
Satu bulan sudah ku lalui dengan rahasia yang masih tersimpan dengan rapat. Dan kuucapkan syukur alhamdulillah karena sampai saat ini penyakit yang kuderita tidak kembali merasuk jiwaku, meskipun aku tahu bahwa penyakit itu tidak akan pernah hilang sampai aku harus menutup mata untuk yang terakhir kali. Dan setelah aku mengetahui bahwa aku memiliki kanker jantung yang mematikan, aku tetap menjalankan aktivitas ku seperti biasa. Karena bagiku penyakit itu tidak akan mempengaruhi apa yang aku impikan dan tidak bisa mengubah kehidupanku, bahkan membatasi kegiatanku sebagai seorang desainer yang memiliki mimpi besar sebagai seorang wanita Indonesia.
"Aisyah, aku akan menghadiri acara kamu hari ini!"
"Tapi aku tidak yakin dengan itu, Arumi. Sedangkan kamu masih berada di kota Tarim bersama keluarga kecil kamu." Aku menatap layar kaca yang lebar di depanku.
"Lihat dan tunggu saja!"
"Baiklah, Arumi! Aku akan menunggumu. Ya sudah kalau begitu, assalamu'alaikum." Arumi menjawab salamku, lalu kami mengakhiri percakapan kami.
Hari ini adalah hari yang aku impikan, di mana aku telah diundang dalam sebuah acara yang membuat hasil desain bajuku melejit di kalangan remaja, anak muda dan bahkan yang usia mereka lebih tua. Dan itu membuat bangga bangsa Indonesia, khususnya di kota Medan di mana aku telah berkarya dan memiliki Galery di kota ini. Dalam acara tersebut aku akan memperkenalkan diri dan mimpi yang selama ini aku jadikan motivasi untuk tetap berkarya bahkan menghasilkan karya yang lebih baik lagi sebagai warga Indonesia, khususnya bagi wanita.
"Aisyah, apakah kamu sudah siap?"
"Iya, aku siap! Kita bisa memulainya sekarang jika sudah siap." Jawabku dengan mantap.
Acara yang akan digelar kini akan segera dimulai. Banyak sekali tamu undangan yang menghadiri acara tersebut, termasuk juga Arjuna, Cahaya dan Ahtar. Sedangkan Yulian, ia mengatakan untuk mengusahakan menghadiri acara penting itu, tapi aku tidak pasti apa yang terjadi kepadanya. Mungkinkah Yulian hadir? Atau tidak. Namun, aku tidak juga tidak akan marah kepadanya jika, ia tidak bisa hadir dalam acara yang aku impikan. Aku hanya berharap bahwa ia bisa ikut serta dalam acara ini sebagai tamu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya perkenalkan saya Kirana. Selaku pembawa acara dalam pementasan beberapa desain dari hasil karya wanita Indonesia, dan saya akan memulai acara hari ini. Di mana bintang tamu kita adalah wanita hebat dari Indonesia yang mampu membuat desain pakaian gamis yang kini semakin diminati di kalangan remaja bahkan sampai yang usianya tidaklah muda lagi. Mari kita sambut Dia ... Aisyah Fadilah!"
__ADS_1
Pembawa acara yang cantik jelita itu pun berteriak memanggil namaku, lalu seruan tepuk tangan dari semua tamu yang hadir telah menyambutku saat aku hendak melangkah menuju ke atas panggung. Dengan langkah yang gontai, senyuman yang selalu terlukis dari bibirku dan rasa percaya diri yang ada di dalam hatiku, semakin menguatkan diri ini untuk terus melakukan karya hebat sampai ragaku tak bernyawa lagi.
Sampai lah aku di atas panggung yang begitu megah, lalu aku pun berdiri tepat di depan mikrofon yang menyala. Dan kuucapkan salam untuk menyapa mereka, para tamu hadirin yang menyambutku dengan tepuk tangan meriah. Setelah itu, aku mengucapkan pidato yang tidak terlalu panjang untuk memberikan sambutan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Dan tanpa kalian semua, pasti tidak akan tercipta apa itu pakaian gamis, yang kini semakin merajalela di kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan juga para ibu-ibu seperti saya. Dan di sini, di atas panggung ini saya akan mengatakan satu hal kepada kalian wanita hebat Indonesia. Jangan pernah berhenti untuk memulai sebuah karya sebelum kalian tahu hasilnya seperti apa. Jangan katakan menyerah sebelum kalian mencobanya! Dan wanita Indonesia yang hebat akan selalu menjunjung tinggi martabat mereka. Sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Tepuk tangan yang meriah kembali kudengarkan.
Setelah berada di atas panggung, kini aku kembali lagi menuruni anak tangga dan berjalan gontai menuju ke tempat di mana aku duduk tadi. Dan saat aku berjalan di atas karpet merah, dari ujung karpet itu aku melihat sosok yang tak asing bagiku. Namun, di sana aku melihat nampak berbeda dari cara Dia berpakaian. Sehingga aku terus berjalan menuju ke arahnya yang masih berdiri dengan tegak dalam pandanganku. Dan tepat dihadapannya, aku melayangkan pelukan kepadanya sebagai pengobat rasa rindu.
"Aisyah, ini janjiku yang sudah aku tepati." Bisik Arumi ditelingaku.
Kutarik kedua ujung bibirku untuk menyambut kedatangan Arumi di Indonesia, tepatnya di kota Medan. Aku benar-benar tidak meyangka bahwa Arumi akan menepati janjinya yang datang di hari pentingku. Dan yang membuatku tidak percaya tak lain adalah caranya dalam berpakaian yang menutupi seluruh auratnya. Bahkan cadar hitam pun melekat di wajahnya. Setelah melepas pelukan yang kami layangkan, kami pun mencari tempat duduk ternyaman.
"Inilah aku, Aisyah. Alhamdulillah, hidayah dari Allah telah datang kepadaku. Sehingga hati ini. terketuk untuk kembali kepada-Nya." Arumi tersenyum tipis.
Aku dan Arumi begitu menikmati acara yang masih berlangsung dan akan berakhir satu jam lagi. Aku dan Arumi mendengarkan rasa kagum atas apa yang sudah aku hasilkan untuk Indonesia dan dari semua orang-orang terpenting dan terpandang dalam kalangan mereka khususnya, para wanita yang saat ini mengenakan hasil desain gamisku. Dan aku merasa bangga akan hal itu.
Beberapa jam kemudian akhirnya acara yang digelar telah diakhiri. Namun, sebelum mereka semua pergi meninggalkan area, mereka berbaris meminta tanda tanganku yang ditulis di pakian mereka. Sungguh, acara yang digelar hari ini membuatku benar-benar seperti seorang artis yang sedang naik daun. Beribu dari tamu undangan, mereka bertatap muka denganku hanya untuk meminta tanda tangan yang berarti bagi mereka.
"Emm, di mana pakaian Anda, Nyonya?"
__ADS_1
Wanita yang berdiri di hadapanku hanya menggelengkan kepala saat aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya. Dan itu membuatku tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukannya tanpa sebuah baju gamis yang dibawa untuk meminta tanda tanganku? Namun, aku tetap bersikap sopan terhadapnya. Berusaha mengerti dengan apa yang diinginkannya.
"E ... jika, Anda tidak memiliki baju gamis hasil tangan saya, Anda bisa mendapatkan tanda tangan saya di sini. Bagaimana, Nyonya?"
Aku memberikan sebuah gamis dan hijab panjang yang menutupi seluruh dadanya, karena saat itu Dia tidak mengenakan sehelai kain yang menutupi mahkotanya. Dan pakaian yang dipakainya sangatlah berbeda dengan yang lain, begitu terbuka dengan pakaian ketatnya. Bahkan perut buncitnya yang tengah mengandung besar sangat terlihat dan bagiku itu tidaklah pantas. Namun, itu hak semua orang yang tidak bisa ku usik semauku dan tidak bisa aku tegur sapa dengan tutur kataku.
"Alhamdulillah, kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dalam acara ini." Aku melepas senyum merekah kepadanya.
Hanya anggukan pelan yang diberikannya setelah aku memberikan gamis dan hijab yang kuberi tanda tanganku. Namun, terlihat sepasang mata coklatnya itu begitu sayu. Dan seolah Dia tidak memberanikan diri untuk menatapku bahkan sekedar melihatku saja tidak dilakukannya. Aku heran, penasaran dan ingin sekali mengetahui siapa Dia, tetapi aku tidak bisa melakukannya.
"Terima kasih, Aisyah. Aku yakin, kamu wanita yang baik." Dia menatapku sebelum melangkah.
Setelah mengucapkan ungkapan di hatinya, Dia pun pergi meninggalkanku yang masih berdiri dan memberikan tanda tanganku kepada beberapa orang yang masih berbaris di belakangnya tadi. Sehingga aku tidak bisa mengejarnya untuk menanyakan yang dilontarkannya itu. Dan seketika aku melupakan wanita hamil itu karena kesibukanku yang masih belum berujung.
Beberapa jam kemudian akhirnya tugasku telah berakhir. Setelah itu, Arjuna, Cahaya dan Ahtar menghampiriku yang masih berdiri di tempat asal ku. Lalu, obrolan kecil pun kami lakukan bersama sebelum kembali pulang. Namun, saat aku asik bergabung dengan anak-anak ku tiba-tiba saja Arumi datang lalu, menarik pergelangan tanganku dan melangkah pelan sedikit menjauh dari mereka. Hal itupun membuatku penasaran dengan tingkahnya yang tidak aku mengerti. Sehingga ku lontarkan pertanyaan kepadanya untuk memastikan apa yang terjadi.
"Arumi, ada apa denganmu? Apa yang kamu lakukan dengan mengajakku di tempat sepi seperti ini?"
"Maafkan aku, Aisyah. Tapi aku rasa ini penting bagimu, karena aku melihat Khadijah."
__ADS_1
Mataku terbelalak dengan lebarnya saat Arumi mengatakan bahwa Khadijah berada di acara yang baru saja digelar. Namun, sama sekali aku tidak mengenali tentang dirinya. Hanya satu yang membuatku merasa yakin, sepasang mata yang menatapku dalam.