HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Cinta Terakhirku


__ADS_3

Kudengar samar suara sirine mobil ambulans dan juga kudengar suara Yulian tengah memanggil namaku. Akan tetapi, terasa begitu sulit untuk kubuka mata ini dan melihat apa yang terjadi. Hanya bisa merekam suara melalui kedua telingaku. Aku pun juga tidak bisa mengendalikan tubuhku, terasa begitu sulit untuk sekedar menggerakkan jari-jariku. Entahlah, apa yang terjadi saat ini? Dan aku tidak bisa berbuat apapun selain kuserahkan semuanya kepada Allah, Tuhanku.


"Dokter, selamatkan istri saya!"


Kembali kudengar suara Yulian yang meminta dokter dengan nada gemetar dan penuh kekhawatiran. Bukan hanya suara Yulian saja, satu persatu kudengar samar suara dari setiap anggota keluargaku. Namun, aku masih belum bisa membuka kedua mata ini untuk sekedar melihat mereka. Benar-benar gelap_tidak ada cahaya apapun yang mampu menerangi dalam setiap kegelapan yang mengelilingi ku. Bahkan setelah itu, aku tidak bisa mendengar apapun lagi dari suara mereka semua dan kebisingan yang entah di mana saat ini aku berada.


Beberapa jam kemudian...


Setelah cukup lama kedua mataku terpejam dan kehilangan kesadaran, akhirnya kini aku mampu membuka kembali kedua mata ini secara perlahan. Namun, pandanganku masih terlihat buram_belum bisa melihat dengan jelas dan ingatanku pun belum pulih dengan sempurna. Sehingga aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebenarnya dengan diri ku ini.


"Aisyah,"


Suara yang tidak asing telah ku dengar tengah memanggil namaku. Dan secara bersamaan aku mampu melihat setiap sudut langit-langit rumah sakit dengan sangat jelas. Setelah itu, aku menyadari tentang keberadaanku saat ini. Di mana aku terbaring lemah di atas kasur branker rumah sakit. Entah bagaimana keadaanku saat ini? Mampukah aku bertahan?


"Aisyah, apa yang kamu rasakan saat ini, sayang? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang sakit?"


Suara Yulian terdengar gemetar_serak, sepasang matanya pun terlihat sayu dan sembab. Seolah ia tengah merasakan kesedihan yang dalam, bagaikan kehilangan separuh raganya. Mungkinkah, Yulian sudah mengetahuinya? Dan aku harus bersiap untuk menyaksikan ribuan kesedihan yang di alami orang-orang yang aku sayang saat melihat keadaanku yang semakin terpuruk ini.


"A-a-aku b-baik k-kok, Mas."


Seakan begitu sulit untuk ku menjawab setiap lontaran pertanyaan dari Yulian. Bahkan aku merasa bibirku begitu kaku untuk digerakkan. Dan aku juga merasa sulit untuk berbicara saat oksigen menempel di antara hidung dan bibirku. Bukan hanya itu saja, tanganku terasa berat untuk digerakkan_sekedar mengusap lembut wajah Yulian yang ada didepanku. Sehingga aku hanya bisa menarik dua sudut bibirku secara pelan untuk sekedar memberikan senyuman kepadanya.


"Maaf_permisi, Pak! Bisakah Pak Yulian ikut saya ke ruangan sebentar?"


Dokter tiba-tiba menghampiri kami dan meminta Yulian untuk ikut dengannya. Entahlah, apa yang akan mereka bicarakan bersama? Apa itu tentang kehidupan ku yang tidak lama lagi? Dan lagi-lagi aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang tidak mampu aku rubah.


Yulian pun mengiyakan ajakan dokter, tetapi sebelum pergi meninggalkan ruangan ini ia mengecup pelan keningku seraya melukiskan senyum_yang bagiku itu sangat manis dan sempurna. Dalam hati kecilku pun berkata, "Ya Allah, dapatkah aku melihat senyumannya lagi?" Hatiku begitu merintih kesakitan tetapi, aku harus ikhlas jika perpisahan itu terjadi antara aku dengan Yulian nanti.

__ADS_1


"Aisyah, bagaimana keadaan kamu?"


Buliran air mata telah membasahi cadar Arumi saat aku melihatnya menemuiku di ruangan yang sepi, hanya suara alat medis yang dapat menemaniku saat itu. Dan untuk menjawab pertanyaan Arumi_ aku hanya bisa mengerdipkan pelan kedua mataku seraya memberikan senyum sebisaku. Isak tangis Arumi semakin tak mampu ditahan saat ia menatapku yang tengah terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhku.


"Maafkan aku, Aisyah. Hiks, hiks, hiks."


Ku gerakkan pelan tanganku untuk menggenggam tangan Arumi dan menenangkannya dari kesedihan yang saat itu di alaminya. Lalu, kutatap kedua matanya yang sembab seraya ku gelengkan pelan kepalaku untuk memintanya agar tidak bersedih. Begitupun dengan Arumi, ia seketika menyerka air matanya di balik cadar hitam yang menutupi wajahnya itu. Dan tidak lama kemudian Yulian kembali menemuiku dengan senyuman yang masih setia menempel di bibirnya.


"Yulian, bagaimana keadaan Aisyah? Apakah perlu penanganan yang lain?"


Saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Arumi yang bergetar, Yulian hanya menjawab dengan gelengan kepala secara pelan. Dan entah kenapa aku kembali berpikir inilah terakhirku bisa melihat mereka, sehingga aku memutuskan untuk membuat mereka bahagia_entah bagaimana caranya. Namun, aku salah_karena kenyataannya kesedihan sudah berlarut dalam diri mereka meskipun aku belum benar-benar pergi dari dunia ini.


"Apa maksud kamu, Yulian?"


"Sudah terlambat, Arumi. Dokter bilang kanker yang diderita Aisyah sudah menyebar dengan begitu cepat. Jadi..."


"Jangan pernah mengatakan tidak ada harapan sama sekali untuk menyelamatkan Aisyah, Yulian. Aku yakin Aisyah bisa diselamatkan," ketus Arumi.


"Tidak, Arumi. Ini sudah terlambat."


"M-m-mas,"


Aku menengahi perdebatan kecil di antara Yulian dengan Arumi tentang kondisiku yang tidak bisa tertolong lagi. Dan saat mendengar suaraku, seketika Yulian menghampiriku dengan air mata yang masih membekas di pipinya. Lalu, ia menatapku lekat seraya berkata, "Ada apa, Aisyah? Apakah kamu merasakan sakit?" Dengan nada tenang ia bertanya kepadaku, meskipun aku tahu hatinya tengah bergetar akan rasa takut kehilangan.


Seketika aku melepas oksigen yang masih menempel di antara hidung dan bibirku untuk mempermudah kan ku dalam menjawab pertanyaan Yulian. Setelah itu, aku pun berkata kepadanya, "Aku minta maaf sudah merahasiakan semua ini kepada kamu, Mas. Aku hanya ingin kamu dan semuanya tidak merasa khawatir atas kondisiku yang pada akhirnya akan seperti ini juga. Dan jika aku telah dipanggil sama Allah, aku mohon sama kamu Mas_jangan bersedih dan ikhlaskan kepergianku tanpa ada air mata. Seperti halnya yang dilakukan Rosulullah. Mungkin, hijrah cinta yang kita perjuangkan untuk menjadi manusia lebih baik lagi, sudah berakhir sampai di sini. Dan ini saatnya aku pergi untuk memenuhi panggilan-Nya." Aku melukiskan senyum_entah untuk yang terakhir kali atau masih akan ada lagi senyum untuknya, suamiku?


Terlihat Yulian membalas senyumku, tetapi di sana aku juga melihat ia tengah menahan kesedihan yang amat dalam. Dan untuk mengiyakan permintaanku ia hanya mengangguk pelan, lalu ia berpamitan untuk keluar sebentar. Begitupun dengan Arumi, ia ikut berpamitan dan keluar dari ruangan yang dipenuhi kesunyian, hanya ada suara mesin medis yang mampu kudengar. Suara yang begitu menakutkan bagiku, jika garis yang ada di sana berubah menjadi lurus.

__ADS_1


"Umi," Arjuna


Arjuna masuk dan menemuiku dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan. Kedua matanya memerah dan pipinya pun terlihat basah, karena air mata yang tidak bisa ditahan olehnya telah jatuh dengan deras. Dan untuk membuat Arjuna mampu menegarkan kembali dirinya, aku berkata, "Arjuna, jangan pernah kamu menangisi apa yang sudah terjadi_sebagai takdir Allah yang diberikan terhadap Umi dan kita semua. Kamu adalah putra sulung Umi, jadi Umi titip kedua adikmu. Bantulah Abi untuk menjaga mereka, karena kalian adalah saudara. Dan ini pesan Umi yang terakhir, jadi tepatilah!" Aku menarik kedua ujung bibirku untuk memberikan senyum tipis kepada Arjuna. Begitupun dengan Arjuna yang mengangguk pelan_ mengiyakan permintaanku seraya menangis.


Setelah selesai berbicara sejenak dengan Arjuna, kini satu persatu anggota keluargaku masuk untuk bertemu denganku yaitu, papa Adhi, Cahaya dan yang terakhir Ahtar. Dan aku kembali berpesan kepada putra kedua ku, "Ahtar, Umi sayang sama kamu. Terima kasih karena kamu membuat Umi bangga sebelum Umi benar-benar pergi. Tetaplah menjadi putra yang membanggakan untuk kami semua! Dan Umi meminta satu hal kepadamu, jagalah Hafizha! Sayangi dia selayaknya adik kandungmu dan carilah ibu kandungnya suatu hari nanti." Aku menatap Ahtar dengan sebuah permintaan, di mana aku ingin sekali Ahtar melakukannya. Begutupun dengan Ahtar, ia mengangguk pelan mengiyakannya.


"Ahtar janji, Ahtar akan menepati janji Ahtar kepada Umi. Ahtar akan menemukan perempuan itu." Tatapan Ahtar begitu tajam.


Ahtar mampu menguatkan dirinya, tidak memperlihatkan rasa sedih yang menusuk raganya. Meskipun aku tahu, dia juga begitu rapuh dan takut akan kehilangan aku dalam. hidupnya. Karena yang semua tahu Ahtar selalu berperilaku manja terhadapku. Tidak lama kemudian aku meminta Ahtar untuk memanggilkan Yulian.


"Ada apa, Aisyah?"


Yulian menatapku dalam seraya mengecup punggung tanganku yang terasa lemah_tak bertenaga sama sekali. Dan saat Yulian melakukan itu kepadaku, aku tersenyum bahagia. Karena sampai detik itu aku masih diberi kesempatan untuk menatap wajahnya, cinta pertama dan terakhir ku di dunia. Lalu, aku mengutarakan isi hatiku yang selama ini mendapatkan kebahagiaan saat mendampingi hidupnya sebagai tulang rusuk dan sayap menuju surga bersama.


"Mas, terima kasih karena kamu di kala itu sudah memilihku menjadi pendamping hidupmu dan memutuskan berhijrah denganku. Dan aku merasa sangat bahagia menjadi bidadari duniamu, kini aku ingin menjadi bidadari dalam surgamu nanti..."


"Aku ingin kamu menjadi bidadariku di dunia maupun di surga nanti. Jangan pernah mengatakan hal yang seolah kamu ingin pergi untuk selamanya, Aisyah. Meskipun kata Dokter sudah terlambat, tapi masih ada Allah yang mampu mengubahnya. Dan aku berharap, kamu tetap mendampingiku sampai kita menua bersama."


"Tidak, Mas. Aku merasa lelah dengan sakit yang aku cerita selama ini. Aku ingin beristirahat saja! Dan saat ini aku merasa mengantuk, tapi sebelum aku tidur_maukah Mas Yulian menjadi imamku?"


"Tentu. Kalau begitu, aku ambil air wudhu dulu!"


Yulian seketika menyerka air matanya lalu, pergi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan aku, aku berusaha untuk bertayamum sebagai pengganti berwudhu sebelum kulakukan sholat isya' yang belum sempat aku kerjakan di malam itu. Dan tidak lama kemudian Yulian pun masuk ke dalam lalu, ia membentangkan sajadah di atas lantai. Setelah itu, ia melakukan iqomah untuk bersiap melakukan jamaah denganku. Begitupun denganku, aku mengenakan mukena berwarna putih polos dan bersih. Lalu, kami pun melakukan sholat bersama.


"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku hanyalah hamba-Mu yang Engkau ciptakan dari tanah dan akan Engkau ambil lalu kembali menjadi tanah. Ya Allah, jadi kan lah amal ibadahku di dunia sebagai jalan menuju surga-Mu. Dan datanglah kepadaku sebagai cahaya yang mampu menjadi penerang saat menuju surga-Mu. L-laa i-laa-ha illallaah."


"Tuuuuutt."

__ADS_1


Tutup sudah usia Aisyah malam itu. Semua menangis menderu, histeris dan kesedihan telah menyelimuti mereka semua. Namun, ketiga lelaki yang menyayangi Aisyah berusaha melakukan apa yang diminta olehnya sebelum tiada. Di mana tidak akan ada tetesan air mata yang keluar dari ujung kedua mata mereka saat kematian Aisyah telah tiba. Menegarkan diri itu tidaklah mudah bagi setiap insan yang merasakan kehilangan untuk selamanya, tetapi hal itu dilakukan dengan sekuat hati oleh Yulian, Arjuna dan juga Ahtar.


TAMAT.


__ADS_2