
Pagi ini tak secerah pagi biasanya, karena pagi ini hujan deras telah mengguyur area kota dan area perumahan elit yang aku tempati saat ini. Begitu menyejukkan dan ber bau khas aroma tanah yang dibasahi hujan.
"Alhamdulillah, sudah lama juga tidak melihat hujan!" Ungkapku dengan senyum tipis sambil menatap hujan yang begitu deras.
"Iya Aisyah, kamu benar. Sudah lama juga tidak melihat hujan dan bermain dengan hujan!" Sambung kak Maryam yang mengejutkanku.
"Ehh... kak Maryam, aku kirain siapa. Emm... Maksud kakak tadi apa tentang bermain hujan? Memangnya kak Maryam pernah bermain hujan?" Tanyaku yang memang belum mengerti.
"Masak iya kamu tidak mengerti Aisyah? Emm... Maksud kakak tadi ya begini...!" Jawab kak Maryam sambil menarikku kedalam derasnya hujan.
Aku dan kak Maryam begitu bahagia dan merasa begitu menyenangkan. Aku mampu melepas semua masalah yang aku hadapi saat ini. Rasa lelah, rasa rindu dan rasa khawatir, kini telah hilang dalam sejenak. Aku mampu melepas tawa dengan begitu mudahnya.
"Maryam, Aisyah, jangan seperti anak kecil! Ayo cepat masuk rumah, nanti kalian sakit loh karena hujan!" Teriak bu Maria kepada kami yang masih asik bermain hujan.
Hujan sudah mulai reda. Kami pun bergegas untuk masuk ke dalam rumah. Baju yang kami kenakan yang awalnya kering, kini menjadi basah karena hujan. Namun, kami menyukai itu.
"Kalian ini ya, seperti anak kecil saja. Ya sudah, cepat ganti pakaian kalian dan kita sarapan bersama." Ucap papa yang menatap kami.
"Siap bos!" Ucap kami bersamaan dengan tawa yang terkekeh.
Kami pun beranjak menuju ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian. Tak butuh waktu lama untukku mandi dan berganti pakain, karena sehabis bermain hujan membuat perutku berbunyi dan mungkin saja cacing-cacing yang ada di dalam perutku sudah meronta-ronta untuk meminta jatah. Hohoho...!
"Wah...kayaknya lezat banget nih!" Ucapku yang menatap sarapan pagi ini.
"Aisyah, mana kakak kamu?" Tanya papa kepadaku yang belum melihat batang hidung kak Maryam sesudah bermain hujan bersamaku tadi.
"Kak Maryam??" Ucapku yang menjawab dengan mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.
"Coba kamu lihat dan cepat ajak dia turun untuk sarapan bersama." Papa yang menyuruhku untuk mencari keberadaan kak Maryam dan menemuinya serta mengajaknya untuk segera bergabung di meja makan.
💝💝💝💝
"Begitu tampan wajahnya. Terlihat begitu ramah dan baik. Mungkin aku merasa jatuh cinta kepadanya. Ahh... Maryam, apa sih kamu itu. Ingat, dia bukan mukhrim kamu ." Ucap Maryam dalam batin.
"Emm...hayo...ngapain senyum-senyum sendirian?" Tanyaku kepada kak Maryam yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
Entahlah, ada apa dengannya. Mungkin kak Maryam sedang melamunkan sesuatu.
"Aisyah, kamu itu ya!" Jawabnya dengan pipi yang memerah.
"Ihhh...tuh kenapa kak?" Tanyaku kepada kak Maryam dengan menyentuh kedua pipinya.
"Apa sih dek? memang ada apa dengan wajah kakak?" Jawab kak Maryam yang menatap wajahnya di depan cermin.
"Iihhh... Masak kak Maryam begitu saja tidak tahu sih, jelas banget loh kalau pipi kakak memerah. Jangan-jangan kakak sedang jatuh cinta ya? Atau sedang memikirkan cowok yang ditaksir." Ungkapku yang menggodanya.
"Tidak lah, kamu salah lihat kali. Lagian kan kakak sudah pakai cadar, mana mungkin Aisyah bisa lihat kalau pipi kakak merah?" Ucapnya yang menyembunyikan sesuatu.
"Emm...menurut Aisyah sih tidak apa-apa juga kak kita itu jatuh cinta. Tapi kita harus tetap bisa menjaga lisan, hati dan pandangan kita. Kita bisa melakukannya, melakukan cinta dalam diam." Ucapku serasa puitis atau menurut kalian aku adalah orang yang sok tahu. Hahaha!
"Emm... Iya Aisyah, kamu memang benar. Kakak sedang jatuh cinta. Tapi kakak akan menjaga hawa nafsu kakak yang ingin memilikinya." Ucap kak Maryam dengan senyum melebar dibalik cadarnya.
Setelah berbincang cukup lama, kami pun turun untuk memenuhi rutinitas kami setiap pagi yaitu sarapan. Karena tubuh kami perlu amunisi.
Seperti biasa, kami sarapan tanpa ada suara yang terdengar. Tak butuh waktu yang lama untuk kami semua sarapan pagi, karena islam mengajarkan kepada kita makanlah dengan secukupnya, jangan berlebih ataupun kurang.
"Assalamu'alaikum Aisyah, kamu ada dimana?" Pesan dari Aida setelah ku buka slide layar ponselku.
"Wa'alaikumsalam Aida, ini aku lagi ada di rumah dan mau jalan ke kampus. Ada apa Aida?" Tanyaku kepadanya dengan penasaran, karena jarang sekali Aida memberi pesan kepadaku setelah menikah.
"Tidak apa-apa kok, kemaren aku dapat kabar saja kalau kamu kecelakaan. Tapi ma'af, jika aku belum bisa menjenguk kamu." Jawabnya menjelaskan.
"Aku sudah tidak apa-apa kok, ini aku juga sudah mau ke kampus lagi." Balasku dengan sedikit senyum.
Ya kalian bisa membayangkan sendiri senyuman Aisyah dibalik cadarnya. Hihihi...! Pasti begitu cantik dan menawan.
"Ya sudah Aisyah, kita ketemu di tempat biasanya saja ya!" Ucap Aida kemudian.
"Baiklah Aida, sampai ketemu nanti!" Balasku lagi.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
"Maryam, sekarang ibu mau pamit dulu. Ma'af kan ibu jika tidak bisa menemanimu setiap waktu." Ucap bu Maria berpamitan yang ku dengar samar.
Ku lihat dari balik tembok, di mana di sana terlihat sosok wajah manis yang penuh kelembutan sedang menahan air mata.
Nampak jelas dalam raut wajah kak Maryam yang tak ingin berpisah dengan bu Maria. Aku pun juga tak mungkin menghalangi dan berada ditengah-tengah mereka.
"Kak, mungkin sulit untukmu. Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untukmu." Ungkapku dalam hati.
Terdengar jelas suara langkah kaki seseorang yang menuju ke arahku. Dan ternyata itu adalah papa.
"Aisyah, Papa mau bicara serius dengan kamu sebentar saja." Ucap Papa menatapku.
"Baiklah Pa, silahkan!" Ucapku tanpa ekspresi.
"Tapi tidak disini. Papa mau bicara dengan Aisyah di kamar Aisyah." Pinta papa.
"Memangnya Papa mau bicara apa?" Tanyaku merasa heran.
"Ayo kita bicarakan saja di kamar Aisyah!" Lagi-lagi pinta Papa membuatku penasaran.
Tangan kananku ditarik secara perlahan. Aku pun juga mengikuti langkah kaki Papa di belakangnya, tanpa ada rasa penolakan apapun. Karena, Aisyah yang sekarang ingin belajar menjadi seorang wanita yang lebih baik lagi. Yang memiliki hati penuh dengan kesabaran, keikhlasan dan ketulusan.
"Papa ingin bertanya satu hal dengan kamu." Ucap Papa dengan penuh keseriusan.
"Ada apa Pa? Hal penting apa yang ingin Papa bicarakan dengan Aisyah?" Tanyaku dengan datar, tapi tanpa ada rasa marah.
"Apa menurut kamu tentang bu Maria?" Tanya papa secara tiba-tiba.
"Maksud Papa apa?" Tanyaku yang belum mengerti.
"Insyallah Papa ingin meminang bu Maria. Itu pun kalau anak-anak Papa merestui, terutama kamu Aisyah." Jawab papa dengan lantang dan tegas serta mengutarakan keinginan di dalam hatinya.
Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna dalam setiap perkataan yang di ucapkan oleh papa.
Bersambung...!
__ADS_1
Alhamdulillah sudah sampai episode 23. Semoga kalian teman-teman readers menyukainya. Ma'af kalau nggak nyambung 🙏 Aku berharap, kalian tetap mendukungku dengan memberi komentar, like dan vote nya ya! Aku mohon please!