
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Kelas yang aku masuki dijam mata kuliah siang ini pun juga sudah berakhir. Namun sayang, tak ada yang nyantol dalam otakku selama pelajaran berlangsung.
"Astaga, Ya Allah... Ma'afkanlah aku yang sedari tadi tidak konsen dalam belajarku." Ucapku yang merasa lelah dan kuletakkan sejenak kepalaku di atas meja.
"Daripada kamu seperti itu, lebih baik kamu pergi ke masjid dan ambil air wudhu. Karena adzan dzuhur akan segera berlangsung." Ucap seorang lelaki yang menghampiriku.
Ku tegakkan kembali kepalaku dan mencoba melihat siapa yang sudah menegurku. Dan ternyata, lagi-lagi itu adalah Fadli.
"Kamu? Di mana-mana kalau datang itu harus mengucapkan salam, bukan langsung negur saja!" Ucapku merasa kesal karena aku harus bertemu dengannya lagi.
"Oh iya, ma'af kalau begitu. Assalamu'alaikum Aisyah!" Ucapnya kepadaku dengan senyumnya yang begitu manis.
"Iya, wa'alaikumsalam." Balasku dengan nada yang masih sama, yaitu acuh.
"Jadi orang itu harus lebih ramah. Biarpun orang itu adalah orang yang tidak kamu sukai, kamu harus bisa ikhlas dalam berbicara dengannya. Walaupun itu juga bukan mukhrim kamu, kamu harus bisa menghargai dalam setiap perkataannya. Ya sudah, aku harus pergi dulu. Jangan lupa sholatnya!" Ucap Fadli dengan begitu lembut.
Namun dalam setiap perkatannya membuat hatiku seakan berhenti berdetak. Serasa disambar petir disiang bolong gini. Karena aku merasa disindir atau apalah. Tapi, setelah aku pikir-pikir memang benar juga aku sudah bersalah.
"Astaghfirullah halazim, Ya Allah ma'afkanlah aku. Aku tak bermaksud menjadi orang yang angkuh ataupun sombong." Ungkapku dalam batin.
Berhubung waktu sholat dzuhur sudah hampir habis, aku pun segera melangkahkan kakiku untuk menuju masjid yang dekat dengan area kampus.
πΉπΉπΉπΉ
"Kenapa semakin kesini aku merasa semakin ingin mendekatinya? Dan kenapa dalam hatiku aku merasa sudah mengenalnya terlalu lama. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu untukku tentang semua ini." Ungkap Fadli sembari duduk diteras masjid.
Kini Fadli merasa dilanda penuh kebimbangan. Bagaimana tidak, ia merasakan jatuh cinta kepada Maryam. Namun, ia juga merasakan sesuatu hal yang berbeda saat beradu dengan Aisyah. Sebenarnya siapa yang disukai Fadli?
******
Setelah beberapa menit telah barlalu, akhirnya sholat dzuhur sudah aku laksanakan. Dan itu membuatku menjadi lebih segar kembali.
Disaat aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke tempat parkir sepeda, tanpa sengaja aku berjalan dan melintas dihadapan Fadli. Tanpa sengaja pula aku telah meliriknya, dan diwaktu itu pula ternyata Fadli sudah memandangiku sedari tadi. Tapi, aku tidak perduli. Seketika aku melampiaskan pandanganku ke arah yang lain untuk menjaga pandanganku saja.
"Ataghfirullah halazim, Fadli apa sih yang kamu lihat. Ya Allah, ma'afkanlah aku yang tidak bisa berhenti memandanginya." Ucap Fadli sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
π¦π¦π¦π¦
"Pa, aku coba hubungin Aisyah dulu biar dia cepat pulang dan bisa membicarakan hal ini bersama-sama." Ucap Maryam sambil memegang ponsel dan menekan tombol panggil.
"Assalamu'alaikum Aisyah, kamu sekarang ada dimana?" Tanya kak Maryam secara tiba-tiba setelah aku mengangkat telfonnya.
"Wa'alaikumsalam. Aisyah lagi di kampus kak, tapi ini sudah mau pulang kok." Jawabku menjelaskan.
"Ya sudah, kamu hati-hati dijalan ya!" Ucap kak Maryam dengan singkat. Dan setelah itu ditutupnya obrolan kami yang hanya melalui ponsel. Namun seperti biasa, sebelum menutup telfonnya kak Maryam tidak lupa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Sedangkan aku, aku masih bisa menjawab salamnya saja.
"Kenapa sih kak Maryam ini, tiba-tiba bertanya tentang keberadaanku? Dan dengan begitu singkatnya dia menutup telfonnya. Aneh sekali dia ini." Gerutuku padanya.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku sampai juga dirumah. Tak lupa juga aku mengucap salam sebelum aku memasuki rumah dan membuka pintunya.
"Wa'alaikumsalam, iya sebentar." Terdengar suara cemprengnya bik Murni dari dalam. Hohoho...!
"Terima kasih ya bik Murni, karena bik Mutlrni sudah membukakan pintunya untuk Aisyah." Ucapku dengan senyum melebar.
"Iya non, itukan juga sudah menjadi tugas bibik non!" Balas bik Murni dengan ramah.
"Lha sekarang mereka ada dimana bik? Kok sepertinya sepi banget?" Tanyaku yang penasaran.
"Ada kok non, mereka semua sedang berada dikamar masing-masing non. Mungkin saja, mereka sedang siap-siap non." Jawab bik Murni yang menjelaskan, namun itu membuatku berekspresi sekita dengan mengerutkan keningku.
Entahlah apa yang dimaksud bik Murni. Yang jelas, aku ingin segera mandi dan berganti pakaian. Karena, aku menyadari kalau tubuhku kini sudah berbau kecut. Hahaha...!
"Alhamdulillah, akhirnya segar juga." Ungkapku dengan penuh sensasional, karena merasakan kesegaran setelah berendam dan mandi dengan sejenak. Lalu, ku ambil baju gamis set ku beserta dengan cadarnya.
"Tok..Tok..Tok...!" Tiba-tiba ada seseorang dibalik pintu sedang mengetuknya.
"Iya, masuk saja!" Teriakku singkat.
"Dek, akhirnya kamu sudah pulang juga. Aku dan papa sudah menunggu kamu sedari tadi loh!" Ucap kak Maryam yang tak aku mengerti apa maksudnya. Menunggu? Kenapa menungguku? Memangnya ada apa?
"Memangnya ada apa kak?" Akhirnya ku lontarkan juga pertanyaanku .
__ADS_1
"Emm....malam ini papa mau melamar bu Maria dirumahnya." Jawab kak Maryam menjelaskan.
Aku terdiam sejenak , mencoba mencerna setiap ucapan yang dikatakan oleh kak Maryam.
"Melamar ? Bukannya tadi sudah ya kak ?" Tanyaku yang masih belum mengerti.
"Iya dek , tapi lebih baiknya kita pihak keluarga laki-laki kan datang ke rumah sang perempuan. Sekaligus nanti kita bisa bicarakan kapan waktu dan tanggal yang tepat untuk melaksanakan akad nikahnya." Jawab kak Maryam yang menjelaskan dengan se detailnya.
Akhirnya aku pun mengerti . Dan segeralah aku bersiap-siap , tapi tetap sama ya tanpa make up sama sekali yang merias wajahku. Karena aku dan kak Maryam pun sama , kami hanya berpenampilan sederhana dan tetap memakai cadar kami.
"Kalian sudah siap ?" Tanya papa kepada kami .
Hanya kak Maryam yang segera menjawab pertanyaan papa . Sedangkan aku , aku masih melihat penampilan papa yang begitu gagah .
"Aisyah , bagaimana dengan kamu ?" Tanya papa kepadaku .
"Ah iya pa , Aisyah juga sudah siap kok !" Jawabku dengan singkat.
Setelah semua sudah selesai bersiap-siap , kami pun masuk ke dalam mobil dan mencari posisi masing-masing . Dimana papa sebagai sopir , kak Maryam yang duduk disamping papa dan aku sendiri duduk dibagian belakang.
Dalam setiap perjalanan kami hanya terdiam . Tak ada yang melontarkan satu kata apapun. Dan sungguh itu membuatku begitu merasa mengantuk. Hahaha...!
"Assalamu'alaikum bu Maria!" Kami mengucap salam dari luar setelah beberapa menit kita sampai dan berada di depan pintu rumah bu Maria.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar samar dari dalam yang membalas salam kami.
"Eh kalian sudah datang ya!" Ucap bu Maria singkat, lalu menyuruh kami untuk masuk dan mempersilahkan kami untuk segera duduk.
Tak butuh waktu yang lama untuk berbasa-basi. Papa pun langsung to the point apa tujuan datang menemui bu Maria.
"Bagaimana bu maria, apa bu Maria mau menerima lamaran saya?" Tanya papa memastikan.
Bersambung....!
βΊβΊβΊπππ
__ADS_1
Ma'af ya mungkin menurut kalian masih tidak nyambung juga. Tapi karya adalah sebuah pemikiran, jadi menulis itu membutuhkan pemikiran juga. Jadi, aku harap kalian tetap memberi dukungan dengan memberi vote, like dan komentar kalian. Please...Bantuin saya ya!