HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 62


__ADS_3

Setelah hampir menabrak seorang nenek di jalan, Joko memutuskan untuk mengantar nenek itu ke tempat tujuannya. Entahlah mengapa pikiran Joko menjadi kacau saat memikirkan Yulian. Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan Yulian?


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Assalamu'alaikum!" Ucap Fadli.


"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah datang ternyata nak!" Jawab pak Muchtar yang berada di ruang tunggu.


"Iya yah, baru saja selesai ngajar terus ke sini. Tadi Fadli juga di telfon sama papa dan mama bahwa mereka juga akan datang." Balas Fadli memberi tahu.


"Baiklah, kita tunggu saja kedatangan papa dan mama kamu." Ucap pak Muchtar.


Keramahan dan saling ke perdulian di antara ke dua keluarga besar itu membuat hubungan keluarga besar itu menjadi sempurna dan terjalin dengan utuhnya.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Nenek tinggal di sini?" Tanya Joko kepada nenek itu.


"Iya cu...nenek tinggal di sini." Jawab nenek itu.


"Nenek tinggal sama siapa?" Tanya Joko lagi.


"Nenek tinggal sendirian cu. Nenek sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Nenek sedang menanti kehadiran cucu-cucu nenek yang belum ada kabar sama sekali selama 3 tahun. Dan mereka berjanji akan datang lagi ke rumah nenek." Jawab nenek itu menjelaskan.


"Memangnya dimana cucu nenek sekarang?" Lagi-lagi Joko bertanya karena penasaran.


"Nenek tidak tahu mereka ada dimana cu, tapi nenek yakin mereka selalu berama dan nenek yakin mereka akan datang mengunjungi nenek." Jawab nenek itu lagi.


Entahlah siapa yang dimaksud nenek itu. Kita juga tidak tahu siapa mereka. Sungguh kasihan sekali dengan nenek itu yang tinggal sendirian di gubuk tua.


🌺🌺🌺🌺


"Mas Fadli, ternyata kamu sudah datang?" Ucap Maryam.


"Iya sayang, tadinya mau pulang dulu tapi tidak jadi. Mas langsung ke sini soalnya papa telfon mau ke sini dan ada yang harus di bicarakan dengan kita semua." Balas Fadli menjelaskan.


"Papa? Memangnya ada hal penting apa yang harus di bicarakan?" Tanya Maryam kepada suaminya.


"Entahlah sayang, mas juga tidak tahu." Jawab Fadli dengan mengangkat ke dua bahunya.


"Ya sudah kalau gitu, Maryam harus ke ruangan Maryam dulu." Balas Maryam.


Ya...pak Brian memang sengaja mengumpulkan keluarga besar itu di rumah sakit, karena mereka butuh untuk berunding satu sama lain tentang lamaran Yulian.


πŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉ

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga. Semangat Yulian, kamu pasti bisa melewati ini." Ucap Yulian dalam batinnya.


Yulian dan kedua orang tua angkat Aisyah berjalan menuju ke ruangan Aisyah. Rasanya penuh dag dig dug. Penasaran kan pastinya?


"Yulian? Kenapa dia datang bersamaan dengan papa dan mama?" Tanya Fadli dalam batinnya.


Fadli begitu penasaran dengan apa yang dia lihat saat ini. Dalam batinnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Namun, dia tidak berani mengungkapkan pertanyaan itu. Dia hanya bisa terdiam dan melihat apa yang akan terjadi.


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam pak Brian kepada pak Muchtar dan Fadli yang kebetulan sudah stand by di ruang tunggu.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Fadli dan pak Muchtar bersamaan.


"Apa kabar pak Brian dan bu Maria?" Tanya pak Muchtar berbasa-basi.


"Alhamdulillah baik pak. Oh iya, apa ibu Laila ada di dalam?" Tanya pak Brian.


"Oh iya pak, istri saya ada di dalam." Jawab pak Muchtar dengan ramah.


"Ya sudah, biarkan saya yang masuk ke dalam." Balas bu Maria.


Meskipun bu Maria bukanlah orang tua angkat Aisyah yang dekat dengannya, tapi beliau sangat menyayangi Aisyah dengan ketulusan hatinya.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Ya sudah nek, kalau begitu saya pergi dulu. Karena, ada sesuatu hal yang harus saya urus. Nenek jaga baik-baik diri nenek, insyaallah saya akan kembali lagi suatu hari nanti." Ucap Joko kepada nenek itu.


Joko pun meninggalakan nenek itu dan gubuk tua. Tapi, sebelum Joko pergi dia tidak pernah lupa untuk mengucap salam dan mencium tangan nenek itu. Dan kini Joko mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


...****************...


"Baiklah, sekarang kamu boleh memulai tujuan kamu." Ucap pak Brian melihat ke arah Yulian.


Berhubung semua keluarga besar itu sudah berkumpul, pak Brian meminta Yulian untuk memulai tujuannya.


"Baiklah om, saya akan meminta ijin kepada ke dua orang tua Aisyah." Balas Yulian sambil memandang ke arah pak Muchtar dan bu Laila yang kebetulan sedang duduk bersandingan.


Pak Muchtar dan bu Laila nampak merasa bingung apa yang di maksud dengan ucapan pak Brian dan Yulian, termasuk juga Fadli dan Maryam.


"Ma'af sebelumnya saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu. Saya Yulian, om, tante. Saya di sini ingin meminta ijin kepada om dan tante, karena saya ingin mengkhitbah putri om dan tante, Aisyah. Saya berharap, om dan tante mengijinkan saya untuk mengkhitbah putri om dan tante."


Akhirnya Yulian mengucapkan lamaran itu dengan lantang dan penuh dengan keyakinan.


Semua orang tercenganga mendengarkan lamaran Yulian, karena mereka tahu bahwa Aisyah sedang koma. Tapi, lamaran itu bagaimana? Apakah akan di terima?


🌧🌧🌧🌧

__ADS_1


"Kok hujan segala sih. Macet pula lagi. Akh...!" Gerutu Joko saat berada di dalam kemacetan panjang.


Joko masih merasa khawatir dengan Tuannya Yulian. Entah apa yang akan terjadi sebenarnya?


...----------------...


"Ma'af sebelumnya nak, bukan kami menolak atau apa, tapi putri kami sedang berada di dalam ruangan itu dan dia sedang koma. Kita juga tidak tahu kapan dia akan sadar kan diri." Jawab pak Muchtar.


"Saya tahu om, maka dari itu saya ingin mengkhitbah Aisyah, putri om. Saya sangat mencintai Aisyah. Saya akan berikan yang terbaik buat Aisyah. Dan saya juga akan menerima keadaan Aisyah dalam bentuk apa pun, karena saya tulus menicatinya." Balas Yulian meyakinkan ke dua orang tua Aisyah.


"Apakah kamu yakin dengan keputusan kamu Yulian?" Tanya Fadli dan Maryam bersamaan.


"Saya benar-benar yakin." Jawab Yulian tegas.


"Baiklah, kami akan rundingkan ini semua. Tunggu lah kamu atas jawaban kami nanti." Balas Fadli meyakinkan Yulian.


Rasanya sungguh membuat jantung Yulian berdebar-debar. Dia sangat berharap, akan di terima sebagai menantu dalam keluarga itu. Dan dia juga berharap bisa bersama dengan Aisyah selamanya.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Kapan sih kelarnya macet ini? Tot...tot..tot...!" Lagi-lagi Joko menggerutu sambil memencet klakson mobilnya.


Joko...sabarlah ya...! Hohoho...


🌹🌹🌹🌹


"Apakah yang akan mereka berikan kepadaku? Jawaban apa yang akan mereka ucapkan? Semoga jawaban itu akan menjadi jawaban yang terbaik untukku dan Aisyah." Ucap Yulian dalam batinnya.


Setelah satu jam kemudian, Fadli menghampiri Yulian yang sedang duduk di dalam mushola rumah sakit. Fadli mendekati Yulian dan menepuk punggung Yulian secara pelan sambil melihatkan senyumannya yang begitu merekah.


"Kami akan memberikan jawaban untuk mu. Temuilah keluarga kami." Ucap Fadli yang meminta Yulian.


Yulian pun menurut dan mengikuti Fadli kembali menuju dimana keluarga besar Aisyah berkumpul. Jantung Yulian berdetak semakin tidak beraturan.


"Nak Yilian, kemarilah." Ucap pak Muchtar dan pak Btian bersamaan.


"Baik om." Balas Yulian sambil melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke arah ke dua ayah Aisyah.


"Kami sekeluarga terutama ayah dari Aisyah, menerima lamaran kamu tanpa syarat apapun dan dengan kesadaran kami, kami mengucapkan ini." Ucap pak Muchtar secara perlahan dan senyuman bahagia.


"Alhamdulillah...! Terimakasih om dan semuanya yang sudah menerima lamaran saya." Balas Yulian bahagia sambil bersalaman dengan ke dua ayah Aisyah dan mencium tangan orang tua Aisyah.


"Tidak akan terjadi pernikahan apa pun dalam keluarga ini. Saya tidak akan merestui hubungan kalian." Ucap seseorang dengan tegas secara tiba-tiba.


Rasa bahagia yang saat ini sedang menghiasi keluarga besar Aisyah, telah berhenti karena datang nya seseorang di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...!


SAMPAI DISINI DULU YA...! DI BUAT SEMAKIN PENASARAN SAJA LAH. HOHOHO...! MA'AF KALAU ADA SALAH DALAM PENUTURAN KATA DAN LAINNYA. SEMOGA KALIAN TETAP MEMBERIKAN DUKUNGAN DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN.


__ADS_2