
Aku bahagia ketika kudengarkan suara bayi dari balik ruangan yang menegangkan itu. Dan rasanya ingin sekali aku segera berjumpa untuk menyapa bayi mungil yang baru saja terlahir di dunia. Bahkan aku juga merasa penasaran seperti apa bayu lucu itu serta berjenis kelamin perempuan atau laki-laki?
Tidak lama kemudian rasa penasaran dalam diriku terjawab sudah, ketika seorang suster membawa bayi itu dan memberikan kepada Yulian untuk segera di adzankan. Dan sebelum Yulian melakukannya, ia sejenak menatapku lalu, aku pun mengangguk pelan yang menyetujuinya melakukan hal itu terhadap bayi mungil yang tak berdosa.
"Umi, apakah Umi yakin dengan keputusan Umi? Bagaimana kalau Umi akan terluka?"
Aku pun memberikan senyum kepada Cahaya yang menghampiriku dengan lontaran pertanyaan dari bibirnya. Dan perlahan aku pun membuat Cahaya mengerti serta meyakinkannya bahwa aku tidak pernah menyesali dan bersedih di kemudian hari. Karena bagiku inilah sebuah takdir dalam hidupku dan rumahtangga yang sedang kujalani bersama Yulian. Di mana titik hijrah cinta kami tengah diuji kesetiaan, kesabaran dan harus saling mengerti.
"Cahaya, Umi tahu kamu merasa khawatir dengan Umi. Tapi, Umi bahagia dengan keputusan Umi. Jadi, kamu jangan merasa khawatir lagi." Ku tatap wajah Cahaya dengan lekat.
"Tapi kamu jangan menipu Allah, Aisyah. Karena Allah lebih tahu segalanya termasuk, hati kamu yang terluka." Sela Arumi, yang perlahan mendekati ku saat bersama dengan Cahaya.
"Aku tidak bermaksud menipu Allah, Arumi. Tapi aku mempercayai sebuah takdir. Jika keputusanku adalah takdir hidupku, maka aku akan menerimanya dengan ikhlas hati. Akan tetapi jika, Allah berkehendak lain itu diluar kuasaku." Aku menatap tajam Arumi yang berdiri dihadapanku.
Aku pun melamgkah pergi meninggalkan Arumi dan Cahaya yang masih bertahan di depan ruang operasi. Aku merasa tidak sanggup jika Arumi terus berusaha membuyarkan keputusanku. Dan untuk melupakan hal itu, aku menyibukkan diri dengan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara pernikahan Yulian dengan Khadijah. Bahkan aku mempersiapkan beberapa alat make up untuk merias wajah Khadijah sebelum akad nikah berlangsung.
"Ya Allah, jika Engkau merestui mereka maka, lancarkan segala sesuatunya. Aamiin." Aku pun mengaminkan doa ku.
Aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti karena menanti suster datang menghampiriku yang saat ini sudah bersama dengan perias dan juga pak penghulu yang siap membantu acara pernikahan Yulian dengan Khadijah. Karena, kami harus menunggu Khadijah sadar setelah beberapa jam pasca operasi Caesar yang dijalaninya.
__ADS_1
Saat yang kami tunggu pun telah datang, di mana seorang suster mendatangi kami semua yang sedari tadi menunggu di ruang tunggu. Dan tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan Khadijah yang sebentar lagi akan menjadi istri kedua dari Yulian. Yang membuatku harus ikhlas hati untuk saling berbagi cinta dan suami. Namun, ternyata aku salah setelah berpikir panjang bahwa apa yang aku putuskan itu benar.
"Permisi! Bisakah saya bertemu dengan bu Aisyah dan pak Yulian sebentar?"
Seketika aku dan Yulian saling menatap satu sama lain. Bahkan aku bertanya-tanya dalam hati, ada apa? Dan kenapa? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan yang lain pun bertubi-tubi, sehingga memenuhi ruang otakku. Dan untuk mengetahuinya aku bersama Yulian langsung menemui suster itu. Saat aku bertatap muka dengan suster tiba-tiba Arjuna menghampiriku dan Yulian. Lalu, ia menyatakan bahwa Khadijah ingin bertemu denganku dan Yulian.
"Apa Khadijah sudah sadarkan diri?"
"Umi dan Abi langsung saja bertemu dengan perempuan itu. Karena itu keinginannya saat ini." Arjuna menatap aku dan Yulian dengan tajam.
Tanpa berpikir panjang aku dan Yulian pun masuk ke dalam ruangan, di mana Khadijah terbaring lemas dengan beberapa alat medis yang masih menancap di beberapa bagian tubuhnya. Dan saat aku dengan Yulian masuk, terlihat Khadijah tersenyum kepada kami memberikan sambutan. Bahkan terlihat wajahnya masih memucat pasca operasi yang baru saja dilakukan olehnya.
"Assalamu'alaikum, Khadijah. Selamat, kamu sudah menjadi seorang ibu." Aku tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Khadijah. Aku hanya ingin mengatakan satu kali dalam seumur hidup kepadamu. Maukah kamu menjadi istri dari anak-anak ku nanti?"
Tiba-tiba Yulian melontarkan kalimat cinta terhadap Khadijah sebagai tanda lamaran. Dan aku harus siap mendengar setiap kalimat cinta itu diucapkan Yulian selain kepada diriku. Akan tetapi, di sana Khadijah menolak lamaran Yulian. Yang membuatku saling memandang dengan Yulian, karena kami tidak mengerti apa yang diinginkan Khadijah pasca operasi. Bahkan permintaan Khadijah pun membuat aku dan Yulian merasa bingung.
"Ma-afkan a-ku, Aisyah dan Yu-lian. Ta-pi, aku tidak bisa menerima lamaran dari Yulian. Meskipun sebenarnya aku menginginkannya setelah aku menatap mata Yulian yang penuh akan cinta." Ungkap Khadijah dengan nada terbata-bata.
__ADS_1
"Kenapa Khadijah? Bukankah kamu menyetujuinya? Dan aku sudah mempersiapkan semuanya agar pernikahan kamu dengan Mas Yulian segera dilaksanakan. Tapi, kenapa kamu malah menolaknya?"
"Iya, Khadijah. Aku janji aku akan berusaha untuk berbuat adil terhadap kalian nanti. Jadi, kamu jangan khawatir akan hal itu." Yulian menatap Khadijah.
Ketika beberapa pertanyaan telah dilontarkan, Khadijah menjawabnya hanya dengan tersenyum. Setelah itu, perlahan tangan Khadijah meraih tanganku lalu, meraih tangan Yulian dan menyatukannya. Yang membuatku merasa bingung atas apa yang hendak dilakukannya itu. Tidak lama kemudian Khadijah memintaku dan Yulian untuk saling mengucap janji.
"Aku tahu Aisyah, bahwa niat kamu baik untuk menjagaku dari amanah Almarhumah Ibuku. Tapi itu salah, karena aku tidak ingin hadir di tengah-tengah rumahtanggamu bersama Yulian. Aku wanita yang sudah tidak suci lagi, Aisyah. Dan aku merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga kalian. Jadi, jangan kotori keluarga kalian yang penuh dengan surga." Khadijah menatapku dan Yulian secara bergantian.
"Tidak, Khadijah. Kita itu sama di mata Allah, sama-sama menjadi umat-Nya. Dan kita pun juga sama-sama memiliki banyak dosa. Yang akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah jika, benar-benar bertaubat." Yulian menjelaskan sebagaimana semestinya.
"Aisyah_Yulian, maukah kalian berjanji sesuatu hal kepadaku?"
"Janji? Janji apa, Khadijah?"
Aku sangat penasaran apa yang akan diucapkan lagi oleh Khadijah kepadaku dan Yulian. Entahlah, janji apa yang dimaksud Khadijah?
"Aku mau kalian berjanji untuk tidak berpisah. Dan kalian harus terus bersama sampai ajal menjemput kalian nanti. Kalian mau kan, berjanji kepadaku?"
Sejenak aku dan Yulian saling menatap kembali. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Khadijah dan mengartikan apa yang dimaksud olehnya. Dan kenapa Khadijah memintaku untuk mengucapkan janji itu? Aku benar-benar tidak mengerti.
__ADS_1