HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Amanah Darimu


__ADS_3

Dua hari telah berlalu begitu cepat pasca operasi Khadijah usai dijalankan. Dan selama itu selembar kertas yang berisikan tinta dari Khadijah masih kusimpan dengan rapi, bahkan selalu kubawa kemanapun aku pergi. Begitu melekat dalam ingatanku tentang isi di dalamnya. Dan sampai saat ini pun aku dibuat penasaran sekaligus khawatir tentang Khadijah yang tidak aku ketahui keberadaannya. Karena ia menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan amanah kepadaku dalam selembar kertas itu.


*FLASH BACK ON*


Sore itu setelah dari Aisyah Galery aku memutuskan untuk mengunjungi Khadijah dan bayi mungilnya di rumah sakit. Aku begitu bersemangat dan rasanya tidak sabar untuk segera bertemu dengan Khadijah sekaligus mengobrol panjang dengannya. Begitu pula dengan bayi mungilnya, tak sabar aku ingin segera menggendongnya lagi. Dan sebentar lagi, mereka akan segera diperbolehkan pulang lalu, tinggal bersamaku di rumah singgah ku bersama keluarga kecilku. Namun, ternyata itu hanyalah hayalan semata dalam hidupku. Karena saat aku tiba di ruangan Khadijah, aku tidak melihatnya berada di sana. Sempat ku berpikir Khadijah hanya keluar sebentar untuk menengok putrinya yang berbeda ruangan dengannya. Sehingga aku pun memutuskan untuk segera ke sana ikut menengok putri mungil bak bidadari kecil.


"Kenapa Khadijah tidak ada disini? Lalu ... kemana Dia?"


Ternyata Khadijah tidak ada di ruangan khusus bayi, dan yang aku lihat di sana beberapa ibu-ibu yang tengah menengok bayi yang lainnya. Aku pun sejenak merasa kebingungan karena, Khadijah masih belum aku temukan. Dan itu membuatku harus berlari mengelilingi setiap lorong rumah sakit untuk menemukan keberadaan Khadijah. Namun, hasilnya tetap sama, Khadijah tak kunjung aku temukan.


"Di mana kamu Khadijah? Tidak mungkin kan, jika kamu pergi meninggalkan kami begitu saja?"


Ingin rasanya aku berhenti sejenak karena sudah merasa lelah setelah berlarian ke sana kemari menelusuri setiap lorong rumah sakit. Akan tetapi, aku tak mau menyerah dan berhenti saat itu juga, sehingga aku melanjutkan kembali pencarian Khadijah yang masih belum ditemukan. Dan saat itu, aku menjumpai seorang suster yang biasa membantu Khadijah, lalu aku pun bertanya kepadanya.


"Assalamu'alaikum, Sust. Permisi, maaf jika saya mengganggu pekerjaan, Anda. Tapi, saya mau bertanya tentang pasien yang bernama Khadijah, apakah Anda mengetahui keberadaannya?"


"Wa'alaikumsalam, Bu. Tapi maaf, saya tidak mengetahui dimana Bu Khadijah berada saat ini. Karena yang saya tahu, tadi masih berada di ruangannya. Kalau begitu saya permisi, karena saya harus melanjutkan pekerjaan saya." Suster itu pun pergi.

__ADS_1


"Terima kasih, Sust." Aku menundukkan kepalaku.


Aku kembali diselimuti rasa khawatir tentang Khadijah yang saat itu masih belum aku temukan. Aku bak orang kehilangan akal, berlari ke sana kemari tanpa henti. Dan apa yang aku lakukan dilihat oleh Arjuna yang saat itu masih bertugas di rumah sakit. Lalu, ia pun menghampiriku untuk bertanya ada apa dan kenapa? Seketika itu aku menjelaskan kepada Arjuna bahwa Khadijah tidak ada di ruangannya dan juga di rumah sakit itu.


"Umi tidak perlu khawatir, kita lihat saja di ruangannya lagi. Siapa tahu Dia sudah kembali." Arjuna mengangguk pelan untuk meyakinkan ku.


"Baiklah, kalau begitu kita ke sana sekarang untuk memastikan." Aku pun melangkah cepat.


Arjuna nampak ikut berlari mengikutiku dari belakang. Dan sesampai di sana hasilnya pun nihil, Khadijah masih tidak berada di ruangannya. Tubuhku pun tiba-tiba merasa lemas karena lelah setelah berlari cukup jauh. Bahkan rongga-rongga tenggorokan ku terasa begitu kering, karena merasa haus. Dan saat aku hendak mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas, aku menemukan selembar kertas di sana.


"Assalamu'alaikum, Aisyah.


Aisyah, aku juga menitipkan putri kecilku kepadamu. Dan oh iya, aku sudah memberikan nama untuknya yaitu, Azmi Hafizha Dinillah. Yang berarti seorang anak perempuan memiliki keteguhan hati senantiasa memelihara kehormatan diri dan agama Allah. Aku mempercayaimu dan juga Yulian, karena aku merasa yakin kalian akan memberikan kasih sayang yang tulus serta memberikan pendidikan yang layak untuknya kelak.


Aisyah, sekali lagi aku meminta maaf dan juga mengucapkan rasa banyak terima kasih kepadamu atas apa yang sudah kamu berikan untukku selama ini. Dan jagalah amanah dariku ini, Aisyah.


Selamat tinggal Aisyah.

__ADS_1


Dari Khadijah."


Tubuhku terlungkai lemas, seolah tidak memiliki daya apapun yang memberikan tenaga. Lalu, air mataku pun perlahan menetes membasahi pipiku yang tertutupi cadar. Dan harapanku serta keinginanku yang menjadikan Khadijah sebagai istri kedua Yulian seketika telah musnah. Karena aku tidak tahu di mana Khadijah berada. Lalu, aku pun menghubungi Yulian dan memberitahukan semeuanya kepadanya. Seketika itu ia pun segera datang menemuiku. Dan pelukannya menguatkanku kembali untuk menghadapi kenyataan bahwa Khadijah telah pergi entah kemana dan dimana.


*FLASH BACK OFF*


Setelah kepergian Kjadijah, aku harus mengurus putri kecil nya yang sudah aku angkat menjadi putriku. Dan panggilannya pun sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Khadijah yaitu, Hafizha. Terlihat begitu cantik, berhidung mancung, berkulit putih dan memiliki bola mata kecoklatan. Begitu mirip dengan Khadijah, tapi sayang Dia tidak bisa berjumpa dengan ibu kandungnya.


"Arjuna, bagaimana dengan Hafizha? Kapan diperbolehkan pulang?"


"Siang ini, Bi. Juna juga sudah meminta ijin kepada Dokter Jessica untuk menggantikan Juna bertugas sore sampai malam nanti. Jadi, Juna bisa membantu Abi dan Umi mengurus Hafizha." Arjuna menatap Hafizha yang masih berada di dalam ruangan khusus bayi.


"Terima kasih, Arjuna. Karena kamu sudah membantu semuanya,"


"Bukankah, itu juga sudah menjadi tugasku, Umi. Karena aku sudah menjadi abangnya." Arjuna melukiskan senyuman.


Aku dan Yulian hanya mengangguk pelan mengiyakan apa yang sudah dikatakan Arjuna. Dan itu membuatku bersyukur, karena tidak ada rasa benci yang menutupi kebaikan di dalam hati Arjuna. Meskipun aku tahu sejak awal ia tidak pernah menyukai kehadiran Khadijah dalam rumahtangga ku. Tetapi, dengan seiringnya waktu yang berlalu Arjuna mampu menerima kehadiran Hafizha. Bayi yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa-apa. Dan aku merasa tak sabar segera membawa Hafizha untuk pulang.

__ADS_1


"Ahtar menelpon?"


Tiba-tiba ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk, dan panggilan itu tak lain dari Ahtar. Tetapi, aku tidak tahu kenapa Ahtar menelpon di siang hari? Mungkinkah ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikannya dengan segera? Karena, Ahtar juga tidak sabar ingin bertemu dengan Hafizha, adik kecilnya.


__ADS_2