HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Berprasangka Baik


__ADS_3

Ketika aku masih berada di ujung ruangan dan hendak berjalan menuju ke ruang makan, tatapan itu tertuju ke arahku dan Cahaya. Seolah enggan untuk sekedar berkedip, bahkan bibir pun melukiskan senyum yang merekah yang menyambut kehadiranku bersama menantuku itu. Begitu pula dengan tatapan yang lain, tertuju hanya ke pusat dua wanita cantik bak bidadari.


"Cahaya, kamu duduk di sebelah Arjuna, ya!" ucapku lembut.


"Akhirnya, Umi bisa membujuk Cahaya juga!" ujar Arjuna.


"Mas, malu!" bisik Cahaya.


Ketika aku melihat dan mendengar apa yang sedang dibisikkan oleh Cahaya kepada Arjuna, aku pun berinisiatif untuk menghilangkan rasa canggung saat di ruang makan dengan canda tawa sejenak sebelum acara sarapan pagi berlangsung. Sehingga terciptalah suasana pagi yang diselingi dengan canda dan tawa di antara kami semua. Bahkan papa Adhi pun ikut nimbrung di antara percakapan kami.


"Jelaskan dong, kalau Umi bisa membujuk Cahaya. Karena hal seperti itu sering Umi lakukan untuk membujuk Abi kalian yang terkadang suka ngambek tidak jelas." Candaku seraya menatap Yulian.


"Memangnya kapan Abi ngambek sama Umi? Akh, ngada nih Umi!" sela Yulian.


"Pernah loh, Bi. Masak Abi tidak ingat sih!" timbrungku kembali.


Hingga perdebatan kecil di ruang makan pun sejenak terjadi. Bahkan perdebatan itu mengundang masa lalu jauh sebelum dunia baruku tercipta sampai saat ini. Yang membuatku merasa malu dihadapan ke dua putraku dan juga Cahaya, menantuku. Akan tetapi, untung saja mereka tidak mempertanyakan yang lebih dari kisahku bersama Yulian di masa lalu yang sempat terpisah karena salah paham dan ke-egoisan masing-masing.


"Kenapa harus dimulai lagi sih? Sudah cukup untuk di masa lalu perdebatan kecil di antara kalian. Ingat, ada anak-anak di sini!" ujar papa Adhi.


"Pa ... kenapa harus diungkap juga sih yang dulu!" ucap Yulian sedikit kesal.


"Iya nih, Papa. Kan jadi malu, Aisyah nya sama mereka,"


"Bukannya kalian berdua yang memulainya. Dulu perdebatan seperti ini sering terjadi di kala kalian masih pacaran. Sekarang, haruskah ditunjukkan lagi di saat kalian sudah hampir memiliki cucu. Apa kalian tidak malu?"


"Ok, Yulian minta maaf akan hal ini." Ucap Yulian yang seakan terdengar tidak tulus.

__ADS_1


"Aisyah juga minta maaf,"


Tak ada suara dari kedua putraku ketika perdebatan masih berlangsung. Akan tetapi, setelah aku dan Yulian saling mengucapkan kata maaf, tiba-tiba Ahtar melontarkan kata bak ejekan untukku dan Yulian. Dan kata-kata itu pun begitu mengena bagiku. Namun, tidak lama kemudian suasana di antara kami kembali normal. Sehingga kami mampu melanjutkan acara kami, yaitu sarapan bersama.


"Bang, ini yang kita lihat Abi dan Umi kita, kan? Kenapa mereka seperti anak-anak begitu? Dan itu membuatku merasa geli!" ungkap Ahtar.


"Hust, tidak boleh seperti itu Dek! Sudahlah, lebih baik kita sarapan bersama. Kasihan Kakek Adhi pasti sudah lapar." Tutur Arjuna seraya menatapku dengan Yulian secara bergantian.


"Benar kata Abang kamu, Ahtar. Lagipula itu dulu, jauh sebelum Abi dan Umi memiliki ikatan yang sakral. Dan untuk saat ini ... hanyalah sebuah akting, karena Umi dan Abi merindukan masa di mana rasa itu tumbuh semakin besar. Ya ... walaupun dulu di antara Abi dan Umi sering berdebat seperti ini, tapi Abi dan Umi tidak ingin kehilangan satu sama lain. Hingga Abi melamar Umi dan kita menikah." Ungkap ku sembari merasakan hangatnya genggaman tangan Yulian.


Setelah mendengar akan hal itu, seolah Ahtar dan Arjuna terkejut. Bahkan mereka dibuat melongo, terbelalak dengan lebar ketika Yulian dan aku saling bertatapan satu sama lain. Jauh berbeda dari yang tadi, saling berdebat yang seolah ingin menang sendiri. Dan itu membuat Cahaya mengungkapkan rasa kagumnya atas hubungan yang terjalin antara aku dengan Yulian.


"Aku beruntung, menjadi bagian dari keluarga ini! Aku menginginkannya, seperti Umi yang menjadi istri sholehah untuk Abi. Mas, apakah kamu mengijinkan aku untuk berhijab?" tanya Cahaya penuh harapan.


Hatiku ternyuh ketika sebuah keinginan tersentak dari dalam hati. Dan itu kembali mengungkit kenangan yang sempat terjadi dalam hidupku. Rasa ingin tetapi, aku tak tahu arah kemana aku harus melangkah untuk memulai. Namun, jalan itu begitu cepat aku temukan. Karena berkat kak Maria lah, aku mampu mengubah hidupku yang kelam menjadi meneduhkan.


"Umi, apakah Umi mau jika membantu Cahaya untuk belajar berhijab?" tanya Cahaya ragu.


"Dengan senang hati Umi akan membantu kamu, Cahaya." Jawabku seraya melukiskan senyuman yang merekah dari balik cadar yang aku kenakan.


Setelah rasa haru itu terjadi, kami pun melanjutkan sarapan pagi untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah keroncongan karena merasa lapar. Bahkan hidangan di atas meja makan begitu menggiyurkan, seolah rasa kelezatannya terasa di hati ketika hanya melihatnya saja. Bukan hanya itu saja, semua masakan yang dihidangkan tak lagi tersisa di sana. Sehingga tidak ada kata mubadzir yang membuang-buang makanan sisa. Namun, aku dan Yulian juga tidak lupa untuk menyisihkan beberapa di antara yang lain, yang akan diberikan kepada bik Inem untuk sarapan paginya.


Setelah usai sarapan bersama dan merasa perut yang kenyang, mereka pun beranjak untuk melakukan aktivitas yang mereka inginkan. Seperti Yulian yang pergi ke ruang kerjanya, Ahtar kembali ke kamarnya dan Arjuna dengan Cahaya entahlah dimana. Sedangkan aku, aku harus kembali menjalani tugasku sebagai ibu rumah tangga, yaitu membereskan beberapa sisa piring yang kotor karena dipakai tadi. Dan aku melakukan itu semua tidak sendirian, ada dua orang yang aku cinta telah membantuku.


"Aisyah, setelah ini Papa mau bicara sama kamu." Ujar papa Adhi sembari mencuci piring.


"Boleh kok, Pa. Apa perlu sama Mas Yulian juga?"

__ADS_1


"Tidak. Papa rasa cukup dengan kamu saja. Karena ini menyangkut dengan ... Cahaya,"


Aku menggangguk pelan untuk mengiyakan, meskipun di dalam hati kecilku merasa penasaran. Entah apa yang akan dibicarakan papa Adhi mengenai Cahaya. Mungkinkah jika papa Adhi tidak menyukai cahaya setelah melihat bagaimana fisik Cahaya. Tidak bisa berjalan karena dulu pernah mengalami insiden besar. Akh, entahlah apa yang akan dibicarakan papa Adhi denganku.


"Aisyah, kamu harus bisa memiliki prasangka yang baik terhadap papa Adhi. Semoga saja Papa tidak akan mengatakan bahwa beliau tidak menyukai Cahaya. Aisyah, kamu harus husnudzon dan tidak boleh suudzon." Gumamku dalam hati yang merasa khawatir.


Setelah papa Adhi membantuku membersihkan ruang makan, beliau kembali menghampiriku. Lalu, pada akhirnya beliau pun memintaku untuk memanggil Yulian dan ikut dengan kami yang akan berbicara secara tertutup. Begitupun denganku yang hanya mengiyakan saja, lalu aku pun dengan segera pergi ke ruang kerja Yulian untuk memanggilnya.


"Tok, tok, tok! Mas Yulian!" panggilku dari balik pintu.


"Masuk, sayang!"


Tidak lama kemudian setelah aku memanggil namanya, terdengar sahutan dari dalam ruangan kerja Yulian. Lalu, aku pun membuka pelan pintu yang tadinya tertutup rapat, dan aku pun menghamipri Yulian untuk menyampaikan apa. yang diminta oleh papa Adhi.


"Ada apa, Aisyah?"


"Emm ... begini Mas, Papa memintaku untuk mengajak kamu di ruang samping. Kata beliau ada yang mau disampaikan sama kita,"


"Bicara? Tentang apa?"


"Ini ... tentang Cahaya. Kata beliau seperti itu, tapi aku tidak tahu pasti apa itu." Jelasku kepada Yulian seraya megangkat ke dua bahuku.


"Apa mungkin ... Papa tidak menyukai Cahaya?" tanya Yulian memastikan.


Aku menggelengkan kepalaku pelan yang menandakan bahwa aku tidak tahu pasti hal apa yang akan disampaikan oleh papa Adhi kepadaku dengan Yulian. Tetapi, aku meminta Yulian untuk berprasangka yang baik terhadap papa. Meskipun hati kami berdua merasa getar-getir dalam ketakutan, jika semua nanti akan sesuai dengan apa yang ada di dalam pikir kami.


"Tidak usah menerka-nerka sesuatu yang belum jelas, Mas. Lebih baik kita segera temui saja Papa yang mungkin sudah ada di sana sedang menunggu kita." Ajak ku kepada Yulian seraya menggenggam telapak tangannya.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Yulian, sehingga ia pun segera beranjak dari kursi di mana ia tengah duduk dengan nyaman. Lalu, aku dan Yulian pun melangkah bersama untuk menjumpai papa Adhi di halaman samping. Dan sesampai di sana kami melihat wajah yang tengah serius dengan tatapan yang tajam.


__ADS_2