HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Galeri Seni


__ADS_3

Mentari pagi telah menyapaku melalui sela-sela jendela saat aku membuka tirai korden yang panjang sebagai penghias di dalam setiap kamar hotel. Dan kini kota Edinburgh dibuat menguning oleh cahaya matahari yang mulai meninggi. Sehingga mampu menghangatkan kota Edinburgh di pagi hari.


"Mas, bagaimana dengan hari ini? Apakah sudah siap menemani istri tercintamu ini untuk ke galeri seni?"


Aku pun menyapa Yulian setelah kami usai beriktikaf pagi. Dan kutatap wajahnya seraya mengerdipkan manja ke dua mataku. Sehingga membuatnya melukiskan senyuman yang merekah di pagi ini. Yang selalu sukses membuatku terpesona akan ketampanannya. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai di mana titik akhir yang akan memisahkan kita berdua.


"Aku akan selalu siap menemanimu, ratu ku!"


"Tapi, bagaimana dengan Arjuna dan Cahaya? Apakah mereka akan ikut dengan kita, Mas?"


"Tentu. Tadi aku sudah menghubungi Arjuna untuk menanyakan hal ini, lalu Dia menjawab ok. So, kita akan pergi bersama-sama." Yulian memperlihatkan ponselnya kepadaku.


Aku mengangguk pelan setelah mengerti penjelasan Yulian. Dan aku berharap kami semua mampu menikmati indahnya liburan di kota Edinburgh, tepatnya di The Scottish National Gallery. Tempat terakhir yang akan kami kunjungi bersama pada hari ini sebelum kami kembali ke Indonesia. Setelah mendengar bahwa Arjuna dan Cahaya akan ikut ke galeri seni seketika aku pun bersiap-siap.


"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang, Mas?"


"Tunggu dulu, sayang! Aku selesaikan pekerjaanku sebentar saja, setelah itu kita sarapan bersama di restoran hotel ini. Bagaimana, apa kamu keberatan?"


"Tidaklah, Mas. Aku akan setia menunggumu!"


"Terima kasih ya, sayang." Pagi ini Yulian memberikan kecupan di keningku.


Setelah itu Yulian kembali merajuk di depan layar laptopnya. Sedangkan aku, aku duduk di bibir kasur dan setia menunggu Yulian saat menyelesaikan pekerjaannya. Dan ketika aku menikmati ketampanan wajah Yulian, tiba-tiba terdengar ketukan pelan pintu kamar ini dari luar. Entahlah, siapa orang itu?


"Biar aku saja Mas yang membuka pintunya! Mas Yulian bisa menyelesaikan pekerjaan Mas." Aku pun beranjak dari posisi ternyamanku.


"Baiklah! Terima kasih ya, sayang." Pandangan itu mulai kembali menatap laptopnya.

__ADS_1


Perlahan kubuka pintu kamar ini untuk memastikan siapa yang sedang berada di luar sana. Apakah itu Arjuna dengan Cahaya atau bukan mereka? Dan ketika aku membuka pintu itu, ternyata di luar sana ada seorang resepsionis yang ingin bertemu denganku. Aku juga tidak tahu pasti kenapa resepsionis itu mencariku? Dan untuk memastikannya aku pun melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Maaf, ada apa ya Anda mencari saya?"


"Ini Bu, ada titipan dari seseorang untuk Anda." Resepsionis itu menyodorkan selembar kertas yang terlipat rapi.


"Oh iya, terima kasih." Aku pun menerima surat itu.


"Ya sudah Bu Aisyah, kalau begitu saya permisi dulu!"


"Iya, Mbak. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada Anda." Aku melempar senyum kepada resepsionis itu sebelum Dia pergi.


Aku kembali dibuat penasaran dengan sebuah surat dan juga isi di dalam surat tersebut. Karena aku ingin sekali membaca coretan tinta di dalamnya, aku pun membuka pelan setiap lipatan yang begitu rapi. Setelah itu aku membacanya dengan hati-hati dan teliti. Di mana surat itu berisi tentang orang yang menulisnya.


"Assalamu'alaikum, wanita sholihah. Sebelumnya aku mengucapkan banyak rasa terima kasih karena, kamu sudah menyelamatkan aku dan juga bayi yang ada di dalam kandunganku waktu itu dari lelaki yang begitu keji. Dan berkat kamu waktu itu, aku memberanikan diri untuk melaporkan Jack ke kantor polisi. Walaupun aku sendiri tahu bahwa Jack tak lain adalah ayahku sendiri. Tetapi, aku juga ingin merasakan kebebasan dari setiap pukulan yang dilakukannya kepadaku. Dan hari ini, aku kembali ke Indonesia untuk menemui ibuku. Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih atas semuanya.


Seketika aku terbelalak dengan lebarnya, aku terkejut dengan apa yang baru saja aku baca, terutama saat aku membaca namanya yaitu, Khadijah. Lalu aku pun berpikir, mungkinkah putri bu Ratih adalah wanita bertudung itu? Jika benar, maka amanahku telah berakhir saat Khadijah memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Akan tetapi, hatiku merasa tidak nyaman atas kepergian wanita bertudung itu. Akh, entahlah!


"Aisyah, kamu baik-baik saja?"


"E ... iya, Mas. Aku baik-baik saja, kok." Kuberikan senyum tipis kepada Yulian.


Tidak lama kemudian pekerjaan Yulian pun telah usai. Dan kini ia mengajakku untuk ke kamar Arjuna agar kita segera melakukan aktivitas pagi yaitu, sarapan bersama dan mengisi perut yang membutuhkan amunisi. Aku pun mengiyakan ajakan Yulian dan kini kami melangkah bersama dengan langkah yang gontai saat menuju ke kamar Arjuna.


"Tok, tok, tok!"


Aku mengetuk pintu kamar Arjuna dengan pelan. Dan tidak lama kemudian pintu pun dibuka dari dalam, lalu keluarlah Arjuna dan Cahaya yang sudah berpakaian dengan sangat rapi. Sehingga kami segera bergegas menuju ke restoran yang ada di hotel ini tanpa menunggu waktu lagi. Karena aku sendiri juga sudah merasakan lapar yang seakan tidak mampu aku tahan lagi.

__ADS_1


Setelah sampai di restoran kami memesan makanan yang sudah menjadi menu khas di sana, dan tidak lupa untukku memesan secangkir teh hangat untuk memberikan rasa semangat dalam menjalani segala aktivitas. Sedangkan Yulian dan Arjuna, mereka selalu memesan kopi hangat lalu, Cahaya memesan minuman yang sama denganku.


Lima belas menit sudah cukup untuk kami menyantap sarapan pagi dan meminum minuman yang kami pesan. Namun, kami tidak langsung bergegas menuju ke tempat parkir, di mana mobil yang biasa kami kendarai telah terparkir di sana. Karena kita harus berhenti sejenak di restoran agar makanan yang baru saja dikonsumsi bisa di proses dengan lancar dalam pencernaan.


"Bagaimana, sudah siap semuanya?"


"Siap!" jawabku, Arjuna dan Cahaya secara bersamaan.


Kami pun memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk yang sejenak membuat kami merasakan nyaman saat berada di sana. Lalu, kami menuju ke tempat parkir dan menaiki mobil yang biasa kami gunakan sebagai kendaraan pribadi kami. Dan tidak lama kemudian mesin mobil pun dinyalakan lalu, mobil telah dilajukan dengan kecepatan sedang.


"Assalamu'alaikum, Arumi. Aku ingin membicarakan sesuatu hal penting denganmu tentang Khadijah. Jika kita bisa bertemu, tolong temui aku di galeri seni. Karena aku tidak bisa pergi ke tempat lain tanpa seijin Mas Yulian." Aku mengirim pesan singkat kepada Arumi.


"Ok, Aisyah. Aku akan ke sana bersama seseorang. So, tunggu aku di sana nanti." Beberapa detik kemudian Arumi membalas pesanku.


"Baiklah, Arumi! Aku akan menunggumu di sana,"


Janji temu pun sudah aku tentukan dengan Arumi. Dan sebentar lagi rombongan kami akan sampai di The Scottish National Gallery. Galeri Nasional yang menakjubkan, berisi tentang beragam koleksi seni dan memiliki berbagai karya para seniman terkemuka seperti Rembrandy, Monet, Vermer and Raphael. Yang membuatku begitu tertarik untuk segera melihat hasil karya seni dari seniman terkemuka.


"Mas, boleh tidak jika nanti aku membeli beberapa karya seni di sana?"


"Tentu. Asalkan itu membuatmu tertarik, kamu boleh membelinya. Begitupun dengan kalian, jangan sungkan-sungkan jika kalian menyukainya." Senyum itu terlukis dengan indah dari bibir sang pemilik sayapku.


"Iya, Bi." Ujar Arjuna, lalu ia mendorong kursi roda milik Cahaya.


Sedangkan aku, aku berjalan hanya berdua dengan Yulian. Menikmati segala hasil karya seni yang akan di pamerkan beberapa hari lagi. Terlihat begitu indah bahkan terasa nyata ketika aku menatap lukisan yang menggambarkan tentang istana raja dengan ratunya. Namun, di sana terlihat samar seorang wanita yang menjadi selir sang raja. Yang membuat kisah antara raja dan ratu telah kandas.


"Aisyah,"

__ADS_1


Terdengar suara Arumi telah memanggil namaku. Lalu, aku bergegas untuk segera menghamipirinya dan membicarakan tentang Khadijah serta surat yang dikirimkan olehnya untukku. Akan tetapi, seseorang yang bersama Arumi telah mengejutkanku atas kehadirannya. Dia bertudung, bahkan menutupi setiap aurat yang memang harus dijaga. Dan aku tidak tahu pasti siapa wanita itu? Tidak mungkin jika, itu kerabat Arumi, karena begitu berbanding terbalik dengan cara Arumi berpakaian, yang selalu memakai rok mini dan s-tirt, sehingga terlihat begitu seksi bak tubuh gitar.


__ADS_2