
Beberapa jam kemudian akhirnya kami pun sampai di Bandar Edinburgh Airport. Di mana itu adalah tempat tujuan kami untuk berlibur bersama. Dan jarak tempuh yang kami lalui sekitar 6 jam untuk sampai di Edinburgh, sehingga tepat pukul 12.00 A.M kami sampai di sana. Rasa capek, ngantuk, lapar dan haus kini tengah ku rasakan. Begitupun dengan Yulian, Arjuna dan juga Cahaya yang merasakan hal sama denganku. Namun, tidak mungkin rasanya jika kita semua langsung menuju ke tempat di mana banyak akan makanan. Sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju ke tempat penginapan untuk sejenak beristirahat dan menata beberapa pakaian dan lain sebagainya yang ada di dalam koper besar kami.
"Ssstt!"
Sebuah mobil tiba-tiba melintas dihadapan kami tetapi, jarak sekitar satu jengkal mobil itu tiba-tiba mengajak pedal rem lalu berhenti. Entah mobil siapa itu, karena aku sendiri juga tidak tahu. Bahkan, aku tidak mengenal satu orang pun di sini. Namun, orang yang berada di dalam mobil itu menyapa kami dengan sopan setelah turun dari mobil mewah miliknya.
"Hello, Yulian dan ... semuanya!"
"Hello, Tristan! How are you?" balas Yulian.
"I'm fine. Sepertinya ... kamu baru datang ya, Yulian?" tanya Tristan yang menatap beberapa koper milik kami.
"Iya, Tristan. Aku, istriku, putraku dan menantuku baru tiba di Edinburgh. Dan sekarang kita mau menuju ke tempat penginapan." Jelas Yulian yang memperkenalkan kami kepada Tristan.
"Berarti kita sama, aku juga baru tiba di sini. Dan sekarang kalian semua mau ke penginapan dimana?"
"Kita mau ke Scotsman Hotel bintang empat. Kita merasa lelah setelah perjalanan yang cukup panjang, jadi kita mau langsung ke sana." Jawab Yulian yang menebarkan senyumnya.
Tristan pun mengangguk pelan, seolah ia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Yulian. Dan setelah itu, tak hanya sekedar berbasa-basi semata. Karena, Tristan bersi kekeh untuk mengantarkan kami ke hotel, di mana aku dan yang lainnya akan melepas rasa lelah selama kami masih berlibur di sini, Edinburgh, Skotlandia. Dan tidak lama kemudian mobil Tristan pun melaju dengan kecepatan sedang setelah kami masuk dan bersiap menuju ke Scotsman hotel.
"Yulian, kamu mau berapa hari di Edinburgh?"
"Emm ... entahlah!"
__ADS_1
"Ok. Kalau ada waktu silahkan mampir ke tempat tinggal ku! Karena lokasinya tidak jauh juga dari Scotsman Hotel." Ujar Tristan seraya tetap fokus dengan jalan raya di Edinburgh.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa kini aku mampu berkunjung di Edinburgh, Skotlandia. Tempat yang begitu indah, sehingga menjadi tempat yang aku impikan sejak dulu, sebelum insiden besar telah menimpa keluargaku. Dan sempat terhenti karena harus menyesuaikan diri di sebuah tempat yang kini menjadi tempat tinggalku bersama keluarga kecil yang sudah kubangun bersama Yulian.
"Yups, sudah sampai!"
Beberapa jam kemudian akhirnya kami sampai juga di Scotsman Hotel. Lalu aku, Yulian, Arjuna serta Cahaya seketika menuruni mobil milik Tristan. Akan tetapi, Tristan tidak ikut turun bersama kami, ia tetap berada di dalam mobil dengan santainya. Akan tetapi, perlahan jendela mobil itu dibuka pelan dan Tristan pun berpamitan kepada kami sebelum meninggalkan kami di halaman depan Scotsman Hotel yang terlihat megah.
"Yulian, jangan lupa dengan apa yang aku katakan tadi! Dan jika kamu membutuhkan bantuan ku, jangan merasa sungkan untuk menghubungiku." Ujar Tristan yang meninggalkan senyum sebelum pergi.
Yulian pun mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Tristan kepadanya. Sebelum pergi jauh dari area Scotsman Hotel, Tristan kembali memencet klakson mobilnya untuk berpamitan. Begitupun dengan kami semua, mengangguk pelan dan melukiskan senyum untuk rasa terima kasih atas bantuan Tristan yang sudah diberikan olehnya kepada kami.Dan tidak membutuhkan waktu yang lama lagi untuk kami segera menuju ke kamar hotel dan melepas rasa lelah.
"Permisi! Saya ingin memesan kamar yang kosong di hotel ini dengan dua kamar. Apakah masih ada?"
Resepsionis di hotel ini begitu ramah kepada kami, bukan hanya kami saja tetapi kepada pelanggan yang berkunjung di hotel ini. Dan perbincangan yang digunakan pun selalu menggunakan bahasa Inggris, karena itu adalah bahasa yang internasional bagi seluruh bangsa. Namun, siang itu ada seorang pengunjung yang tidak bisa berbahasa Inggris. Dan terlihat orang tersebut sedang kebingungan untuk melontarkan kata kepada resepsionis di hotel ini. Akan tetapi, aku mencoba untuk membantunya dalam berkomunikasi, hingga akhirnya orang tersebut mendapatkan kamar untuk beristirahat.
"Atas nama Pak Yulian ... bisa langsung ke kamar nomor 1011. Dan atas nama Pak Arjuna bisa langsung ke kamar nomor 1012. Atas nama Bu Ratih bisa langsung ke kamar nomor 1015." Ujar resepsionis di hotel itu seraya menatap buku yang ada di hadapannya.
"Terima kasih, Mbak!" balas Yulian dan Arjuna bersamaan.
Resepsionis itu pun menyodorkan kunci kamar kepada Yulian, Arjuna dan bu Ratih. Wanita paru baya yang sama-sama berasal dari Indonesia, lebih tepatnya dari pulau Jawa. Sehingga kurang memahami akan bahasa asing yang digunakan di Edinburgh, Skotlandia.
"Maturnuwun ya nduk! Coba kalau kamu tadi ndak bantu ngomong ke Mbak tadi, pasti Ibu tidak bisa tidur di sini!" ujar bu Ratih kepadaku.
__ADS_1
"Iya Bu Ratih, sama-sama!" balas ku dengan sopan.
"Yo uwis nduk, cepat masuk!" pinta bu Ratih.
"Iya, Bu. Mari! Assalamu'alaikum,"
Meskipun aku tidak terlalu memahami apa. yang diucapkan bu Ratih, tetapi setidaknya aku tidak mengurangi rasa sopan santunku dalam. berkomunikasi dengan beliau. Dan akhirnya kami pun masuk ke kamar masing-masing untuk segera melepas rasa lelah yang begitu memberatkan sekujur tubuh ini.
"Sayang, aku mandi dulu ya! Kamu istirahat saja dulu!" ucap Yulian.
Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan. Setelah itu, Yulian memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Sedangkan aku, aku harus menata beberapa pakain yang masih di dalam koper dan memasukkannya ke dalam almari yang sudah disediakan. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merapikan pakaian yang kami bawa, karena pakain itu hanya beberapa saja.
"Aisyah, kamu mau mandi atau...."
"Iya, Mas. Aku mau mandi dulu setelah itu mau sholat sunnah, baru tidur." Aku pun beranjak dari tempat di mana aku mengenyatkan pantat ini dengan nyaman.
Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan juga menyegarkan tubuh ini dari kepenatan serta keringat yang sempat mengalir di pelipisku. Cukup lima belas menit sudah untukku berada di dalam sana, lalu aku pun bersiap untuk memakai mukena yang kubawa. Gerakan sholat pun aku lakukan sampai atakhiyat akhir dan melakukan salam sebagai penutup.
"Kalau sudah sholat, segera tidur gih! Kamu pasti merasa lelah,"
"Emm, apakah Mas Yulian akan melakukan hal sama denganku jika, aku berbaring di sana?"
"Tentu! Aku akan menemani kamu sampai kita terlelap dalam mimpi. Ya sudah, kita tidur saja!"
__ADS_1
Akhirnya aku dan Yulian memutuskan untuk segera merebahkan tubuh kami yang terasa begitu kaku, karena lelah. Selimut tebal telah memenuhi tubuh kami, dan seperti biasa di mana Yulian melingkarkan lengannya di pinggangku. Dan sampai akhirnya, entah pukul berapa kami terlelap dalam tidur dengan tubuh yang saling menghangatkan.