HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 81


__ADS_3

💖💖💖💖


Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Aku pun terbangun karena mendengar suara adzan subuh yang sudah berkumandang karena itu sangat terdengar dengan jelas dari rumahku.


Sebelum aku beranjak dari tempat tidurku, aku melihat penampakan yang sangat lucu. Dimana suami dan anakku saling berpelukan saat tidur. Mereka sangat menggemaskan. Aku begitu bahagia melihat keakraban mereka. Meskipun Juna tidak terlahir dari rahimku, tapi Yulian begitu menyayanginya.


Setelah sedikit merenung di atas sajadah hatiku sudah mulai terasa tenang dan aku pun bergegas untuk membangunkan Yulian agar dia terbangun dan segera melaksanakan sholat wajibnya yaitu, sholat subuh.


"Abi... Sayang...j 3ae. jaayzxtxbangun yuk sholat subuh dulu." Bisikku lirih di dekat telinganya.


"*Iya sayan*g, sebentar ya!" Jawabnya dengan suara yang masih serak sambil mengerdipkan kedua matanya dengan pelan.


Setelah Yulian sudah terbangun, aku menuju ke dapur untuk membantu ibu memasak. Karena, rasanya tidak mungkin kan kalau aku tidak membantu ibuku, sedangkan kak Maryam paling tidak suka dengan bau-bau masakan. Karena, jika dia mencium sesuatu seperti bau uapnya nasi, dia akan mual-mual bahkan pernah sampai muntah.


"Apa seperti itu kali ya kalau sedang hamil trimester pertama?" Tanyaku dalam batin.


"Aisyah.... Aisyah...!" Panggil bu Laila.


"Ah iya bu... Ma'af tadi ibu bilang apa ya?" Tanyaku kepada ibu. karena sedari tadi aku melamunkan sesuatu.


"Kamu kenapa melamun? Apa ada masalah?" Tanya ibuku kepadaku.


"Tidak sih bu. Cuma... Aisyah penasaran saja bagaimana sih rasanya orang hamil itu. Tadinya... Aisyah cuma lagi membayangkan kalau Aisyah sedang hamil, terus seperti kak Maryam begitu. Rasanya Aisyah tidak sanggup." Jawabku berusaha jujur kepada ibuku.


"Astagfirullah halazim... Jadi sedari tadi kamu memikirkan akan hal itu?" Ucap ibuku dengan tertawa terkekeh.


"Kok ibu malah tertawa sih dengan curhatan Aisyah." Gerutuku sambil memanyunkan bibirku kedepan namun, tidak terlihat karena tertutupi oleh cadarku.


"Ma'afin ibu sayang, ibu tidak bermaksud menertawakan kamu. Cuma lucu saja." Balas ibu Laila dengan senyumnya. Namun itu masih saja membuatku merasa sedikit kesal. Hingga akhirnya aku berhenti membantu ibu dan pergi ke kamar. Tapi, untungnya proses masak memasak untuk sarapan pagi ini sudah selesai.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Yulian yang melihatku sedang cemberut.


"Umi lagi sebel sama ibu abi." Jawabku dengan ketus.


"Kenapa sebel sama ibu sih? Tidak boleh loh kalau seperti itu. Ibu kan ibu kamu sayang. Memangnya ada apa sebenarnya?" Tanya Yulian sambil menatapku dan menggenggam telapak tanganku.

__ADS_1


Aku pun menceritakan semuanya kepada Yulian dan berharap ada pembelaaan darinya, tapi ternyata aku malah di tertawakan olehnya. Aku menjadi semakin sebal dengan suamiku itu.


"Ya sudah, ma'afin abi kalau begitu. Abi tidak bermaksud menertawakan umi sih sebenarnya, tapi bagaimana ya menjelaskannya. Begini saja kalau begitu, bagaimana kalau kita buat lagi. Siapa tahu saja umi bisa hamil dan merasakan bagaimana hamil itu."


Aku semakin begitu kesal dengan Yulian. Kenapa otaknya berubah menjadi otak mesum. Apa setiap suami seperti itu kali ya? Hohoho...! Tapi sebenarnya, aku juga penasaran sih bagaimana rasanya hamil itu.


"Jangan ngambek dong umiku sayang, abi minta ma'af kalau begitu. Ma'afin abi ya sayang!" Ucap Yulian dengan memohon.


"Emm... Baiklah, umi ma'afin abi." Balasku dengan senyum.


Entah bagaimana caranya Yulian mampu meluluhkan hatiku kembali. Sehingga hatiku pun lukuh dan pada akhirnya kami berbaikan kembali dan melakukan hal-hal kecil yang romantis.


******


Matahari sudah mulai meninggi dan kami kini bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan mas Joko. Untung saja Yulian sudah sembuh dari sakitnya, jadi dia bisa ikut menghadiri acara penting ini.


Setelah beberapa jam kemudian kami pun sampai di kediaman mbak Humaira. Aku jadi semakin penasaran dengan wajahnya. Pasti dia cantik, baik dan pastinya cocok dengan mas Joko yang begitu tampan dan gagah.


"Wahhh... Calon pangantin jangan grogi ya nanti waktu mengucapkan kalimat akad nikah." Ucap Yulian menggoda kakaknya.


Setelah beberapa menit kami datang, acara akad nikah pun akan segera diselanggarakan. Para tamu undangan dipersilahkan duduk dan menempati kursi masing-masing yang sudah dipersiapkan.


Begitu lantang dan tegas saat di ucapakannya kalimat dalam satu nafas. Aku pun jadi terharu dan membayangkan tentang acara akad nikahku.


Sayangnya, aku dalam keadaan koma. Namun, aku tetap bersyukur karena Allah SWT masih memberikanku hidup dan disandingkan dengan suami yang selalu sabar menemani dalam kekuranganku. Bahkan, bukan hanya itu . Dia adalah lelaki terhebatku, karena dia lelaki yang kuat dan tidak pernah mengeluh dalam menghadapiku yang terkadang merasa kesal atau marah dan cerewet kepadanya.


"Kenapa umi menangis?" Tanya Yulian yang duduk bersanding denganku.


"Umi cuma membayangkan betapa bahagianya umi saat abi mengatakan kalimat itu dengan lentang, tegas dan dalam satu nafas." Jawabku dengan menghela nafas panjang.


Setelah mendengar curahan hatiku, Yulian berusaha menenangkanku dalam pelukannya. Hingga aku tenggelam ke dalam pelukan yang begitu menghangatkan.


Acara pernikahan pun sudah berakhir. Para tamu undangan juga sudah kembali pulang ke rumah masing-masing, termasuk ayah Muchtar, ibu Laila, papa Brian, Mama Maria dan kedua pasangan yang sedang bahagia-bahaginya menanti kehadiran anak ke dua mereka. Sedangkan aku, Yulian dan Juna masih tinggal sebentar di rumah mempelai wanita bersama mama dan papa mertuaku untuk berpamitan secara khusus kepada mertua mas Joko.


"Ma'af pak... Bu... Saya sebagai Papa dari Joko menitipkan Joko kepada Bapak dan Ibu. Tegurlah dia jika dia belum mengerti." Ucap Papa mertuaku kepada ke dua orang tua mempelai wanita.

__ADS_1


"Iya Pak... Bu... Kami akan berusaha untuk yang terbaik buat Joko ketika tinggal di sini. Dan begitu sebaliknya, kami menitipkan putri kami kepada Joko dan keluarga Bapak dan Ibu apabila dia nanti tinggal di rumah Ibu dan Bapak." Balas bapak mempelai wanita.


Ketika papa dan mama mertuaku sedang mengobrol sebentar diruangan yang berbeda, aku dan Yulian juga sedang mengobrol dengan kedua pasangan pengantin baru itu.


"Kapan kalian akan pulang ke rumah papa?" Tanya Yulian kepada mas Joko.


"Insyaallah besok kita pulang ke rumah papa. " Jawab mas Joko.


Ya..kebetulan tidak ada acara resepsi apapun di dalam kedua belah pihak keluarga. Karena, mas Joko tidak mau menyelanggarakan pernikahannya secara umum dan mewah. Ya...cukup syukuran dengan datangnya keluarga besar saja.


"Ma'af permisi, kalian adiknya mas Joko?" Tanya pengantin wanita kepada kami.


"Iya, saya Yulian adik lelaki mas Joko dan ini istri saya Aisyah, yang kecil itu putra kami." Jawab Yulian menjelaskan.


"Yulian? Aisyah?" Tanya Humaira memastikan.


"Iya!" Jawab Yulian dengan singkat.


"Ma'af. Berarti kamu adalah Yulian Nugraha yang memiliki perusahaan di Cairo? Dan kamu adalah Aisyah Fadilah desainer terkenal yang bercadar itu?" Tanya Humaira dengan penasaran.


"Emm... Iya. Itu adalah kami." Jawab Yulian dengan senyum. Begitupun denganku, aku membalasnya dengan senyuman pula.


"Alhamdulillah Ya Allah, terimakasih Engkau telah mempertemukan aku dengan idolaku." Ucap Humaira bahagia.


Mas Joko yang melihat keanehan dengan sikap istrinya, dia pun langsung bertanya kepadanya.


"Kamu kenapa dek Humaira?" Tanya mas Joko penasaran.


"Tidak mas. Adek tidak menyangka saja bisa bertemu dan memiliki saudara ipar seperti mereka. Pasangan suami istri yang keduanya memiliki usaha yang membuat mereka begitu sukses. Dan adek juga pernah mendengar bahwa mereka berdua ini adalah pasangan sehidup semati. Karena, Yulian Nugraha dengan keyakinan dan rasa cintanya kepada Aisyah, dia menikahi Aisyah Fadilah yang sedang koma. Dan itu sangat mengharukan. Bahkan adek berdo'a kepada Allah SWT jika memang kehendak Tuhan berbeda yaitu mereka akan berpisah, adek berdo'a semoga mereka disatukan kembali di dalam surganya Allah." Jawabnya sambil megeluarkan air bening yang membasahi pipinya.


"Alhamdulillah kak Humaira Allah telah menyatukan kami di dunia. Dan semoga saja kami akan tetap di pertemukan di surganya Allah nanti." Jawabku dengan senyuman yang lebar di balik cadarku.


"Amin Ya Robbal Alamin!" Balas Yulian, kak Joko dan kak Humaira bersamaan.


Meskipun kami mengobrol dengan sebentar, kami langsung bisa akrab satu sama lain. Dan perbincangan kami diselingi dengan tawa yang renyah.

__ADS_1


__ADS_2