HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Bahagia di Hari Itu


__ADS_3

Aku dan Yulian salin memandang, begitupun dengan Arjuna dan Cahaya yang melakukan hal sama denganku. Kami semua nampak kebingungan, penasaran dan juga rasa tak sabar ketika papa Adhi mengatakan bahwa ada kejutan yang belum disampaikan oleh beliau. Mungkin aku akan ikut senang jika, papa Adhi memang menyukai Cahaya dengan tulus. Memberikan kejutan dalam pernikahan mereka yang tidak pernah dibayangkan. Begitupun dengan aku, merasa bahagia atas kepedulian beliau terhadapku yang berstatus hanya anak mantu dalam hidup beliau. Akan tetapi, rasa sayang itu bak kasih sayang orang tua terhadap anaknya sendiri. Sehingga aku merasa sosok ayah telah kembali.


"Kejutan ini ... untuk kalian berdua. Papa ingin kalian kembali mengenang masa pacaran dulu, meskipun Papa tahu saat ini kalian sudah bukanlah anak muda lagi. Tapi bagi Papa liburan itu perlu untuk kalian." Ucap papa Adhi sembari menyodorkan dua lembar kertas dihadapanku dan Yulian.


"Ini ... dua tiket untuk Yulian dan Aisyah, Pa?" tanya Yulian memastikan.


Papa Adhi pun mengangguk pelan untuk mengiyakan pertanyaan Yulian. Dan setelah papa Adhi mengiyakan, aku serta Yulian sejenak tercengang bahkan kami saling memandang satu sama lain, seakan tidak percaya bahwa kejutan besar telah hadir dalam hidup kami. Rasa ketidak percayaan pun sejenak hadir dalam diri, sehingga kembali bertanya untuk memastikannya.


"Pa, tapi buat apa? Kita kan, tidak baru menikah loh!" tanyaku.


"Memangnya ... hanya yang baru menikah saja, yang pantas mendapatkan kejutan liburan seperti ini, Aisyah? Bukan kah, kamu ingin pergi ke sana? Jadi, anggap saja hari itu adalah hari yang tepat untuk kamu bisa berangkat ke sana dan bersenang-senang juga di sana!"


"Tapi, biayanya pasti besar jika kami berempat pergi ke sana, Pa!"


Aku memang berkeingingan untuk pergi ke tempat yang menjadi idamanku. Akan tetapi, aku juga merasa tak enak hati jika, harus menghabiskan uang mertuaku hanya demi. egoku saja. Sehingga aku berpikir bahwa cukup Arjuna dan Cahaya saja yang harus pergi ke sana, tidak denganku ataupun Yulian. Namun, papa Adhi tetap bersi keras memberikan tiket itu kepadaku dan Yulian, yang membuatku tidak bisa menolak meskipun berbagai alasan telah aku lakukan.


"Pergilah! Aku sebagai seorang Ayah ingin memenuhi keinginan satu-satunya putriku_jadi, jangan pernah menolak permintaan Papa, Aisyah. Karena belum tentu di lain waktu Papa bisa memberikan kejutan seperti ini kepada kalian. Apalagi Papa sudah cukup tua, yang tidak tahu kapan kematian akan datang menjemput Papa." Ujar Papa Adhi seraya memberikan senyuman yang manis.


Aku ternyuh, rasanya setiap kata yang terlontar dari papa Adhi merasuk ke dalam jiwaku. Bahkan setelah mendengarnya air mata perlahan menetes dan membasahi pipiku. Rasa takut kehilangan orang yang aku sayang, kini tengah aku rasakan kembali. Sehingga aku pun mengiyakan apa yang menjadi keinginan papa Adhi, meskipun itu pun juga keinginan terbesarku yang belum sempat tergapai. Kini, akan tergapai karena papa Adhi lah yang mewujudkannya.


"Sstt! Papa tidak boleh berkata seperti itu, meskipun malaikat kematian bisa kapan saja menjemput kita, tetapi Allah lah yang akan memerintahkannya. Dan Aisyah berdoa semoga Papa diberi kesehatan dan umur yang panjang, agar bisa selalu menemani anak-anak nya, cucu-cucunya, dan siapa tahu Arjuna akan memberikan cicit untuk Papa, jadi Papa bisa menemani kita semua," ujarku.


"Benar itu, Pa. Yulian masih membutuhkan Papa dan kita semua juga masih membutuhkan Papa. Jadi, Papa tidak boleh berkata seperti itu!" sambung Yulian.


"Kakek adalah Kakek terbaik untuk Arjuna dan Ahtar. Jadi, jangan pernah meninggalkan kita berdua, Kek!" seru Arjuna menimpali.

__ADS_1


Seketika senyum merekah dan senyum termanis telah terlukis di bibir beliau. Yang membuatku tak ingin rasanya merubah senyum itu menjadi kesedihan. Sehingga aku melayangkan pelukan ke tubuh beliau bak putri kandungnya. Lalu, Yulian pun mengikutiku, begitupun dengan Arjuna yang melakukan hal sama. Dan kami, bagaikan keluarga yang tengah merasakan kebahagiaan serta tak ingin kehilangan satu sama lain. Ketika masih saling memberikan pelukan, tiba-tiba si bungsu ku telah datang dan menyapa kami dengan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.


"Wah, ada keluarga cemara! Saling pelukan, tapi ada apa ini, ya?" tanya Ahtar menyelidik.


"Dek, keluarga cemara ini lagi bahagia loh! Karena ... kita mau berlibur ke luar negeri, kecuali kamu." Ledek Arjuna seraya memandang ke arah lain.


"Wah! Tidak adil, nih! Tapi ... tidak apa-apa lah, kan pasti ada Kakek yang menemani Ahtar di rumah. Iya kan, Kek?"


Tak seperti biasanya, di mana Ahtar akan selalu berprotes ketika ketidak adilan dirasakannya. Namun, ini berbeda bahkan sangat berbeda dengan Ahtar yang kita semua kenal. Entah dia mulai berubah menjadi anak lelaki yang akan berada di tingkat dewasa. Atau ada maksud terselubung dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa jika ditinggal berlibur di luar negeri.


"Kamu yakin, Dek?" tanya Arjuna memastikan.


"Yakin dong, Bang. Ahtar juga ingin sekali seperti Kakek, Abi dan Abang. Memiliki pendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang sukses suatu hari kelak. Jadi, tidak apa-apa jika keluarga cemara ini akan berlibur. Kan, kalau Ahtar sudah lulus nanti akan lebih lama di luar negerinya!" jawab Ahtar menyeringai.


"Baiklah! Kalau itu adalah keinginan kamu, bahkan menjadi cita-cita kamu, maka Abi dan Umi akan mendukungnya. Tapi ingat, tidak boleh bermain-main saat ujian nanti! Dan jangan lupa untuk tetap meminta kepada Allah dari Maha Segalanya." Ujar Yulian seraya menghampiri putranya yang tengah berdiri dihadapan kita semua.


"Benar kan, Bi?" tanya Ahtar memastikan.


Yulian pun segera mengangguk untuk mengiyakan atas pertanyaan Ahtar. Dan Ahtar juga mengarahkan pandangannya ke arahku yang berada dibalik punggung Yulian, seolah tangah bertanya kepadaku untuk memastikan jawaban apa yang akan ku lontarkan. Dan setelah aku mengangguk pelan, seketika membuatnya benar-benar terlihat bahagia, bahkan dia melompat seraya menekuk lengannya, seolah sedang mendapatkan sebuah kemenangan. Dan itu sukses membuat kami semua tertawa renyah atas tingkah konyol Ahtar bak anak kecil yang kegirangan setelah mendapatkan sebuah mainan.


"Ya Allah, aku tak ingin kebahagiaanku di hari ini akan cepat berlalu. Kebersamaan ini lah yang selalu aku nantikan selama dua tahun silam. Dan aku berpikir ... aku benar-benar beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang tulus menyayangi dan mencintaiku seperti saat ini. Mungkinkah keberuntungan yang aku dapatkan juga dirasakan oleh orang lain? Atau hanya aku saja yang mendapatkan perlakuan istimewa dari mertuaku, suamiku dan ke dua putraku? Di mana mereka selalu menjadikanku ratu dalam hidup mereka. Yang selalu bisa membahagiakanku dalam keadaan apapun." Gumamku dalam hati ketika aku memandangi setiap wajah yang tak ingin hilang dari pandanganku begitu saja.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu belajar untuk mempersiapkan soal-soal ujian nasional!" pintaku dengan lembut.


"Ok, siap bos cantiknya aku!"

__ADS_1


Lagi dan lagi Ahtar melakukan hal konyol, di mana ia mengiyakan permintaanku seraya meletakkan tangannya di samping kepalanya, seolah sedang melakukan hormat saat melakukan upacara. Bukan hanya itu saja, kecupan pun telah dilayangkan nya di pipiku yang masih terbalut kain hitam pekat. Dan setelah mengecupku, dia langsung berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Sedangkan aku, aku masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku cemburu tahu!" bisik Yulian.


Seketika aku layangkan cubitan di perut Yulian setelah mendengar perkataan konyol yang dibisikkan olehnya saat berada di samping telingaku. Namun, aku menyimpan senyum bahagia dibalik cadar ku atas perilaku Ahtar dan juga Yulian. Bahkan aku dibuat gila dengan sebuah drama di hari ini. Drama yang awalnya kumulai bersama Yulian, berlanjut dengan papa Adhi, kecupan dan drama dari ke tiga lelakiku.


"Tapi aku akan menyuliknya!" bisik Arjuna dari sisi yang berbeda.


Saat ini aku merasa terhimpit ketika dua lelakiku berdiri di sisi samping yang berlawanan arah. Mereka pun saling memandang satu sama lain, seolah tengah bersaing untuk mendapatkanku. Bukan hanya drama antara ayah dan putranya saja, bahkan drama queen masih berlanjut, yang membuatku semakin merasa gila saat berada di tengah-tengah lelaki yang menyayangiku.


"Tapi ... aku yang akan mendapatkannya!" ujar papa Adhi.


"Astaghfirullah hal azim! Drama apa ini yang sedang terjadi di rumahku, Ya Allah?" gumamku lirih.


"Bukan drama, Aisyah. Ahtar memang memberikan kecupan untukmu, Yulian suamimu merasa cemburu, Arjuna putra sulungmu yang merasa tidak terima akan meculikmu, tapi ... Papa lah yang akan mendapatkan diri kamu dan hati kamu. Betul, kan!"


"Papa!"


"Kakek!"


Seketika aku pun tertawa geli melihat tingkah yang konyol antara kakek, ayah dan ke dua putranya. Namun, seketika aku menengahi perdebatan mereka yang seolah sedang merebutkan ku. Sehingga mereka pun ikut tertawa geli ketika aku sudah pergi dari hadapan mereka.


"Tunggu! Pertama, Arjuna ada Cahaya di samping kamu saat ini. Dan yang ke dua, dalam keluarga kita sudah ada dua ratu yang wajib dilayani loh! Iya kan, Cahaya?"


Cahaya hanya terdiam seraya menyimpan senyum malu-malu untuk mengiyakan atas apa yang aku katakan kepada ke tiga lelaki yang masih berada di posisi yang sama. Dan tanpa mempedulikan mereka lagi, aku pun pergi meninggalkan mereka bersama Cahaya dan tersenyum tipis dalam setiap langkah.

__ADS_1


__ADS_2