HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 30


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿


Akhirnya, aku kini mempunyai keluarga baru lagi. Dan aku mendapatkan tawanya yang lepas, yang dulu pernah sirna.


"Pa, selamat ya atas pernikahan papa dengan bu Maria. Dan selamat ya, papa juga sudah menemukan putri kandung papa, yaitu kak Maryam." Ucapku kepada papa dengan senyum bahagia, meski ada sedikit luka yang sedang tersembunyi dibaliknya.


"Aisyah, kakak juga beruntung dan bahagia berjumpa dengan adik seperti kamu." Sambung kak Maryam memelukku.


"Iya sayang, kami akan tetap menjadi keluarga kamu sampai kapanpun. Termasuk saya, saya akan menjadi ibu sambung kalian." Ucap bu Maria mendekatiku dan kak Maryam.


"Apa boleh Aisyah menyebut bu Maria dengan sebutan mama?" Tanyaku meminta ijin.


"Tentu sayang. Mulai sekarang kalian bisa panggil bu Maria dengan sebutan Mama." Sambung papa dengan senyuman yang sempurna.


Alhamdulillah sekarang aku memiliki keluarga yang utuh. Keluarga yang benar-benar menyayangiku. Namun, terbesit dalam pikiranku tentang keluarga kandungku. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja? Apa mereka juga sedang memikirkan aku? Entahlah, aku tak mau memikirkan tentang itu terlebih dulu. Sekarang, aku mau fokus tentang kelulusanku di tahun ini.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


"Sayang, kamu dimana nak sekarang? Ibu kangen sama kamu nak. Apa kabar kamu?" Ucap bu Laila sambil meneteskan air mata yang membasahi foto gadis kecil, mungil nan cantik.


"Ibu, kenapa menangis? Ada apa bu?" Tanya Fadli yang melihat ibunya bersedih.


"Tak apa kok nak. Ibu cuma teringat dengan anak perempuan ibu, yaitu adik kamu." Jawab bu Laila menjelaskan.


"Sudahlah bu, kita do'a kan saja supaya adik baik-baik saja dimana pun dia berada. Dan semoga kita bisa dipertemukan dengannya kembali." Fadli yang berusaha menenangkan ibunya.


"Amin Ya Robbal Alamin sayang." Balas bu Laila.


🌹🌹🌹🌹


"Ya sudah, lebih baik papa dan mama sekarang beristirahat. Dan sedangkan kita berdua, akan kembali pulang ke rumah." Ucap kak Maryam yang memberi kode kepadaku.


"Iya tuh, benar banget. Lagi pula ka , Aisyah juga harus belajar dirumah." Ucapku memberi alasan.

__ADS_1


Aku dan kak Maryam begitu pro, atau bisa dibilang dengan kompromi. Karena, kita tida mau lah kalau mengganggu pengantin baru. Hahaha...ya_kali mau ngintip! Ups...belum waktunya Aisyah, ingat kamu itu harus fokus kuliah dan ngurusin skripsi.


"Ya sudah, sekarang Maryam dan Aisyah pamit pulang dulu ya Ma-Pa!" Ucap kak Maryam mengajakku berpamitan dan tak lupa kami pun juga mencium tangan ke dua orang tua kami.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati dijalan ya! Dan ingat Aisyah, kalau nyetir harus hati-hati jangan ngebut!" Pesan papa kepadaku yang tak akan pernah aku lupakan.


"Siap bos!" Balasku dengan singkat, namun tetap tersenyum.


Kami pun melangkah setapak demi setapak dan tak lupa juga kami mengucap salam kepada Mama dan Papa. Kami melambaikan tangan yang menandakan kami siap meluncur kembali menuju rumah.


"Dek, kakak boleh tanya sesuatu tidak?" Tanya kak Maryam kepadaku, namun pandangannya tak ku dapatkan. Karena, aku terlalu fokus dengan jalanan disekitar yang cukup ramai.


"Boleh kok kak, silahkan!" Jawabku yang masih fokus dengan jalanan sekitar. Bukan berarti aku tidak sopan loh ya, melainkan aku hanya ingin berhati-hati saja.


"Emm... Tapi kamu harus jawab jujur ya!" Tanya kak Maryam lagi sebelum mengungkapkan apa yang akan dikatakan.


"Insyaallah." Jawabku singkat dengan meliriknya sebentar dan kembali lagi fokus menyetir.


"Memangnya kakak mau bilang apa sih? Aisyah benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud kakak loh dari tadi." Ungkapku yang dibingungkan oleh kak Maryam.


"Emm... Dek, kakak mau jujur sesuatu sama kamu. Sebenarnya, kakak itu merasa suka dengan seseorang lelaki. Kakak merasa lelaki itu berbeda dengan yang lain. Entah kenapa, hati kakak merasa bergetar dan berdetak lebih kencang ketika kakak berada di dekatnya." Ungkap kak Maryam yang berusaha jujur dengan isi hatinya.


"Emm... Bagus dong, berarti itu tandanya kakak normal merasakan hal itu." Jawabku dengan ledekan kecil.


"Ihhhhh.... Aisyah, kamu tuh ya diajakin ngobrol serius malah bercanda." Ucap kak Maryam yang sedikit kesal mungkin. Tapi, dia tetap menyisihkan sedikit senyumnya dibibir.


"Hahahah...!" Balasku yang menertawakan ungkapan kak Maryam . Tapi, aku tidak serius kok. Aku hanya sedikit mencairkan suasana saja agar kak Maryam tidak terlalu gaguk dengan ungkapan hatinya.


"Ihhh malah ketawa lagi! Jahat banget sih adek kakak ini!" Lagi-lagi kak Maryam merasa aku tidak serius.


"Iya-iya, ma'afin Aisyah deh. Ok sekarang Aisyah akan berusaha serius." Ungkapku dengan senyuman lebar dan menatap wajah kak Maryam yang sedikit cemberut.


"Tau ah, kakak sebel sama Aisyah." Balasnya acuh.

__ADS_1


Hmm.... Dan pada akhirnya kak Maryam pun marah kepadaku atas kejahilanku. Hahaha, tapi sungguh aku tak bermaksud membuatnya marah. Selama perjalanan, kak Maryam tidak lagi banyak bicara.


"Kak, kok diam saja sih? Jangan marah lama-lama loh!" Ucapku yang mengawali pembicaraan lagi. Namun, tidak berhasil. Kak Maryam hanya terdiam, tidak mengucapkan satu kata patah pun.


Dan kembalilah aku dengan kefokusanku ke arah jalanan kota. Tersirat dakam pikiranku untuk membawa kak Maryam ke tempat favoritku dan mengajaknya mengobrol di sana.


"Dek, kita mau kemana? Bukankah ini bukan jalan menuju ke rumah ya?" Tanya kak Maryam pada akhirnya.


"Sudahlah, kakak tenang saja. Aisyah akan bawa kak Maryam ke tempat yang indah. Aisyah yakin, kak belum pernah datang ke sana." Jawabku santai dan tetap melajukan mobil secara pelan-pelan.


Akhirnya setelah beberapa jam menuju ke tempat ini, kita pun sampai di bukit. Masih terlihat sama. Begitu sejuk, indah dan luas.


"Ayo kak, ikuti aku ya!" Ajakku kepada kak Maryam dengan mengarahkan.


"Baiklah, pelan-pelan saja ya jalannya. " Ucap kak Maryam yang mengikutiku dari belakang.


Secara perlahan kami melangkahkan kaki kami untuk menuju ke atas bukit. Bagiku sih tidak terlalu jauh, tapi entahlah menurut kak Maryam bagaimana.


"Waw, Aisyah! Indah sekali pemandangan di sini." Ucap kak Maryam setelah sampai di atas bukit dan melihat pemandangan disekitar bukit.


"Nah, sekarang kakak bisa ngobrol dengan Aisyah di sini. Karena menurut Aisyah tempat ini adalah tempat yang indah dan bagus juga untuk mengungkapkan dan meluapkan semua unek-unek yang ada didalam hati kita." Ucapku menjelaskan dan mengajak kak Maryam untuk memulai pembicaraan serius yang tertunda tadi.


"Emm... Ngomong-ngomong lelaki yang kakak maksud tadi siapa sih?" Tanyaku untuk mengawali pembicaraan.


"Emm... Lelaki itu...! Dia adalah Fadli. Anaknya bu Laila itu loh Aisyah!" Jawab kak Maryam yang jujur dari dalam hatinya. Namun, dia sedikit terbata-bata dalam menyebut nama lelaki itu.


Aku begitu terkeju . Aku langsung tersedak minuman yang saat itu sedang aku teguk. Entahlah, kenapa aku bisa sampai terkejut dan tersedak hingga mebuatku batuk sedikit lama.


Bersambung...


Hai, kembali lagi ke episode selanjutnya. Semoga saja Aisyah tidak terjebak cinta segitiga ya..!


Jangan lupa kasih komentar kalian , like dan vote nya ya untuk mendukungku selalu...hehehe..! Terimakasih guys...

__ADS_1


__ADS_2