HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Yulian Pergi?


__ADS_3

Akhirnya kami pun sampai di kota Medan. Kota yang aku rindukan dalam segala hal. Meskipun aku sendiri masih ingin rasanya tinggal lebih lama di Edinburgh, tapi itu tidak lah mungkin. Karena ada Ahtar dan juga Papa mertuaku yang masih setia menanti kehadiran kami semua di Medan. Selain mereka masih ada juga yang menanti kepulanganku, yaitu beberapa staf dari Aisyah Galery.


"Assalamu'alaikum." Terdengar ucap salam dari Papa dan Ahtar yang menghampiri rombongan kami.


Setiba di Bandara Kualanamu Internasional Airport sambutan hangat dari papa Adhi dan Ahtar telah menyapa kedatangan kami semua. Seperti biasa, tidak lupa bagiku untuk mencium punggung tangan papa Adhi saat pertama berjumpa, dan hal sama pun telah dilakukan oleh Yulian, Arjuna dan juga Cahaya. Begitupun sebaliknya, Ahtar mencium punggung tanganku dan juga Yulian sebagai kedua orang tuanya.


"Bagaimana kabar Papa dan Ahtar di sini?" tanya Yulian.


"Yah, Bi. Tidak perlu ditanya kalau hal itu, sudah terlihat kami baik-baik saja." Sahut Ahtar dengan ekspresi wajah candanya.


"Ahtar, maksud Abi kamu itu tentang ... Ahtar yang tidak bandel, Ahtar yang tidak menjengkelkan dan Ahtar yang tidak selalu merengek di saat tinggal di rumah hanya bersama Kakek. Ahtar tidak seperti itu, kan?"


"Umi,"


Seketika gelagat tawa menemani pertemuan kami kembali ketika kami masih berada di Kaulanamu Internasional Airport. Dan kulayangkan pelukan hangat kepada Ahtar yang suka manja kepadaku. Entah kenapa terlihat Ahtar tengah bersedih bahkan menitihkan air mata dari ujung pelupuk matanya? Apakah terjadi sesuatu hal dengannya? Atau itu hanyalah air mata kerinduannya kepadaku dan yang lain saat kami masih terpisah dengan jarak dan waktu.


"Ahtar. Hei, kamu menangis?"


"Ahtar merindukan kebersamaan kita setiap hari, Umi. Dan hari ini kita bersama-sama lagi." Jawab Ahtar yang menyerka air matanya.


"Dek, tapi kan, tidak perlu menangis!"


"Adek hanya bahagia, Bang. Karena sebelumnya hanya Abi saja yang sering pergi, bukan semuanya. Dan pasti setelah ini Abi juga akan pergi lagi. Iya kan, Bi?"


Semua mata seketika tertuju ke arah Yulian, menatapnya untuk memberikan jawaban kepada Ahtar yang masih merasa kecewa karena sering berpisah dengan Yulian. Setelah mengerti akan tatapan kami semua, Yulian mendekati Ahtar dan berbincang sebentar dengannya. Entah apa yang mereka perbincangkan, karena aku harus menerima panggilan masuk ke nomor ponselku.


"Assalamu'alaikum, Arumi." Aku mengucap salam setelah memencet tombol terima.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Aisyah."


Arumi menjawab salamku dengan fasih, meskipun yang aku tahu Dia bukanlah seorang Muslimah, tapi hampir. Ya, saat ini bisa dibilang masih menganut Yahudi, tetapi Dia juga mempelajari Islam. Dan jika sudah siap, Arumi dan Tristan akan segera masuk Islam bersama.


Malam itu pukul 02.30 malam, Arumi menelfonku untuk sekedar menanyakan kabar kami semua setelah melakukan perjalanan panjang, antara kota Edinburgh sampai ke kota Medan. Dan alhamdulillah, rasa bersyukur tak hentinya tetucap dari bibirku karena sudah dilancarkan dalam setiap perjalanan kami semua oleh Allah SWT.


"Alhamdulillah, aku dan rombongan baru saja sampai di Bandara Kualanamu Internasional Airport, Arumi. Bagaimana denganmu?"


"Syukurlah, Aisyah. Aku dan Tristan saat ini masih berada di kota Tarim. Kami memutuskan untuk tinggal di sini beberapa bulan ke depan sampai kami mampu mempelajari Islam dengan baik." Jelas Arumi bersemangat.


"Alhamdulillah wasyukurillah, jika itu sudah menjadi keputusan kalian, maka aku ikut senang. Dan aku hanya bisa mendoakan agar kalian dilancarkan dalam segala urusan apapun itu." Balas ku yang ikut senang.


"Terima kasih, Aisyah. Sepertinya kita harus mengakhiri perbincangan kita saat ini, karena aku masih ada urusan. Sampaikan salamku kepada keluargamu, Aisyah!"


"Baik, Arumi. Aku akan menyampaikan salam kamu kepada mereka semua." Aku mengangguk pelan mengiyakan permintaan Arumi. Lalu, kami saling mematikan panggilan telepon dengan ucap salam.


"Bagaimana liburan kalian? Apakah menyenangkan?"


"Alhamdulillah Pa, kami semua sangat merasa senang. Terima kasih atas semuanya, Pa." Sejenak aku menatap wajah mertuaku dengan dalam.


"Iya, Kek. Juna sangat berterima kasih atas apa. yang sudah Kakek Adhi berikan kepada Juna dan juga Cahaya." Ujar Arjuna seraya menggenggam jemari Cahaya.


Topik pembicaraan kami selama dalam perjalanan tak lain masih meliput kota Edinburgh saat aku, Yulian, Arjuna dan Cahaya berlibur di sana. Begitu terasa menyenangkan dan bahkan setiap momen romantis yang tercipta untukku bersama dengan Yulian terasa melekat dalam ingatanku. Hijrah cinta yang terpilih membuat diri ini semakin kuat dalam bertahan dari segala hal, kecuali jika maut akan memisahkan antara aku dengan Yulian untuk selamanya.


Sekitar satu jam kemudian kami akhirnya sampai di rumah tercinta. Dan mobil pun diparkir rapi di garasi yang sudah ada di rumah ini. Setelah itu, kami sibuk menurunkan beberapa koper yang kami bawa saat di Edinburgh. Bukan hanya itu saja, kami juga membawa beberapa oleh-oleh dari sana untuk kami bagikan dengan keluarga dan juga beberapa karyawanku.


"Ya sudah, kalian langsung istirahat saja! Toh, hari masih malam." Pinta papa Adhi setelah menatap jam dinding yang menempel ditembok.

__ADS_1


Kami semua pun mengikuti perintah papa Adhi. Sehingga Juna dan Cahaya segera kembali ke kamarnya. Begitupun hal sama dengan ku, di mana aku menaiki anak tangga untuk menuju ke ke kamar dan segera beristirahat. Dan tidak lama kemudian akhirnya Yulian menyusulku seraya membawa koper milik kami.


"Istirahat lah dulu, Aisyah!"


"Memangnya Mas Yulian tidak ikut istirahat?"


"Nanti saja dulu, masih ada pekerjaan yang benar-benar harus selesai malam ini sebelum besok aku pergi." Yulian mengeluarkan laptopnya.


"Pergi? Memangnya Mas Yulian mau pergi kemana?"


Sejenak Yulian menghela nafasnya dengan pelan. Yang awalnya hendak duduk di sofa kamar kami kini hal itu tidak dilakukannya, justru ia melangkah menuju di mana aku hendak merebahkan tubuhku yang merasa sudah mengantuk sedari tadi. Setelah berada di hadapanku lalu, Yulian duduk dan berkata, "Maafkan aku Aisyah, sebelumnya aku tidak memberitahukan kamu tentang hal ini. Besok aku harus pergi ke Surabaya karena ada pekerjaan yang harus dibahas dengan pihak perusahaan di sana. Dan aku harap, kamu tidak marah dengan hal ini."


Yulian menatapku dengan dalam, seolah matanya mengatakan tengah bersalah karena harus pergi begitu saja dan perpisahan pun harus kembali terjadi di antara kita. Sejenak aku terdiam dengan beribu kata, mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Yulian sebagai penjelasannya. Dan hijrah cinta kami harus kembali di uji saat jarak dan waktu telah memisahkan kita.


"Tidak, Mas. Itu sudah menjadi kewajiban kamu sebagai seorang kepala keluarga dalam mencari nafkah untuk keluargamu. Dan itu pun juga sudah menjadi kewajiban kamu sebagai pemimpin perusahaan, jadi buat apa aku marah hanya karena kita akan berpisah lagi. Yang terpenting hanya satu, jangan tinggalkan kewajiban kamu sebagai umat Muslim, Mas." Dengan hati yang tidak dibutakan dan dengan hati yang ikhlas, aku pun merelakan kepergian Yulian dalam mencari nafkah untuk keluarga.


"Terima kasih, Aisyah!"


Seketika Yulian mengecup keningku dengan lembut. Sesekali ia juga mengusap pipi dan juga rambutku dengan pelan. Seolah ia tengah memanjakanku sebelum perpisahan itu terjadi. Begitupun denganku, aku menikmati setiap usapan dan helaian suamiku itu. Dan aku harus benar-benar belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam hijrahku, terutama saat suamiku pergi ke luar kota untuk memenuhi pekerjaannya. Meskipun di dalam hatiku sejenak terbesit rasa tidak rela jika akan berpisah kembali. Tetapi, inilah kehidupan yang tidak pernah kita tahu harus bagaimana.


"Ya sudah, aku akan menemani Mas Yulian sampai pekerjaan Mas selesai." Aku memegang lengan Yulian yang kekar.


"Kalau kamu mengantuk lebih baik tidur. Jangan ikut-ikutan tidak tidur!"


"Tidak kok, Mas. Aku ingin menemani Mas Yulian, titik tidak pakai koma." Aku pun bersi kekeh untuk menemani Yulian dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Yulian pun menyetujui keinginanku, hingga akhirnya aku lah yang menjadi pemenang. Dan sekitar satu jam kemudian pekerjaan Yulian akhirnya telah usai. Setelah itu, kami tidak langsung merebahkan tubuh kami di atas ranjang empuk yang selalu memberikan kenyamanan ketika merasa lelah, justru kami disibukkan dengan hal lain.

__ADS_1


__ADS_2