kalau mas mau di sini itu terserah mas. Lagian kan kehamilan mbak Humaira masih terlalu muda. Jika nanti dipaksakan untuk ke Indonesia, takutnya malah berbahaya." Tutur Yulian.
"Tapi, apakah Aisyah setuju?" Tanya Humaira menyambungi.
"Mbak Humaira tenang saja. Aisyah akan menyetujui keputusan Yulian. Karena, Aisyah juga tidak mau lama-lama terpisah dengan Juna. Dan Aisyah sendiri harus segera kembali ke Indonesia untuk mengelola kembali butiknya. Sedangkan Yulian, nanti akan mengurus perusahaan yang ada di Indonesia." Jawab Yulian dengan penuh kebijaksanaan.
Ya... Yulian dan Aisyah pun juga sudah berjanji untuk menjaga Juna dengan sepenuh hati mereka. Dan kini, mereka juga sudah menganggap Juna sebagai putra kandungnya.
ππππ
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga sholatnya. Dan seluruh tubuhku pun terasa segar kembali." Ucapku merasa lega.
Kini aku merasa sendirian di kamar hotel yang megah ini. Sedangkan Yulian, entah masih ada dimana dan mengapa belum juga kembali. Padahal sudah sedari tadi meminta ijin untuk mencari makan.
Tersirat dalam benakku untuk menelfon papa dan mama mertuaku. Karena, tiba-tiba saja rasa rindu kepada Juna dalam hatiku telah bergejolak dan seakan tidak tertahankan lagi. Hingga akhirnya ku pencet beberapa angka di ponselku.
"Tut... Tut...!" Tersambung tapi belum ada jawaban.
"Halo assalamualaikum pa!" Aku pun mengucap salam setelah telfonku diangkat oleh papa mertuaku.
"Wa'alaikumsalam Aisyah. Ada apa nak?" Tanya papa mertuaku.
"Sebenarnya sih tidak ada apa-apa pa, cuma Aisyah pengen mendengar suara Juna saja." Jawabku memberi tahu.
"Oh Juna, kebetulan dia sedang bermain bersama papa sekarang. Ya sudah, kamu bicaralah dengannya." Ucap papa dan beberapa saat kemudian memberikan ponselnya kepada Juna.
Aku dan Juna mengobrol banyak hal. Sampai dia mau tidur pun memintaku untuk membacakan beberapa cerita sebagai pengantar tidurnya. Dan alhasil, dia pun tertidur dengan pulasnya. Alhamdulillah, rasa rinduku kini sedikit terobati.
"Sayang, kalian baik-baik saja kan di sana?" Tanya mama mertuaku.
"Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja kok ma. Insya Allah, besok kita pulang ke Indonesia kok ma." Jawabku dengan lembut.
Setelah mencurahkan rasa rindu kepada putraku dan kedua mertuaku, kini telah usai. Karena waktu yang telah berganti semakin malam. Dan kami juga butuh waktu untuk beristirahat.
Namun, entah kenapa Yulian masih saja belum kembali juga. Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Dan dimana dia sekarang?
Sampai akhirnya aku merasa lelah dan kedua mataku sudah penat. Rasa kantuk pun merasuki kedua mataku. Hingga akhirnya aku tidak mampu menahannya lagi.
ππππ
"Sudah larut malam lagi, pasti Aisyah sudah tertidur. Mana dia belum makan lagi." Ucap Yulian dalam batinnya.
Yulian merasa gelisah saat berada di perjalanan kembali menuju ke hotel. Ya... Ternyata dia terkena macet panjang saat perjalanan. Dan macet itu disebabkan oleh beberapa motor yang kecelakaan. Jadi ya bisa dibilang macet total selama beberapa jam.
Setelah sampai di hotel dan memarkirkan mobil, Yulian langsung bergegas menuju ke kamar hotel untuk segera menemui Aisyah.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Yulian sambil membuka pintu dengan pelan.
__ADS_1
Setelah membuka pintu, ternyata Aisyah sudah tertidur dengan pulasnya. Dan Yulian merasa bersalah karena sudah membiarkan istrinya tertidur tanpa makan malam terlebih dahulu.
"Ma'afkan abi ya sayang, abi terlambat balik ke kamarnya." Ucap Yulian sambil mengecup kening Aisyah.
Namun tiba-tiba suara serak Aisyah menyapa Yulian dan itu membuat Yulian terkejut sekaligus membuat Yulian bersalah. Karena Yulian merasa dirinya lah yang sudah membangunkan Aisyah dari tidurnya.
"Abi, abi sudah pulang ternyata!" Ucapku kepada Yulian sambil mengerdipkan kedua mataku perlahan.
"Iya umi, ma'afkan abi karena abi kembalinya terlambat. Tapi, kenapa umi kok terbangun?" Tanya Yulian merasa tidak enak.
"Oh itu, soalnya umi merasa begitu lapar. Jadi, umi tidak bisa tertidur dengan nyenyak." Jawabku dengan mengeluh.
"Oh begitu! Ya sudah, umi makan saja dulu. Abi beli makanan untuk umi makan. Dan insya Allah, makanan ini lezat sekaligus mengenyangkan." Ucao Yulian sambil melukiskan senyumnya.
Aku pun menganggukkan kepalaku dengan segera. Karena, aku merasa tidak sabar untuk menyantap makanan yang sudah dibawakan oleh suamiku ini.
Ketika aku tengah bersiap untuk membuka makanan ini, tiba-tiba aku mendengar suara Yulian yang sedang kesal. Entah ada apa dengannya, padahal baru beberapa saat dia berbicara dengan lembut kepadaku.
Aku pun mencari pusat suara dimana Yulian berada. Dan ternyata dia sedang bertelfon dengan seseorang. Entah lah siapa orangnya. Setelah pembicaraan mereka tertutup, aku mencoba mendekatinya.
"Ada apa? Apakah ada masalah?" Tanyaku sambil memegang bahu dan tangannya.
"Emm... Tidak ada apa-apa kok." Jawabnya sambil acuh dan seakan menyembunyikan kekesalannya.
"Katakanlah, siapa tahu umi bisa membantu. Janganlah abi memendamnya sendiri." Pintaku sambil menatap kedua matanya.
"Ayo kita duduk." Ajakku kemudian.
Kami pun duduk dimuka kasur. Dan saling menatap satu sama lain. Sehingga itu bisa membuat Yulian mempercayaiku. Dan sedikit demi sedikit hatinya telah luluh untuk menceritakan apa yang sedang terjadi.
"Tadi memang ada masalah di kantor. Lebih tepatnya kantor yang ada di Indonesia. Ada beberapa masalah yang harus segera ditangani. Jadi, ma'af kalau suara abi membuat umi berhenti makan." Ucap Yulian menejelaskan.
Setelah mendengar penjelasan Yulian, akhirnya aku mampu memahami apa yang membuatnya merasa kesal. Dan untuk memudarkan rasa kesalnya, aku mempunyai sebuah rencana.
"Kok dimatiin lampunya, kenapa?" Tanya Yulian.
Aku terdiam tanpa merespon setiap pertanyaannya. Dan aku tetap melakukan aktifitasku. Yaitu, sengaja mematikan lampu yang berada di kamar hotel ini dan setelah itu menyalakan lilin yang kebetulan aku menemukannya didalam nakas.
__ADS_1
"Jadikanlah malam ini malam yang indah. Tanpa ada rasa yang membebani hati kamu. Sekarang, ayo kita makan malam bersama dengan satu lilin ini." Ucapku kemudian.
Ya.. Yulian pun akhirnya mengembangkan senyumnya tanpa ada rasa yang membebani pikiran dan hatinya. Dan kami menikmati makan malam ini hanya dengan sebuah lilin. Meskipun sederhana, tapi bagi kami ini luar biasa. Karena menjadi makan malam romantis yang ke dua setelah di Cairo Tower.