
Assalamu'alaikum guys, ma'af baru up lagi nih! Soalnya, aku masih ada kepentingan pribadi...hohoho..! Dan kali ini aku mau up episode yang tak kalah menarik dati episode sebelum-sebelumnya. Semoga kalian tetap setia menikmati alunan cerita novel "HCA"...
ππππ
Aku begitu terkejut. Aku langsung tersedak minuman yang saat itu sedang aku teguk. Entahlah, kenapa aku bisa sampai terkejut dan tersedak hingga mebuatku batuk sedikit lama.
"Kenapa kamu dek?" Tanya kak Maryam kepadaku sedikit panik karena melihatku tersedak tadi.
"Tidak apa-apa kok kak. Ini tadi tidak sengaja saja pas mau minum eh, malah tersedak. Hehe..!" Jawabku sedikit berbohong... Hahaha!
"Kirain kenapa. Makanya, kalau minum itu hati-hati jangan pecicilan." Kak Maryam sedikit meledek.
Aku pun terkekeh mendengar ucapan kak Maryam. Seketika suasana yang ku rasa sedikit tegang dan mengejutkan, kini telah meleleh dengan sebuah candaan.
"Alhamdulillah, setidaknya aku bisa menunda percakapan tadi." Ucapku dalam hati yang merasa miris.
"Kak, sepertinya matahari sudah mulai tenggelam deh! Lebih baik kita pulang saja yuk!" Ajakku kepada kak Maryam untuk segera kembali pulang, karena kurasa hari yang sudah mulai gelap.
"Baiklah, nanti jangan lupa ya lanjutin percakapan kita tadi." Ucap kak Maryam yang masih menginginkan untuk melanjutkan curahan hatinya.
"Ya... Tinggal Aisyah nanti sibuk apa tidak kak. Kan kakak tahu sendiri kalau Aisyah harus mengerjakan tugas skripsi kak. Ma'af ya kak!" Jawabku dengan sedikit beralasan lagi.
"Emm... Iya ya dek, semoga kamu sukses ya skripsi nya. Kalau kamu masih bingung, nanti kamu bisa tanya sama kakak." Balas kak Maryam dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Malahan dia mendukung dengan alasan yang aku berikan.
"Baiklah kak!" Ucapku dengan singkat, namun tetap memberikan senyuman dan rasa semangat.
Setelah beberapa menit kita mengobrol, kita pun memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan menuju ke rumah. Dan setelah aku dan kak Maryam memasuki mobil berwarna merah keluaran terbaru tahun ini, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Alahamdulillah, akhirnya sampai juga dirumah. Uhh, capek banget nih badan. Mana laper lagi." Gerutuku dengan lirih, namun alhasil terdengar juga oleh kak Maryam.
"Aisyah, suara perut kamu!" Ucap kak Maryam sambil menggelangkan kepalanya setelah mendengar suara perutku yang keroncongan.
Aku hanya bisa menunjukkan gigiku dibalik cadarku untuk mengekspresikan rasa maluku. Tapi, untung saja kak Maryam tidak terlalu melihatnya.
Setelah sedikit candaan di parkiran mobil tadi, kami melangkahkan kaki kami untuk menuju ke dalam rumah dan pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan badan terlebih dahulu.
"Kalau kak Maryam bertanya lagi tentang Fadli bagaimana? Aku harus jawab apa? Ya Allah, jangan sampai Fadli beneran suka sama aku. Kalau itu terjadi, aku takut akan ada hati yang terluka. Aku tidak mau kalau sampai melihat kak Maryam bersedih." Ungkapku dalam hati saat berada di dalam kamar mandi.
Kali ini, aku membersihkan diri di kamar mandi cukup memakan waktu kurang lebih 30 menit. Karena, aku merasa otak ku sedang terbebani dengan pertanyaan dan ungkapan yang tak seharusnya terjadi. Begitu sulit situasi ini, namun jujur di dalam hatiku aku tak ingin melukai siapapun diantara mereka.
"Aisyah, cepat turun! Makan malamnya sudah siap loh ini!" Teriak kak Maryam yang mengetuk kamar ku dari luar.
__ADS_1
"Iya kak, sebentar!" Jawabku yang mendengar teriakan kaka Maryam dengan samar.
Setelah berendam cukup lama, akhirnya aku keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju yang sudah aku siapkan sebelum aku memasuki kamar mandi tadi, yaitu baju gamis berwarna abu-abu lengkap beserta dengan jilbab dan cadarnya yang berwarna senada pula. Karena, kita sebagai perempuan yang ber-hijrah selain memakai pakaian yang tertutup, kita harus memakai pakaian yang tidak mencolok agar tidak menjadi sifat tabaruj. Sifat yang tidak baik dalam diri kita, yaitu menonjolkan penampilan.
"Aisyah, ayo cepat turun!" Teriak kak Maryam lagi yang terdengar samar.
"Iya kak, aku turun kok!" Jawabku dengan santai.
Bergegaslah aku menuju ruang makan dan bersiap untuk menyerbu makan malam hari ini.
"Lama sekali sih kamunya! Kita menunggu kehadiran kamu sudah hampir 1 jam loh !" Ungkap kak Maryam yang sudah duduk bersama bik Murni.
"Ya ma'af lah kak, Aisyah rebahan sebentar tadi. Soalnya Aisyah merasa capek sekali." Ucapku berbohong.
"Ya sudah, mending kamu sekarang makan dan setelah itu kamu istirahat saja. Nah, mulai besok pagi kamu kerjain tuh tugas skripsi kamu ." Ucap kak Maryam menyarankan."
"Mungkin lebih baik seperti itu kali ya kak! Siapa tahu kan besok lebih fresh, jadi bisa bersemangat juga untuk mengerjakan tugas yang panjang banget." Balasku menyetujui.
"Ma'afkanlah adik mu kak Maryam!" Ucapku dalam batin.
Kami begitu menikmati makanan yang sudah dihidangkan di meja makan malam ini. Begitu nikmat, walaupun hanya sederhana.
"Ya sudah gih, kamu istirahat sana!" Ucap kak Maryam memberi saran.
"Ya sudah, terserah kamu sajalah." Balas kak Maryam dengan singkat.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang Aisyah siap membantu untuk membereskan semua." Ucapku dengan semangat dan percaya diri. Hahaha!
π¦π¦π¦π¦
"Assalamu'alaikum Fadli. Oh iya, kalau kamu besok tidak kemana-mana aku mau ketemu sama kamu di taman dekat kampus. Karena, ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucapku mengirim pesan kepada Fadli sebelum ku sempatkan untuk merebahkan tubuh yang lelah ini di atas kasur empuk.
"Wa'alaikumsalam Aisyah. Baiklah, silahkan saja." Balasnya setelah beberapa menit kemudian.
Seperti biasa, bagaimana aku dan Fadli saling berdiam-diaman. Aku pun acuh dan tak membalas kembali pesan dari Fadli. Hingga tubuh yang lelah ini tanpa sadar sudah tertidur pulas.
πΏπΏπΏπΏ
Pagi yang cerah telah memberiku semangat untuk memulai kegiatanku. Dan tak lupa aku selalu berdo'a di setiap paginya sebelum beraktifitas panjang.
"Bismillahirrohmanirrokhim. Allahuma inni as-aluka, ngilman, nafingan, warisqon, toyiban wa'amalan, mudtakobalan." Do'aku sebelum berangkat untuk bertemu Fadli di tempat yang sudah kita janjikan.
__ADS_1
******
"Assalamu'alaikum kak, Aisyah berangkat dulu ya!" Ucapku memberi salam kepada kak Maryam dengan terburu-buru, namun tidak lah lupa untuk mencium tangan kak Maryam dan bik Murni sebagai perwakilan kedua orang tuaku.
"Aisyah, kamu mau kemana? Katanya mau ngerjain skripsi?" Tanya kak Maryam yang menghentikan langkahku.
"Aisyah mau mengerjakam skripsinya bersama Aida saja kak, soalnya semalam kita sudah saling berjanji untuk bertemu. Ya sudah ya kak, Aisyah pergi dulu." Jawabku yang lagi-lagi memberi alasan kepeda kak Maryam.
"Ma'afkanlah aku kak yang lagi-lagi membohongimu." Ucapku dalam batin sambil melajukan mobilku dengan kecepatan sedang.
Sebenarnya, tak ada niatan untuk membohongi kak Maryam. Tapi, aku mau meluruskan hal yang penting. Di mana itu menyangkutkan dirinya. Dan sebenarnya hari ini aku juga tidak mau membawa mobil, namun apalah dayaku. Aku harus segera sampai ke taman dan segera meluruskan hal ini sebelum terlambat terlalu jauh.
"Dimana sih Fadli?" Tanyaku dalam hati dengan menggerakkan bola mataku untuk mencari keberadaannya, setelah aku sampai ke tempat lokasi dan memarkiran mobilku di tempat parkir.
"Assalamu'alaikum Aisyah!" Suara seorang lelaki dari arah belakang.
"Wa'alaikumsalam." Jawabku yang membalas salam dan menoleh ke arah belakang.
"Ada apa kamu ingin menemuiku?" Tanya nya kepadaku.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan ke kamu. Dan kamu harus menjawab dengan jujur pertanyaanku nanti. Walau sebenarnya aku tahu, kita tidak diperbolehkan bertemu hanya berdua. Karena yang akan menjadi pihak ke tiga diantara kita itu adalah syaiton. Tapi, aku memang harus tahu jawaban jujur darimu." Jawabku menjelaskan dengan panjang lebar.
Ya, itu adalah Fadli. Fadli menyapaku terlebih dahulu setelah aku kebingungan mencari keberadaanya. Kami pun terpaksa berbicara dengan empat mata, yang artinya hanya 2 orang saja.
"Katakanlah Aisyah!" Ucapnya dengan singkat dan itu membuatku begitu gugup untuk bertanya.
"Baiklah. Pertama, bagaimana perasaan dihati kamu tentang aku?" Tanyaku dengan penuh keberanian.
Fadli terlihat terkejut saat mendengar pertanyaan yang sudah aku lontarkan dengan penuh keberanian. Namun, sesaat kemudian Fadli menjawab pertanyaanku.
"Jujur, aku merasakan ada yang aneh di dalam hatiku tentang kamu. Namun aku tak tahu apa namanya itu, karena sulit untuk aku jelaskan." Jawabnya yang mebuatku bingung.
"Maksud kamu? Kamu menyukaiku?" Tanyaku dengan penasaran dan tanpa ada rasa malu.
"Aku sendiri juga tidak tahu pasti apa namanya. Namun ketika aku melihatmu bersedih, hatiku juga ikut bersedih. Ingin rasanya aku terus berada disampingmu dan melindungimu. Maka dari itu, aku ingin dekat denganmu." Jawabnya yang menjelaskan, namun aku masih bingung dibuatnya.
BERSAMBUNG...
MA'AFKAN AKU GUYS, CUKUP DI SINI DULU YA EPISODE 31. BESOK AKU UP LAGI YANG TAK KALAH KEREN DENGAN EPISODE SEBELUMNYA.
NAMUN, MA'AF KALAU MENURUT KALIAN CERITANYA HAMBAR DAN TIDAK NYAMBUNG. AKUNYA BERHARAP SEMOGA KALIAN TETAP MENDUKUNGKU DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN YA! TERIMALASIH.
__ADS_1
PERASAAN SAYANG DAN CINTA ITU BEDA TIPIS.
KARENA, PERASAAN SAYANG BISA KITA UNGKAPKAN UNTUK SIAPA SAJA. SEDANGKAN CINTA, KITA HANYA BISA MENGUNGKAPKAN DENGAN SESEORANG YANG ADA DI DALAM HATI KITA, SELAIN KEPADA-NYA SANG PENCIPTA.