HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 39


__ADS_3

"Bukan aku yang kurang sehat, tapi Aisyah. Dia sedang sakit saat ini." Jawab Kamila menjelaskan.


"Aisyah sakit?" Ucap Yulian dalam hatinya.


🕊🕊🕊🕊


Kurasa tubuhku yang semakin menggigil dan demam, aku berpikir untuk menelfon Fadli dan meminta tolong kepada Fadli.


"Halo, assalamu'alaikum kak Fadli." Ucapku kepada Fadli yang menelfonnya.


Aku sengaja memanggil Fadli dengan sebutan kak. Karena bagiku itu adalah panggilan yang tepat untuknya setelah aku mengetahui keberanan tentang kami.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa kamu menelfonku di malam hari? Dan kenapa kamu memanggilku dengan sebutan kak?" Tanya Fadli merasa heran.


"Sebelumnya aku minta ma'af telah mengganggu waktu malam kamu, karena aku butuh bantuan kamu saat ini. Dan kenapa aku memanggilmu dengan kak, itu karena kamu adalah kakak kandungku." Jawabku menjelaskan dengan suara lirih.


"Ok tak apa. Apa yang bisa aku bantu? Memang benar itu panggilan yang wajib untukku, tapi mungkin terasa sedikit aneh ditelingaku. Ma'af !" Balas Fadli dengan panjang.


"Ma'af, mungkin apa yang kamu rasakan juga sedikit aneh baguku. Menyebutmu dengan panggilan kakak, tapi itu memang harus bukan? Oh iya, aku minta bantuan kamu boleh atau tidak?" Tanyaku hampir to the point. Hahaha, bahasa yang sedikit aneh.


"Memangnya kamu mau aku bantu apa?" Fadli berbalik tanya kepadaku.


"Aku mau kamu menjemput kak Maryam di Rumah Sakit Medika, karena dia bekerja di sana. Aku sebenarnya tidak pantas meminta bantuan kepada kamu kak, karena kalian bukan mukhrim. Tapi, aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Kalau aku meminta papa, pasti papa akan tahu keadaanku yang sedang sakit. Sedangkan aku, aku tidak mau membuat mereka khawatir. Apakah kak Fadli mau membantuku?" Tanyaku memastikan.


"Apa? Kamu sedang sakit? Sakit apa? Aisyah, apa kamu tidak sadar berucap seperti itu kepadaku? Kamu itu adikku, kalau kamu sakit pasti aku juga merasakan khawatir dengan keadaan kamu." Ucap Fadli dengan rasa khawatir.


"Ma'af, tapi apa kamu bisa kak membantuku?" Tanyaku lagi.


"Insyaallah aku bisa." Jawab Fadli singkat.


"Baiklah, terimakasih kak." Ucapku sebelum menutup telfon.


Aku pun menutup telfonnya setelah berbicara dengan Fadli. Ups, maksudnya kak Fadli. Jujur, bagiku sedikit aneh aku memanggilnya dengan sebutan kak. Tapi, memang itu yang seharusnya aku lakukan.


Setelah mengobrol sebentar dengan Fadli, entah kenapa tubuhku semakin melemas. Hingga akhirnya kuputuskan untuk memejamkan kedua mataku dan mencoba untuk tidur dan beristirahat.


🌹🌹🌹🌹


"Aisyah kenapa tidak mengangkat telfonnya ya? Apa dia sedang sibuk ya? Terus bagaimana aku pulangnya?" Ucap Maryam bertanya-bertanya.

__ADS_1


Maryam masih berdiri mematung untuk menunggu kedatangan adik kesayangannya yang super bawel. Kalian jangan tertawa ya! Hahaha...!


"Assalamu'alaikum Maryam!" Ucap Fadli menyapa Maryam dengan kepala yang menunduk. Tapi , bukan berarti Fadli tidak mau memandang wajah Maryam , tetapi karena Fadli harus menjaga kehormatan Maryam dan pandangannya juga.


"Wa'akaikumsalam. Kamu bukannya Fadli kan?" Tanya Maryam.


"Iya, ini aku Fadli. Aku datang ke sini karena aku dimintai pertolongan sama Aisyah untuk menjemputmu." Jawab Fadli menjelaskan.


"Memangnya Aisyah sedang apa? Kenapa meminta bantuan kepada kamu?" Tanya Maryam merasa bingung.


"Karena, Aisyah sedang kurang sehat. Dan dia tidak mau merepotkan kedua orang tuanya. Maka dari itu, dia memintaku untuk menjemput kamu." Jawab Fadli menjelaskan.


"Astagfirullah halazim. Ya sudah, aku mau. Tolong nanti kamu menyetir motornya dengan kecepatan sedikit cepat ya, karena aku merasa khawatir dengan Aisyah." Ucap Maryam yang sedikit memiliki rasa malu.


"Baiklah, sekarang kamu naiklah ke motorku. Kalau kamu bingung mau pegangan apa, kamu bisa pegang jaketku." Ucap Fadli menyarankan kepada Maryam.


"Baiklah!" Balas Maryam singkat.


Fadli melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Bukan berarti Fadli tidak mau menuruti permintaan Maryam, melainkan Fadli hanya ingin menjaga Maryam dan menghindari timbulnya kecelakaan.


"Kenapa jantungku berdetak secepat ini Ya Allah? Kenapa rasanya tidak sama dengan apa yang aku rasakan kepada Aisyah? Apa ini yang namanya jatuh cinta?" Fadli bertanya-tanya di dalam batinnya.


"Ya Allah, kenapa perasaan ini muncul lagi? Perasaan aneh dan keinginan yang selalu berada disampingnya. Apa ini benar-benar cinta? Berilah aku petunjukmu Ya Allah Ya Robbi." Ucap Maryam dalam batinnya.


Ya, mungkin memang benar bahwa Maryam dan Fadli memiliki perasaan yang sama. Namun, mereka tidak bisa mengatakan perasaan itu kepada satu sama lain.


"Terimakasih sudah mengantarkan aku." Ucap Maryam sedikit malu kepada Fadli.


"Sama-sama, tidak masalah bagiku. Oh iya, bolehkah aku ikut masuk untuk melihat keadaan Aisyah?" Ucap Fadli bertanya.


"Sebenarnya aku mau mengijinkanmu, tapi kita bukan mukhrim kamu." Jawab Maryam menjelaskan.


"Aku tahu itu, tapi sepertinya kamu perlu mengetahui bahwa aku kakak kandung Aisyah. Aku juga merasa khawatir dengan keadaannya. Maka dari itu, ijinkanlah aku untuk melihat adikku." Ucap Fadli menjelaskan dengan kelembutan dan senyuman yang menawan.


"Apa? Bagaimana kamu yakin bahwa kamu kakak kandung Aisyah? Sedangkan Aisyah tidak pernah cerita apapun tentang itu." Tanya Maryam sedikit terkejut.


"Itu akan aku jelaskan nanti. Tapi, ijinkanlah aku untuk melihat keadaan Aisyah. Karena, itu yang terpenting saat ini." Jawab Fadli.


"Baiklah, kalau kamu berkata jujur. Silahkan masuk!" Balas Maryam yang mempersilahkan Fadli untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Kami pun melangkahkan kaki dengan terburu-buru. Karena kami merasa khawatir dengan keadaan Aisyah.


"Assalamu'alaikum bik Murni!" Ucap Maryam sambil membuka pintu.


"Silahkan masuk!" Ucap Maryam kemudian setelah memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumsalam Non! Syukurlah Non Maryam sudah pulang." Ucap bik Murni merasa lega.


"Memangnya kenapa bik?" Tanya Maryam.


"Iya Non, soalnya sedari tadi Non Aisyah tidak keluar kamar. Dan dia juga belum makan. Padahal bibik sudah ketuk pintunya berulang kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam." Jawab bik Murni menjelaskan.


"Apa?" Ucap Maryam semakin khawatir.


Maryam dan Fadli merasa begitu khawatir dengan keadaan Aisyah, sehingga mereka berlari menuju ke kamar Aisyah untuk melihat keadaanya. Tanpa ada rasa canggung, mereka langsung membuka pintu kamar Aisyah dan masuk secara bersamaan.


"Aisyah, bangun dek!" Ucap Maryam memeriksa Aisyah. Namun, Aisyah tidak merespon.


"Bagaimana keadaan Aisyah?" Tanya Fadli kepada Maryam.


"Badannya panas banget, denyut nadinya juga melemah." Jawab Maryam.


Maryam masih memeriksa keadaan Aisyah. Dan ternyata Aisyah tidak sadarkan diri karena suhu tubuh Aisyah yang saking panasnya. Dan itu membuat Maryam dan Fadli semakin khawatir.


"Kita tidak bisa membiarkan Aisyah seperti ini. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang. Karena Aisyah perlu di infus." Ucap Maryam menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu kita sekarang bawa Aisyah ke rumah sakit." Balas Fadli yang menyetujui.


Ya_keadaan Aisyah membuat khawatir kedua kakaknya, yaitu Fadli dan Maryam. Sungguh terlihat begitu jelas dalam raut wajah Fadli dan Maryam, bahwa mereka memang menyayangi adiknya, Aisyah.


"Ya sudah, kamu ambil mobil Aisyah dulu Fadli." Pinta Maryam.


"Baiklah, kamu tunggu di sini." Ucap Fadli dengan tegas.


Dan setelah kami menaiki mobil yang kami bawa untuk ke rumah sakit, Fadli menyetir dengan kecepatan tinggi. Itu bukan berarti Fadli tidak peduli tentang keamanan, tetapi ini keadaan darurat. Keadaan di mana membuat Fadli dan Maryam harus saling bertatapan satu sama lain.


BERSAMBUNG...


Hai kembali lagi di novel HCA, semoga kalian teman-teman readers masih menyukai kelanjutan nya. Semoga kalian tetap setia ya dan jangan lupa kasih dukungan kalian untuk novel ini dengan like, komentar dan vote kalian.

__ADS_1


Ma'af juga kalau aku tidak bisa membalas komentar kalian secara satu persatu. Dan buat kalian teman-teman semuanya, bisa juga mempromosikan novel kalian. Terimakasih!


__ADS_2