HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Dua Tahun Lalu


__ADS_3

Terlihat seorang lelaki paru baya dengan mengenakan pakaian sederhana dari balik pintu. Yah, itu tak lain adalah mertuaku, yaitu papa Yulian. Pagi ini aku mendapatkan kejutan besar atas kehadiran beliau yang jauh sebelumnya tidak memberitahukan kepada kami untuk datang berkunjung.


"Papa!" ujar Yulian terkejut.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Papa mertuaku.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balasku bersamaan dengan Yulian.


Setelah itu Yulian dan aku meminta Papa untuk segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Sampai di ruang tamu Papa pun melepas rasa lelah dengan duduk di sofa empuk. Begutupun dengan Yulian, ia ikut duduk di sana dan menemani Papa bersantai. Sedangkan aku, aku kembali disibukkan dengan pertempuran di dapur yang memang belum dibersihkan sisa piring dan peralatan lainnya yang digunakan Yulian untuk memasak tadi.


"Bik Inem, tolong buatin Pak Adhi kopi hangat ya! Oh iya, sekalian sama Pak Yulian. Setelah selesai tolong di antar ke ruang tamu ya!" pintaku kepada Bik Inem.


Setelah usai membersihkan dapur, aku pun segera menuju ke kamar Arjuna dan berlanjut ke kamar Ahtar untuk memberitahukan kepada mereka bahwa kakeknya telah tiba, sekaligus mengajak mereka untuk sarapan bersama, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Meskipun belum aktif dalam melakukan aktivas seperti biasanya, tetapi jam sarapan pagi sudah tiba. Sehingga aku harus segera menyiapkan semua makanan yang sudah dimasak dengan sempurna oleh Yulian di atas meja makan.


"Tok, tok, tok!"


Aku mengetuk pelan pintu kamar Arjuna. Dan tidak lama kemudian keluarlah putra sulungku dari balik pintu dengan pakaian pagi yang selalu dikenakannya. Baju koko dengan peci yang selalu menempel di atas kepalanya di kala pagi. Dan itu selalu membuatku merasa bangga kepadanya, pintar dalam mengaji serta menjaga akhlaknya.


"Umi, ada apa?"


"Umi cuma ingin memberitahukan kepada kamu, bahwa baru saja Kakek Adhi sudah tiba. Dan sekalian kita sarapan bersama," jelasku kepada Arjuna.


"Kakek Adhi datang ke rumah kita, Umi?" tanya Arjuna memastikan.


Aku pun mengangguk pelan untuk mengiyakan. Dan setelah mendengar jawaban dariku, nampak jelas wajah Arjuna yang terlihat begitu senang mendengar bahwa kakeknya datang untuk berkunjung. Arjuna merasakan hal yang sama denganku, bahagia yang tiada tara ketika kembli berjumpa dengan orang tua yang tinggal lah satu-satunya dalam hidupku.


"Baiklah, Umi! Kalau begitu aku sampaikan kepada Cahaya dulu! Setelah itu kita akan bertemu di ruang makan." Ujar Arjuna penuh dengan rasa semangat.


"Baiklah! Kalau begitu Umi temui Adek kamu dulu!" balasku.


Aku pun pergi dan meninggalkan kamar Arjuna, lalu melangkahkan kaki dengan pelan untuk menaiki anak tangga menuju ke kamar Ahtar. Sesampai di depan pintu kamarnya, tak lupa untukku selalu mengetuk pintu. Dan tidak lama kemudian keluarlah Ahtar dari balik pintu kamarnya dengan pakaian yang berbeda daripada Arjuna. Kaos polos berwarna putih yang dipadukan dengan sarung bermotif kotak-kotak dan tak lupa dengan pecinya. Dan itu lah pakaian yang sering di pakai ke dua putraku ketika masih pagi sebelum melakukan aktivitas sehari-hari.

__ADS_1


"Umi? Ada apa?" tanya Ahtar dengan wajahnya yang begitu polos.


"Tidak. Umi hanya ingin memberitahukan kepada kamu tentang bagaimana cara membuat dedek bayi dengan benar." Jawabku yang menahan tawa.


"Umi!" Ujar Ahtar yang membelalak kan kedua bola matanya.


Ekspresi itu benar-benar lucu saat aku mencoba menggoda Ahtar. Yang membuatku seketika tertawa lepas atas candaku terhadap Ahtar yang suka jahil. Dan inilah caraku untuk dekat dengan ke-dua putraku, tidak harus selalu melarang kapan pun ingin pergi bersama teman, tidak harus selalu memberi nasehat atau bahkan marah ketika melakukan kesalahan. Sehingga mereka pun merasa nyaman ketika mencurahkan isi hati mereka kepadaku.


"Kenapa serius banget sih kamu, Ahtar? Umi itu hanya bercanda loh!"


"Ya habisnya ... Umi malah mau fulgar ke aku. Kan, aku kirain serius tadinya!"


"Tidak dong, sayang. Masak iya, Umi mau ajarin kamu hal seperti itu? Begini, Umi hanya ingin memberitahukan kepada kamu bahwa Kakek Adhi ada di bawah. Sekalian kita sarapan bersama,"


"Kakek Adhi datang, Mi? Umi tidak sedang berbohong, kan?" tanya Ahtar yang memastikan.


"Tentu. Memang benar Ahtar sayang, kakek kamu sudah ada dibawah. Temui beliau gih!" jawabku tersenyum tipis.


"Arjuna dan Cahaya belum juga ke sini?" tanyaku memastikan.


"Belum, sayang. Mungkin masih ada urusan, kita tunggu saja!" jawab Yulian.


"Mungkin bang Arjuna dan kak Cahaya masih buat adek, tuh!" celetuk Ahtar.


"Hust! Ahtar, Umi rasa kamu sudah mengerti mana perkataan yang seharusnya kamu ucapkan atau bukan. Jadi, Umi meminta tolong jangan berkata yang tidak sopan. Apalagi di depan kakek Adhi, kurang sopan untuk usia kamu loh dalam membicarakan hal seperti itu!"


"Emm, baiklah! Maafkan Ahtar atas semuanya!"


"Tapi tidak boleh cemberut begitu, dong! Senyumnya mana untuk kita semua?"


Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membujuk Ahtar, sehingga seketika ia pun melukiskan senyum dari bibirnya setelah ia mengerti apa yang sudah aku lontarkan kepadanya sebagai penuturan lembut seorang ibu terhadap putranya. Akan tetapi, dua pasutri yang tengah kami tunggu sedari tadi tidak terlihat akan batang hidung mereka. Sehingga membuatku merasa khawatir apabila terjadi sesuatu hal.

__ADS_1


"Aku coba cek mereka dulu di kamar ya, Mas!"


Yulian pun mengangguk pelan untuk mengiyakan. Dan aku pun segera bergegas menuju ke kamar Arjuna untuk memastikan apa yang tengah terjadi di antara mereka, sehingga tak kunjung datang ke ruang makan dan berkumpul bersama. Sesampai di depan pintu kamar Arjuna, aku pun mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Umi,"


"Sayang, kenapa tidak segera menyusul? Nanti makanannya keburu dingin loh!"


"Emm, tapi ... Cahaya malu untuk bertemu dengan kakek Adhi, Umi. Padahal aku sudah memberitahukan kepadanya kalau kakek Adhi itu orangnya baik, tidak mungkin kalau beliau akan menolak atau bahkan mengolok Cahaya yang tidak bisa berjalan dengan normal." Jelas Arjuna ragu.


"Ya sudah, biarkan Umi yang bicara sama Cahaya. Kamu temui kakek Adhi dulu!"


"Baik, Umi. Kalau begitu Juna permisi dulu!"


Aku mengangguk pelan, lalu dengan segera Arjuna pun berlari untuk menjumpai kakek tercintanya itu. Sedangkan aku, aku harus berusaha sabar dalam memperkuat diri untuk selalu mencoba memberi pengertian kepada Cahaya. Langkah pelan pun aku lakukan, lalu aku menghampiri Cahaya yang tengah duduk di atas kursi rodanya sembari menatap jendela.


"Cahaya,"


Seketika Cahaya mengarahkan pandangannya ke arah di mana aku masih berada di belakangnya. Setelah itu, Cahaya menyapaku dengan hangat bahkan ia mencium punggung tanganku. Akan tetapi, ia kembali menampakkan wajah yang sedih, muram dan rasa kurang percaya diri pun kembali menyelimuti dirinya.


"Cahaya, bukankah Umi pernah bilang kepada kamu untuk tidak menghindar dari anggota keluarga. Di luar sana ada kakek Adhi, ayah dari Abi kamu. Jadi, temuilah beliau karena sama halnya sebagai kakek untuk kamu!"


"Tapi Cahaya malu, Umi. Saya ini wanita cacat! Dan saya tidak mau mempermalukan keluarga besar suami saya dengan kecacatan yang saya miliki." Ujar Cahaya yang kembali menitihkan air mata.


"Tenang saja, yang pasti tidak akan terjadi sesuatu hal saat kamu bertemu dengan kakek Adhi. Karena beliau adalah orang yang sangat baik, bahkan begitu baik dan selalu memiliki kasih sayang yang besar dengan keluarganya. Andai kamu tahu cerita yang lebih buruk daripada hal ini. Pasti kamu tak akan mengucapkan kata menyerah dalam menjalani banyak hal yang masih panjang." Tuturku kembali menguatkan Cahaya.


Cahaya hanya terdiam membisu, tanpa sepatah kata apapun yang terlontar dari bibir mungilnya. Akan tetapi, aku tidak berhenti memberikan penuturan lembut kepadanya. Bahkan aku menceritakan apa yang terjadi dua tahun lalu kepadanya. Di mana aku harus kehilangan anggota keluargaku dalam sekejap setelah pesawat Lion Air dinyatakan hilang kontak dan terjatuh saat menuju ke Pontianak. Itu membuatku benar-benar teriris, bahkan seakan separuh nyawaku hilang entah di mana.


"Kehadiran kamu dalam hidup Arjuna justru membuatnya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan hijrah cinta yang baru saja terikrar di atas janji suci yang sakral, seharusnya membuatmu semakin memperkuat hubungan rumah tangga kalian. Jadi, jadilah seorang istri Arjuna yang selalu ada dalam segala hal dan dalam keadaan apapun. Dan sekarang, aku akan mengajak kamu untuk sarapan bersama,"


"Baiklah, Umi. Saya akan berusaha untuk menjadi seorang istri yang kuat akan fisik dan juga mental." Ucap Cahaya kembali sumringah.

__ADS_1


Setelah cukup hampir memakan waktu sekitar lima belas menit sudah akhirnya aku mampu membujuk kembali Cahaya. Di mana saat ini aku berjalan mendorong kursi roda Cahaya menuju ke ruang makan dan menyantap sarapan pagi bersama.


__ADS_2