
💝💝💝💝
Helikopter telah terbang tepat di atas rumah Yulian. Dan suara helikopter itulah yang membuat kehebohan di keluarga Aisyah.
"Kenapa ada helikopter di atap?" Tanya pak Nugraha.
"Mama juga tidak tahu pa," sahut bu Widia menimpali.
Semua keluarga besar Aisyah dibingungkan dengan apa yang sedang mereka lihat. Helikopter itu juga tidak segera pergi dari atas atap rumah Yulian.
"Akh sudahlah pa dan semuanya, lebih baik kita masuk saja. Paling itu juga cuma lewat nanti juga pergi." Ucap Joko.
Pak Nugraha dan yang lain memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah dan beristirahat. Mereka melupakan suara bising itu dan tidak menghiraukan lagi. Namun saat pak Nugraha dan Joko hendak menutup pintu itu kembali, tiba-tiba Juna menuruni tangga sambil berlari.
"Kakek, jangan di tutup dulu pintunya." Ucap Juna berlari dan menjumpai pak Nugraha dan pak de nya.
"Loh kenapa memangnya Juna? Ini sudah malam, sebaiknya kamu kembali ke kamar dan tidur." Tanya Joko penasaran.
"Jangan di tutup dulu pak de, kakek. Juna yakin, helikopter itu mengantar abi Yulian." Jawab Juna dengan yakin.
"Juna, pak de kan sudah bilang sama Juna. Juna tidak boleh berharap dan memikirkan sesuatu hal yang tidak mungkin akan terjadi. Juna harus ikhlas dengan kepergian abi kamu." Tutur Joko pelan.
"Tidak pak de. Tapi Juna tetap merasa yakin bahwa abi sudah pulang dan akan kembali bersama kita." Ucap Juna dengan ketus.
Entah apa yang membuat Juna merasa yakin bahwa Yulian telah kembali. Karena Juna terus merasa begitu yakin dengan kembalinya Yulian, Juna membuka pintu rumah itu dengan kerasnya. Dan Juna juga berlari dengan kencang menuju keluar, sehingga tidak memperdulikan lagi keluarga yang berada didalam rumahnya.
"Juna...!" Teriak Joko.
Karena merasa khawatir dengan Juna, Joko pun mengikuti Juna yang tetap berlari. Setelah Joko mendapatkan kembali sosok Juna, ternyata dia tengah berpelukan dengan seseorang. Dan seseorang itu membuat Joko begitu terkejut saat melihatnya.
"Ini tidak mungkin." Ucap Joko melongo.
Joko begitu terkejut melihat sosok adiknya yang tengah beepelukan dwngan Juna.
"Abi, Juna kangen sama abi." Ucap Juna sambil menangis.
"Iya sayang, abi juga kangen banget sama Juna. Lebih baik, sekarang kita masuk ke dalam." Balas Yulian.
__ADS_1
Juna pun menuruti ajakan Yulian untuk masuk ke dalam rumah. Berhubung Juna bukan anak kecil lagi, jadi tidak mungkin kalau Juna digendong oleh Yulian. Mereka berjalan dengan tegap dan saling bergandengan tangan.
"Assalamu'alaikum kak." Ucap Yulian kepada Joko.
"Wa... Wa'alaikumsalam." Balas Joko terbata-bata.
Joko masih terkejut dan seakan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Sehingga dia masih berdiri dengan rasa bingung merasuki pikirannya. Sedangkan Yulian dan Juna, mereka kembali berjalan menuju ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum semuanya." Ucap salam Yulian saat memasuki pintu.
Tidak ada jawaban salam dari mereka. Malahan mereka semua merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dihadapan mereka saat ini. Bahkan pak Nugraha sendiri berpikir bahwa yang mereka lihat adalah arwah dari putranya.
"Pa dan semuanya, mengapa kalian semua terkejut seperti itu? Kalian semuanya seperti sedang melihat hantu saja." Ucap Yulian.
"Pa dan semuanya, ini bukanlah hantu Yulian. Dan yang saat ini berada dihadapan kita semuanya adalah Yulian." Sahut Joko menjelaskan.
Seketika mereka mengubah ekspresi mereka dan sesegera mungkin mereka menyambut kedatangan Yulian dan saling berpelukan. Tanpa terkecuali Aisyah dan Maryam.
*****
Saat menunggu dan memperhatikan kembali tubuh Aisyah dengan seksama, kini Maryam melihat kembali proges pergerakan jari Aisyah. Sehingga Maryam sesegera mungkin memeriksa Aisyah.
Rasa haru telah menyelimuti diri Maryam. Dia oun tidak bisa membendung air matanya. Di mana itu adalah air mata kebahagiaan. Tapi, setelah Maryam terdiam sejenak dan memgingat tentang apa yang terjadi dengan Yulian. Dia kembali bersedih dan enggan serta merasa bingung untuk menjawab jika suatu saat nanti Aisyah menanyakan kabar Yulian.
"Kak Maryam...." Panggil Aisyah dengan pelan.
"Iya Aisyah, kamu jangan banyak bicara dan bergerak terlebih dahulu." Ucap Maryam.
Setelah usai memeriksa keadaan Aisyah, Maryam berusaha menghubungi keluarganya untuk memberi tahu tentang keadaan Aisyah.
*****
"Tunggu, bagaimana mungkin kamu baik-baik saja seperti tidak terjadi sesuatu. Padahal kecelakaan pesawat itu sangat...." Tanya Fadli penasaran, tapi belum sempat melanjutkan ucapannya, sudah terpotong.
"Iya Yulian, bagaimana mungkin ini terjadi?" Potong Joko.
Karena banyak pertanyaan dari keluarganya yang harus di jawab oleh Yulian, kini Yulian meminta mereka semua untuk duduk di sofa ruang tamu dan menjelaskan apa yang sudah terjadi padanya.
__ADS_1
Yulian mengatakan bahwa ia tidak jadi ikut penerbangan di malam itu. Karena tiba-tiba dia merasakan tidak enak badan yang membuat tubuhnya bergetar. Sehingga Yulian memilih untuk mengundurkan diri dari penerbangan pesawat di malam itu dan menginap di rumah Jihan dan suaminya.
Sekertaris yang sudah di anggap sebagai saudara oleh Yulian, selama ini telah merawatnya selama Yulian benar-benar sehat. Karena Jihan dan keluarganya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Yulian.
Keluarga Jihan sendiri merasa berhutang budi kepada keluarga pak Nugraha, terutama kepada Yulian. Sehingga keluarga Jihan begitu ramah dan perduli dengan Yulian.
Dan setelah Yulian merasa lebih baik, Yulian memutuskan untuk segera pulang. Jihan dan keluarganya ternyata sudah menyiapkan sebuah helikopter untuk mengantar Yulian pulang. Begitu bahagianya Yulian bisa pulang di malam itu.
"Maka dari itu setelah Yulian mendengar bahwa pesawat itu terjatuh dan terbakar, Yulian merasa beruntung tidak jadi ikut penerbangan di malam itu. Dan di saat Yulian ingin mengabarkan semua itu kepada kalian, di saat itu pula handphone Yulian terjatuh dan menghilang." Jelas Yulian.
"Dan Juna percaya bahwa keajaiban itu ada." Potong Juna dengan tersenyum.
Ikatan yang mengikat Yulian dan Juna begitu sangat erat. Meskioun bukan anak kandung Yulian, tapi Juna dan Yulian sangat terikat dengan ikatan batin mereka masing-masing.
Semua ikut bahagia mendengar dan melihat bahwa Yulian masih hidup sampai saat ini. Namun, sejenak mereka terdiam saat mengingat Aisyah yang masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Di rasa sudah seharusnya Yulian mengetahui tentang keadaan Aisyah dan bayinya, bu Widia yang tidak lain adalah ibu kandung Yulian telah menjelaskan semuanya secara perlahan.
"Ini semua salah Yulian. Yulian tidak bisa menjaga Aisyah dengan baik." Ucap Yulian merasa terpukul.
"Yulian, ini bukanlah salah kamu. Kita semua juga tidak tahu bahwa Aisyahenyembunyikan hal sebesar ini kepada kita. Dan kita mengetahui itu setelah Aisyah merasakan kontraksi yang hebat sehingga membuatnya pingsan sebelum bayi itu lahir." Sambung bu Laila.
Yulian menyerka air matanya secara kasar. Dan dia berusaha untuk menegarkan diri serta hatinya. Setelah itu, ia meminta ijin untuk melihat putra kecilnya yang diikuti oleh putra pertamanya.
Juna mengutarakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yulian. Seketika Yulian memeluk Juna dan mengecup kening Juna. Meskipun Juna adalah anak lelaki yang hatinya pernah merasakan kerapuhan dan keterpurukan. Namun, setelah melihat kenyataan bahwa Yulian masih hidup, Juna merasa begitu bahagia dan cetia kembali.
Yulian pun mencoba kuat dan menahan air matanya dihadapan Juna. Karena Yulian tidak ingin Juna bersedih kembali.
****
"Halo assalamu'alaikum ayah!" Ucap Maryam.
"Wa'alaikumsalam bunda. Ada apa bunda menelfon di tengah malam? Apa terjadi sesuatu dengan Aisyah?" Tanya Fadli penasaran.
"Iya ayah, memang terjadi sesuatu dengan Aisyah. Ayah, Aisyah telah sadarkan diri. Dan sekarang keadaannya sudah jauh membaik. Bahkan sekarang, Aisyah sudah dipindahkan di ruang rawat." Jawab Maryam dengan gemetar dan bahagia.
Fadli yang mendengar penjelasan Maryam, seketika ia memberitahukan kepada semua keluarga nya, termasuk dengan Yulian.
__ADS_1
Bahagia pun tengah dirasakan kembali oleh keluarga besar Aisyah dan Yulian. Mereka tak henti-hentinya berucap rasa syukur kepada sang Maha Esa yang telah memberikan keajaiban itu kepada orang yang mereka cintai.