
Pagi itu aku melajukan mobil ku dengan kecepatan tinggi, karena aku ingin segera sampai di Aisyah Galery dan bertemu dengan seseorang yang dapat aku percayai untuk membantuku mencari keberadaan Khadijah yang masih di Medan. Antusiasku pun sangat tinggi, bahkan aku melupakan Yulian yang masih berada di rumah bersama Ahtar dan Cahaya. Namun, pagi itu aku beruntung karena, Yulian tidak menaruh sikap curiga atas sikapku yang tidak seperti biasa.
"Arumi, bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang tempat tinggal Khadijah?"
"Maafkan aku, Aisyah." Arumi menggelengkan kepalanya.
Pagi itu aku pergi tak sendiri, ada Arumi yang sengaja menemaniku kemanapun aku pergi meskipun aku mengatakan kepadanya untuk tidak menemaniku. Namun, keinginan Arumi yang bersi kekeh tidak dapat ku tahan lagi. Karena ia terlalu menyayangi ku sebagai sahabat dan orang yang dianggapnya sebagai wanita yang dikagumi olehnya selama ini. Sehingga aku mengiyakannya saat ingin menemaniku.
"Baiklah, kalau begitu aku harus bertemu dengan dengannya. Siapa tahu beliau bisa membantuku dalam pencaraian yang penting ini." Aku kembali fokus dengan jalan raya kota Medan yang masih sepi.
Saat diperjalanan tak hentinya Arumi memandangiku yang tengah menyetir. Entah kenapa itu ia lakukan? Karena aku tidak tahu pasti apa yang tengah masuk ke dalam pikirannya itu. Dan tidak lama kemudian kami pun memasuki area parkir Aisyah Galery, lalu aku memarkirkan mobilku di tempat parkir yang sudah disediakan di sana. Setelah itu, kami pun bergegas menuju ke ruangan ku untuk menantikan kehadiran Nyonya Emeli. Karena beliau adalah seorang detektif yang cukup terkenal di kota Medan.
"Assalamu'alaikum." Aku membuka pintu Aisyah Galery.
"Wa'alaikumsalam,"
Tanpa memerdulikan karyawati yang tengah bekerja di sana aku langsung saja masuk ke dalam ruangan ku yang diikuti oleh Arumi. Dan sesampai di dalam sana aku berusaha menghubungi kembali Nyonya Emeli untuk menanyakan keberadaannya saat ini. Namun, hari itu Nyonya Emeli tidak bisa langsung menemuiku karena, ada kliennya yang tiba-tiba datang pagi itu. Sehingga aku dan Arumi harus menanti kehadirannya beberapa jam lagi.
Saat Nyonya Emeli tak kunjung datang juga, kakiku pun tak berhenti melangkah dan mondar-mandir di depan meja kerjaku. Dan mungkin itu membuat Arumi merasa risih, sehingga ia pun menegurku dengan kata-kata yang halus dalam setiap yang dilontarkannya.
__ADS_1
"Aisyah, tolonglah jangan seperti ini! Duduk dan tunggulah!"
"Tapi Arumi, aku tidak bisa tenang sebelum Nyonya Emeli datang. Dan amanah itu seperti sesuatu yang menghantuiku, jadi aku tidak sabar menunggu Nyonya Emeli datang." Aku mengalihkan pandangan ku ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
"Aisyah, aku ingin bertanya satu hal kepadamu. Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu? Bagaimana jika, Yulian menolaknya?"
"Aku yakin, Arumi. Masalah itu ... aku akan membujuk Yulian dengan sikap yang lembut. Pasti hatinya akam luluh dan mau melakukannya untukku." Aku menatap Arumi yang duduk di atas sofa empuk.
Dua jam sudah berlalu dengan begitu cepat. Dan kini jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Saat aku fokus dengan pintu yang tertutup rapat, tiba-tiba ku dengar ponselku berdering. Seketika aku mencari ponselku yang masih berada di dalam tas. Dan aku berpikir panggilan masuk itu tak lain dari Nyonya Emeli, tetapi aku salah kala itu. Karena yang menghubungiku adalah Cahaya.
"Assalamu'alaikum, Cahaya. Ada apa kamu menelpon Umi, sayang?"
"Astaghfirullah hal azim, kamu benar Cahaya. Kenapa Umi bisa lupa ya,"
"Tapi, kalau Umi sedang sibuk tidak apa kok. Cahaya akan memeriksakan kandungan Cahaya sendiri. Umi tidak perlu khawatir. Cahaya bisa sendiri kok,"
"Tidak, Cahaya. Umi akan segera ke sana bersama Mama Arumi. Kamu tunggu di sana!"
Tidak lama kemudian percakapan dia antara aku dengan Cahaya pun telah di akhiri dengan ucapan salam. Setelah itu, aku mengajak Arumi untuk segera menuju ke Rumah Sakit dan menemani Cahaya memeriksakan kandungannya dengan rutin, satu bulan satu kali. Dan saat dalam perjalanan aku mencoba menghubungi Nyonya Emeli, tetapi nomornya tidak bisa aku hubungi. Lalu, aku pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada beliau dan mengatakan bahwa janji temu hari itu telah dibatalkan.
__ADS_1
"Aku yakin, Cahaya adalah wanita yang kuat sepertimu, Aisyah." Puji Arumi seraya memandangiku.
"Semoga saja, Arumi. Seperti halnya kamu, karena kamu adalah sekumpulan wanita yang kuat, Arumi." Sejenak ku lemparkan senyumku kepada Arumi.
Setelah menempuh sekitar satu jam dari Aisyah Galery menuju ke Rumah Sakit, akhirnya kini aku dan Arumi sampai juga di halaman rumah sakit. Lalu, aku dan Arumi segera berlari menuju ke ruangan Arjuna dan menemui Cahaya yang mungkin saja sudah menanti kehadiranku sedari tadi. Dan berapa teledornya aku sebagai ibu mertua, melupakan anaknya yang tengah mengandung cucu pertama untukku.
Cahaya terlihat duduk santai di atas kursi rodanya, tetapi tidak lama kemudian ia berusaha menggayuh roda kursi itu agar bisa masuk ke dalam ruangan dokter kandungan yang tak lain suaminya sendiri. Namun, aku tidak membiarkan Cahaya mendorongnya sendiri, sehingga aku segera mendekatinya untuk membantu mendorongnya. Dan kehadiran ku pun telah mengejutkannya, tetapi ia menyukai aku yang berada di dekatnya.
"Umi,"
"Maafkan Umi, Cahaya. Umi lupa memiliki janji denganmu hari ini. Untung saja kamu menelpon Umi tadi, coba kalau tidak, pasti Umi akan menyesal melupakan setiap momen bersama kamu seperti ini." Aku masih mendorong kursi roda Cahaya.
"Tidak apa-apa, Umi. Lagipula, kandungan Cahaya kan masih sekisar lima bulan, jadi tidak ada kata penyesalan jika, Umi tidak bisa menemani Cahaya melakukan pemeriksaan rutin di sini. Mungkin bisa di bulan berikutnya." Cahaya membuka pintu ruangan dokter.
Percakapan di antara kami pun terhenti setelah kami mulai memasuki ruangan dokter Arjuna. Dokter yang akan menangani segala pemeriksaan dan bagaimana jalannya operasi nanti. Dan sebagai dokter yang profesional, Arjuna melakukan pemeriksaan selataknya terhadap pasien hamil yang lain. Melakukan pemeriksaan berat badan, hipertensi, USG dan hal lain yang dibutuhkan. Namun, setelah usai memeriksa Cahaya, Arjuna memperlihatkan keromantisan dan kesetiaannya terhadap Cahaya, layaknya suami terhadap istrinya.
"Dengarkan Abi ya, sayang. Abi akan selalu menjaga kamu saat masih di dalam perut maupun sudah lahir ke dunia nanti, dan Abi juga akan menjaga Umma dengan sebaik mungkin." Arjuna mengusap lembut perut Cahaya yang mulai membuncit.
Seketika aku dan Cahaya melepas senyum setelah mendengar ucapan dari Arjuna. Dan aku menyukai sikap Arjuna terhadap Cahaya yang begitu menyayanginya dengan tulus. Setelah cukup lama berada di dalam ruangan dokter, kami bertiga pun keluar dan bertemu dengan Arumi yang tengah menunggu kami di bagian ruang tunggu. Namun, beberapa saat kemudian banyak sekali orang berlalu lalang melintas di depan kami sambil berlarian kesana-kemari. Yang membuat kami bingung atas apa yang sedang terjadi?
__ADS_1