
🌺🌺🌺🌺
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 tepat. Di mana waktu sahur sudah dianjurkan. Alhamdulillah, malam ini adalah malam sahur yang terakhir. Karena malam esok sudah malam takbir. Dan semua orang mengumandangkan takbir di masjid serta ada yang mengumandangkannya dengan mengelilingi kompleks perumahan.
"Tok... Tok... Juna, bangun sayang. Sahur dulu yuk!" Ucapku sambil mengetuk pintu kamar Juna.
Tak lama kemudian terdengar sama suara Juna yang masih serak karena sehabis tidur. Aku pun membiarkan Juna untuk mencuci mukanya. Dan selagi Juna mencuci muka, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan sahur kami yang dibantu oleh bik Murni.
"Hai sayang, sqhur yuk!" Ajakku kepada Juna.
"Kita sahur apa umi malam ini?" Tanya Juna.
"Kita sahur pakai sayur sop kesukaan kamu." Jawabku sambil menunjukkan semangkok sayur sop.
Entah kenapa tiba-tiba wajah Juna terlihat murung. Seperti ada sesuatu yang tidak ia sukai. Tapi apa aku tidak tahu pasti.
"Kamu kenapa sayang? Tidak suka dengan menunya sahur malam ini?" Tanyaku memastikan.
"Tidak umi, bukan seperti. Juna suka kok, tapi Juna sedang merasa rindu sama abi. Sudah sembilan bulan abi jauh dari kita. Dan dua hari ini abi tidak ada kabar sama sekali. Apa abi terlalu sibuk, sehingga lupa dengan kita?" Ungkap Juna yang membuatku hampir menitihkan air mata.
Aku mendekati Juna dan mencoba untuk membuatnya mengerti tentang kesibukan abinya. Namun, memang benar sudah dua hari tidak ada kabar sama sekali tentang Yulian. Ada apa dengannya?
Setelah aku mencoba membuat Juna mengerti, akhirnya Juna mampu memahami dan mengutkan diri untuk memiliki hati yang sabar dalam segala hal, termasuk menanti kedatangan Yulian, abinya.
Setelah tiga puluh menit kami melakukan sahur, kini kami kembali ke kamar masing-masing. Setelah memasuki kamar, di dalam pikirku terbesit untuk mencoba menghubungi Yulian.
"Tut... Tut... Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi. Cobalah beberapa saat lagi." Suara merdu operatorlah yang menjawab.
Entah kenapa hatiku merasa tidak tenang. Ada rasa khawatir yang membelenggu. Namun aku selalu berdo'a untuk yang terbaik di antara kami.
*****
Suara adzan subuh telah terdengar seru dan saling bersahutan. Aku pun terbangun dan bergegas untuk melakukan sholat subuh terlebih dahulu. Sangat begitu sulit untukku saat berjalan. Entah kenapa mulai terasa tidak nyaman. Mungkin seperti ini rasanya hamil tua. Di mana masa itu penuh perjuangan.
Setelah selesai sholat subuh, tak lupa aku membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Yang seketika membuat hatiku terasa jauh lebih tenang. Bacaan ayat suci Al-Qur'an memang selalu menenangkan hati.
__ADS_1
*****
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Di mana keluarga Nugraha sedang di sibukkan dengan berbelanja di pasar, yang akan di bawa ke rumah Aisyah nanti. Terutama kedua perempuan itu, twk lain adalah bu Widia dan menantunya.
Sudah hampir satu jam lebih lima belas menit kesibukan berbelanja baru selesai. Sedangkan Joko dan pak Nugraha sudah merasa lelah dan bosan menunggu mereka yang sedari tadi berbelanja. Hingga akhirnya Joko mendatangi mereka dengan berjalan gontai.
"Lama sekali kalian ini belanjanya," ucap Joko menggerutu.
"Ya ma'af sayang, kita kan harus belanja buat acara nanti malam. Sudah, jangan marahin istri kamu. Toh kita juga sudah selesai kok belanjanya." Ucap bu Widia.
"Ya sudah kalau begitu, kita langsung saja berangkat lagi ke rumah Aisyah." Balas Joko.
Kembalilah mereka keluarga besar Yulian dengan perjalanan menuju ke rumah Aisyah. Begitupun dengan keluarga besar Aisyah. Mereka juga bersiap-siap untuk menuju ke rumah Aisyah.
******
"Aduh, kenapa terasa tidak enak begini ya!" Ucapku merasa aneh.
Ku hentikan aktifitasku membersihkan kamarku yang cukup berantakan setelah pendekorasian penambahan keranjang baby untuk anakku nanti. Karena aku harus melakukan semuanya sendirian dan sementara waktu usia kandunganku yang sudah sembilan bulan. Jadi, tidak mungkin jika aku menunggu kehadiran Yulian.
Berhubung perutku terasa tidak enak, aku duduk di sofa kamarku. Dan alhamdulillah, setelah beberapa saat rasa sakit itu menghilang. Namun karena aku merasa lelah aku putuskan untuk beristirahat dan berselonjoran di depan tv.
"Wa'alaikumsalam!" Jawabku.
Aku begitu merasa sulit mau melangkahkan kakiku. Dan akhirnya, bik Murni lah yang membukakan pintu untuk tamu yang berada di luar. Dan bik Murni juga melarangku untuk beraktifitas yang berlebihan. Karena merasa kasihan dengan kondisiku serta kakiku yang tiba-tiba membengkak.
"Hai sayang, bagaimana kabar kamu hari ini?" Tanya bu Laila.
"Ya bu, alhamdulillah Aisyah baik-baik saja." Jawabku menjelaskan.
Ya, ibu kandungku lah yang bertamu dan mengunjungiku. Bukan hanya ibu Laila saja yang datang, tapi semuanya. Semua keluarga besarku dan keluarga besar Yulian mengunjungiku.
"Wah, rame sekali ternyata!" Ucap Juna ikut bergabung.
"Iyalah, kamunya saja yang tidak kelihatan sedari tadi." Sahut Karina.
__ADS_1
"Ya ma'af, tadi masih ada urusan di luar." Balas Juna.
Kami berkumpul bersama-sama. Sehingga terasa begitu ramai dengan kehadiran mereka. Jika saja Yulian berada di sini bersama kita semua, pasti dia juga ikut merasakan bahagia yang saat ini tengah kami rasakan.
******
"Akhirnya, persiapan untuk pulang ke Indonesia selesai juga. Jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan mereka." Ujar Yulian.
Yulian sudah bersiap-siap diri untuk kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga besarnya. Jadwal keberangkatan pesawat oun juga sudah ditentukan. Malam ini akan ada kejutan untuk Aisyah dan Juna, serta untuk yang lainnya.
****
Hari sudah semakin sore. Para ibu-ibu sudah disibukkan dengan urusan pendapuran, kecuali aku. Karena mereka melarang keras untukku beraktifitas dan membantu mereka. Sedangkan aku merasa bosan jika harus duduk sendirian di ruang tv.
"Umi, Juna ke atas dulu." Ucap Juna.
"Iya nak." Balasku singkat.
Karena Juna yang belum mandi, ia pun berpamitan untuk menuju ke kamarnya. Bagiku kini Juna tumbuh dengan kedewasaannya. Ya walaupun masih ada kekurangan di dalam dirinya. Tapi Juna tumbuh dengan sikapnya yang dewasa.
****
"Apa seindah itu?" Tanya Juna kepada Karina.
"Iya. Senja sore memang sangat indah. Warna langit yang berubah menjadi kemerahan dan di selingi dengan warna langit biru. Lihatlah, betapa eloknya Kuasa Tuhan." Jawab Karina merasa takjub.
"Iya, itu memang benar. Ya sudah, aku mau mandi dulu. Kak Karina lanjutin saja lihat senja sore." Ucap Juna yang tiba-tiba pergi meninggalkan Karina.
Juna menghentikan langkah kakinya saat akan menuju ke kamarnya. Karena ia melihat Karina yang berada di atap sedang melihat senja sore. Dan akhirnya Juna mengubah jalannya untuk mendekati Karina.
"Dasar, memiliki kebiasaan buruk. Belum mandi malah menyapa." Gerutu Karina.
"Biarin saja. Yang penting tetap keren kan!" Ucap Juna percaya diri.
*****
__ADS_1
Malam yang di nantikan sudah tiba. Di mana suara takbir telah dikumandangkan dan saling bersahutan. Kami semua berkumpul di depan halaman rumah untuk berbuka puasa bersama-sama. Begitu indah dan bahagia kebersamaan kita semua kali ini. Kami bercanda dan tertawa dengan begitu renyah.
Namun, entah kenapa tiba-tiba perutku kembali terasa begitu sakit. Sehingga semuanya yang melihatku ikut merasa panik dan khawatir. Dan kak Maryam akhirnya menyatakan bahwa aku akan melahirkan. Jadi, dengan segera aku dilarikan ke rumah sakit. Begitupun dengan keluarga besarku, mereka menemaniku ke rumah sakit.