HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Aku dan Kamu


__ADS_3

Beberapa jam setelah acara berfoto berakhir, akhirnya kami memutuskan untuk segera meninggalkan Gedung Balai Raya Aceh Sepakat. Semua memasuki mobil masing-masing, di mana sepasang pasutri yang baru saja menjalani pernikahan duduk berdampingan dalam satu mobil, sedangkan aku satu mobil bersama Yulian dan juga Ahtar.


"Ehm,"


Ketika Yulian hendak memegang tanganku yang berada di pangkuan, tiba-tiba Ahtar berdehem yang membuat aku dan Yulian sontak terkejut. Sehingga Yulian pun tidak kembali meraih jemariku yang masih di posisi yang sama. Namun, hal itu tidak membuat Yulian merasa marah terhadap sikap Ahtar bak anak kecil, walaupun sebenarnya di dalam hati kecil Yulian merasa begitu kesal terhadap Ahtar. Dan hal itu lah yang membuat aku merasa bahagia telah memiliki seorang suami yang penyabar, penyayang dan selalu ada untuk kami, keluarganya.


"Abi-Umi, bagaimana kalau Ahtar memiliki seorang adik? Apalagi kalau adiknya itu perempuan, pasti sangat menyenangkan,"


Sontak ungkapan Ahtar membuatku tersedak dengan salivahku sendiri dan disaat yang bersamaan telah membuat Yulian mengajak pedal rem secara tiba-tiba, sehingga kepalaku pun terbentur. Ungkapan macam apa yang terlontar dari Ahtar, bahkan bagaimana bisa ia memiliki pemikiran seperti itu.


"Aisyah, maafkan aku! Kamu_tidak apa-apa, kan?" tanya Yulian memastikan.


"Astaghfirullah hal azim,"


"Uhuk, uhuk, uhuk!"


"Umi, Umi tidak apa-apa, kan?"


Pertanyaan dan perhatian dari mereka terus bertubi-tubi untuk memastikan diri ini tetap baik-baik saja. Dan begitupun denganku, aku mengangguk pelan untuk mengiyakan, meskipun aku masih tebatuk-batuk karena tersedak. Tidak lama kemudian Ahtar memberiku sebotol air mineral yang memang sudah ada di dalam mobil. Dan seketika aku meminum air yang sejenak membuat diri ini berhenti terbatuk.


"Abi, kalau nyetir itu hati-hati! Jangan main rem dadakan seperti itu!" tutur Ahtar.


"Ini semua itu karena ucapan kamu, Ahtar. Coba kalau kamu tidak melontarkan permintaan entah apa itu, pasti Abi juga tidak akan melakukan hal seperti tadi," ujar Yulian lembut.


"Sudah jangan berdebat! Lebih baik sekarang kita jalan lagi, karena takutnya Juna nanti menunggu kita yang belum juga sampai," sela ku di antara obrolan ringan Yulian dengan Ahtar.


"Baiklah!" seru Yulian.


Yulian kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan dengan kecepatan sedang. Sedangkan Ahtar, ia kembali terdiam dan menikmati suasana kota Medan yang begitu indah di sore itu. Dan tidak lama kemudian akhirnya kami pun sampai di kediaman tercinta. Gubuk yang menjadi tempat kami berteduh selama dua tahun lalu.

__ADS_1


Mobil BMW hitam mengkilap milik Yulian telah memasuki area depan rumah, lalu menuju ke tempat garasi untuk di parkir dengan rapi. Setelah itu, kami semua turun dari mobil dan menuju ke dalam rumah yang di dalam sana sudah dinanti oleh Arjuna dan Cahaya.


"Assalamu'alaikum,"


Aku, Yulian dan Ahtar pun mengucap salam ketika hendak memasuki rumah. Hal itu pun sudah biasa kita lakukan entah dimana pun berada. Dan itu juga selalu dilakukan oleh Ahtar serta Arjuna, karena aku dan Yulian selalu mengajarkan mana yang baik dan buruk, mana yang pantas, sopan dan santun kepada ke dua putra kami.


"Wa'alaikumsalam," balas Arjuna dan Cahaya bersamaan.


"Abi-Umi_Dek, kenapa kalian jaraknya jauh sama kami?" tanya Arjuna.


Sejenak aku dan Yulian terdiam, karena aku tengah berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan Arjuna atas kekonyolan Ahtar tadi. Dan mungkin hal yang sama juga tengah dipikirkan oleh Yulian. Tetapi, tidak dengan Ahtar, karena Dia begitu lancar ketika menjawab pertanyaan Arjuna, Abangnya.


"Itu tuh ... tadi nih Bang, Abi sama Umi sedang begitu...." Jawab Ahtar seraya membentuk jari seperti tanda kutip.


Sontak aku dan Yulian memanggil nama Ahtar secara bersamaan. Bukan hanya itu saja, aku dan Yulian juga menatap Ahtar dengan tajam, tapi bukan berarti aku dan Yulian akan marah kepadanya. Namun, hal itu pun tak mampu diterima oleh Ahtar, karena lagi-lagi ia mengatakan hal diluar pikiranku. Yang membuat Arjuna saling bertatap muka dengan Cahaya.


"Apa maksud kamu, Dek?" tahya Arjuna yang tidak mengerti.


Ahtar pun berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya yang memang berada di lantai dua. Sedangkan aku, Yulian, Arjuna dan Cahaya masih berada di ruang tamu. Karena masih begitu polos, Arjuna pun kembali bertanya tentang hal yang dikatakan Ahtar kepadaku dan Yulian. Pertanyaan itu pun membuat aku dan Yulian kebingungan untuk menjelaskan. Karena pada dasarnya Arjuna sudah menjadi lelaki dewasa, bahkan sudah menjadi seorang suami dari gadis cantik jelita.


"Apa sih Mi-Bi?"


"E-e-e," jawabku tergagap.


"Jangan dibuat pusing dengan apa yang sudah dikatakan adik kamu itu! Lebih baik sekarang, kamu ajak Cahaya ke kamar untuk istirahat sejenak, setelah itu kalian bersihkan badan kalian yang sudah terbasahi dengan air keringat yang bercucuran di badan kalian." Sela Yulian yang memberi penuturan kepada Arjuna sembari melihat Cahaya yang terlihat lesu.


"Oh iya, Bi. Baiklah kalau begitu kami masuk ke kamar dulu!"


Yulian mengangguk pelan mengiyakan. Setelah itu Arjuna mendorong Cahaya yang duduk di atas kursi roda untuk menuju ke kamar mereka. Dan kebetulan kamar Arjuna ada di lantai bawah, jadi mempermudah Cahaya untuk menuju ke sana. Sedangkan Aku dan Yulian masih berada di posisi seperti tadi, berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Ehm,"


Yulian tiba-tiba berdehem lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiriku. Bukan hanya sekedar datang dan menghampiri, bahkan ia melingkarkan ke dua tangannya di pinggang ku. Dan itu membuatku terkejut, apalagi ketika tatapan mata elangnya menatapku tajam. Yang seolah ia sedang menginginkan sesuatu dari mangsanya, yaitu aku.


"Bagaimana sekarang? Hanya ada aku dan kamu di sini, kamu tidak akan tersedak lagi, kan?"


"Apa maksud kamu, Mas?"


"Emm ... aku sayang kamu, aku cinta kamu dan kamu hanya milikku,"


Tutur kata itu penuh makna yang berarti untukku. Bahkan membuatku tersanjung akan kata-kata yang tidak pernah lelah diucapkan Yulian untukku. Bahkan kata-kata itu membuatku menyimpan pipi kemerahan dibalik cadar hitamku. Malu? Iya, aku benar malu bak seorang gadis yang tengah merasakan kasmaran saat seorang lelaki menyatakan rasa kasih sayangnya. Dan ketika Yulian hendak mendaratkan ciumannya ke bibirku yang masih tertutupi oleh cadar, tiba-tiba saja Ahtar kembali berdehem. Yang membuat aku dan Yulian kembali merasa terkejut. Sehingga lagi-lagi hal yang diinginkan Yulian pun terurungkan, karena ada Ahtar yang selalu menggoda kami.


"Bi_Mi, jangan lupa yang tadi yah!" ujar Ahtar terkekeh.


Aku dan Yulian pun saling bertatap lalu memutar ke dua bola mata kami untuk memikirkan yang dikatakan Ahtar. Tidak mungkin kan, jika Ahtar kembali meminta seorang adik? Akh, sudahlah! Yulian pun mengangkat ke dua bahunya sembari tersenyum tipis. Dan setelah itu ia kembali melakukan hal yang sama, melingkarkan tangannya di pinggangku setelah ia menyapu setiap sudut ruangan untuk memastikan tidak ada orang lain lagi yang akan menggagalkan keinginannya itu.


"Ceklek!" pintu dibuka pelan.


Lagi dan lagi, Yulian mengurungkan aksinya untuk beradu bibir denganku. Karena tiba-tiba pintu kamar Arjuna dibuka dengan pelan. Dan tidak lama kemudian keluarlah Arjuna dari balik pintu. Untuk menyambutnya aku dan Yulian tersenyum tipis, seolah tidak sedang terjadi sesuatu hal di antara kami.


"Loh, Abi dan Umi kok masih disini?"


"E ... tadi masih ada yang Abi dan Umi bicarakan, jadi belum sempat ke kamar," jelasku berbohong.


Yulian hanya mengangguk pelan mengiyakan pernyataan ku. Begitupun dengan Arjuna, yang mengangguk pelan seolah mengerti apa yang aku maksud. Namun, entah apa yang di dalam pikirnya. Entah sama dengan Antar, atau benar-benar tidak mengerti apa yang tangah terjadi.


"Oh, ya sudah kalau begitu Juna mau mengambil handuk dulu,"


"Iya, sayang!"

__ADS_1


Arjuna pun meninggalkan aku dan Yulian. Tetapi, Yulian tidak lagi melakukan aksinya yang ingin segera terpenuhi. Karena ia takut hal itu gagal dan tertunda untuk yang kesekian, sampai akhirnya Arjuna kembali melintas di hadapan kami untuk menuju kembali ke dalam kamarnya. Dan setelah terdengar pintu kamar Arjuna ditutup rapat, tiba-tiba Yulian menggendong ku tanpa meminta ijin terlebih dahulu, sehingga aku dibuat terkejut akan hal itu. Namun, aku juga menyukainya, seolah masa yang kurindukan telah terobati. Yulian pun membawaku masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah terhiasi dengan begitu indah.


__ADS_2