
💖💖💖💖
"Seharusnya kamu tidak hadir dihadapanku dengan kedaan seperti ini Yulian." Ucapku dalam hati yang masih tidak bisa menerima semua ini. Namun, apalah daya. Aku tidak bisa apa-apa.
"Aku merasa bersedih, tapi aku tidak mungkin harus seperti ini terus menerus. Aku harus bisa melawan rasa yang menghancurkan hatiku. Aku pasti bisa." Ucapku yang mencoba bangkit dari kesedihan.
Aku berdiri kembali dan menuju area parkiran untuk memasuki mobil. Aku berusaha kuat apalagi dihadapan keluargaku.
"Fadli?" Ucapku dalam hati setelah ku buka layar slide ponselku.
"Assalamu'alaikum, Fadli." Ucapku kepada Fadli setelah dia mengangkat telfonku.
"Wa'alaikumsalam Aisyah. Kenapa kamu baru bisa dihubungi sekarang Aisyah? Entah kenapa hatiku merasa cemas." Ucap Fadli to the point.
"Ma'afkan aku Fadli. Oh iya, bagaimana hasilnya? Apa kamu sudah bertanya kepada kedua orang tua kamu?" Tanyaku memastikan.
"Alhamdulillah Aisyah, sedari tadi aku menghubungimu karena aku ingin memberi kabar bahagia kepadamu. Bahwa memang benar kalau kamu adik kandungku." Ungkap Fadli dengan penuh rasa kegembiraan.
"Masyaallah. Syukur alhamdulillah kalau memang itu kebenarannya. Kalau begitu, kita bisa atur jadwal untuk segera mempertumakan kedua orang tua kita, agar papaku juga tahu kalau aku sudah menemukan keluarga kandungku." Balasku dengan rasa bahagia tiada tara.
"Baiklah, kamu sekarang ada dimana? Kenapa kamu seperti sedang bersedih? Apa yang sedang terjadi denganmu Aisyah?" Tanya Fadli kepadaku, namun aku merasa dia tidak perlu tahu.
"Tidak Fadli, aku tidak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja." Jawabku sedikit acuh, lalu ku matikan telfonnya dengan ucapan salam.
Aku pun bergegas pulang untuk berganti pakaian, karena baju yang aku kenakan sudah terlanjur basah kuyub. Dan tidak mungkin juga kan kalau aku menjemput kak Maryam dengan baju basah.
"Assalamu'alaikum bik Murni!" Teriakku dengan ucapan salam dan membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam non, kok sudah pulang sih non? Terus itu kenapa kok bajunya non basah semua?" Tanya bik Murni.
"Oh iya bik, hari ini Aisyah kan cuma nganterin tugas skripsi doang. Dan bibik tahu tidak, kalau Aisyah lulus. Aisyah bahagia banget deh bik, akhirnya Aisyah bisa di wisuda setelah lulus S1." Jawabku yang berusaha tersenyum dihadapan bik Murni.
"Alhamdulillah kalau begitu non, bibik juga ikut senang mendengarnya. Tapi, tadi hujan ya non di kampusnya non. Kok basah gitu non?" Ucap bik Murni.
"Iya bik, tadi hujan lebat banget di kampus. Untungnya Aisyah bawa mobil tadi, jadi Aisyah bisa pulang cepat deh." Balasku dengan menampilkan senyuman dibalik cadar.
"Ya sudah, non cepat ganti baju sana. Nanti kalau tidak cepat ganti baju bisa masuk angin loh dan non akan sakit juga." Ucap bik Murni merasa khawatir.
"Baik bos, siap. Tapi kan bik, kalau Aisyah sakit kan ada kak Maryam yang memeriksa Aisyah dan merawat Aisyah. Bik Murni kan tahu kalau kak Maryam seorang dokter. Hehehe!" Candaku kepada bik Murni.
"Jangan dong non, kalau non Aisyah sakit nanti akan ada yang merasa khawatir seperti bapak, nyonya dan non Maryam." Ucap bik Murni mengingatkanku.
__ADS_1
"Iya-iya bik, Aisyah kan cuma bercanda. Ya sudah kalau begitu, Aisyah masuk ke kamar dulu sebelum kak Maryam menelfon." Ucapku yang melajukan langkahku menuju kamar.
Entah kenapa rasa itu belum mampu aku hapus. Aku masih merasa bersedih dan sangat hancur. Bergegaslah aku menuju kamar mandi dan segera melucuti seluruh pakaian yang menempel dibadanku.
"Ya Allah, kenapa ini terjadi kepadaku setelah aku berusaha menantinya? Apa memang aku dan Yulian tidak Engkau jodohkan?" Ucapku sambil mandi membasahi tubuhku dibawah sower yang sedang menyala.
🕊🕊🕊🕊
"Aku harap kamu masih memiliki perasaan kepadaku Aisyah. Aku harap kamu masih mau menanti kehadiranku. Ma'afkan aku jika membuatmu terluka. Semoga kamu mengerti dan memahami keadaan yang rumit ini." Ucap Yulian dalam hatinya.
"Yulian!" Suara lirih sedang memanggil Yulian.
"Iya, ada apa Kamila?" Tanyaku dengan menatapnya.
"Terimakasih kamu sudah memilihku daripada Aisyah. Aku memang tulus mencintai kamu. Aku berharap disisa umurku yang tidak panjang, aku bahagia bersamamu." Ungkap Kamila kepada Yulian.
"Sama-sama. Kamila, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya Yulian
"Apa? Katakanlah!" Jawab Kamila.
"Kenapa kamu memilih Aisyah untuk mengajarimu berhijrah?" Tanya Yulian yang penuh dengan rasa penasaran.
"Karena... Aku merasa Aisyah adalah gadis sekaligus teman yang baik untukku. Aku juga sering melihatnya dengan penuh ketegarannya. Dia gadis yang kuat. Makanya aku memilih Aisyah dan dia juga yang mampu memahamiku." Ungkap Kamila dengan senyuman.
"Yulian, kamu mau tidak nanti mengantarkan aku ke rumah Aisyah? Rencananya sih nanti malam aku menginap ke rumahnya dan memulai belajarku." Pinta Kamila yang sulit untuk Yulian menjawabnya.
"Aku... Aku...!"
"Ayolah, katanya kamu mau membahagiakan aku." Belum sempat Yulian menjawab, Kamila sudah memintanya kembali dengan nada rengekan bagaikan anak kecil.
"Baiklah, akan aku lakukan itu untukmu." Akhirnya Yulian pun menyetujui.
Betapa bahagianya Kamila, namun menyakitkan untuk Aisyah dan Yulian. Entah sampai kapan Hijrah Cinta Aisyah dan Yulian bisa menuju jannahnya. Apakah mereka akan bersatu atau akan selamanya tak mampu hidup bersama.
💖💖💖💖
"Kring... Kring... Kring....!" Suara handphone berdering.
"Assalamu'alaikum Aisyah!" Ucap Maryam dengan suara lembutnya.
"Wa'alaikumsalam Kak. Kakak sudah mau pulang kah? Aisyah akan jemput sekarang kalau begitu." Tanyaku kepada kak Maryam memastikan.
__ADS_1
"Tidak Aisyah, kakak menelfon kamu karena kakak mau bilang sama kamu. Bahwa kakak akan pulang telat, karena ada jadwal operasi yang harus kakak lakukan." Ucap Maryam menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu kak. Nanti kalau sudah mau pulang kakak telfon saja ya!" Balasku dengan kelembutan.
Telfon kami pun terputus, karena kak Maryam mulai tidak bisa diganggu terlalu lama. Dia harus bekerja sebagai seorang dokter yang harus mementingkan pasiennya. Sedangkan aku, aku masih calon pekerja yang entah nanti apa jadinya.
"Kenapa jadi tidak enak begini ya badanku?" Ucapku merasa tidak enak badan. Panas dingin dan menggigil.
Kurebahkan sejenak tubuhku di atas kasur untuk sekedar beristirahat sebelum kak Maryam menelfonku kembali. Namun ternyata, aku tidak bisa memejamkan kedua mataku. Aku masih memikirkan masalah tadi.
"Kring... Kring... Kring...!" Suara handphone berdering.
Ku coba meraih ponselku yang ku letakkan di atas nakas kamarku. Dan ku buka slide ponselku, ternyata Kamila yang menelfonku.
"Assalamu'alaikum Mila, ada apa ya kamu menelfonku?" Tanyaku berbasa-basi.
"Wa'alaikumsalam Aisyah. Oh iya, kamu sedang sibuk atau tidak? Rencananya sih, aku mau ke rumah kamu malam ini bersama Yulian. Apa kamu bisa?" Tanya Kamila kepadaku.
"Sebelumnya ma'afkanlah aku Kamila. Aku tidak bisa malam ini. Karena, aku kurang sehat saat ini. Insya'allah, kalau aku sudah bisa aku akan ke rumah kamu." Jawabku menjelaskan.
"Kamu kenapa Aisyah? Apa kamu sakit?" Tanya Kamila kembali kepadaku.
"Kurasa seperti itu setelah kehujanan di kampus tadi." Jawabku singkat.
"Ya sudah kalau begitu, semoga kamu cepat sembuh ya!" Ucap Kamila dan setelah itu menutup telfonnya.
Ku harap Kamila tidak berpikir yang macam-macam tentangku. Bukan aku bermaksud untuk menghindari mereka, tetapi aku memang saat ini masih kurang enak badan.
🌹🌹🌹🌹
"Kamila, ayo kita berangkat." Ucap Yulian yang sudah siap untuk mengantarnya.
"Yulian, kita tidak jadi pergi." Ucap Kamila membatalkan pertemuannya dengan Aisyah.
"Kenapa tidak jadi? Apa kamu kurang sehat lagi?" Tanya Yulian.
"Bukan aku yang kurang sehat, tapi Aisyah. Dia sedang sakit saat ini." Jawab Kamila menjelaskan.
"Aisyah sakit?" Tanya Yulian dalam batinnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA YA GUYS, SELALU MEMBERIKAN DUKUNGAN KEPADA NOVEL HCA DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN.