
"Nak Aisyah, saya mohon jaga Khadijah jika suatu saat kamu bertemu dengannya. Dan tolong berikan ini kepadanya jika kalian nanti bertemu. Karena saya percaya nak Aisyah adalah perempuan yang baik hati dan saya mempercayakan amanah ini kepada nak Aisyah."
Cahaya yang bersinar membuat kedua mataku merasa begitu silau. Suara serak itu pun terngiang di telingaku, yang memohon dengan belas kasih. Bahkan sampai menitihkan air bening dari ujung pelupuk matanya. Dan itu sukses membuatku merasa luluh serta mengutarakan sebuah janji kepadanya untuk memenuhi amanah itu. Sedangkan aku sendiri tidak tahu siapa wanita yang bernama Khadijah. Namun, saat aku mengingat dengan kuat akan hal itu tiba-tiba cahaya yang bersinar seketika berubah menjadi gelap. Tidak ada bayangan dan cahaya apapun yang dapat kulihat lagi.
"Aisyah, bangun sayang! Kamu mimpi buruk?"
Terdengar samar suara yang ku kenal, bahkan sangat mengenal suara itu. Yang tak lain suara suamiku sendiri, ia tengah berusaha untuk membangunkan aku dengan mengusap lembut pipiku. Dan perlahan aku pun membuka kedua mataku lalu, menyapu langit-langit di kamarku dan juga berusaha mengingatnya. Setelah tersadar, aku segera bangun dan mengucapkan istighfar sebanyak mungkin untuk mengingat kembali Tuhanku.
"Aisyah, kamu bermimpi apa?"
Sejenak aku terdiam seraya mengingat mimpi yang membuatku kembali berantusias untuk segera bertemu dengan Khadijah. Namun, aku tidak ingin mengatakannya kepada Yulian, karena aku tidak ingin Dia tahu apa tujuanku yang lain selain amanah itu. Sehingga aku hanya sekedar bercerita tentang cahaya yang bersinar terang lalu menghilang. Dan Yulian pun mempercayai apa yang kukatakan kepadanya, walaupun di dalam hati kecilku ingin sekali mengatakannya semuanya, tapi aku tidak bisa.
"Sudah, lebih baik kita ambil wudhu untuk sholat malam. Agar hati kamu juga merasa tenang." Yulian membelai rambutku dan tersenyum tipis.
Dan aku hanya bisa mengangguk pelan untuk menjawabnya. Lalu, kami pun segera mengambil air wudhu untuk melakukan sholat sunnah tahajud. Yang dilakukan setelah bangun dari tidur tetapi, sebelum suara adzan subuh terdengar dengan seru. Dan dua rakaat pun kami lakukan bersama seraya mengingat Allah sang Pencipta Segalanya.
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Jika Engkau menghendaki pertemuan yang ku inginkan dengan Khadijah, maka datangkanlah waktu yang tepat untuk kami bertemu. Dan aku sebagai hamba-Mu meminta untuk melapangkan dada dalam menghadapi segala cobaan yang Engkau ujikan dalam hidup yang entah sampai kapan akan berhenti. Aamiin." Tanganku pun bergerak mengaminkan lantunan doa ku kepada Allah SWT.
Setelah menjalankan dua rakaat, hati dan diri ini pun mendapatkan ketenangan. Setelah itu, Yulian memintaku untuk segera kembali beristirahat karena, jam masih menunjukkan pukul dua pagi. Dan aku pun mengiyakan ajakan Yulian tersebut. Begitupun dengan Yulian yang ikut merebahkan tubuhnya seraya mendekapku kembali, yang membuatku terlelap dalam tidur yang cukup panjang.
__ADS_1
"Cikirikuuuk...." Suara ayam jantan berkokok.
Ku buka perlahan kedua mataku dan tidak lama kemudian kudengar suara adzan subuh yang dikumandangkan. Dan itu membuatku segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku di bawah percikan air shower. Setelah lima belas menit sudah, aku pun kembali melakukan dua rakaat, tetapi yang kali ini dua rakaat wajib. Di mana dalam dua rakaat itu malaikat telah menyaksikannya secara langsung.
Seperti biasa, setelah melakukan sholat aku beriktikaf dengan membaca Al-Quran. Dan tepat pukul lima aku memutuskan untuk menyudahi aktivitas ku, lalu membangunkan Yulian yang masih lelap dalam tidurnya. Karena aku tidak ingin jika, Yulian melewatkan dua rakaat pagi sebelum mentari bersinar dengan terang dan membuat kota Medan menguning.
"Aisyah, jangan lupa kopi hangatnya disiapkan, ya!"
"Iya, Mas." Aku melempar senyum kepada Yulian.
Pesan itu pun terucap dari bibir tebal Yulian sebelum aku menuju dapur untuk membuatkan beberapa hidangan yang memberikan amunisi di dalam tubuh di pagi hari sebelum melakukan aktivitas seperti biasa. Dan setelah mengiyakan permintaan Yulian, aku pun segera melangkah untuk membuatkan secangkir kopi hangat yang akan ku letakkan di sebuah meja kecil, tepatnya di ruang samping. Karena, di sana udara pagi bagus untuk dihirup dengan beberapa tanaman hijau yang menghiasinya, bak taman bunga.
Ingatanku masih berpusat tentang bu Ratih, amanah serta Khadijah. Dan itu membuatku sejenak melamun, sehingga aku dibuat terkejut atas kehadiran bik Inem yang secara tiba-tiba. Meskipun aku tahu bahwa bik Inem tidak bermaksud membuatku terkejut, tetapi ya ... namanya juga melamun. Yang hanya fokus dengan bayangan semu dan sepercik harapan dalam jiwa.
"Bu Aisyah kenapa? Tidak biasanya bu Aisyah melamun di pagi hari, apalagi di ruang dapur lagi." Sapa bik Inem.
Seketika lamunanku buyar, lalu tersadar dengan keadaan dan posisi ku yang masih berada di dapur. Dan setelah tersadar, aku mengucapkan istighfar karena, sayur yang seharusnya sudah ku masak dengan matang, kini masih belum juga selesai kupotong. Sehingga aku menepuk pelan jidadku. Bahkan aku mengucapkan maaf kepada bi Inem karena harus membebaninya untuk membantuku memasak.
"Haduh, maaf bik! Saya rasa ... pikiran saya sedang campur aduk, jadi ... begini deh. Bik Inem tolong bantu saya ya pagi ini!"
__ADS_1
"Baik, bu Aisyah. Siap!"
Akhirnya aku dan bik Inem pun segera bertempur dengan beberapa alat dapur tercinta. Dan kekompakan kami pun telah membuahkan hasil yang sempurna. Bahkan kami menyelesaikan pertempuran itu dengan tepat waktu. Dan kini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Di mana waktu untuk sarapan bersama akan segera dilangsungkan, dan aku pun memanggil setiap orang yang menjadi penghuni di rumah ini, termasuk Arumi.
"Tok, tok, tok." Aku mengetuk pelan pintu kamar Arumi.
"Ceklek." Pintu itu terbuka.
Arumi membuka pelan pintunya, lalu mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarnya. Dan bagiku pagi ini adalah pertemuan yang pas untuk menceritakan tentang mimpiku semalam kepada Arumi. Karena hanya Arumi yang tahu akan semua rahasiaku tentang amanah dan keinginanku. Dan setelah aku menceritakan semua kepada Arumi, ia pun juga ber-antusias ingin segera menemukan keberadaan Khadijah di kota Medan ini.
"Hari ini, aku akan terjun langsung ikut mencari tempat tinggal Khadijah. Karena aku benar-benar ingin segera bertemu dengannya, Arumi. Dan aku juga tidak ingin terus menerus di hantui dengan amanah dari bu Ratih." Aku menatap tajam Arumi.
"Tapi Aisyah, bagaimana cara kamu untuk menemukan tempat tinggalnya? Sedangkan Medan itu sangat luas." Arumi beranjak dari tempat duduknya lalu, ia menatap padatnya kota Medan dari balik jendela.
"Aku akan berusaha dengan caraku sendiri, Arumi. Nanti setelah selesai sarapan bersama, aku akan segera pergi." Aku membayangkan bagaimana langkah kakiku berjalan untuk menemukan Khadijah.
"Aku akan menemani kamu, Aisyah. Karena aku tidak ingin kamu kelelahan dalam antusias yang membuatmu begitu keras kepala." Arumi memandangku.
Aku pun mengiyakan permintaan Arumi dengan mengangguk pelan. Setelah kami saling bicara, kami pun memutuskan untuk segera menuju ke ruang makan dan segera melakukan aktivitas pagi kami di sana. Dan sesampai di ruang makan, semua tengah bersiap mengambil posisi duduk yang nyaman untuk melakukan sarapan pagi bersama.
__ADS_1