HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Jesica


__ADS_3

Halo, Nyonya Aisyah! How are you?"


Sapa Nyonya Emeli kepadaku dengan nada yang sopan, meskipun beliau sendiri tak menjawab salamku. Mungkin saja beliau bukanlah warga yang menganut agama Islam. Sehingga dia tidak bisa menjawab salam yang wajib dijawabnya. Akan tetapi, negara Indonesia lebih indah dengan segala toleransi, yang mampu menghargai setiap pemeluk agama lain yang berbeda-beda.


"Oh iya, saya baik-baik saja! Maaf sudah membuat Anda menunggu lama!"


"Tidak apa-apa, lagipula saya dan juga putri saya ini juga baru datang. Jadi, santai saja!"


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan dan tak lupa kulemparkan senyum kepada Nyonya Emeli dan juga putrinya entah siapa namanya. Tak harus menunggu waktu yang lama untuk berbasa-basi lagi, karena itu bukan lah kinerjaku selama ini. Sehingga aku segera menlanjutkan tujuan pertemuan di antara kami.


"Oh iya Nyonya Emeli, ini ada beberapa contoh desain gaun pengantin wanitanya. Kalau mau melihat terlebih dahulu, silahkan!"


Aku menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Nyonya Emeli di atas nakas, yang sudah tergambar dengan beberapa desain gaun pengantin yang sudah kubuat. Sekitar lima buah desain gaun yang siap untuk dijahit di tukang penjahit khusus Aisyah Galery. Begitupun dengan Nyonya Emeli, beliau tengah memilah dan memilih beberapa contoh desain gaun bersama putrinya.


"Sepertinya yang ini saja, Nyonya Aisyah!"


"Oh yang ini ya, Nyonya Emeli? Ya sudah, insya Allah saya akan segera menyerahkan ke penjahit nya hari ini juga. Tapi sebelumnya, Nyonya Emeli tolong diisi untuk hari dan tanggal pemakaiannya. Sehingga saya bisa mengkontrol dalam pembuatannya." Aku pun menyodorkan sebuah buku besar kepada Nyonya Emeli.


"Oh, ok!"

__ADS_1


Begitupun dengan Nyonya Emeli yang seketika mengisi hari dan tanggal di mana pernikahan putrinya akan dilangsungkan. Setelah itu, aku dan Nyonya Emeli beserta putrinya saling berjabat tangan sebagai bentuk di mana persetujuan antara penjual dan pelanggan. Lalu, Nyonya Emeli pun berpamitan untuk meninggalkan Aisyah Galery, tetapi tidak bersama putrinya.


"I don't no. Saya tidak tahu harus memanggil Anda bagaimana. Karena tidak mungkin jika, saya memanggil Anda dengan langsung namanya. Ku rasa itu tidak sopan," ujar Jesica.


"Kamu bisa memanggilku dengan sebutan ... Umi." Balasku seraya tersenyum tipis.


"What? Aku tidak mengerti kenapa Anda memintaku memanggil seperti itu. Apa...."


"Itu adalah panggilan seorang anak kepada ibunya. Anggap saja aku ini adalah ibumu, temanmu, dan siapapun itu yang kamu suka. Tapi, kalau kamu keberatan tidak apa-apa. Panggil saja sesuka mu." Aku kembali tersenyum.


Terlihat Jesica yang tercengang, entah apa yang ada di dalam pikirnya itu. Akan tetapi, aku tidak akan marah jika pada akhirnya dia akan memanggilku dengan namaku saja. Karena bagiku itu adalah kehidupan. Di mana era sekarang yang anak muda selalu bertingkah dengan sesuka hatinya.


"Ok, saya akan memanggil Anda dengan ... Umi." Ujar Jesica yang sedikit gagu.


"Dan maaf jika aku sudah mengganggu waktu ... Umi, tapi aku ada something. Boleh minta waktunya sebentar?"


"Emm ... tidak masalah. Kamu bisa bicara saja di sini, atau ... mau ke suatu tempat?"


"Oh no. Cukup di sini saja, sekalian mau lihat-lihat di Aisyah Galery. Boleh, kan?"

__ADS_1


"Tentu. Jadi, bicaralah tentang apa yang ingin kamu katakan!"


Aku pun mengajak Jesica duduk di sofa ruang kerjaku. Kami pun memulai percakapan di mana itu tentang agama yang aku anut. Yang membuatku tidak mengerti kenapa Jesica bertanya akan hal itu. Mungkinkah jika dia ingin berpindah agama? Atau hanya sekedar bertanya-tanya saja, karena di kota Medan lebih dominan dengan warga yang memeluk agama Islam.


"Tapi, maaf jika pertanyaan saya sudah membuat Umi marah atau berpikir yang macam-macam." Ujar Jesica seraya menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa jika, kamu ingin mengetahui yang lebih tentang Islam seperti apa. Islam itu indah, menyenangkan dan banyak ribuan toleransi dari Islam itu sendiri. Di mana tidak membeda-bedakan di antara satu dengan yang lainnya. Seperti kita sekarang, saya tidak membedakan dan bahkan tidak menjauh dari kamu yang bukan Islam." Jelasku dengan menatapnya dalam.


"Tapi yang saya heran, kenapa Umi berpakaian seperti ini? Ini sungguh berbeda dengan beberapa temanku yang mengaku Islam. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mengenakan sebuah hijab. Apa itu ada konsekuensinya?"


"Mungkin benar dengan apa yang kamu katakan, Jesica. Inilah Islam! Tapi perlu kamu tahu satu hal, konsekuensi itu sangat besar jika kita sudah berada dalam panggilan Allah SWT. Karena Islam memerintahkan kepada kaum perempuan untuk menutup mahkota yang paling indah dengan selembar kain yang dijulurkan hingga menutupi. dada. Akan tetapi ... tak banyak anak di era sekarang yang mampu melakukannya. Dan itu pun harus kembali ke diri kita sendiri,"


Jesica terdiam, tak melontarkan kata sepatah pun setelah mendengar penjelasan ku tentang berpakaian yang dianjurkan dalam Islam. Dan seperti apa yang aku bilang, kita harus kembali ke dalam. diri kita masing-masing. Jika merasa yakin untuk berhijrah dan menjadi lebih baik, maka harus benar-benar menutupi auratnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Begitupun denganku yang kini sudah benar-benar merasa nyaman dan dunia yang lebih meneduhkan ketika aku dekat dengan-Nya.


"Jesica, apa ada yang ingin kamu pertanyakan lagi?" tanyaku memastikan.


"Sebenarnya saya penasaran dengan pakaian yang tertutup, sholat dan berhijab. Tapi saya menyadari betapa bodohnya saya jika melakukan hal itu. Sedangkan saya sendiri ... masih menganut Kristen Protestan. Bukankah itu terdengar lucu atau bahkan mustahil?"


"Jesica, tak ada kata mustahil jika kamu bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang mualaf. Dan jika kamu memiliki keinginan untuk lebih mengetahui tentang Islam maka, kamu perlu membaca tentang Islam yang seperti apa. Kamu bisa ikut denganku jika kamu mau membacanya." Tawar ku dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan ikut dengan Anda!"


Aku pun mengajak Jesica untuk ikut bersamaku pulang ke rumah dan memberikan sebuah buku tentang Islam kepadanya. Siang itu aku dan Jesica benar-benar menikmati suasana jalanan kota yang cukup ramai. Bahkan kami di setiap perjalanan tak hentinya berbincang dengan topik yang masih sama.


__ADS_2