HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 77


__ADS_3

πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Ueeekkk.... Ueeekkkk!"


"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?" Tanya Joko.


"Sebentar mas, aku ke toilet dulu." Ucap Yulian.


Entah ada apa dengan Yulian. Kenapa dia mual-mual seperti mau muntah. Apa dia sedang tidak sehat lagi?


"Yulian?" Panggil Joko tap,, tidak ada sahutan dari dalam toilet.


"Kalau kamu kurang sehat, lebih baik kamu istirahat saja. Apa perlu mas antar ke rumah sakit?" Tanya Joko khawatir.


"Aku tidak apa-apa kok mas. Jangan khawatir, mungkin cuma masuk angin biasa." Jawab Yulian setelah membuka pintu.


"Kamu yakin? Tapi wajah kamu terlihat pucat lagi. Kamu jangan memaksakan diri kamu untuk membantu masalah kantor. Biar mas dan papa saja yang mengatasi masalah ini." Tutur Joko.


"Tidak mas, aku tidak apa-apa kok. Setelah urusan kantor selesai, aku langsung jemput Aisyah di rumah ayah." Ucap Yulian bertahan.


"Baik lah, ayo kita selesaikan masalah itu dengan segera." Ajak Joko.


Setelah Yulian merasa yakin dan berhasil meyakinkan Joko, mereka pergi ke ruangan pak Nugraha untuk mencari tahu pusat masalah kantor mereka.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam beberapa orang bersamaan.


"Wa'alaikumsalam! Eh ada kalian semua!" Balas Aisyah sembari memberikan senyum.


"Iya dong, kita sengaja menjemput putri kita!" Jawab pak Brian.


"Iya, betul itu. Kita itu harus kompak sebagai orang tua kamu. Jadi, kita sengaja barengan untuk menjemput kamu." Sambung pak Muchtar.


"Baik lah! Terimakasih buat ayah, ibu, papa dan mama." Balas Aisyah bahagia.


Ya... Ke empat orang tua Aisyah saling kompak dalam menjemput putri mereka. Mereka merasa bahagia dan sangat bersyukur dengan kesembuhan Aisyah, putri mereka.


🌿🌿🌿🌿


"Ayah, sepertinya bunda tidak kerja saja. Bunda kurang enak badan nih!" Ucap Maryam meminta ijin.


"Terserah bunda kalau begitu. Jaga kesehatan bunda, karena itu lebih penting." Balas Fadli sambil mengecup kening istrinya.


"Ayah tidak kerja hari ini?" Tanya Maryam.


"Tidak bun, ayah hari ini libur. Kenapa memangnya?" Jawab Fadli.


"Ke rumah ayah yuk! Bunda dengar hari ini Aisyah sudah boleh pulang. Dan dia pulang ke rumah ayah, karena Yulian ada urusan di kantornya." Ajak Maryam.


"Terserah bunda saja. Ayah mah...ikut bunda saja." Balas Fadli.


"Ya sudah, kalau begitu berangkat sekarang saja." Ucap Maryam bersemangat.


Waduh, kenapa Maryam begitu bersemangat ya saat mau pergi ke rumah mertuanya? Apa karena adiknya sudah pulang? Tapi, setiap hari kan sudah bertemu di rumah sakit. Ada yang aneh nih!


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


"Akhirnya sampai juga. Aisyah rindu sekali dengan suasana di rumah ini." Ucapku setelah turun dari mobil yang aku kendarai.


Aku, putri dari pemilik rumah ini telah kembali. Dan kini, aku melangkahkan kakiku dengan penuh rasa semangat dalam diriku untuk menuju rumah yang menjadi tempat teduhku di masa lalu. Sedangkan ke empat orang tuaku, mereka masih memgobrol di luar halaman rumah ini. Mereka nampak bahagia sekali saat melihatku kembali memasuki rumah yang menyejukkan ini.


"Lihat lah ayah, putri kita yang periang sudah kembali di rumah kita." Ucap bu Laila sambil berbisik.


"Iya bu, kamu benar. Ayah bahagia sekali melihat semua ini kembali." Balas pak Muchtar.

__ADS_1


"Oh iya, mari masuk pak, bu...!" Ajak pak Muchtar kemudian.


"Oh iya, baiklah. Ayo kita masuk bersama." Balas pak Brian.


Setelah obrolan panjang yang mereka bahas selama diluar halaman rumah pak Muchtar, kini mereka selaku ke empat orang tua Aisyah mengikuti putrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum!" Seseorang mengucap salam dari luar.


"Wa'alaikumsalam!" Balas bu Laila.


"Kalian!" Ucap bu Laila saat membuka pintu rumahnya.


"Nenek...!" Panggil Karina.


Ya... Ternyata itu adalah Fadli, Maryam dan Karina, putri mereka. Wah... Suasana jadi tambah ramai nan seru dengan kedatangan mereka, apalagi kehadiran si kecil yang super cerewet.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Bagimana ini bisa terjadi Pa?" Tanya Joko penasaran.


"Papa sendiri juga tidak habis pikir, kenapa ini bisa terjadi. Tapi, Papa yakin masalah ini bisa diatasi dengan segera." Jawab pak Nugraha.


"Coba Yulian lihat." Sahut Yulian.


Mereka bertiga sedang di landa keseriusan. Apalagi Yulian, dia berusaha untuk tetap fokus di saat badannya lagi kurang sehat. Yulian berusaha menyembunyikan rasa sakit di tubuhnya agar pak Nugraha dan Joko tidak mengkhawatirkan keadaannya.


Setelah beberapa jam sudah berlalu. Hari pun sudah berganti malam. Dan alhamdulillah, masalah kantor pun dapat di selesaikan hari itu juga. Ini semua berkat Yulian yang dengan cepat mengatasi masalah itu. Ya... Iyalah Yulian bisa, kan Yulian pernah bekerja di luar negeri. Jadi ya, Yulian bisa di bilang ahlinya tentang perusahaan. Hohoho?


"Pa, mas, sepertinya Yulian harus segera kembali pulang ke rumah ayah Muchtar untukenjemput Aisyah. Kasihan kalau Aisyah harus menunggu lama Yulian." Tutur Yulian.


"Apa perlu mas antar?" Tanya Joko khawatir.


"Tidak usah mas. Aku bisa sendiri kok! Nanti kalau Juna bertanya, bilang saja kalau aku sedang menjemput uminya." Jawab Yulian.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan." Sambung pak Nugraha.


"Wa'alaikumsalam!" Balas pak Nugraha dan Joko bersamaan.


Berhubung hari sudah mulai malam, Yulian memutuskan untuk segera menemui istrinya kembali. Syukurlah Yulian bisa mengatasi masalah kantor dengan mudah dan cepat, jadi dia bisa segera menemui Aisyah pujaan hatinya.


🌹🌹🌹🌹


"Aisyah, kamu kenapa? Makannya tidak enak?" Tanya bu Laila.


"Emm... Tidak kok bu, cuma Aisyah lagi memikirkan Yulian saja." Jawab Aisyah.


"Sudahlah Aisyah, jangan seperti itu. Yakin saja kalau Yulian bisa mengatasi masalah kantornya. Mungkin, sebentar lagi juga akan datang. Percayalah sama Papa!" Tutur pak Brian.


Aku merasakan ke khawatiran yang mendalam kepada Yulian. Entah kenapa dan ada apa dengan diriku, sehingga secemas ini memikirkannya yang tidak sedang bersamaku. Aku terus menunggunya sambil duduk di sofa dan sesekali aku mengintip ke luar melalui jendela.


Aku mulai merasa mengantuk, karena malam kian semakin melarut. Tapi, Yulianku sayang tak kunjung datang. Ku coba kembali menghubunginya melalui ponsel seluler yang ku pegang.


"Halo, assalamu'alaikum abi!" Ucapku memberi salam.


"Wa'alaikumsalam umi. Loh, umi kok belum tidur sih?" Tanya Yulian kepadaku.


"Umi sengaja nungguin abi pulang, soalnya umi kepikiran terus sih sama abi. Abi lagi dimana sekarang?" Ungkapku kemudian.


"Kalau umi sudah mengantuk umi tidur duluan saja tidak apa-apa kok, lagian ini juga sudah malam. Abi bentar lagi pulang, ini masih benerin ban mobil yang bocor." Ucap Yulian menjelaskan.


"Astaghfirullah halazim.... Ternyata ban mobil abi bocor? Kok bisa?" Aku pun berbalik bertanya.


"Iya umi, tadi tidak sengaja ban mobil abi menginjak paku di jalan. Ya sudah, umi istirahat saja dulu, jangan tidur malam-malam. Umi harus nurut dengan apa yang abi perintahkan, jangan membantah ok!" Jawab Yulian penuh dengan perhatian.


"Iya abi, umi akan menuruti semua perintah abi. Abi cepat pulang ya! Ya sudah kalau begitu, assalamu'alaikum abi!" Ucapku lalu menutup telfonnya.

__ADS_1


Ya... Mungkin karena ban mobil Yulian yang tidak sengaja menginjak sebuah paku membuat Yulian pulang terlambat. Tapi, rasanya hatiku tidak memercai itu. Tetap saja aku merasakan khawatir kepadanya.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Akh.... Kenapa kepalaku semakin sakit? Sebenarnya apa yang sedang ku alami Ya Allah? Penyakit apa yang berada di dalam kepalaku? Tolong Ya Allah, angkatlah penyakit itu dari dalam kepalaku. Aku masih ingin bersamanya, wanita yang selalu aku cintai meski cinta itu tidak sebesar cintaku kepada-Mu Ya Allah. Ma'afkan aku Aisyah, aku sudah berbohong kepadamu." Ucap Yulian sambil merintih kesakitan.


Entah apa yang di alami Yulian? Yulian sakit apa? Semoga saja tidak mengalami penyakit yang serius.


Karena merasa sudah lebih baik, akhirnya Yulian melanjutkan perjalanannya dan menyetir mobilnya kembali.


"Tok... Tok... Tok...!" Suara pintu telah di ketuk.


"Siapa itu?" Maryam bertanya dalam batinnya.


"Assalamu'alaikum!" Ucap Yulian saat pintu telah di buka.


"Wa'alaikumsalam, ternyata kamu! Ya sudah masuk sana." Balas Maryam.


"Eh ma'af kak, kamar Aisyah yang mana ya?" Tanya Yulian sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Oh iya ya, aku lupa ngasih tahu kamu! Kamar Aisyah ada di atas no 2." Jawab Maryam sambil nyengir, tapi untung saja tidak kelihatan karena dia memakai cadarnya saat malam itu.


"Oh baik kak, terimakasih! Tapi, ngomong-ngomong kenapa kak Maryam belum tidur?" Ucap Yulian penasaran.


"Tidak apa-apa sih, cuma tadi ke bangun saja." Balas Maryam singkat.


Yulian pun mengangguk seakan mengerti apa yang di maksud Maryam. Dan sekarang Yulian kembali mencari kamar istrinya itu.


"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga." Ucap Yulian merasa lega.


"Tok.. Tok...Tok..! Umi, tolong bukain pintunya!" Ucap Yulian sambil mengetuk pintu.


"Iya abi, sebentar." Balas Aisyah.


"Assalamu'alaikum abi!" Ucap Aisyah setelah membuka pintu kamarnya dan tidak lupa juga mencium tangan suaminya.


"Wa'alaikumsalam umi!" Balas Yulian. Dan tidak lupa selalu mencium kening Aisyah.


"Ya sudah, kembalilah tidur. Abi mau beres-beres dulu." Ucap Yulian kemudian.


"Baik abi. Umi ngantuk banget, ma'af ya abi." Balas Aisyah.


Setelah Aisyah kembali ke tempat tidur, Yulian pun segera menuju ke kamar mandi untuk mebersihkan seluruh badannya. Beberapa menit kemudian, kembalilah Yulian dengan baju koko dan sarungnya untuk melakukan shalat isya', karena tadi belum sempat melaksanakannya.


"Alhamdulillah, rasanya sudah jauh lebih tenang. Terimakasih Ya Allah!" Ucap Yulian dalam batinnya.


Setelah melakukan shalat isya', Yulian berganti pakaian dengan kaos polos dan celana pendek untuk tidur. Untung saja tadi Yulian membawa baju ganti kalau tidak, masak iya dia tetap memakai kemeja dan celana panjangnya untuk tidur? Hohoho...!


"Emmmuuuaaaccchhhhh!" Lagi-lagi Yulian mencium kening Aisyah.


"Abi belum tidur?" Tanya Aisyah sambil mengerdipkan kedua matanya.


"Ini mau tidur. Tapi, rasanya aneh!" Jawab Yulian.


"Aneh bagaimana abi?" Tanya Aisyah sambil memandang kedua mata Yulian dengan lekatnya.


"Ya aneh. Karena, baru kali pertama abi tidur sama istri abi di ranjang. Terus...!" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba telunjuk Aisyah berada di bibir Yulian dan seakan menahannya untuk berbicara.


"Jangan bilang seperti itu. Jujur, aku pernah membayangkan masa-masa ini bersamamu di kala dulu. Dan sekarang aku merasa bersyukur bahwa aku tidak hanya bermimpi saat ini. Dan ini janjiku untukmu, suamiku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu. Dan jika memang kita nanti harus di pisahkan, aku berharap hanya maut lah yang akan memisahkan kita." Ungkapku dengan ke romantisanku.


"Aku pun akan melakukan yang sama. Karena aku hanya akan mencintai kamu dan aku adalah satu-satunya suamimu. Begitupun kamu, kamu adalah wanita terkuat, terhebat, tercantik, dan terbaik yang di takdirkan untukku." Balas Yulian sambil memeluk Aisyah dan lagi-lagi mengecup keningnya.


Malam ini adalah malam terindah untukku. Malam yang sangat membahagiakan, karena aku bisa memiliki suami yang sangat mepertahankanku sebagai istrinya. Meski malam ini aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri, namun Yulian suamiku dapat memahaminya. Betapa beruntungnya aku Ya Allah. Terimakasih, karena Engkau telah menyatukan kami kembali dalam ikatan yang sakral. Semoga kelaurga kami menjadi keluarga yang Engkau ridhai dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Amin Ya Robbal Alamin.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


SO SWEETNYA AISYAH DAN YULIAN BIKIN AKU BAPER...!


JANGAM LUPE LIKE, KOMENTAR DAN VOTE NYA YA...! TERIMAKASIH...


__ADS_2