HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Selalu Beriktikad Baik


__ADS_3

Suasana di dalam mobil saat perjalanan terasa begitu hening. Karena di antara aku, Cahaya dan entah siapa nama gadis itu, tak saling bersua untuk memulai sebuah perbincangan setelah apa yang baru saja kami hadapi. Dan sejenak aku merasa tidak mempercayai diriku sendiri, jika aku sudah begitu berani mengambil resiko yang sangat besar. Berniat datang ke Edinburgh untuk liburan, justru hal yang tidak pernah terduga begitu saja terjadi.


"U-Umi, apa Umi baik-baik saja?"


Akhirnya kudengar suara Cahaya setelah kami sampai di depan Edinburgh Centeral Mosque dengan nada terbata-bata tengah mengkhawatirkan keadaanku. Dan aku harus bisa menjaga sikap agar Cahaya pun tidak terlalu khawatir. Bukan hanya Cahaya saja, melainkan Yulian dan Arjuna, jangan sampai mereka ikut khawatir setelah mendengar apa yang baru saja terjadi.


"Alhamdulillah, Umi baik-baik saja, Cahaya. Kamu jangan terlalu khawatir setelah melihat hal tadi!"


"Tapi terlihat sosok lelaki itu begitu berbahaya, Umi. Bagaimana jika ... sesuatu hal akan terjadi kepada Umi? Lebih baik, Umi urungkan niatan Umi itu." Cahaya memegang jemariku yang terasa dingin.


"Cahaya, Umi tidak mau jika Umi mengurungkan apa yang sudah menjadi keinginan Umi untuk melaporkannnya ke kantor polisi. Karena, jika Umi berhenti di sini justru akan lebih bahaya lagi bagi wanita lain. Jadi, Umi mohon sama kamu untuk tidak terlalu merasa khawatir." Aku pun menatap Cahaya dengan begitu lekat.


Akhirnya Cahaya mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaanku. Meskipun terlihat dari wajahnya bahwa Cahaya masih merasa khawatir dengan keadaanku. Dan untuk menghilangkan rasa khawatir yang masih singgah di dalam diri Cahaya serta lebih meyakinkannya, aku pun berkata, "Cahaya, Umi mohon lepas dan hilangkan rasa khawatir itu! Bukan Umi merasa tidak khawatir ataupun merasa tidak takut untuk menghadapi semua ini setelah Umi melaporkannya ke polisi, tetapi bagi Umi inilah yang terbaik untuk mencari sebuah keadilan. Di mana kedudukan wanita manapun lebih tinggi daripada kedudukan lelaki. Dan seorang wanita tidaklah pantas direndahkan seperti ... Dia."


Cahaya pun ikut menatap gadis bertudung itu yang masih duduk di kursi penumpang seraya menundukkan pandangannya. Entah Dia masih merasa takut, kesakitan atau bahkan lebih dari itu. Yang membuat hati Cahaya tersentuh, hingga pada akhirnya Cahaya pun mendukungku untuk melawan ke-tidakadilan adilan dalam Islam. Setelah aku dan Cahaya merasa cukup tenang, kami pun memutuskan untuk menemui Yulian dan Arjuna yang masih beriktikaf di dalam Masjid kecuali, gadis bertudung yang belum sempat aku tanyakan namanya.


"Ingat Cahaya, Umi ingin membicarakan masalah ini saat kita tiba di hotel nanti. Jadi, jangan katakan sepatah kata apapun kepada Abi ataupun Arjuna!"


"Baik, Umi." Cahaya mengangguk pelan mengiyakan.


Tepat kami memasuki Masjid itu, suara adzan maghrib pun telah terdengar begitu merdu. Mengetuk hatiku yang merasa goyah untuk segera melaksanakan shalat dan bertemu Allah dalam pengaduanku. Aku dan Yulian belum sempat bertemu, karena kami masih dalam bilik yang berbeda. Ketika aku hendak mengikuti jama'ah yang akan berlangsung, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran gadis bertudung itu di tengah keramaian orang yang hendak melakukan shalat.


"Apakah kamu ingin ikut berjama'ah?"

__ADS_1


"Apa boleh jika, aku hanya sekedar melihat saja? Karena aku tidak mengerti harus seperti apa dan bagaimana." Gadis itu menyapu semua orang yang berada di setiap sudut ruang Masjid ini.


Aku pun mengangguk pelan untuk mengiyakan. Lalu, aku memutuskan meninggalkan gadis itu dan mengikuti Imam untuk segera melaksanakan shalat maghrib bersama. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya, sekitar dua puluh menit sudah shalat yang kami lakukan bersama telah berakhir. Namun, aku tidak lagi melihat gadis itu di barisan belakang. Sehingga aku segera keluar dari Masjid untuk mencari tahu keberadaannya.


"Cahaya, ayo kita segera keluar!"


"Di mana Dia, Umi? Tidak mungkin kan, jika Dia pergi begitu saja?"


"Umi tidak tahu keberadaannya, Cahaya. Umi khawatir dengan keadaannya." Kutatap semua sudut jalan di seberang sana, tetapi nihil.


"Apa dengan menghilangnya Dia, kita bisa terbebas dari masalah tadi, Umi? Pasti tidak mungkin juga jika, kita tetap melanjutkan laporan itu tanpa adanya kehadiran Dia." Cahaya menatapku dengan penuh tanda tanya.


Aku sejenak terdiam dan mencerna setiap kata yang bermakna dari bibir Cahaya. Lalu, aku berpikir kembali tentang apa yang menjadi tujuan utama kami pergi ke Edinburgh. Hanya sekedar bersenang-senang semata, sebagai pasangan baru seperti Arjuna dengan Cahaya. Dan kebahagiaan mereka lebih penting dari apapun, mungkin terlalu egois jika aku tetap melanjutkan apa yang aku inginkan yaitu, membela keadilan demi seorang gadis yang belum aku kenal.


"Umi rasa tidak, Cahaya. Maafkan Umi, karena Umi kamu dan Arjuna belum mendapatkan kebahagiaan saat liburan di sini. Dan Umi berjanji, tidak ada yang lebih penting daripada apapun selain kebahagiaan kalain berdua, kedua anak-anak Umi." Ku usap lembut pipi yang terasa dingin.


Aku menggelengkan kepalaku pelan seraya berkata, "Jangan katakan apapun tentang apa yang sudah terjadi tadi!" Setelah itu aku melepas senyum agar Cahaya bisa melepaskan beban pikirnya saat mengingat hal yang tidak diinginkan.


Tidak lama kemudian Yulian dan Arjuna datang menghampiri kami. Setelah itu, mereka pun mengajak kami untuk segera kembali ke hotel, melepas sejenak rasa lelah di dalam jiwa. Aku dan Cahaya begitu berusaha untuk menutupi kepahitan dan rasa takut yang sejenak singgah di dalam diri kami. Sehingga tidak ada kecurigaan yang menonjol, untuk memancing pertanyaan yang akan memojokkan kami nanti.


"Arjuna-Cahaya, tolong dengarkan apa yang akan Abi katakan! Karena Abi tidak akan pernah mengulang untuk malam ini." Ujar Yulian yang tetap fokus dengan jalan raya di Edinburgh.


"Iya, Bi. Katakan saja! Arjuna akan mendengarkan dengan sebaik mungkin." Terlihat Arjuna tengah menatap Yulian dari kaca spion.

__ADS_1


"Hijrah cinta yang kalian putuskan bersama akan hadir hanya satu kali selama hidup kalian. Jadi, kalian harus saling menjaga satu sama lain! Dan kalian juga harus selalu memiliki iktikad baik dalam diri kalian masing-masing. Di mana kalian harus saling mengerti, bahkan kalian harus saling membahagiakan satu sama lain." Tutur Yulian seraya tetap fokus saat berada di jalan.


"Pasti Arjuna dan Cahaya akan menerapkan untuk selalu beriktikad baik, saling mengerti satu sama lain dan juga saling mencintai. Karena salam rumahtangga jika tidak cinta, maka rumahtangga itu akan hambar. Iya kan, Bi-Mi?"


"Tentu, sayang. Namun, cinta kepada pasangan tidak diwajibkan melebihi cinta kita kepada Allah. Karena Allah lah yang mampu mempertemukan kita dengan cinta kita di dunia dan dalam kitab Lauhul Mahfuz." Aku pun menjelaskan yang wajib maupun sunnah sesuai dengan Islam kepada anak-anak ku.


"Emm, dan satu hal lagi. Jangan lupa kalian memberikan Abi dan Umi kamu ini seorang cucu. Momen yang pas buat membuat itu, sangat cocok di sini. Bagaimana?"


"Abi." Seruku seraya mencubit perut Yulian.


"Aww, sakit loh sayang!"


"Salah sendiri becandanya seperti itu terhadap anak sendiri. Coba kalau ada Ahtar di sini, pasti Abi tidak bisa bertingkah yang aneh-aneh." Ucapku seraya menahan tawa.


"Memangnya ada apa dengan Ahtar, Mi?"


"Tidak sayang, Umi hanya becanda saja kok. Jagan terlalu dipikirkan!"


Canda tawa pun telah menghiasi perjalanan kami di sepanjang jalan. Dan itu membuatku sejenak merasa lebih baik setelah menghadapi tamparan keras serta hinaan yang begitu keji dari seorang lelaki Yahudi. Mungkin memang benar, jika seorang Yahudi tidak akan pernah mengenal indahnya Islam. Tapi setidaknya, mereka harus bisa memiliki hati nurani terhadap siapapun terutama seorang wanita. Entah kenapa aku sering melihat wanita selalu dilecehkan di sini? Bukan hanya itu saja, bahkan wanita itu sendiri tidak bisa menjaga martabatnya sebagai seorang wanita yang dimuliakan. Namun, kota Edinburgh masih ingin aku jelajahi karena aku mencintai kota ini.


"Semoga saja di mana pun Dia berada, Engkau tetap melindunginya Ya Allah." Terbesit dalam pikiranku tentang gadis bertudung itu.


Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai juga di hotel. Tidak menunggu waktu lama lagi kami pun bergegas ke kamar masing-masing untuk segera menghempaskan rasa lelah seharian ini. Namun, aku tidak ingin beristirahat dengan nyaman sebelum aku membersihkan tubuhku yang lengket karena keringat. Sehingga aku segera masuk ke kamar mandi setiba di dalam hotel.

__ADS_1


"Aww! Sakit sekali!"


Kulihat di kaca kamar mandi luka tamparan yang membuat pipiku melebam. Bahkan di ujung bibirku terlihat bekas darah di sana. Dan ketika itu aku kembali mengingat entah Dia masih gadis atau sudah berkeluarga, karena aku tidak tahu pasti. Rasa sedih pun singgah di hatiku ketika aku kehilangannya. Ingin sekali aku dipertemukan kembali dengannya. Tapi, entahlah?


__ADS_2